DIARY RIRIN

DIARY RIRIN
7



Pagi ini Ririn sedang memasak dibantu oleh bi Ijah asisten rumah tangga kediaman keluarga Aditama.


"Bi biar Ririn aja yang masak, bibi kerjain yang lain aja" pinta Ririn.


"Tapi nak, kamu kan menantu di rumah ini kenapa kamu harus masak ini kan tugas saya" ucap bi Ijah.


"Bi tanggung jawab istri adalah Melayani suaminya dan memasak untuk suaminya adalah kewajiban seorang istri" tukas Ririn.


Bi Ijah sangat kagum pada Ririn, sangat jarang seorang wanita muda yang memahami tentang tanggung jawab serta kewajiban sebagai seorang istri. Mau tak mau bi Ijah melaksanakan perintah Ririn untuk mengerjakan tugas yang lain. Ririn selesai memasak dan menghidangkan masakannya di meja makan.


Niken begitu terkejut Mengapa Ririn mengerjakan pekerjaan rumah "Ririn kamu yang masak semua ini?" Tanya Niken.


"I..iya mah" jawab Ririn terbata-bata karena takut dimarahi oleh Niken.


"Sayang kan ada bi Ijah, buat apa kamu masak?" Tanya Niken lagi.


"Ma maaf sebelumnya, disini memang ada bi Ijah tapi ini kewajiban Ririn sebagai istri. Ririn sekarang punya tanggung jawab sebagai istri mana mungkin Ririn cuma duduk manis liat bi Ijah masak buat semua" ucap Ririn hati-hati.


Niken begitu bangga pada Ririn, Ririn begitu paham tentang tanggung jawab serta kewajibannya sebagai seorang istri sekaligus menantu.


"Ya udah terserah kamu, sekarang kamu panggil suami kamu buat sarapan" titah Niken.


"Iya ma, Ririn panggil mas Reno dulu ya ma" pamit Ririn. Ririn pergi menuju kamarnya untuk membangunkan Reno suaminya. Ririn tersenyum begitu melihat Reno masih tertidur pulas, sebenarnya ia tak tega jika harus membangunkan Reno namun jika tidak Reno bisa saja terlambat untuk bekerja.


"Mas.. mas Reno, bangun mas udah siang" ucap Ririn sembari menepuk-nepuk pundak Reno. Reno menggeliat dan membuka matanya, hal yang pertama dilihat adalah wajah istrinya Ririn.


"Bangun mas udah siang, kamu ditunggu mama buat sarapan" ucap Ririn lalu pergi menyiapkan baju untuk Reno.


Setelah selesai menyiapkan baju Ririn turun ke bawah untuk segera sarapan. "Dimana Reno Rin?" Tanya Niken tidak melihat keberadaan putranya.


"Lagi siap-siap ma, mungkin sebentar lagi turun" jawab Ririn.


"Ma Ririn permisi dulu ya mau nganterin sarapan buat bi Ijah sama mang Asep" pamit Ririn. Niken terkejut mendengar ucapan Ririn, Ririn begitu memperhatikan semua orang yang berada di rumah itu.


"Rin mereka biasa ambil makanan sendiri kok" ucap Niken.


"Oh gitu ya ma, tapi Ririn udah siapin buat mereka ma" tukas Ririn merasa tak enak hati.


"Ya udah gak papa kamu anterin aja makanannya" titah Niken.


Ririn segera pergi untuk mengantarkan makanan itu ke belakang. Niken lagi-lagi dibuat kagum oleh Ririn. Tak lama Reno datang ke meja makan " pagi ma.." sapa Reno.


"Pagi sayang.." ucap Niken membalas sapaan Reno.


"Dimana Ririn?" Tanya Reno karena ia tak melihat keberadaan istrinya. "Lagi nganterin makanan buat bi Ijah sama yang lain" jawab Niken santai.


Reno tercengang mendengar ucapan ibunya, sebegitu perhatian Ririn pada orang-orang di sekitarnya.


Saat sedang memikirkan tingkat Ririn yang begitu mengherankan tiba-tiba Ririn datang "eh mas Reno udah turun, selamat pagi mas" sapa Ririn dan hanya di balas anggukan saja oleh Reno. Ririn segera mengambilkan makanan untuk suaminya dan menghidangkannya.


Reno pamit untuk pergi ke kantor pada Niken dan Ririn "ma aku pamit ya" kata Reno.


"Ma kerjaan aku banyak" ucap Reno beralasan.


"Udah ma gak papa, mungkin memang pekerjaan mas Reno gak bisa ditinggalin" timpal Ririn membela suaminya.


Niken pun tak bisa berbuat apa-apa jika Ririn sudah berkata demikian. "Ya udah aku pamit" ucap Reno.


Ririn memegang tangan Reno dan menciumnya "hati-hati dijalan mas" ucap Ririn mengingatkan. Reno pun segera pergi dan melajukan mobilnya.


"Dia apa-apaan sih, mau kelihatan baik gitu didepan mama" gerutu Reno di dalam mobil. Tiba-tiba ada ponselnya berdering dan ternyata itu panggilan dari Elsa


"Iya halo" sapa Reno


^^^"Halo Ren, aku baru aja sampe di bandara" ^^^


"Kamu baik-baik di sana oke, dan jangan lupa sering kabarin aku"


^^^"Pasti Ren, aku tutup dulu ya teleponnya"^^^


Reno memikirkan bagaimana jika Elsa tahu bahwa ia sudah menikah. Namun ia tak bisa menampik kenyataan bahwa ia memang sudah menikah. 'Sa maafin aku' batin Reno. Reno tak tau harus bagaimana cara menghadapi masalah yang sedang dialaminya. Ia benar-benar tidak mencintai istrinya namun istrinya amat sangatlah berbakti padanya. Ririn begitu memperhatikan semua kebutuhannya dan memenuhi kewajiban serta tanggung jawabnya sebagai seorang istri, namun Reno malah menjadi seorang pengecut yang lari dari tanggung jawab serta kewajibannya. Reno yang pusing memikirkan itu memukul setir mobilnya.


"Ahhhhh.... Kenapa sih gue jadi pengecut gini?" Kesal Reno pada dirinya sendiri.


Reno segera memutar arah untuk kembali kerumahnya, Reno sedang tidak ingin bekerja saat ini.


Sesampainya di rumah Reno melihat Ririn sedang berbincang dengan Niken diruang tamu. Ririn yang melihat Reno kembali menghampiri Reno dan mencium tangan suaminya itu.


"Mas kok balik lagi, ada yang ketinggalan?" Tanya Ririn.


"Gak ada" jawab Reno dingin dan langsung menuju kamarnya.


"Rin kenapa suami kamu balik lagi?" Tanya Niken penasaran.


"Gak tau ma, ya udah Ririn mau sampein mas Reno dulu ya ma" pamit Ririn yang dibalas anggukan kepala oleh Niken.


Ririn membuka pintu dan langsung menemukan Reno sedang duduk melamun di atas ranjang. "Mas Reno.." panggil Ririn hati-hati.


Reno menatap Ririn "kenapa?" Respon singkat dari Reno. "Mas Reno gak papa, apa mas lagi ada masalah?" Tanya Ririn.


"Iya aku ada masalah dan masalah aku itu kamu. Kenapa sih kamu sok-sokan jadi istri yang baik?" Kata Reno membentak.


Ririn sedikit ketakutan namun ia tidak menampakan ketakutannya "mas aku cuma mau jadi istri yang baik buat kamu" ucap Ririn.


"Rin dengerin aku, aku gak butuh kamu. Aku sama sekali gak mencintai kamu" ucap Reno.


Ririn sangat terluka dengan ucapan Reno "mas aku tau itu, walaupun mas gak mencintai aku bukan berarti aku harus menjadi istri yang enggak bertanggung jawab" ucap Ririn lembut.


"Rin mau sampe kapan pernikahan kita terjalin tanpa adanya cinta?" Tanya Reno tak habis fikir.


"Mas, kita baru menikah 1 hari yang lalu jadi wajar kita masih canggung tapi mas aku yakin kalo mas mau terima aku pelan-pelan kita bisa mempertahankan rumah tangga kita" ucap Ririn meyakinkan. Reno mengacak rambutnya frustasi dengan keadaannya sekarang.