DRAGON

DRAGON
Chapter 39 : Apa itu kau, Kak?



Seseorang melangkah memasuki rumah peninggalan orang tua Alan. Orang itu memperhatikan keadaan sekeliling rumah itu. Keadaan rumah itu begitu berantakan, tidak terawat sama sekAldric. Rumah itu sudah lama sekAldric ditinggalkan oleh pemiliknya. Orang itu meletakkan setangkai mawar putih didepan foto almarhum orang tua Alan. Kemudian orang itu pergi meninggalkan rumah tersebut. Tidak lama setelah kepergiannya, Alan dan Elshe mendatangi rumah peninggalan orang tua mereka. Alan melihat setangkai mawar putih didepan foto kedua orang tuanya, Alan mengambil mawar itu.


“Kakak ada apa?”


“Sepertinya ada yang datang kemari mendahului kita.”


“Dari mana kakak bisa tahu?”


“Mawar putih ini. Kakak menemukan mawar ini didepan foto orang tua kita. Mawar ini masih terlihat segar.”


“Tapi siapa orang itu?” Elshe ingat saat mereka kecil, Aldric selalu memberikan Nyonya Angel setangkai mawar putih setiap Aldric melakukan kesalahan yang membuat Nyonya Angel marah. "Kakak?”


“Elshe kau kenapa?”


“Mawar putih itu? Apa itu adalah pemberian kak Aldric? Dulu setiap kak Aldric melakukan kesalahan dia selalu memberikan mawar putih pada Ibu sebagai permintaan maaf. Kakak ingat?”


“Aldric? Tidak mungkin. Elshe kau tetap disini. Jangan pergi kemana-mana sebelum kakak kembAldric.”


Alan bergegas mengejar Aldric, Elshe sama sekAldric tidak menghiraukan ucapan Alan. Dia ikut membantu Alan mengejar Aldric. Mereka berdua mencari Aldric disepanjang jalan dan disemua tempat yang ada didaerah itu. Alan melihat seorang pria masuk kedalam mobil, mereka berdua mengejar mobil tersebut. Alan berhenti mengejar mobil itu ketika melihat Elshe terjatuh.


“Kau tidak apa-apa?”


“Ya. Kakak tidak perlu memikirkanku. Cepet kejar mobil itu. Aku yakin orang itu adalah kak Aldric.”


“Kau lebih penting dari pada orang itu. Lagi pula itu belum tentu Aldric.” Alan mengendong Elshe


“Bagaimana jika dia adalah kak Aldric?”


“Kakak yakin dia akan menemui kita. Jika benar dia adalah Aldric, dia pasti berusaha mencari keberadaan kita.”


🍁🍁🍁🍁🍁


“Celvin tadi Seville datang menemuiku disini.”


“Apa.?Dari mana dia tahu kalau kau ada disini?”


“Aku tidak tahu. Aku sempat bertengkar dengannya bahkan aku sempat menamparnya. Aku ingin pulang.”


“Kau sudah bisa memaafkan mereka?”


Elektra menjatuhkan tubuhnya disofa. ”Aku belum bisa memaafkan mereka. Kalau Seville saja bisa membuka hatinya menerima kebohongan ini kenapa aku tidak bisa?Aku merindukan keluargaku. Tidak seharusnya aku meninggalkan mereka.”


Celvin mengenggam tangan Elektra. ”Mereka bahkan tidak mencarimu. Ingat Elektra mereka telah membohongimu. Mereka membuat kau phobia akan darah. Kau tidak boleh lemah seperti ini. Kau harus kuat. Tunjukan pada mereka kau bukan Elektra yang dulu.”


“Kau benar.”


“Ini aku bawakan makanan kesukaanmu, kau harus mekannya.” Celvin memberikan makanan itu pada Elektra. "Elektra kau harus tinggal dirumahku. Disini tidak aman untukmu apa lagi Seville sudah mengetahui tempat ini.”


🍁🍁🍁🍁🍁


“Kau masih memikirkan ucapan pencundang itu?”


“Danil’s bagaimana kalau ucapannya benar?”


Danil’s menatap keluar jendela menikmati hembusan angin malam. ”Huh. Aku bahkan tidak mau memikirkannya, Hart’s. Aku tidak ingin membunuh sahabatku sendiri.”


“Kau mengunakan perasaanmu?”


“Hart’s, aku tidak ingin membunuh sahabatku sendiri. Alan tidak mungkin menghianati kita.”


“Seandainya itu benar. Apa yang akan kau lakukan?”


“Kau sendiri? Apa yang akan kau lakukan?"


“Maafkan aku.?Aku akan membunuhnya. Tidak ada tempat untuk seorang penghianat didunia ini.”


“Termasuk untuk sahabatmu sendiri?”


“Ya. Kalau benar Alan adalah mata-mata itu. Aku sendiri yang akan membunuhnya.”


Seville mengurungkan niatnya untuk masuk kedalam ruangan mereka saat mendengar pembicaraan mereka. "Penghianat? Mata-mata? Apa yang mereka bicarakan?" batin Seville


🍁🍁🍁🍁🍁


Alan membawakan minuman hangat untuk Shena, begitu mendapatkan kabar mengenai Elshe Ia langsung menemui mereka dirumah Elshe dan Fernando.


“Bagaimana keadaannya?”


“Jauh lebih baik. Sekarang dia sedang tidur.”


“Alan apa Elshe bahagia dengan pernikahan ini. ”Shena memandangi foto pernikahan Elshe dan Fernando yang terpajang didinding rumah mereka.


“Elshe sangat bahagia. Usia mereka masih terlalu muda untuk menjadi orang tua. Aku tidak tahu apa mereka bisa menjadi orang tua yang baik untuk bayi mereka nanti.”


Alan tertawa kecil mendengar ucapan Shena. ”Bagaimana denganmu.?Apa kau tidak ingin menikah dengannya?”


“Alan kenapa tiba-tiba membahas masalah ini?”


“Hei kallian saling mencintai. Apa kalian tidak ingin melengkapi kelebihan kalian melalui sebuah pernikahan?”


“Aku sangat ingin, tapi tidak untuk saat ini. Keluarga Hart’s sedang mengalami masalah dan aku tidak mau menambah masalah Hart’s.”


“Kau melakukan ini karena cintamu padanya?”


“Aku melakukan ini karena aku ingin orang yang ku cintai terus hidup. Elektra dan Seville adala hidup Hart’s.”


Nyonya Hanna menyiapkan pakaian tidur untuk suaminya. Tuan Gerald menganti pakaiannya dengan pakaian tidur pilihan istrinya. Nyonya Hanna memberika secangkir minuman hangat pada suaminya.


“Sepertinya sedang ada masalah serius didragon, sampai kau seperti ini.”


“Akhir-akhir ini banyak sekali penghianat berkeliaran didragon.”


“Suamiku? Kau jangan telalu lelah memikirkan masalah ini bukankah sudah ada penerus dragon disana. Biarkan mereka yang menyelesaikannya.”


“Hanna mereka tidak bisa melakukan ini.” Tuan Gerald mengeluarkan album foto dari dalam lemari pakaiannya. Album foto mereka bersama Tuan Edward juga Nyonya Angel. "Untuk masalah ini aku sendiri yang harus menyelesaikannya karena ini menyangkut masalah mereka.”


“Maksudmu?"


“Celvin mendapatkan informasi mengenai mata-mata dari kepolisian dan orang itu adalah Alan.”


“Apa! Tidak mungkin. Apa Celvin memiliki bukti?”


“Tidak ada.”


“Itu artinya Alan bukan mata-mata.”


“Dulu Edward pernah mengatakan padaku untuk menjaga kedua putranya.”


Tuan Gerald memperhatikan setiap foto yang ada pada album itu. Tuan Gerald terbayang kejadian dua belas tahun yang lalu, waktu itu mereka sedang mengadakan pesta didragon dalam rangka merayakan keberhasilan Tuan Gerald sebagai penerus dragon. Nyonya Angel membawa anak-anak masuk kedalam menemui suami dan yang lainnya.


Flashback ....


“Hart’s, kalau sudah besar nanti mau jadi apa?" tanya Nyonya Angel.


“Aku ingin jadi seperti ayah. Aku ingin menjaga ibu dan kedua putri kecilku.” jawab Hart’s kecil penuh semangat.


“Kalau Fernando mau jadi apa?”


“Aku? Aku mau menjadi penguasa. Aku akan mengumpulkan uang untuk membeli dunia ini.” Nyonya Angel terkekeh mendengar jawaban Fernando.


“Kalau Alderick?”


“Aku tidak ingin jadi siapapun dan apapun.” cetus Ali


Nyonya Angel tersenyum mendengar jawaban putranya.” Bagaimana denganmu Alan?”


“Aku ingin menjadi seorang polisi.” semua orang terkejut mendengar jawaban Alan.” Aku akan melindungi dunia ini dari penjahat terutama dari penjahat penguasa seperti Fernando. Aku akan menghukum mereka dan memasukan mereka kedalam penjara.”


“Edward?" Tuan Gerald berdiri disamping Tuan Edward yang memperhatikan anak-anak bermain.


“Kau dengar Gerald? Putraku ingin menjadi seorang polisi.”


“Alan masih terlalu kecil untuk memikirkan itu. Alan adalah penerus dragon sama seperti yang lainnya.”


“Aku sudah menyerahkan Alderick pada dragon apa itu belum cukup?”


“Kau ingat perjanjian yang dibuat oleh kakek kita terdahu? Kita harus menyerahkan putra kita pada dragon untuk menjadi penerus dragon dimasa depan. Orang tuamu dan orang tuaku  menyerahkan kita pada dragon. Aku menyerahkan Hart’s pada dragon begitupun juga dengan kau. Kau harus menyerahkan Alderick juga Alan pada dragon.”


“Kau juga seorang ayah, Gerald. Apa kau tega menghancurkan cita-cita putramu hanya demi sebuah perjanjian gila ini?”


“Keinginan Alan bertentangan dengan takdir yang digariskan untuknya.”


“Kedua putraku memiliki keinginan yang berbeda. Bagaimana jika suatu saat nanti mereka saling membunuh, Gerald? Takdir mereka ditentukan oleh mereka sendiri bukan dragon juga kau. Jika suatu saat nanti ini menjadi kenyataan. Berjanjilah kau akan membantu kedua putraku. Aku mohon jangan biarkan mereka saling membunuh.”


End of Flashback......


Nyonya Hanna menarik suaminya kedalam pelukannya. Mereka berdua memandangi foto almarhum sahabat mereka.


“Hanna bagaimana kalau Alan mengejar cita-citanya?Bagaimana kalau ternyata Alan adalah mata-mata itu? Apa aku harus membunuhnya? Apa Edward akan membenciku dialam sana? Bagaimana jika suatu saat nanti Alderick kembali kedragon? Apa yang harus aku lakukan Hanna?”


“Aku tidak bisa menjawab semua pertanyaanmu, Gerald. Aku yakin akan ada jalan keluarnya.”


To Be Continued ...