DRAGON

DRAGON
Chapter 38 : Siapa kau sebenarnya, Alan?



"Sudah kuduga kau ada disini."


Seville menatap tajam kearah Alan yang ada disampingnya. "Dari mana kau tahu aku ada disini?"


"Karena tempat ini adalah temanmu. Kau selalu menghabisakan waktumu ditaman ini sama seperti dulu ketika kau membawaku kemari."


"Alan apa akau pernah membohongi dan di bohongi oleh orang lain?" Alan terkejut mendengar pertanyaan Seville. "Betahun-tahun aku hidup dalam kebohongan yang telah dilakukan oleh keluarga ku sendiri. Aku seperti hidup dalam sandiwara meraka."


"Mereka melakukannya untuk kebaikanmu."


"Kebaikan? Tsk. Apa seperti ini yang kau sebut dengan kebaikan? Kebohongan ini menghancurkan keluargaku." Seville tersenyum sinis. "Kebaikan seperti apa yang kalian bicarakan eoh? Kebohongan awalnya saja demi kebaikan, tapi pada akhirnya kebohongan itu akan melukai hati semua orang. Terlebih lagi, hati orang yang dibohongi."


"Kau membenci mereka?" tanya Alan pelan


"Haruskah aku menjawab pertanyaanmu, sementara kau sendiri sudah tahu jawabannya. Aku ingin membenci mereka. Membenci semua orang yang membohongiku termasuk kau. Tapi... aku tidak bisa melakukannya .Aku tidak bisa seperti Elektra." suara Seville sedikit bergetar.


"Lalu apa yang akan kau lakukan sekarang?"


"Aku tidak tahu."


"Kau tidak ingin menemui Elektra?"


"Setelah aku bertemu dengannya, apa yang harus aku katakan hmm? Haruskah aku jujur kalau aku sudah mengetahui kebenaran ini atau aku ikut memerankan sandiwara kalian?"


🍁🍁🍁🍁🍁


Nyonya Hanna dan Shena mengunjungi makam Nyonya Andin, Mereka menaburkan bunga di atas makam orang mereka sayangi.


"Andin bagaimana keadaanmu? Maaf kami baru bisa mengunjungi sekarang. Andin apa kau tahu apa yang terjadi pada keluarga kita?" Nyonya Hanna menghapus air matanya. "Ketakutanmu selama ini menjadi kenyataan. Elektra sudah mengetahui semuanya. Elektra marah dia bahkan tidak ingin bertemu dengan kami lagi. Andin katakan sesuatu padaku. Aku harus bagaimana mengatasi semua ini?"


"Bibi andin mendengar semuanya. Bibi andin tidak akan tinggal diam. Dia pasti membantu anda mengatasi masalah ini. Mencari jalan keluarnya." kata Shena menguatkan Nyonya Hanna.


"Aku merindukanmu Andin. Andin selalu memberikan aku kekuatan setiap kali dalam masalah. Andin yang membuatku mampu bertahan menghadapi kehidupan pahit ini." tangis Nyonya Hanna mengingat kenangan mereka dulu.


Shena menatap langit yang mendung. "Lihatlah langit yang mendung itu? Bibi andin pasti menangis melihat anda seperti ini. Bibi andin ingin anda tetap kuat Nyonya. Hanya ada yang bisa diandalkan untuk menjaga keluarga kalian. Aku belajar sebuah kekuatan dari anda. Tolong jangan membuatku juga Bibi andin kecewa."


"Shena?"


"Nyonya tidak ada manusia yang hidup tanpa masalah. Anda adalah salah satu dari jutaan orang yang memiliki masalah. Sepertinya akan turun hujan, sebaiknya kita pulang. Anda butuh istirahat untuk memulihkan kondisi anda."


"Andin kami harus pulang. Jaga dirimu dengan baik. Tidak perlu mengkhawatir apapun semua akan baik-baik saja. Aku akan menjaga keuntuhan keluarga kita seperti yang kau harapkan semasa hidup mu. Gerald dan anak-anak hidup dengan baik."


"Bibi kami pergi dulu. Aku janji akan sering mengunjungimu. Bantu kami mengatasi ini semua. Aku mohon berikan kekuatan pada wanita tua ini. Wanita ini sangat membutuhkan kekuatan darimu. Aku tidak ingin melihatnya lemah seperti ini. Wanita ini adalah sumber energi bagi pria yang ku cintai. Aku tidak ingin orang yang kucintai hidup dalam kesedihan karna melihatnya lemah seperti sekarang ini."


"Shena!" Mereka meninggalkan makan Nyonya Andin.


"Aku mohon berikan kekuatan padanya. Dia sangat membutuhkan anda Bibi. Bantulah dia menjaga keluarganya." batin Shena


🍁🍁🍁🍁🍁


Seville mendatangi sebuah apartemen tempat persembuyian Elektra, Seville menekan bel yang ada disudut pintu. Elektra terkejut melihat Seville berada didepan pintu, Elektra membawa Seville masuk kedalam.


"Untuk apa datang kemari?" tanya Elektra dingin.


"Bagaimana keadaanmu? Apa kau hidup dengan baik selama disini?" bukannya menjawab, Seville malah bertanya balik.


"Ya. Dari mana kau tahu kalau aku tinggal disini?"


"Itu tidak penting. Kau membuat semua orang khawatir. Pulanglah."


"Aku tidak mau pulang. Kau pulang saja sendiri."


"Kau jangan keras kepala seperti ini. Mom sangat mencemaskan keadaanmu." Seville menarik paksa tangan Elektra.


"Seville lepaskan. Aku tidak mau ikut denganmu." teriak Elektra


"Aku akan melepaskanmu setelah kita sampai dirumah."


"Lepaskan! Aku bilang lepaskan!" Elektra menampar wajah Seville.


"Aku tidak percaya kau menamparku hanya karena ini." Seville menyeringgai menyentuh pipinya.


"Kau yang membuatku melakukannya. Kau tidak tahu apa-apa."


"Aku tahu!" teriak Seville. "Aku sudah tau semuanya. Aku tau siapa papi, kakak dan semua orang yang ku kenal. Meraka semua seorang mafia yang telah banyak membunuh orang lain. Apa kau pikir aku bisa menerima kebohongan ini? Aku tidak bisa Elektra. Mereka membohongi kita hanya untuk melindungi kita dari bahaya."


"Kau salah Elektra. Aku tidak sekuat itu, aku juga ingin sepertimu. Aku ingin marah, meninggalkan mereka bahkan membenci mereka seperti dirimu. Kau ingat saat kita kecil dulu saat aku hampir mati. Aku bisa saja kehilangan nyawaku saat itu kalau saja papi tidak menolongku. Dad mengirim kita keluar negeri karena papi takut kau akan mengalami hal yang sama sepertiku. Daddy begitu takut kehilangan kita."


"Keluar. Keluar dari sini sekarang juga." teriak Elektra sambil mendorong kasar tubuh Seville.


"Aku tidak akan meninggalkan keluargaku sendiri sepertimu karena? Karena... aku sangat mencintai mereka. Seandainya waktu itu kau yang berada diposisiku, melihat papi membahayakan dirinya sendiri demi menolongmu aku yakin kau tidak akan bertindak sejauh ini."


"Pada kenyataannya kau lah yang dalam bahaya bukan aku." teriak Elektra penuh emosi.


"Kau banyak berubah Elektra. Aku tidak percaya jika wanita yang berdiri dihadapanku ini adalah saudara prempuanku. Elektra sangat mencintai kami keluarganya tidak seperti dirimu. Kau bahkan sama sekali tidak perduli dengan keadaan mom."


🍁🍁🍁🍁🍁


Celvin tidak sengaja melihat Alan memasuki kantor polisi bersama seorang pria separuh baya, "Alan? Sedang apa dia disana? Sepertinya ada yang disembunyikan olehnya. Aku harus mencari tahu kebenarannya."


Celvin menemui seorang polisi wanita yang berada diluar kantor polisi itu.


"Permisi nona. Boleh saya tanya sesuatu?"


"Tentu saja. Apa yang bisa saya bantu, tuan?" jawab polisi wanita itu ramah


"Apa anda kenal dengan pria yang baru saja masuk kedalam bersama seorang polisi tua?"


"Owh. Apa orang yang anda masuk adalah Alan?"


"Kau mengenalnya? Apa yang Alan lakukan disini?" Celvin mengerutkan dahinya.


"Ya. Saat ini mayor Alan sedang menjalankan tugas yang diberikan oleh Jenderal untuk menyelidiki kelompok mafia besar dinegara ini."


"Terima kasih atas informasinya." Celvin kembali masuk kedalam mobilnya. "Eh. Jadi selama ini Alan menjadi mata-mata didragon? Alan? Kau pikir dirimu begitu pintar? Kita lihat saja apa yang akan terjadi padamu. Hukuman yang pantas untuk seorang penghianat adalah kematian. Aku tidak sabar ingin melihat sahabatmu membunuhmu. Permainan ini akan semakin menarik."


...🍂...


...🍂...


...🍂...


Semua orang yang memiliki kuasa atas dragon berkumpul diruang pertemuan. Semua orang yang ada disana langsung berdiri ketikan melihat Tuan Gerald masuk kedalam ruangan.


"Saya mendapatkan informasi penting mengenai penghianat disini. Siapun penghianat itu kalian harus membunuhnya. Dragon tidak bergerak dibidang obat-obatan terlarang dan penyeludupan senjata ilegal."


"Ketua. Dari mana anda mendapatkan informasi itu?" tanya Tuan Immanuel


"Polisi berhasil menangkap sindikat ilegal itu dan menurut keterangan yang didapatkan orang itu adalah orang dragon."


"Kenapa ketua tidak menanyakan langsung pada Alan mengenai ini?" Cetus Celvin.


Semua orang yang ada disana memusatkan perhatian mereka pada Celvin.


"Apa maksud ucapanmu?" tanya Tuan Gerald dingin


"Ketua saat ini ada yang lebih penting. Ada seorang mata-mata dari kepolisian didragon."


"Celvin jaga ucapanmu. Kau sadar dengan apa yang baru saja kau katakan."


"Aku bicara benar. Saat dalam kondisi darurat seperti ini Alan tidak ada disini membantu kita."


"Jadi maksudmu alan adalah mata-mata itu?" Kata Danil's


"Aku tidak mengatakanya. Tapi tidak ada salahnya kalian menyelidikinya sendiri." jawab Celvin acuh tak acuh.


"Tutup mulutmu, sialan!"


"Hey. Apa kalian tahu dimana teman kalian saat ini eoh? Kalian bahkan tidak tau dia ada dimana."


"Diam semuanya. Siapapun penghianat itu aku ingin kalian menemukannya secepat mungkin. Dan kau Celvin? Kau harus bisa membuktikan ucapanmu. Jika ucapamu tidak terbukti kau harus siap menerima konsekuensinya." Kata Tuan Gerald


"Dan bagaimana jika yang ku katakan benar?" Celvin menyeringgai memperhatikan penerus dragon satu persatu, kecuali Alan yang memang saat ini tidak ada disana.


"Sesuai dengan peraturan penghianat harus dihukum mati. Hart's dan teman-temannya lah yang akan membunuhnya." penerus dragon tersentak mendengar ucapan Tuan Gerald.


To Be Continued ....