DRAGON

DRAGON
Chapter 13 : Mengutarakan Perasaan



"Bagaimana? Apa sudah ada informasi mengenai penyeludupan narkotika itu?”


"Tidak ada. Satu-satunya saksi mata yang mengetahui ini telah tewas dibunuh. Hart's dan Danil's juga tidak berhasil menemukan bukti apa pun. Kasus ini tidak semudah yang aku pikirkan." Alan menjatuhkan tubuhnya diatas rumput dan menatap bintang dilangit malam yang kelam.


"Mereka lebih berbahaya dari yang kita pikirkan. Alan selesaikan tugas ini secepatnya. Berada di sana terlalu lama sangat berbahaya untukmu."


"Paman, mereka tidak akan melukaiku." Alan bangun dari tempatnya dan berdiri disamping Tuan Victor, orang yang sangat dia hormati selain kakek dan Tuan Gerald. "Oh iya paman. Apa... sudah ada perkembangan mengenai keberadaan kakak dan adikku?”


"Saat ini satu-satunya informasi yang kami dapatkan adalah mengenai adikmu. Felix sedang menyelidikinya di london. Maaf kami tidak bisa mendapatkan informasi apapun mengenai kebaradaan kakakmu."


"Livia? London? Tolong katakan padaku, Paman? Aldric... aku tidak bisa berharap lebih. Aku sendiri sulit melacak keberadaannya."


"Kami butuh waktu memastikan kebaradaannya, yang jelas jejak terakhir adikmu kami temukan ada di london. Untuk saat ini mari percayakan saja pada Felix. Sebaiknya kau masuk, temui kakek dan nana mu. Mereka pasti sedang menunggumu."


Setelah berpamitan, Alan langsung masuk kedalam kediaman kakek dan neneknya. Alan terkejut saat melihat kakeknya mengeluarkan darah sambil memegangi dadanya menahan sakit. Sejak orang tuanya meninggal hanya merekalah yang Alan miliki didunia ini.


🍁🍁🍁🍁🍁


"Kakek? Kakek apa yang terjadi padamu? Kenapa kau mengeluarkan darah sebanyak ini?" Alan membantu kakeknya duduk disofa, wajahnya terlihat sangat mencemaskan kondisi pria tua yang telah merawat dan membesarkannya selama ini.


"Kakek tidak apa-apa. Jangan khawatir."


"Penyakit kakekmu kambuh lagi!" Nana muncul membawa segelas minuman hangat berserta obat-obatan milik suaminya. "Entah apa yang dipikirkannya sampai kondisinya memburuk."


"Jangan bicara seperti itu. Kau membuat cucuku khawatir. Alan jangan cemaskan keadaan kakek. Kakek baik-baik saja."


"Apanya yang baik-baik saja hah? Kondisi kakek memburuk seperti ini. Aku akan membawa kakek kerumah sakit."


"Alan?" Kakek menahan tangan Alan ketika Alan hendak beranjak dari tempatnya. "Kakek baik-baik saja. Kakek hanya


merindukan saudaramu. Semakin hari umur kakek semakin berkurang, sebentar lagi mungkin kakek akan meninggalkan kalian."


"Kakek ini bicara apa?" Nana memukul pundak kakek pelan. "Tuhan tidak akan mengambilmu dari kami."


"Istriku, setiap makhluk hidup yang bernyawa akan mati. Hanya saja kapan waktunya tidak ada yang mengetahuinya. Alan sebelum kakek meninggal,kakek hanya ingin melihat cucu-cucu kakek berkumpul lagi seperti dulu. Permintaan orang tuamu dulu kini menjadi keinginan kakek."


"Cih. Tuhan tidak akan mengambil kakek dari kami semudah itu. Kakek boleh mati setelah aku berhasil menemukan Aldric dan Livia. Kakek boleh meninggalkan kami setelah aku berhasil mewujudkan harapan terakhir orang tuaku." Alan mengenggam erat tangan kakeknya. "Aku janji kita akan berkumpul lagi seperti dulu, tolong percayalah padaku. Aku mohon bantu aku dengan terus bertahan disisiku."


...🍂...


...🍂...


...🍂...


Sebelum kembali ke dragon, Danil's memutuskan untuk mengunjungi Elektra terlebih dahulu dikediaman Scharllet. Sejak kejadian itu dia tidak pernah bertemu dengan Elektra. Jujur saja sebenarnya Danil's sedikit merindukan pertengkarannya dengan Elektra.


"Danil's?”


"Bagaimana keadaanmu? Kau baik-baik saja?"


"Jauh lebih baik dari sebelumnya. Bukannya ini masih jam kerja kenapa kau bisa ada disini?"


"Ada apa dengannya? Hari ini dia aneh sekali." Elektra memperhatikan kepergian Danil's hingga sosok itu hilang dari pandangannya.


"Siapa?"


"Astaga! Tante mengagetkanku." Elektra memengang dadanya.


"Elektra apa kau melihat Seville dan Elshe? Tante sudah mencari keseluruh sudut ruangan tapi tidak menemukan keberadan mereka."


"Ya. Mereka berdua sedang membeli sesuatu di supermarket."


"Aneh!"


"Apanya yang aneh?" Elektra menaikan alisnya mendengar ucapan Nyonya Andin.


"Tentu saja ini aneh. Sejak kapan mereka berdua dekat?"


🍁🍁🍁🍁🍁


Shena heran dengan perubahan sikap Hart's hari ini. Hari ini Hart's nampak terlihat berbeda dari sebelumnya. Hart's yang jarang tersenyum sekarang lebih banyak tersenyum tanpa diminta. Entah apa yang membuatnya sebahagia itu? Apa karena keadaan Elektra yang baik-baik saja atau karena alasan yang lain? Entahlah hanya dia yang tahu.


"Hart's?" Hart's terlihat gelisah. Sejak tadi dia hanya berlalu-lelang dihadapan Shenna dan itu membuat Shenna bingung. Hart's mengenggam jemari tangan Shena. "Apa? Ada apa?"


"Shena... ada yang ingin aku katakan padamu. Terus terang saja, aku tidak tahu bagaimana caranya memberitahumu. Maaf... mungkin ini terlalu cepat, tapi aku tidak bisa membohongi perasaanku lebih lama lagi kalau aku men-cin-taimu."


"Hah? Kau Apa? Bisa kau ulangi lagi?" Shena syok mendengar pengakuan Hart's, meksi Shena sudah menyiapkan hatinya untuk ini, dia tidak menyangkah akan secepat ini menerima pengakuan cinta Hart's, pada hal dia yang berniat memberitahu Hart's mengenai perasaannya.


"Ah itu? Tidak ada. Huh. Lupakan saja."


Shena tertawa kecil melihat ekspresi wajah Hart's yang mengemaskan karena malu, "Setelah membuat jantungku berdatak tidak beraturan, sekarang kau memintaku untuk melupakannya begitu saja? Bagaimana jika aku ingin mengatakan hal yang sama denganmu?"


"Ah? Apa?"


"Aku mencintaimu,Hart's." teriak Shena.


Hart's tersenyum kecil memeluk Shena, memutar tubuh Shena. Hart's menceritakan semuanya kepada Shenna mengenai siapa dirinya, Sahabatnya, dragon dan juga kehidupannya.


Semuanya dia ceritakan pada Shena tanpa ada satupun yang dia rahasiakan dari Shena, dalam sebuah hubungan hal yang paling penting selain kejujuran adalah keterbukaan pada pasangan dan Hart's tidak ingin menyembuyikan apapun dari Shena. Hart's mencintai Shena, dia ingin hubungannya dengan Shena berjalan baik hingga kepernikahan dan untuk mencapai itu dibutuhkan kejujuran diantara mereka.


Seandainya Shena tidak bisa menerima latar belakangnya, Hart's siap melepaskannya. Hart's akan menghormati apapun keputusan Shena nantinya.


"Hart's siapapun kalian itu tidak penting bagiku. Kalian bukan orang jahat, kalian sudah menolongku karena kebaikan kalian aku bisa ada disini. Aku tidak ingin menilai kalian hanya karena pekerjaan kalian sebagai seorang mafia. Jujur... saja aku sudah mengetahuinya sejak lama."


Shena tertawa melihat raut bingung Hart's. "Hanya orang bodoh yang tidak menyadarinya. Saat kau membawaku keclub dan dragon, saat itu aku sadar kalau aku bersama pria yang luar biasa hebat. Perusahaan mana yang dikelilingi oleh orang-orang berpakaian aneh dan membawa senjata?"


"Terima kasih Shena. Kau mencintaiku tanpa perduli latar belakangku." Hart's membelai rambut Shena, kemudian mengecup pelan bibir Shena. "Ah apa aku boleh merayakan hubungan kita? Apa kau tidak keberatan jika merayakannya disini."


"Tentu saja tidak. Ini juga rumahmu Hart's. Kau bebas melakukan apapun yang kau ingin lakukan."


To Be Continued ....