
"Sepertinya kau sangat menyayangi mereka Hart's." Shena berdiri disamping kekasihnya yang sibuk memperhatikan adik-adiknya tertawa lepas bersama yang lain.
"Aku sudah menceritakan semua padamu mengenai mereka. Mereka telah banyak menderita karena aku dan Dad. Bagiku mereka adalah hidupku, tanpa mereka tubuhku seperti raga tanpa jiwa. Aku akan menjaga dan melindungi mereka berdua semampuku sampai ada seseorang yang bisa mengantikanku menjaga mereka."
"Meskipun ada yang dapat menjaga mereka berdua dengan baik melebihimu. Di hati mereka hanya ada kau. Kau begitu berarti bagi kedua adikmu, tidak ada yang bisa mengantikan tempat seorang kakak dihati adik-adiknya." Shena mengenggam erat tangan Hart's, menyandarkankan kepala di bahu bidang Hart's.
"Dengan alasan demi kebaikan mereka, selama ini kami semua membohongi mereka. Selama bertahun-tahun mereka hidup tanpa mengetahui apa pun mengenai keluarganya."
Hart's mengingat setiap kenangan mereka sewaktu kecil, kedua adiknya tidak bisa hidup seperti anak-anak lainnya. Mereka tidak bisa pergi kesekolah umum ataupun bermain dengan anak seusia mereka dan semua itu disebabkan oleh pekerjaan Tuan Gerald.
"Hart's, jika aku boleh memberikanmu sedikit saran, sebaiknya kalian segera memberitahu mereka. Biar... bagaimanapun mereka berhak tahu siapa keluarga mereka sebenarnya. Akan sangat menyakitkan mengetahui kebohongan ini dari orang lain."
Mereka berdua diam untuk beberapa second, hanya suara teman-temannya yang terdengar. Shena menggigit bibir bawahnya, gelisah menunggu Hart's bersuara.
"Tidak Shena! Mereka akan terpukul jika mereka sampai mengetahuinya apa lagi Elektra. Aku tidak ingin mereka membenci kami, apa lagi sampai mereka pergi dari kehidupan kami. A-ku? Aku... sangat mencintai mereka. Aku tidak sanggup harus hidup tanpa meraka. Aku mohon Shena rahasiakan kebohongan ini dari mereka."
Shena hanya diam membisu, dia tidak tahu harus menyikapi permasalahan ini bagaimana. Jauh dilubuk hatinya dia tidak ingin menyembuyikan apapun pada mereka berdua, tapi dia tidak bisa membuat Hart's terperosok dan berada diposisi sulit. Shena sadar dia tidak berhak ikut campur kedalam masalah keluarga kekasihnya.
Shena menghela nafas berat. "Baiklah. Aku akan merahasiakannya Hart's. Tapi... aku harap kau segera memberitahu mereka mengenai kebenaran ini. Aku ... tidak ingin mereka sampai membencimu." Shena memperhatikan Elshe yang sedang tertawa bersama Danil's juga yang lainnya. "Bagaimana dengan gadis itu? Apa gadis itu juga mengetahuinya."
Hart's memalingkan wajahnya memperhatikan Elshe. Saudara sepupunya itu terlihat senang bermain bersama Danil's dan Fernando. "Hah? Elshe? Dia sama seperti kedua putri kecilku. Hanya mereka bertiga yang tidak mengetahui kebenaran ini. Mungkin selamanya mereka tidak akan pernah mengetahuinya."
"Kak Hart's apa yang kakak lakukan disana? Cepat nyalakan kembang apinya." teriak Elshe.
Mendengar teriakan Elshe tanpa sadar Hart's melepaskan genggaman tangan Shena. Sayang tindakan Hart's kalah cepat dari mata tajam Elshe. Elshe lebih dulu melihatnya, melihat tingkah mereka Elshe hanya bisa tertawa kecil.
"Yak kau akan cepat menua jika terus marah-marah. Ish" Hart's menutupi kegugupannya dengan teriakan.
Dengan berat hati, Hart's menarik tungkainya menuju kembang api yang sudah disusun oleh Fernando sebelumnya. Hart's segera menyalahkan kembang api. Kebahagian mereka terpancar dari raut wajah mereka.
Warna-warni kembang api seakan-akan turut bahagia melihat senyuman merekah mereka. Semua orang menikmati kebahagian itu kecuali Seville yang berdecak kesal melihat Hart's merangkul Shena dengan penuh cinta.
"Kau tidak ingin ikut bermain?" Entah sejak kapan Alan berada didekat Seville, Seville sendiri tidak menyadari keberadaan Alan.
"Tidak! Jadi bisakah kau pergi?" kata Seville dengan nada dingin. Seville mengepal tangannya melihat betapa manisnya Hart's memperlakukan Shena.
Alan merollkan matanya malas. Seakan tuli dengan jawaban dingin Seville, Alan menyalakan satu batang kembang api dan memberikannya pada Seville. "Percaya ataupun tidak, percikan kemilau kembang api membawa kebahagian tersendiri bagi mereka yang memainkannya."
Berkat Alan perhatian Seville teralihkan. Netra Seville enggan menghindari pesona Alan. Seville terus memperhatikan balutan perban yang ada dikepala Alan dan tanpa dia sadari air matanya jatuh membasahi wajahnya.
"Kau menangis?"
"Ah.Tidak!"
Aww...Elshe berteriak menahan sakit, tangannya tidak sengaja terkena percikan kembang api. Alan yang khawatir bergegas menghampiri Elshe. Alan menarik Elshe menjauh, memaksanya untuk duduk.
Alan bergegas masuk kedalam kediaman Shenna, tidak lama kemudian Alan kembali menemui Elshe membawa kotak obat ditangannya. Alan membersihkan luka Elshe dengan alkohol sebelum mengobati lukanya.
Alan begitu hati-hati mengobatinya, luka ditelapak tangan
Elshe tidak begitu serius tapi Alan mengobatinya dengan lembut seakan-akan itu adalah kaca yang bisa retak jika tidak berhati-hati.
"Alan, begitu mencemaskan Elshe. Setiap kali bersama Elshe, gigolo itu selalu bersikap lembut penuh perhatian. Tapi saat bersamaku? Cih! Huh!!" Seville menghela nafas kasar memperhatikan Alan yang mengobati luka Elshe. "Tsk! Jangankan memperhatikanku. Bicara lembut saja gigolo itu tidak pernah. Menyebalkan sekali."
"Seville, kemarilah."Dengan langkah gontai Seville menemui Danil's dan bergabung bersama yang lainnya. Danil's mengalihkan pandangannya kearah Hart's juga Shena. "Seville, Elektra apa kalian akan menerima wanita yang akan menjadi pasangan Hart's?'
"Kau memanggilku hanya untuk menayakan pertanyaan bodoh seperti ini?"
Seville mengalihkan atensinya pada Hart's juga Shena, sebenarnya Seville sudah tahu kemana arah pembicaraan Danil's, tapi dia bersikap masa bodoh. Jujur saja hatinya tidak bisa menerima kehadiran wanita lain dalam hidup Hart's.
"Dengar Danil's, aku tidak akan setuju dan tidak akan bisa menerimanya."
"Begitu pula denganku!" sambung Elektra.
"Elektra bagai-"
"Tidak! Jangan menyela perkataanku. Aku tidak bisa menerimanya, Pria kaki pendek. Aku harap kau mengerti akan hal itu." Elektra mempertegas penolakannya membuat Danil's terdiam menatap sendu pada Hart's dan Shena.
"Aku dan Seville tidak ingin kehilaangan Kakak karena wanita asing. Dan lebih dari itu aku tidak ingin kakak membagi kasih sayangnya dengan wanita lain.Tidak akan pernah. Membayangkannya saja sudah membuatku takut."
"Oh ayolah. Kalian bukan anak remaja lagi." Danil's mengelengkan kepalanya menatap Seville dan Elektra bergantian.
Danil's tidak menyangkah bicara dengan kedua wanita ini ternyata lebih sulit dari pada membujuk anak kecil. "Kalian tidak mengerti. Hart's membutuhkan seorang pendamping yang bisa menjaga dan merawatnya."
"Aku bisa melakukannya!"
"TAPI KALIAN TIDAK BISA MENIKAH DENGANNYA." Danil's yang geram dengan perkataan Elektra tidak sengaja membentaknya karena frustasi. Bahkan semua orang yang ada disana tidak percaya seorang Danil's kehilangan kesabaran menghadapi mereka berdua.
"Yak! Danil's Willsky memangnya kau pikir siapa dirimu hah? Sampai kau berani membentak saudaraku." Seville berjalan mendekati Danil's. Seville menyeringgai menatap dingin pada Danil's. Demi tuhan Danil's mendadak takut melihat seringaian Seville.
"Dengar Danil's, kalaupun kakakku mencintai seorang wanita, yang berhak memberitahu kami adalah kakak bukan kau. Ah apa jangan-jangan kau mengetahui sesuatu?"
Seville bergegas pergi meninggalkan tempat itu, diikuti oleh Elektra. Saat melewati Danil's langkah Elektra berhenti. Danil's menatap heran melihat Elektra tersenyum lebar padanya dan? Danil's meringgis kesakitan memegang kejantannya yang sengaja ditendak oleh Elektra.
To Be Continued ....