DIARY RIRIN

DIARY RIRIN
9



"Ya udah ya Ren gue balik dulu udah siang" pamit Nino.


"Gak sekalian makan siang di sini?" Tawar Reno.


"Lain kali aja deh, gue masih ada perlu" tolak Nino halus. Nino pun pergi dan Reno masuk kedalam dan pergi ke kamarnya.


Di kamar Reno tidak menemukan Ririn, Reno bertanya-tanya dimana wanita itu berada. "Dimana sih? Giliran mau minta maaf orangnya malah ngilang" gerutu Reno.


Reno bermain handphone seraya menunggu Ririn. Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul setengah 12 siang. "Dimana sih tuh orang?" Kesal Reno, Reno berjalan berniat ingin keluar untuk turun ke bawah mencari Ririn.


Belum sempat keluar Reno menabrak Ririn yang membuka pintu hendak masuk.


"Eh, maaf.. maaf mas aku gak sengaja" ucap Ririn.


"Bisa gak kalo mau masuk itu ketuk pintu dulu?" Tanya Reno kesal.


"Ya maaf mas, tadi aku kira kamu gak di dalam jadi aku masuk aja" jawab Ririn takut-takut.


"Ya udahlah terserah" kata Reno langsung keluar dari kamarnya. Reno menuju meja makan dan di sana ada Niken sedang mempersiapkan meja makan.


"Lho Ren, kok kamu dari atas bukannya kamu tadi di halaman kolam renang dan Nino mana?" Tanya Niken.


"Aku emang ada di atas dari tadi dan Nino udah pulang ma dari tadi" jawab Reno santai.


"Satu lagi Ren.." ucap Niken terpotong karena di sela oleh Reno.


"Apa lagi ma?" Tanya Reno kesal.


"Ririn istri kamu mana?" Ucap Niken balik bertanya.


Reno memutar bola matanya malas "di kamar" jawab Reno cuek.


Tak lama Ririn datang ke bawah dengan mata sembab dan wajah panik "ma aku mau minta izin, Ririn mau ke rumah sakit sekarang" izin Ririn dengan nada sangat panik.


"Kamu mau apa ke rumah sakit Rin dan kalo mau izin ya ke suami kamu" kata Niken.


"Mama Ririn kecelakaan ma. Mas boleh ya aku keluar buat ke rumah sakit" izin Ririn pada Reno.


Reno melihat ada ketakutan luar biasa di dalam mata Ririn dan merasa kasihan.


"Aku akan anterin kamu" ucap Reno lalu berpamitan dengan Niken.


Reno yang melihat Ririn begitu gelisah itu pun menggenggam tangan Ririn erat untuk menenangkan Ririn.


Ririn menatap sendu pada Reno 'tangan ini mampu memberi kehangatan yang luar biasa pada diri aku, tapi aku juga sadar bahwa kehangatan tangan ini sudah menjadi milik orang lain' batin Ririn.


"Sekarang kamu tenang dulu kita udah mau sampe ke rumah sakit. Jadi, sekarang hapus air mata kamu" titah Reno lembut. Ririn menurut menghapus air matanya. Ririn sudah sampai di halaman rumah sakit, Ririn langsung berlari mencari ruang ICU tempat ibunya ditangani. Reno yang melihat itu pun langsung berlari mengejar Ririn.


"Rin kita tanya aja dimana ruang ICU ke resepsionis ya. Kamu tunggu di sini aku tanya ke susternya dulu" kata Reno menenangkan lalu pergi untuk bertanya.


"Sus saya mau tanya ruang ICU Dimana ya?" Tanya Reno.


"Bapak lurus aja nanti belok ke kanan paling pojok sebelah kiri di sana pak" ucap suster tersebut. Reno dan Ririn segera berlari menuju ruang ICU. Ririn duduk dengan gelisah sembari menunggu dokter yang menangani ibunya keluar dan Reno yang melihat itu merasa kasihan pada Ririn.


"Rin kita doain aja mama yang lagi berjuang di dalam sana ya" ucap Reno menenangkan.


"Mas aku takut, aku takut kehilangan mama. Kalo mama ninggalin aku seperti ayah ninggalin aku, aku bakal sendirian. Aku belum sanggup menjalani kehidupan ini sendiri mas" ungkap Ririn sembari menangis pilu.


Reno langsung memeluk Ririn erat ia bisa merasakan kesedihan yang Ririn rasakan dan saat ini Reno berjanji akan menjaga Ririn. 'Aku janji Rin, aku bakal jagain kamu dan menjalani kehidupan bersama kamu. Mulai detik ini aku akan menerima kamu menjadi bagian dari hidup aku' batin Reno. Dokter yang menangani Sandra keluar dari ruang ICU.


Ririn dan Reno langsung menghampiri dokter "dok gimana keadaan mama saya?" Tanya Ririn panik.


"Sebelumnya saya minta maaf, pasien mengalami pendarahan hebat di bagian otak jadi kami gagal dalam menyelamatkan pasien. Sekali lagi kami minta maaf" jelas dokter lalu meninggalkan Ririn dan Reno.


Ririn tak percaya bahwa ia akan secepat ini kehilangan sang ibu "mama gak mungkin ninggalin aku mas, mama masih ada mas. Dokter tadi salah kan mas, mas jawab aku" teriak Ririn histeris.


"Ririn dengerin aku, kamu harus kuat demi mama Rin. Ririn masih ada aku yang bakal jagain kamu" ucap Reno menenangkan Ririn seraya memeluk Ririn.


Ririn masuk ke ruangan dimana ada jasad Sandra "mama bangun, mama jangan tinggalin Ririn. Mama boleh pukul Ririn lagi kaya dulu, asal mama mau bangun lagi. Mama Ririn mohon bangun,mama bangun" pinta Ririn sembari menangis pilu.


Reno yang melihat itu merasa hatinya juga ikut teriris. "Ririn kamu yang sabar ya, kamu doain aja mama supaya tenang di sana. Kamu yang sabar ya" ucap Reno sembari memeluk Ririn.


"Mas Reno bohong kan? Mas Reno mama masih ada, mama cuma tidur. Sekarang mas Reno bangunin mama" pinta Ririn pada Reno.


Hati Reno begitu teriris melihat istrinya yang begitu rapuh saat ini tanpa sadar Reno meneteskan air matanya seraya memeluk Ririn erat sangat erat. "Rin sekarang kita bawa mama ke rumah ya buat segera dimakamkan. Kita harus nganterin mama ke peristirahatan terakhirnya ya" ujar Reno.


Ririn hanya diam dia tak mampu lagi untuk berkata-kata. Ririn melihat jam sudah waktunya untuk shalat, Ririn pergi ke musola rumah sakit untuk shalat. Reno mengikuti langkah gontai Ririn. Reno dan Ririn shalat dan mendoakan Sandra. 'Ya Allah engkau mengambil ayah secara mendadak sekarang mama. Ya Allah kuatkan aku dalam menghadapi ini, Ya Allah pertemukan aku dengan kakak supaya aku bisa bicara sama kakak kalo mama udah gak ada' doa Ririn dalam hatinya sambil menangis.


'Ya Allah kuatkan istriku, aku akan mencoba menjadi suami yang bertanggung jawab untuknya' doa Reno dalam hati. Setelah selesai Ririn dan Reno segera menunju ke kediaman Sandra untuk segera memakamkan jenazah Sandra. Sebelumnya Reno sudah memberikan kabar kepada Niken dan sekarang Niken sedang berada di rumah Sandra bersama bi Ijah untuk mempersiapkan segala yang dibutuhkan nanti.