
"Dasar saudara tidak tahu diri! Bisa-bisanya dia pergi tanpa menungguku!” Seville mengertakan gigi-giginya.
"Maaf nona anda dilarang masuk," Dua orang penjaga yang berdiri didepan lobi melarang Seville untuk masuk kedalam.
"Kenapa?"
"Nona? Kami tidak bisa membiarkan orang asing tanpa indetitas masuk kedalam, membuat kehonaran dan membahayakan tempat ini. Lagi pula kami tidak pernah melihat anda sebelumnya."
"Baiklah. Aku akan pergi.”
Ketika penjaga itu lengah, Seville langsung menerobos masuk kedalam gedung. Salah- satu dari penjaga itu mengejar Seville yang terus belari, menabrak siapa saja yang melintas didekatnya. Seville terus belari mencari ruangan sang ayah, begitu menemukan ruangan ayahnya, Seville langsung menerobos masuk kedalam tanpa izin.
"Ayah?”
"Seville?" Tuan Gerald sedikit terkejut melihat kedatangan Seville.
"Maaf ketua? Saya sudah berusaha menahan nona ini
masuk, tapi nona ini menerobos penjagaan begitu saja." Penjaga itu menundukkan kepalanya memberi hormat.
"Tidak apa-apa! Kau bisa kembali bekerja sekarang,” Penjaga itupun keluar dari ruangan Tuan Gerald meninggalkan Seville disana bersama ayahnya. "Seville ada apa kemari?"
"Apa aku butuh alasan untuk bertemu dengan-mu dad? Jika aku tidak kemari, apa Ayah akan menemuiku? Tidak, bukan?" Seville berjalan menyusuri ruang kerja Tuan Gerald. "Aku sengaja kemari untuk menghabiskan waktu bersamamu."
"Sayang, Ayah tidak bisa menemanimu sekarang. Kau pergi saja dengan orang lain, oke?" Tuan Gerald menghubungi ruangan penerus dragon. "Keruangan saya sekarang."
"Dimana Kakak?”
"Hart's sedang bekerja," Seseorang masuk kedalam ruangan Tuan Gerald. "Alan, duduklah.”
"Ketua memanggil saya?”
"Ya. Alan kenalkan ini putriku. Kalian berdua cukup dekat saat kecil."
Seville membalikkan tubuhnya untuk melihat pria yang ada disampingnya, "Kau?”
"Kalian sudah pernah bertemu?" Seville mengelengkan kepalanya sebagai jawaban bahwa mereka tidak pernah bertemu sebelumnya. "Alan, putriku ingin pergi keluar. Bisakah kau menemaninya? Dia besar diluar negeri, dia tidak memiliki teman disini."
"Baik Ketua!”
"Ayah, aku menolak pergi dengannya!!” Seville menatap tajam kearah Alan. "Aku ingin kakak yang menemaniku bukan gigolo ini." Alan mengertakan giginya mendengar Seville menyebutnya gigolo.
"Hart's sedang bekerja, dia tidak bisa menemanimu. Seville, jangan bersikap seperti anak kecil. Tidak ada penolakan Alan yang akan menemanimu. Alan aku percayakan putriku padamu."
"Ketua jangan khawatir. Aku akan menjaganya dengan baik, Ketua." Seville berdecak kesal mendengar ucapan Alan.
"Seville tunggulah diluar ada sesuatu yang ingin Ayah bicarakan dengan Alan," Dengan perasaan kesal Seville keluar meninggalkan mereka. "Alan aku rasa kau sudah mendengarnya dari Hart's mengenai mereka. Aku harap kau bisa membantu kami menyembunyikan indentitas dan pekerjaan kita dari kedua putriku."
"Ketua tidak perlu khawatir, aku sudaj terikat janji pada Hart's dan aku tidak akan membocorkan rahasia kalian pada mereka."
🍁🍁🍁🍁🍁
Sementara itu, sejak tadi Hart's hanya berdiri didepan pagar rumahnya yang saat ini ditempati oleh Shenna. Hart's nampak ragu untuk masuk menemui Shena, Shena yang sejak tadi memperhatikan tingkah Hart's melalui jendela hanya bisa tertawa kecil.
Dimata Shena saat ini Hart's terlihat seperti anak anjing kecil yang tersesat. Shena yang tidak tahan lagi memutuskan untuk menemui Hart's diluar.
"Hart's? Kenapa kau hanya berdiri diluar? Ayo masuklah kedalam?" Shena membuka pintu pagar mempersilahkan Hart's untuk masuk kedalam. "Lain kali masuk saja. Untuk apa kau berdiri diluar terlalu lama?”
"Ah itu? Aku hanya tidak ingin menganggu waktu istirahatmu." Hart's nampak gugup ditatap intens oleh Shena.
"Ck. Kau ini ada-ada saja. Kau sama sekali tidak menganggu waktu istirahatku, justru aku akan terganggu melihatmu berdiam diri diluar seperti pencuri.”Shena tertawa kecil melihat ekspresi lucu Hart's. "Kau sendirian saja? Dimana yang lainnya?”
"Mmh...mereka? Mereka masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Shena bagaimana? Apa kau menyukai tempat ini? Jika kau tidak nyaman berada disini, aku akan mencarikan tempat tinggal baru untukmu. Beritahu saja."
Shena tersenyum memperhatikan Hart's, kemudian dia kembali fokus memperhatikan tanaman yang tubuh subur diperkarangan. Meski Shena baru beberapa bulan mengenal Hart's dan teman-temannya tapi Shena yakin mereka adalah pria baik. Mereka selalu memperhatikan, menjaganya selama ini.
"Tentu saja aku menyukai tempat ini. Disini sangat nyaman, apa lagi kalian sering mengunjungiku. Aku tidak tahu bagaimana caranya membalas semua kebaikanmu?”
"Dengan kau tidak kembali ketempat berbahaya seperti itu lagi, itu sudah cukup bagiku." Wajah Shena seketika merona mendengar ucapan Hart's, dia bahkan mengipasi wajahnya yang terasa panas kerena malu. "Ada apa?”
"Tentu saja. Aku juga tidak ingin kembali kesana. Ah iya, aku masak makan siang terlalu banyak. Apa... kau mau makan siang disini bersamaku?"
"Baiklah. Kebetulan aku belum makan sama sekali." Hart's terpaksa berbohong, pada hal sebelum datang menemui Shena. Dia sudah makan siang bersama Danil's dan Fernando.
Hart's memalingkan wajahnya saat sadar kalau dia sedang berbohong dan dia sendiri tidak mengerti kenapa dia sampai berbohong seperti ini pada Shena?
"Aku pasti sudah gila? Untuk apa aku berbohong seperti ini? Untuk sesuap nasi? Ah tidak tahu. Aku malas berpikir.” ujar Hart's dalam hati merutuki kebodohannya.
🍁🍁🍁🍁🍁
Sepanjang perjalanan Alan terus mengemudi tanpa arah dan tujuan yang pasti. Sementara Seville? wanita itu hanya menekuk wajahnya, memasang wajah tidak suka pada Alan yang berada disampingnya. Ya! Seville merasa tidak nyaman dan terganggu dengan kehadiran Alan didekatnya. Tiba-tiba saja Alan menginjak pedal rem membuat kepala Seville menghantam keras dashboard.
"Aw Shitt!! Kau sudah gila?" teriak Seville sambil menyentuh dahinya yang memar akibat terbentur cukup keras. Seville memicingkan matanya menatap Alan yang sama sekali tidak bergeming.
"Kita mau kemana? Katakan dengan jelas tujuanmu." seperti biasanya Alan bicara dengan nada rendah dan terdengar mengintimidasi.
"Kemana saja, terserah kau!" Alan menghela nafas kasar menatap sinis kearah Seville. "Huh. Nona, bukankah kau mengatakan pada ayahmu ingin pergi keluar? Dan sekarang kau bilang terserah padaku. Apa menurutmu ini lucu hah?”Alan yang kehilangan kesabaran sedikit meninggikan suaranya, memberikan penekanan disetiap katanya.
"Ya Tuhan apa kau ini tuli eoh? Aku sudah katakan terserah padamu. Kenapa kau membentakku? Ayah, memintamu untuk menjagaku bukan membentakku. Kau?”Seville mengantungkan kalimatnya. Nyalinya menciut saat Alan memberikan deathglare padanya. "K-au? Kau... jangan sok berkuasa disini. Nyalakan mesinnya dan pergi kemanapun yang kau mau."
Alan menghela nafas kasar, Alan mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi membuat Seville berteriak histris kerena takut. Alan sengaja menambah kecepatannya, menyalip semua kendaraan yang ada dijalan raya.
"Ketaman? Aku bilang ketaman, brengsek!" teriak Seville sambil berpegangan erat pada hand grip mobil.
Alan menyeringgai penuh kemenangan saat melihat Seville berteriak ketakutan. Meski tidak bisa mengunakan kekerasan pada wanita setidaknya dia bisa mengunakan rasa takut untuk menutup rapat mulut pedas Seville.
To Be Continued ....