DRAGON

DRAGON
Chapter 07 : Danil's Vs Elektra



Ketiga penerus dragon nampak gelisah didalam ruang kerja mereka. Tiba-tiba saja seseorang membuka pintu ruangan membuat mereka tersentak kaget terlebih lagi, saat melihat Tuan Gerald muncul dihadapan mereka. Ketiga penerus dargon berusaha mengatur mimik wajah mereka setenang mungkin, menghilangkan semua keterkejutan mereka dari Ketua dragon.


"Apa Fernando sudah datang?" Mereka semua saling melempar pandangan satu sama lain. Mereka bertiga menelan saliva mereka masing-masing ketika mendengar pertanyaan Tuan Gerald. Bola mata mereka bergerak kesana-kemari menghindari tatapan Tuan Gerald. "Dimana Fernando? Apa dia masih belum datang juga?"


Ingin sekali rasanya Danil's melayangkan kata-kata kasar pada Hart's. Pemuda berdarah dingin ini dengan kejamnya mendorong Danil's kedepan. Danil's gelagapan. "Mmh. Be-lum Ke-tu-a."


"Kemana anak itu?Apa dia tidak mengatakan sesuatu pada kalian?"


"Hah ya. Fernando sedang menjenguk neneknya yang sedang sakit keras dirumah sakit, Ketua." Hart's dan Danil's  memalingkan tatapan mereka kearah Alan, mereka menghela nafas lega mendengar jawaban Alan. Entah apa yang ada dipikiran Alan sampai bisa memberikan jawaban tidak masuk akal seperti itu kepada Tuan Gerald.


"Hei kapan Fernando mengatakan itu padamu? Kau bahkan belum bertemu dengannya sejak kemarin malam?" Danil's berbisik pelan ketelinga Alan. "Demi Tuhan, Alan. Jangan katakan kau membuat alasan untuk bajingan itu?"


"Kalian tidak menyembunyikan sesuatu, bukan?" Tuan Gerald menangkap gelagat aneh yang mencurigakan diwajah mereka.


"Tidak! Alan mengatakan yang sebenarnya, Ketua.  Sejak kemarin Fernando berada dirumah sakit menjaga neneknya," sambung Hart's berusaha menutupi kebohongan Alan. Hart's mengutuk dirinya karena dengan bodohnya mendukung alasan yang diberikan Alan.


"Habislah aku! Satu pria bodoh lagi tidak mengunakan otaknya,” ujar Danil's frustasi dalam hati, menatap kesal wajah bodoh kedua sahabatnya itu. "Nenek apanya? Ketua tidak mungkin tidak tahu kalau nenek Fernando sudah lama meninggal. Owh tuhan mereka berdua ini benar-benar bodoh dan sialnya aku harus terjebak diantara para bedebah bodoh ini.”


Fernando menerobos masuk kedalam ruangan. "Sory guys? Astaga Ke-tua?”Fernando sedikit melompat karena terkejut melihat Tuan Gerald ada di ruangannya bersama ketiga sahabatnya.


Hart's langsung berbalik kearah dinding saat melihat reaksi Fernando yang berlebihan, sedangkan Danil's memukul pelan dahinya.


"Alan, sudah mengatakannya padaku. Sebagai Ketua, aku turut prihatin atas kesehatan nenekmu, Fernando." Tuan Gerald menepuk pelan pundak Fernando.


"Hah? Nenek? Apa maksudnya ini?” Fernando sama sekali tidak mengerti dengan arah pembicaraan Tuan Gerald.


Danil's yang berada tidak jauh dari Fernando mencoba memberikan isyarat pada Fernando melalui matanya. Fernando tidak mengerti isyarat Danil's, dia mengabaikannya begitu saja. "Hei ada apa dengan matamu? Kau cacingan atau bagaimana?”Oh tuhan beri kesabaran pada Danil's. Danil's meninju udara mendengar ucapan Fernando.


Alan merangkul pundak Fernando. "Fernando bukankah nenekmu sedang dirawat dirumah sakit hmm? Bagaimana keadaannya sekarang? Apa sudah lebih baik dari sebelumnya?”


"Alan kau ini bicara apa eoh? Aku tidak mengerti? Nenek?" Alan memperkuat rangkulannya hingga membuat Fernando mengeram kesakitan. Fernando berusaha untuk memahami gelagat sahabatnya, setelah berpikir cukup keras akhirnya Fernando mengerti dengan pertanyaan Alan. "Owh. Ah Ya. Saat ini keadaan nenek masih sama seperti kemarin."


"Seharusnya kau tidak perlu bekerja hari ini, temani saja nenekmu dirumah sakit. Nenekmu membutuhkanmu saat ini.” Tuan Gerald menarik ujung bibirnya memperhatikan kelakuan mereka.


"Terima kasih Ketua. Tapi aku tidak bisa melepaskan tanggung jawabku begitu saja, ada pekerjaan yang harus aku selesaikan."


'Wah lagi-lagi dia menjadi penjilat.” geram Danil's pelan.


Tuan Gerald kembali menepuk bahu Fernando yang berdiri tepat disampingnya, kemudian membuka pintu ruangan dan melangkah keluar meninggalkan ruangan mereka.


"Dasar! Seharusnya mereka mencari alasan yang lebih bagus dari itu. Apa mereka pikir bisa membodohiku.Tsk Nenek Fernando bahkan sudah meninggal lima tahun lalu, bisa-bisanya mereka lupa.” batin Tuan Gerald.


"Idemu bagus juga. Tapi sayang nenekku sudah meninggal lima tahun yang lalu.” Fernando menertawa ekspresi bodoh yang muncul diwajah Alan.


Hart's yang menahan amarah langsung mendaratkan pukulan tepat dikepala Fernando dengan sekuat tenaga, membuat Fernando berteriak kesakitan. Danil's nampak senang melihat Fernando kesakitan. "Bajingan ini benar-benar? Bisakah kau datang lebih awal Hah? Kau ingin membunuh kita semua karena mengkhawatirkan keadaanmu?”


Lagi-lagi seseorang membuka pintu ruang kerja mereka. Danil's terkejut bukan main melihat kemunculan Elektra diruangan, begitu pula dengan Elektra saat melihat sosok Danil's ada disana bersama kakaknya.


"Kau? Sedang apa kau disini? Ini bukan tempat yang bisa kau masuki sesukamu.”


Apa? Tuan kaki pendek? Danil's mengepalkan tangannya menahan kesal, Danil's sangat sensitif jika sudah menyangkut tinggi badan dan bisa-bisanya Elektra dengan santai memanggil Danil's dengan sebutan Tuan Kaki Pendek.


Ya meskipun itu benar tetap saja itu melukai harga diri Danil's sebagai seorang pria. Sementara Fernando dan Alan menahan tawa mereka melihat Danil's dipermalukan oleh seorang wanita.


"Hahaha... selain liar ternyata kau ini seorang bodoh, ya? Dengar nona tidak ada yang mau menjadi kakakmu disini. Silahkan keluar sebelum aku menendangmu dengan paksa.”Danil's bersedekap dada menatap nyalang kearah Elektra.


"Kau?”


"Melihat bagaimana kelakuanmu, aku bisa menilai kakakmu pasti seorang bajingan, pemabuk dan suka meniduri ****** diluar sana.”Danil's melontarkan kata-kata kasar pada Elektra dengan wajah Innocentnya, sebuah wajah tanpa ada perasaan bersalah sama sekali.


"YAK! JANGAN BICARA SEPERTI ITU MENGENAI KAKAKKU!?” Elektra meninggikan suaranya mendengar ucapan Danil's.


"Kenapa? Kau tidak terima aku mengatakan kelakuan buruk kakakmu?” Danil's mendesis, siapapun yang melihat wajah Danil's sekarang akan langsung naik darah karena kesal. Dibalik smile eyesnya ketahuilah bahwa ada seringai iblis tak kesat mata. Danil's tersenyum mengejek lawannya.


"Kau bahkan sama sekali tidak mengenalnya, berani sekali kau menilai kakakku serendah itu, bajingan kaki pendek.” Elektra yang tidak bisa menahan amarahnya lagi langsung memukul kepala Danil's dengan tas jenjangnya.


Danil's yang tidak terima dipukul oleh Elektra langsung menarik rambut Elektra. Hart's menjatuhkan tubuhnya mendengar segala hinaan Danil's sementara Alan dan Fernando berusaha menghentikan perkelahian Danil's dan Elektra.


"Tunggu dulu? Entah kenapa aku seperti pernah melihat gadis ini? Tapi dimana ya?" Dengan kapasitas memori yang terbatas Fernando mencoba mengingat Elektra.


Fernando mencoba menarik Elektra menjauh dari Danil's, naasnya Fernando terkena pukulan Elektra. Fernando yang kesal wajahnya menjadi pelampiasan, mendorong tubuh Elektra dengan kasar kearah Danil's. Membiarkan Elektra mengobrak-abrik wajah Danil's.


Fernando kembali mencoba mengingat dimana dia bertemu dengan Elektra. "Aku ingat. Wanita ini? Ya, aku tidak mungkin salah. Wanita ini yang ada didalam foto itu. Yak kurcaci bodoh, apa yang kau lakukan? Gadis ini adiknya, Hart's.”


"Hahaha. Apa?” Danil's menggigit bibir bawahnya menahan malu menantap Hart's. "Yak kenapa kau tidak memberitahu lebih awal?”


"Danil's, kau ingat dengan gadis kecil yang suka mengerjaimu waktu kecil? Dia adalah Elektra putri kecilku. Adik yang selama ini aku jaga dengan baik." Hart's tersenyum masam menatap Danil's, sementara Danil's hanya mengaruk tekuk lehernya yang tidak gatal sama sekali karena malu.


"Hart's maafkan aku? A-ku? A-ku tidak tahu kalau wanita barbar ini adalah adikmu?" Danil's merasa bersalah mengatakan hal buruk mengenai Hart's, lalu dia menatap sinis kearah Elektra yang sibuk merapikan rambutnya.


"Sudahlah lupakan saja. Aku memang seorang bajingan, tapi aku tidak pernah meniduri ****** seperti yang kau katakan itu." Hart's tertawa mengejek sambil meremas pulpen ditangannya hingga patah. Danil's yang merasakan aura membunuh dari Hart's seketika itu juga ikut tertawa bersama Hart's.


"Sialan! Kau menyindirku?” Fernando sedikit kesal mendengar sindiran Hart's, Fernando memeluk Elektra membuat Elektra tersentak. "Elektra, aku senang kau sudah kembali."


"Uwah Kakak?” Elektra berusaha melepaskan pelukan Fernando yang begitu kuat.


"Aku bilang juga apa? Kau harus menjaga adikmu dari pria mata keranjang itu. Lihat apa yang dia lakukannya pada wanita barbar itu? Ah maksudku adik kesayanganmu." ujar Danil's sambil tertawa kecil.


"Dasar mata keranjang! Apa yang kau lakukan? Lepaskan adikku." Hart's berusaha membantu Elektra melepaskan diri dari Fernando. "Baiklah. Maaf teman, aku harus melakukan ini." Hart's memejamkan matanya kemudian memukul tepat diwajah tampan Fernando.


"Owh Shiit  ketampananku." Fernando meratapi wajahnya yang memar akibat hantaman Hart's. Bagi Fernando wajah adalah aset yang paling berharga setelah nyawanya.


"Aku sudah pernah memperingatimu untuk tidak mendekati adikku atau aku akan membunuhmu, Fernando.”


"Elektra selamat datang. Aku senang bisa bertemu denganmu lagi." Alan mengulurkan tangannya pada Elektra, Elektra tersenyum menjabat uluran tangan Alan.


To Be Continued ...