DRAGON

DRAGON
Chapter 18 : Selalu Bertengkar



Berulang-kali Elektra menghentakkan kakinya, sudah dua jam lebih Elektra berdiri disana menunggu kedatangan Hart's. Namun,  Hart's belum juga menampakkan dirinya. Teriknya sinar matahari sama sekali tidak dihiraukan olehnya, dia tetap bersikeras untuk menunggu Hart's ditempat itu.


Tidak jauh dari tempatnya berdiri, seorang pria nampak sedang memperhatikannya. Pria itu menarik ujung bibirnya setiap kali dia melihat kekesalan Elektra. Pria itu berjalan kearah Elektra, sepertinya dia berniat menghampiri Elektra.


"Nona?" Elektra mengalihkan atensinya pada sosok pria yang entah sejak kapan sudah berdiri didekatnya.


Elektra menatap heran pada sosok pria tersebut, mencoba mengingat dimana dia pernah bertemu dengan pria ini. "Ah... kau-"


"Celvin. Kau bisa memanggilku Celvin." Elektra tersipu malu, Elektra menjabat uluran tangan Celvin. Elektra tidak sempat berkenalan dengan Celvin karena ulah Danil's yang menariknya secara paksa waktu itu. "Ah ngomong-ngomong apa yang kau lakukan disini?"


"Aku se-dang menunggu seseorang." Elektra nampak gugup menjawab pertanyaan Celvin.


"Apa aku membuatmu tidak nyaman?'" Dengan cepat Elektra mengelengkan kepalanya, Celvin tersenyum kecil melihat kelakuan Elektra. "Jika kau tidak keberatan, kita bisa menunggunya dikafe. Di luar terlalu panas, kulitmu bisa terbakar berdiri terlalu lama disini."


Tanpa banyak berpikir lagi, Elektra menerima tawaran Celvin. Setidaknya berada diruangan tertutup jauh lebih baik dari pada berdiri diluar. Sepanjang pembicaraan kedua manik Elektra tidak pernah lepas dari Celvin.


Sikap Celvin begitu baik dan ramah membuat Elektra mempertanyakan perkataan Danil's yang memintanya untuk menjauhi Celvin. Elektra tidak tahu ada masalah apa diantara Danil's dan Celvin tapi dimatanya saat ini Celvin sama sekali tidak terlihat berbahaya.


🍁🍁🍁🍁🍁


"Apa wajahku setampan itu? Sampai membuatmu terus menatapku?"


"Sory, sory. Aku tidak bermaksud untuk- Ah lupakan saja." Elektra terlihat salah tingkah, ya wanita mana yang tidak salah tingkah jika dia tertangkap basah menatap seorang pria.


"Mhh kau ini lucu sekali. Sepertinya ada yang menganggu pikiranmu. Katakan saja mungkin aku bisa membantumu mencari selusinya."


"Danil's?"


"Danil's?" Celvin mengerutkan dahinya, dia tidak mengerti arah pembicaraan Elektra. Tidak lama kemudian Celvin tersenyum membuat Elektra bingung. "Danil's pria yang baik. Kau akan bahagia bersamanya."


"Hah? Ah tidak-tidak. Kau salah paham bukan itu maksudku. Aku sama sekali tidak menyukainya. Meskipun dia pria satu-satunya yang tersisa, aku tidak akan menyukainya. Tsk. Aku lebih memilih melajang seumur hidup dari pada hidup bersamanya."


Celvin tertawa kecil mendengar perkataan Elektra, Celvin melihat layar ponselnya dan membaca pesan yang baru saja masuk keponselnya, "Maaf. Aku harus pergi sekarang. Terima kasih sudah menemaniku."


🍁🍁🍁🍁🍁


Elektra mengantar Celvin keluar, Celvin segera masuk kedalam mobil yang sudah menunggunya sejak tadi. Elektra menghela nafas panjang memperhatikan mobil Celvin yang menjauh. Baru saja hendak pergi tiba-tiba saja seseorang mencengkram kasar tangannya.


"Kau? Jangan katakan kalau kakak yang mengirimmu kesini?" Elektra melepaskan tangan Danil's dengan kasar.


"Hehe. Hart's tidak bisa menemuimu, aku akan mengantarmu pulang." Danil's hendak meraih tangan Elektra. Namun, Elektra menepis tangan Danil's dengan kasar.


"Tidak perlu. Aku bisa pulang sendiri, sampaikan pada kakak untuk berhenti mengirim orang bodoh sepertimu menemuiku."


"What?" Danil's berdecak kesal, setiap kali berhadapan dengan Elektra semua kesabaran Danil's seketika lenyap entah kemana. "Aku belari sepanjang sungai untuk mencarimu dan sekarang kau mengusirku?"


Elektra sama sekali tidak perduli dengan segala keluh kesah Danil's. Melihat Elektra yang berjalan menjauh, Danil's belari menyusulnya dan tanpa banyak bertanya lagi Danil's langsung mengendong Elektra menuju mobil.


"Dengar aku tidak perduli kau menyukaiku atau tidak. Hart's mempercayakanmu padaku, suka atau tidak, aku harus menjagamu nona." Danil's masuk kedalam mobil. Elektra mengumpat kesal menatap nyalang pada sosok Danil's yang berada dikursi kemudi.


"Yak kau? Keluarkan aku, aku tidak ingin ikut denganmu, brengsek. Kau tidak harus selalu menuruti perintah kakak." teriak Elektra frustasi.


"Aku akan mengeluarkanmu setelah memastikan kau pulang dengan selamat. Aeish tidak bisakah kau tutup mulutmu itu? Asal kau tahu saja ya, kau ini benar-benar merepotkan. Aku juga tidak ingin terjebak denganmu terlalu lama nona manja, jadi tolong diam dan biarkan aku menyelesaikan tugasku dengan cepat." Danil's tersenyum sinis penuh kemenangan karena bisa membuat Elektra menutup mulutnya.


Jujur saja berdebat dengan wanita adalah pekerjaan yang sangat melelahkan, karena selain menguras tenaga, dia juga tidak akan pernah menang dan Danil's paham akan hal itu. Danil's memperhatikan Elektra yang berada dikursi belakang melalui kaca.


🍁🍁🍁🍁🍁


Entah apa yang ada dipikiran Seville sampai dia mau mengikuti Alan pulang kerumah kakek dan nananya. Seharian berada dirumah kakek dan nenek Alan sedikit membuatnya merasa nyaman. Ya setidaknya dirumah ini masih ada orang berhati hangat.


Suara tawa terdengar membuat suasana dirumah ini lebih terasa hidup, Alan hanya diam melihat kebersamaan Seville dengan kakek dan neneknya. Entah kapan terakhir kali dia melihat kakek dan neneknya tertawa selepas ini.


Kehadiran Seville membuat kakek dan neneknya bisa melepas rindu pada sosok adik prempuannya yang sudah lama hilang.


"Aw!!!" Seville meringgis kesakitan sambil memegang pantatnya yang sakit akibat mencium lantai.


"Bukankah kakek sudah katakan untuk tidak membuang kulit pisang sembarangan eoh? Lihat sekarang? Kau menanggung akibatnya."


Alan menertawakan kebodohan Seville tanpa berniat membantu Seville berdiri. Seville yang kesal langsung berdir dan bergegas pergi kedapur untuk membantu nana memasak, diikuti oleh Alan.


Seville menyeringgai nakal melirik kearah Alan yang sibuk membersihkan sayuran. Seville mengambil paksa sayuran yang ada ditangan Alan dan melemparkannya tepat diwajah Alan. Seville membulatkan matanya melihat Alan tidak bereaksi apapun atas tindakkannya. Seville berdecak kesal, niat hati ingin membuat Alan marah mala justru dia yang marah kerena Alan tidak mengubrisnya sama sekali.


Alan menarik ujung bibirnya memperhatikan Seville menekuk wajahnya. Melihat Seville berpikir keras mencari cara untuk membuatnya marah, Alan langsung menumpahkan adonan tepung kekepala Seville, spontan Seville langsung berteriak histris.


Seville menatap nyalang pada Alan, Alan memasang wajah datar seakan-akan tidak melakukan kesalahan apapun. Melihat keadaan dapur yang berantakan, membuat nenek marah dan nenek mengusir mereka berdua keluar.


Plak...


Seville memukul kepala Alan dengan keras, Alan paling tidak suka jika ada yang menyentuh apa lagi memukul kepalanya. Alan mengumpat kasar pada Seville, dia hendak membalas memukul kepala Seville namun Seville yang tahu pergerakannya segera kabur begitu saja meninggalkan Alan.


Alan mengejar Seville yang terus belari hingga kehalaman belakang, melihat kakek berada disana tanpa pikir panjang lagi, Seville langsung berlindung di belakang tubuh kakek. Alan melipat kedua tangannya didada sambil menatap nyalang pada Seville yang mengejeknya.


Alan menaikkan ujung bibirnya, menyeringgai tanpa Seville sadari Alan memberikan isyarat pada kakeknya untuk menghindar. Kakek yang mengerti akan isyarat Alan buru-buru menyingkir saat melihat Alan hendak menerkam Seville.


Jantung Seville mulai berdetak tidak beraturan saat tangan kekar milik Alan melingkar dipinggangnya. Berada dalam posisi seperti ini sangat tiak baik untuk kesehatan jantung Seville. Kedua netra mereka bertemu, ketika kesadarannya mulai kembali buru-buru Seville melepaskan tangan Alan dan melangkah mundur.


Layaknya adegan dalam drama, kaki Seville tersandung keran air membuat tubuhnya kehilangan kesimbangan dan brak. Alan yang hendak menolong Seville juga terjatuh ketanah bersama Seville yang berada diatas tubuhnya. Kalau saja kakek tidak mendorongnya dengan sengaja, dia tidak akan jatuh dan mempermalukan dirinya seperti ini.


Bola mata mereka berdua membesar saat menyadari kalau bibir mereka berdua menyatu. Kakek yang melihat hal itu tersenyum senang, kakek mengambil selang air dan berjongkok diantara mereka.


"Mau sampai kapan kalian berciuman?" Kakek menyirami mereka berdua, Alan yang merasa malu langsung mendorong tubuh Seville menjauh.


To Be Continued ...