
"Hamil?" Mereka semua terkejut melihat kemunculan Danil's. "Apa yang sedang kalian sembuyikan dari kami?"
Danil's yang mendapatkan pesan dari Hart's mengenai keadaan Fernando berinisiatif datang kerumah Fernando. Jika boleh jujur, Danil's juga mencemaskan keadaan Fernando akhir-akhir ini. Demi semesta dan seisinya, Danil's lebih suka Fernando yang selalu ribut dan menganggunya dari pada sosok Fernando yang pendiam.
Danil's memasukkan pasword rumah Fernando, begitu pintu terbuka dia langsung melangkah masuk kedalam. Niat awal untuk berbicara dengan Fernando agar sahabat baiknya itu mau sedikit terbuka mengenai masalah yang dia hadapi. Tapi siapa sangkah dia mendapat kejutan yang nyaris membuat jantungnya berhenti berdetak.
"Danil's sejak kapan kau ada disana." tanya Seville gelagapan.
Danils menatap nyalang kearah Fernando kemudian memukuli Fernando. Seville dan Elshe segera memisahkan mereka berdua, menghentikan perkelahian mereka sebelum salah-satu dari mereka merenggang nyawa.
"Fernando, wanita ini adik sahabatmu sendiri." teriak Danil's sambil menarik Elshe mendekat.
"Danil's tolong dengarkan dulu penjelasan kami. Sumpah ini diluar kendaliku. Aku juga tidak ingin menidurinya. Aku? Aku tidak ingin semua ini menimpa, Elshe." Danil's langsung menepis kasar tangan Fernando saat Fernando ingin menyentuhnya.
"Bagaimana bisa kau bisa melakukan hal menjijikan seperti itu pada adik sahabatmu sendiri?" Danil's melayakang tinjunya pada rahang Fernando. "Aku akan memberitahu Alan mengenai ini."
Elshe langsung berlutut dibawah kaki Danil's, "Tidak! Jangan lakukan itu, Danil's. Aku mohon padamu jangan beritahu kakak mengenai ini. Hiks.. Aku.. aku belum siap menghadapi kakak."
"Sampai? Emm sampai kapan kau akan menyembunyikan ini dari, Alan?" Danil's mengeram frustasi. Dia tidak sanggup melihat Elshe. "Semakin lama perutmu akan semakin membesar. Alan bukan orang bodoh yang bisa kalian tipu dengan mudahnya." Danil's menarik tangan Seville dan membawanya pergi. "Kau tidak perlu melibatkan dirimu kedalam masalah mereka."
"Danil's, kau keterlaluan pada mereka? Mereka membutuhkan kita untuk mencari jalan keluar dari masalah ini." cetus Seville
"Maka beritahu Alan dengan begitu semuanya akan selesai. Biarkan mereka menyelesaikan masalah mereka sendiri, bertanggung jawab atas perbuatan mereka!" Danil's menatap dingin kearah Seville. "Kenapa? Bukankah kau ingin membantu mereka? Cih. Kau bahkan tidak bisa melakukan hal mudah seperti itu tapi bersikeras ingin membantu? Jangan melucu, Seville!"
ππππππ
Sudah seminggu sejak Danil's mengetahui rahasia yang Elshe dan Fernando sembuyikan dari semua orang. Dan selama itu pula Elshe mengurung diri dalam kamarnya, dia bahkan mengabaikan semua pesan dan telfon dari Seville. Alan yang mencemaskan keadaan adiknya berniat menemui Elshe dikamar. Melihat kedatangan Alan, buru-buru Elshe menghapur air matanya.
'Kakak ada apa?" Elshe sedikit gugup, jujur saja dia belum siap menghadapi Alan. Setidaknya untuk saat ini.
"Kau kenapa?Apa kau sedang ada masalah?" Alan mendudukan dirinya ditepi tempat tidur Elshe.
Elshe tersenyum kecil menatap Alan. "Tidak ada! Kakak terlalu mencemaskanku."
"Jika kau ada masalah sebaiknya ceritakan pada kakak, nana juga kakek. Jangan menyimpan masalahmu dari kami. Kita ini keluargamu. Kakak tidak ingin melihatmu murung seperti ini. Kau adikku satu-satunya, apa pun akan kakak lakukan demimu. Jadi jangan pernah merasa sendirian." lirih Alan
"Aku.. berkata jujur. Saat ini aku sedang tidak ada masalah apa pun. Terima kasih karena kakak sudah mencemaskan keadaanku dan maaf membuat kalian semua khawatir." Elshe mengenggam erat ujung piyama tidurnya. Jauh didalam hatinya, dia merasa bersalah telah menutupi semua ini dari kakaknya, dari keluarganya sendiri.
"Kakak tidak akan memaksamu untuk cerita. Jika kau membutuhkan kakak jangan segan-segan untuk datang pada kakak. Kakak akan selalu ada untukmu.'
"Baiklah, Kak. Tolong sampaikan maafku pada kakek dan nana. Katakan pada mereka untuk tidak mengkhawatirkan aku. Aku baik-baik saja."
"Akan kakak sampaikan pada mereka." Alan berjalan mendekati Elshe, memberikan pelukan dan kecupan didahi. "Sudah malam, sebaiknya kamu tidur. Selamat malam."
πππππ
"Apa kau sakit?"
"Aku? Tidak! Aku... hanya sedikit pusing."
"Perlu ku antar kerumah sakit? Kau terlihat tidak baik-baik saja." Elektra sangat mengkhwatirkan kondisi Elshe. Wajahnya begitu pucat.
"Tidak perlu. Terima kasih. Elektra,Β bisa tolong ambilkan obat yang ada didalam tasku."
"Baiklah. Aku akan mengambilkan obatmu. Jika kau merasa semakin parah sebaiknya kita pergi kerumah sakit."
Ketika Elektra mengambil obat yang berada didalam tas Elshe. Elektra tidak sengaja menjatuhkan sesuatu. Seville yang melihat surat hasil tes kehamilan Elshe terjatuh langsung mengambilnya. Namun, Alan merampas surat itu dari tangannya. Elshe yang tidak tahan dengan rasa sakitnya bergegas menyusul Elektra, betapa terkejutnya dia melihat surat kehamilannya sudah berada ditangan sang kakak.
"Kakak?"
Alan menatap tajam kearah adikknya yang saat ini begitu ketakutan berhadapan dengannya, "Elshe bisa kau jelaskan apa maksudnya ini? Hamil? Bagaimana kau bisa hamil?"
"Ka-kak i-tu? Aku?" Elshe meremas jari jemarinya, peluh keringat bercucuran disekitar dahi dan wajahnya.
"Jawab pertanyaan kakak!" bentak Alan. Mendengar suara bentakan Alan semua orang bergegas menghamirinya. "Kenapa kau diam saja hah? Apa sekarang kau mendadak bisu? Tsk. Jadi benar kau ha-mil?"
"Ma-afkan aku?A-ku?" Alan menampar adiknya. Alan merasa telah gagal manjadi seorang kakak untuk Elshe. Dia bahkan tidak bisa menjaga masa depan adiknya.
"Jangan minta maaf! Katakan siapa yang melakukan ini padamu? Katakan Elshe!?" suara Alan menyapa rungu Elshe membuatnya semakin ketakutan. Dia tidak berani menatap sang kakak.
"Alan cukup hentikan! Aku mohon berhenti menekannya. Kau tidak perlu memukuli adikmu seperti ini. Elshe tidak bersalah dalam hal ini. Aku? Aku... yang telah menghamilinya." Fernando menghela nafas panjang, dia sudah mempersiapkan diriΒ jika AlanΒ membunuhnya disini.
"Apa?" Alan tersentak mendengar pengakuan Fernando, begitupun dengan yang lain kecuali Seville dan Danil's yang memang sudah mengetahui fakta ini.
Alan langsung menghajar Fernando, Fernando tidak memberikan pelawanan.Β Dia pasrah jika Alan memukulnya, ini adalah kesalahannya dan sudah sepantasnya dia mendapatkan balasan dari perbuatannya.
Tubuh Elektra mendadak lemas saat melihat darah mengalir dari sudut bibirΒ Fernando. Emosi terlalu menguasai Alan sampai dia melupakan trauma yang dialami Elektra. Harts menarik Alan menjauh dari Fernando dan kemudian memukuli mereka berdua satu persatu.
"BERHENTI BRENGSEK!!" teriak Hart's penuh amarah. "Kalian tidak lihat adikku hah? Elektra tidak bisa melihat darah, sialan! Shena bawa Elektra dan Elshe masuk kedalam kamar. Aku akan mengurus mereka berdua."
Sesuai perintah yang diterima, Shena langsung membawa Elektra dan Elshe pergi.
To Be Continued ....