
Danil's menghela nafas berat melihat Hart's masih berdiri dibalkon menatap langit malam. Danil's sedikit menyesal atas tindakan yang dia lakukan tadi. Seandainya saja dia sedikit bersabar, memberi pengertian pada Seville dan Elektra keadaan tidak akan menjadi serumit ini. Shena tidak perlu mendengar penolakan kedua adik dari pria yang dia cintai dan Hart's tidak akan berada disituasi rumit. Danil's menarik tungkainya mendekati Hart's.
"Apa yang kau lakukan disini? Kau masih memikirkan ucapan mereka?" Danil's menghembuskan asap rokoknya keudara.
"Seharusnya aku tidak perlu melakukan ini. Aku tahu mereka tidak akan menerima Shenna sebagai kekasihku. Akibat keserakahanku, aku tidak hanya membuat adikku kecewa tapi juga membuat perasaan Shena terluka." Hart's mengusap kasar wajahnya.
Seharusnya Hart's tidak perlu terburu-buru seperti ini. Kalau saja dia sedikit bersabar, mendekati adik-adiknya dengan Shena dan terus menyakinkan mereka. Lama kelamaan kedua adiknya pasti akan menerima Shena.
Danil's menepuk pelan pundak Hart's. "Mereka berdua butuh waktu untuk melepaskanmu pada wanita lain. Sejak kecil kau yang selalu menjaga, meyayangi dan merawat mereka dengan baik. Tentu tidak mudah bagi mereka untuk memberikanmu kepada wanita lain. Mereka bukan tidak menerima kehadiran wanita lain dalam hidupmu, hanya saja mereka begitu takut kehilanganmu, Hart's."
"Aku tidak tahu harus menjelaskan apa pada Shena. Dia pasti sangat terluka dengan semua ini." Hart's memejamkan matanya sejenak, membiarkan angin malam menerpa wajahnya.
"Kau tidak perlu menjelaskan apapun Hart's. Aku mengerti dengan keadaanmu." Shena tersenyum manis pada Danil's juga Hart's. "Mereka sangat menyayangimu, aku tidak bisa merampasmu begitu saja dari mereka."
"Tapi Shena-"
"Hart's, aku tidak akan menyerah menunggu mereka bisa melepaskanmu untukku. Saat ini mereka masih membutuhkanmu. Kau pernah mengatakan padaku bahwa mereka adalah hidupmu, tanpa mereka hidupmu tidak ada
artinya dan aku tidak ingin kau seperti itu, Hart's. Tidak apa! Aku akan melepaskanmu untuk mereka." Hart's tersentak mendengar perkataan Shena begitu pula dengan Danil's.
Dada Hart's terasa sesak seakan-akan ada benda berat tak kesat mata menekan dadanya.
"Tidak Shenna, aku tidak akan membiarkanmu melakukan hal sekejam itu pada sahabatku." Danil's menatap tajam pada Shena sambil menginjak putung rokoknya.
Danil's tidak percaya Shena bisa mengatakannya semudah itu tanpa memikirkan perasaan Hart's. "Apa kau pikir dengan melepaskan Hart's, Hart's akan tetap hidup hah? Memang benar kalau mereka adalah hidup Hart's, tapi perlu kau ingat. Kau adalah setengah dari hidupnya yang lain."
"Danil's-."
"DIAM DAN DENGARKAN AKU SHENA.” Danil's memotong ucapan Shena.
Malam ini Danil's terlihat berbeda jauh dari sosok Danil's yang selalu terlihat tenang. Salahkan perasaan sialan yang merenggut paksa kewarasannya. Kepala Danil's berdenyut sakit memikirkan persoalan percintaan sahabatnya.
Danil's bersumpah dia tidak akan mengenal yang namanya cinta demi kesehatan hati, jantung dan otaknya. "Selama ini Hart's tidak pernah mencintai wanita manapun, selain kedua adiknya dan wanita yang melahirkannya. Sampai kau datang dan menerobos masuk membuat hidupnya terombang-abing ditengah lautan tenang. Cih Cinta? Kau sebut ini cinta hah? Jangan bercanda Shena. Jika kau mencintai Hart's maka hadapi semuanya bersama."
"Yak apa perasaan Hart's tidak penting bagimu eoh? Mereka memang keras kepala tapi mereka bukan gadis yang jahat, Shena. Demi tuhan Shena, mereka bukan gadis jahat."
Perkataan Danil's seakan-akan menampar Shena, yang Danil's katakan benar. Seharusnya dia berjuang bersama Hart's untuk menyakinkan adik-adiknya bukan justru melepaskan Hart's.
"Kau tidak seharusnya bersikap seegois ini, Shenna. Setidaknya berpura-pura lah berjuang. Kenapa? Kenapa kau harus datang jika hanya untuk melukai saudaraku?" Danil's memalingkan wajahnya, dia tidak sanggup melihat air mata Shena. "Selalu ada pilihan untuk setiap masalah. Tolong jangan seperti kami yang tidak bisa menentukan pilihan."
Cinta? Tsk apa cintanya serendah ini hingga membuatnya menyerah begitu saja. Hart's memeluk Shena membiarkan wanitanya menangis. Danil's tahu betul bagaimana rapuhnya perasaan Hart's selama ini, betapa kesepiannya dia selama ini dan untuk pertama kali dalam hidupnya, Ia melihat sahabatnya dapat tertawa, tersenyum dan memiliki perasaan lain sebagai seorang lelaki, semua itu berkat kehadiran Shena.
Sebagai sahabat Danil's tidak ingin Hart's kembali kemasa-masa kelam itu lagi menutupi dirinya, menolak semua orang yang mencoba masuk kedalam hidupnya. Fernando dan Alan memperhatikan mereka dari jauh. Tidak ada yang bisa mereka lakukan untuk menyatukan cinta kedua sahabatnya.
"Sepertinya mereka akan mengalami masa sulit. Huh." Fernando menyandarkan punggungnya pada dinding.
"Aku tidak habis pikir kenapa mereka bisa sekejam itu pada Hart's. Hart's berhak untuk mencintai dan hidup bersama wanita lain selain mereka." Alan menggigit bibirnya, otaknya berusaha keras mencari jawaban dari penolakan Seville dan Elektra terhadap Shena.
"Kau tidak mengerti Alan. Mereka sangat mencintai Hart's, mereka begitu dekat dengan Hart's. Meski ketua mengasingkan mereka keluar negeri, hubungan persaudaraan mereka tidak pernah terkikis sedikitpun."
Fernando seperti melihat setiap kejadian yang Hart's lewatkan bersama kedua putri kecilnya. Fernando dan Danil's adalah saksi hidup perjalanan hidup keluarga Scharllet.
"Hart's tidak akan melewatkan waktu liburnya untuk menjenguk mereka, sekedar membawa mereka berdua bermain. Elektra dan Seville telah banyak menderita karena ini. Selama bertahun-tahun mereka tidak bisa tinggal bersama keluarga mereka sendiri. Mereka tidak bisa bermain dengan bebas seperti anak-anak lainnya. Karena itu Hart's merasa bersalah dan mengorbankan hidupnya untuk mereka? Ini semua bukan kesalahannya tapi keadaan yang mempermainkan kita-."
"Dan memaksa kalian untuk memilih?" Alan menyela ucapan Fernando sebelum pemuda itu menyelesaikan kalimatnya.
"Mau bagaimana lagi kita tidak mempunyai pilihan lain, Alan." lirih Fernando
"Tidak Fernando. Untuk yang ini kau salah. Kita selalu mempunyai pilihan lain. Sekejam apapun hidup mempermainkan kita, kita selalu memiliki pilihan."
Alan membasahi bibir bawahnya dengan lidah. "Bukan tidak ada pilihan lain, hanya saja kalian yang tidak ingin memilih."
"Alan, kau menghilang cukup lama dan kau tidak mengetahui apapun. Bagaimana bisa kau bicara seperti ini pada hal kau tidak mengalaminya? kau tidak menyaksikan semuanya. Aku dan Danil's menyaksikan semuanya dengan mata kepala kami sendiri." Fernando mengusap wajahnya, dia kehilangan kendali mendengar ucapan Alan sebelumnya. "Aku tidak ingin mengatakan ini padamu. Alan, kau tidak tahu apapun mengenai perjuangan ataupun pengorbanan yang Hart's lakukan. Aku mohon tetaplah diam."
To Be Continued ...