
"Nona?"
"Celvin?"
"Tidak ku sangkah kita akan bertemu lagi disini."
"Ya. Sepertinya tuhan menginginkan kita bertemu." Elektra terlihat senang bisa bertemu dengan Celvin ditempat ini lagi, siapa yang menyangkah mereka akan bertemu disini?
Celvin menatap lurus kearah sungai Han. "Anda sering kemari?"
"Elektra. Kau bisa memanggil namaku. Rasanya tidak enak didengar setiap kali bertemu kau selalu memanggilku nona." Celvin tertawa mendengar keluhan Elektra, tanpa Elektra beritahu Celvin sudah mengetahui namanya, hanya saja dia ingin Elektra sendiri yang memberitahukan namanya. "Aku sangat menyukai tempat ini. Setiap kali aku ada masalah aku akan datang kesini. Rasanya aku ingin terus berada disini."
"Tempat ini sangat indah. Tidak heran jika kau menyukainya. Apa kau sedang ada masalah dengan, Danil's?"
Raut wajah Elektra berubah kesal mendengar nama Danil's. "Huh. Aku selalu bermasalah setiap kali bersama dengannya."
"Kau terlihat seperti sedang menaruh perasaanya padanya. Apa kau menyukai Danil's?"
Elektra hampir saja tersedak mendengar pertanyaan Celvin."Haha. Aku menyukainya? Itu tidak mungkin, justru sebaliknya aku sangat membencinya."
"Jika kau mau membuka sedikit hatimu. Kau akan bisa melihat bahwa kau sebenarnya menyukai Danil's bukan membencinya."
Elektra terdiam sejenak mendengar perkataan Celvin, Elektra tidak bisa membayangkan jika dia sampai menyukai Danil's seperti layaknya seorang wanita pada umumnya. Elektra buru-buru menyingkirkan pikiran itu dan kembali kealam sadarnya.
"Sebaiknya kau jangan berkeliaraan sendirian seperti ini, terlalu bahaya bagi wanita cantik sepertimu berada diluar tanpa penjagaan."
"Tsk. Kau terlalu berlebihan, aku bukan anak kecil lagi dan aku bisa menjaga diriku sendiri." Elektra menghela nafas panjang sambil memperhatikan sungai yang berada ditengah kota begitu tenang.
"Berada disini membuat pikiran tenang, Celvin apa kau menyukai tempat ini? Kita sudah dua kali bertemu disini ditaman ini."
"Tentu saja. Sama sepertimu, aku juga sering kemari setiap kali ada masalah. Kau tau, aku bahkan ingin membeli tempat ini dan mendirikan rumahku disini." Celvin tertawa kecil, untuk hal ini Celvin tidak berpura-pura dia memang sangat menyukai tempat ini. "Hmm, sepertinya kita harus berpisah disini. Aku ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Kau ingin tetap disini atau?"
"Kau pergi saja, aku masih ingin berada disini."
"Baiklah, jaga dirimu. Jika terjadi sesuatu segera hubungi, Danil's"
...🍂...
...🍂...
...🍂...
Alan menghentikan sepeda motornya, netranya menatap bintang dilangit terbayang akan masa lalunya dulu bersama keluarganya. Kehidupan mereka begitu bahagia, canda tawa selalu menghiasai hari-hari mereka. Tapi semuanya lenyap dalam sekejap mata saat para penjahat itu menerobos masuk rumahnya, membunuh kedua orang tuanya dan membawa kedua saudaranya pergi.
"Aku harus membawa adikku pulang. Elshe harus tahu siapa keluarganya sebenarnya."
Sementara itu lebih tepatnya dikediaman Shena. Danil's menutup mata Elshe dengan kedua tangannya dan menuntun Elshe menuju balkon atas, tempat favorit mereka semua ketika berada dikediaman Shena.
"Terima kasih untuk ini semua."
"Berterima kasihlah pada Alan. Dia-lah yang mempersiapkan ini semua untukmu. Aku bahkan tidak tahu kalau ini hari kelahiranmu." Elshe tersipu malu mendengar ucapan Shena. Elshe tidak menyangkah Alan tahu hari ulang tahunnya dan mau menyiapkan kejutan untuknya. Jujur saja sebagai seorang wanita, dia merasa senang karena pria yang diam-diam dia sukai memberikan perhatian padanya sebesar ini.
"Elshe?" Seville memberikan titipan Alan pada Elshe. "Alan memintaku untuk memberikan ini padamu."
Elshe menjauh dari mereka semua untuk membuka bingkisan pemberian Alan. Sebuah boneka beruang dan beberapa foto keluarga yang Elshe tidak kenal adalah pemberian Alan.
Alan menghentikan langkahnya memperhatikan Elshe dari balik tembok. Alan mengirimkan sebuah lagu yang dulu biasa Nyonya Angel nyanyikan setiap ulang tahun Livia keponsel milik Elshe. Elshe mengerutkan dahinya, dia tidak mengerti dengan semua hadiah pemberian Alan.
"Apa artinya semua ini? Kenapa Alan memberikan ini semua padaku?" Elshe menatap semua hadiah pemberian Alan, mencoba memahami maksud Alan memberikan semua ini padanya tapi sekeras apapun dia memikirkannya. Dia tetap tidak menemukan jawabannya sama sekali.
"Alan? Kau sudah datang?" semua orang memalingkan wajah mereka kearah pria yang berjalan mendekat termasuk Elshe.
Fernando langsung merangkul Alan dan membawanya bergabung bersama dengan yang lain. "Dari mana saja kau ini? Acaranya sudah dimulai dan kau baru datang sekarang."
"Maaf. Aku ada urusan penting yang harus ku selesaikan."
"Alan?" Elshe mendekat kearah Alan, Fernando yang mengerti sedikit menjauh dari Alan. memberikan ruang untuk Elshe dan Alan bicara. Elshe memberikan hadiah yang Alan berikan padanya. "Apa maksudnya ini? Kenapa kau memberikan boneka dan foto ini padaku?"
"Kau sama sekali tidak ingat dengan semua itu?"
"Ingat apa? Aku tidak mengerti." Alan mencengkram erat bahu Elshe, menatap lurus kedalam manik coklet Elshe. "Elshe, kau tahu aku sangat menyayangimu."
"Aku juga sama Alan. Aku menyayangimu.Tidak, lebih tepatnya aku sangat mencintaimu." Elshe menurunkan tangan Alan dari bahunya dan mengenggam erat tangan pria yang ada dihadapannya.
Alan menarik tangannya ketika Elshe hendak mencium tangannya. 'Cinta dan kasih sayang diantara kita itu karena kita adalah saudara!" seru Alan.
Elshe mundur beberapa langkah menjauh dari Alan, dadanya mendadak sesak seakan-akan ada pedang tidak kesat mata menancap tepat di jantungnya saat dia mendengar perkataan Alan. Bukan hanya Elshe yang terkejut, mereka semua terkejut mendengar pengakuan Alan. Semua orang saling melempar tatapan mencoba memahami maksud dari perkataan Alan.
"K-au ini bicara apa hah? Kita tidak mungkin bersaudara." Elshe tertawa kecil menatap tajam pada Alan. "Alan ini sama sekali tidak lucu, aku tidak suka leluconmu!"
"Aku berkata benar. Kau adalah adikku! Adik kandungku yang selama ini hilang. Sepuluh tahun aku mencari kau juga Aldric. Kau tidak ingat saat kita kecil dulu? Kau lupa kedua orang tua kita dibunuh oleh sekelompok mafia. Mereka juga membawamu juga Aldric pergi. Kebenaran ini tidak bisa di rubah. Kau dan aku adalah saudara Livia Orlando!!"
"TIDAK!! ITU TIDAK MUNGKIN."
Elshe belari meninggalkan mereka semua, mereka segera menyusul kepergian Elshe. Sekali lagi ditempat yang sama Elshe harus menelan kenyataan pahit untuk kedua kalinya. Ditempat ini dia mengetahui kebohongan para penerus dragon dan ditempat ini pula dia harus kembali ditampar kenyataan, kalau dia dan Alan adalah saudara kandung.
Takdir benar-benar mempermainkannya. bagaimana bisa pria yang dia cintai dalam diam ternyata adalah saudara kandungnya? Saudara yang dia sendiri tidak tahu akan kehadirannya. Danil's menarik tangan Elshe membuat gadis itu menangis histris dalam dekapan Danil's.
Danil's memberi isyarat kepada yang lain untuk tidak mendekat.
To Be Continued ....