
Hari ini Dewi sudah dimakamkan. Nino yang sedari tadi melamun tak mendengar panggilan Elsa. Hingga akhirnya Elsa menepuk bahunya.
"Nino kamu kenapa? Kok di panggil gak jawab?" Tanya Elsa lembut.
"Eh, gak papa Sa. Oh iya ada apa Sa, kamu panggil aku?" Ucap Nino berusaha tegar.
"Ririn tadi telepon, katanya kamu di suruh ke sana" jawab Elsa lembut. Elsa tau jika saat ini, Nino masih sangat terpukul atas kematian Dewi seseorang yang sangat dicintainya.
Tanpa basa-basi Nino pun segera pergi meninggalkan Elsa begitu saja. Elsa hanya diam, dia mengerti mengapa Nino kini seperti ini.
******
Ririn kini sedang bersiap untuk pulang. Karena hari ini Ririn di izinkan pulang oleh dokter. Ririn pun sudah menyuruh Nino menjemputnya dan juga suaminya. Tak lama seseorang membuka pintu kamar rawatnya. Ririn tersenyum hangat ternyata yang datang adalah Nino.
"Kakak gimana sama pemakaman Dewi?" Tanya Ririn sendu.
"Alhamdulillah lancar dek" jawab Nino mencoba tegar.
"Kak boleh aku ke pemakaman dia, kak?" Tanya Ririn pelan.
"Dek bukannya kakak gak mau ajak kamu, tapi kamu harus istirahat dulu. Kamu baru aja keluar dari rumah sakit jadi istirahat dulu besok baru kita ziarah ya" tolak Nino halus.
Ririn mengangguk patuh karena percuma saja pasti jika ia meminta pada Reno maka jawabannya akan sama dengan Nino.
"Sayang aku udah selesai ngurus semuanya. Jadi kita tinggal pulang" ujar Reno yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangan Ririn.
"Eh bro, gue turut berdukacita ya" ucap Reno menghampiri Nino dan memeluknya.
"Makasih bro" jawab Nino lagi-lagi harus berusaha tegar.
Mereka pun akhirnya pulang ke rumah Ririn dan juga Reno. Sesampainya di rumah Ririn pun segera dibawa ke kamar oleh Reno. Dan Nino pun menunggu Reno di ruang tamu.
"Sorry bro, gue lama" ujar Reno
"Iya gak masalah. Oh ya, Ririn kemarin gak gimana-gimana kan?" Tanya Nino khawatir.
"Kemarin Ririn sih sempat histeris tapi gue udah tanganin. Lo gak usah khawatir" jawab Reno tenang.
"Ren gue gak tau, apa keputusan gue udah benar atau enggak. Tapi pas gue lihat tubuh kaku milik Dewi gue ngerasa salah banget. Gue merasa, gue adalah orang yang paling bodoh di dunia ini" celoteh Nino.
"No, kita semua gak gau kapan kita akan kembali kepada sang pencipta dan dengan cara seperti apa. Tapi yang gue tau semua ini udah jalan takdir dari Tuhan yang gak akan pernah bisa kita rubah. Sekarang lebih baik jaga Elsa dengan baik karena mungkin dia adalah titipan Tuhan untuk Lo" nasihat Reno pada Nino.
"Thanks bro, gue pamit ya. Gue mau ketemu Bima buat adain acara tahlilan di rumah duka" pamit Nino pada Reno.
"Oke. Sorry gue gak bisa bantu dan gak bisa ke sana soalnya Ririn masih harus istirahat" ucap Reno sembari berjabatan tangan dengan Nino.
Setelah kepergian Nino, Reno kembali ke kamarnya untuk menemui Ririn.
"Sayang, kamu kok belum tidur?" Tanya Reno menghampiri Ririn.
"Mas aku gak bisa tidur. Mas besok anterin aku ke makam Dewi ya!" Pinta Ririn memohon.
"Iya besok mas anterin kamu ke makam Dewi" ucap Reno tak tega melihat Ririn memohon.
"Sayang kita gak boleh menangisi Dewi lagi. Kasihan Dewi yang udah tenang di sana jadi sedih lihat kita menangisi dia. Dewi maunya kita ikhlas dan mendoakan dia supaya dia tenang di sana bukannya malah kita beratin dengan air mata kita" nasihat Reno sembari mengusap air mata istrinya.
Ririn pun langsung mengambil buku diary miliknya dan menulis isi hatinya.
Aku memang tak pernah tau takdir macam apa yang akan menghampiri kita..
Namun yang ku tau kau adalah wanita terhebat yang pernah hadir di hidupku..
Kamu dan aku sudah bagaikan saudara yang sama-sama berjuang mempertahankan hidup..
Aku tau kini kau sudah tak lagi ada di sisiku namun yang harus kau tau doaku akan selalu menyertaimu..
Aku akan mencoba untuk mempertahankan hidupku dan aku akan melanjutkan hidupku bersama orang yang sudah menjadi suamiku..
Dan untukmu tolong tenang di sisi Allah SWT..
Aku akan selalu mendoakan mu dan akan selalu begitu..
Kamu sahabat terbaikku dan juga wanita terhebat bagiku..
Aku akan melanjutkan impianmu..
******
Ririn kini sedang menatap pusara makam Dewi dengan ditemani oleh Reno. Dengan hati yang teriris Ririn mencoba untuk tegar.
"Dewi tenang ya di sana. Ririn di sini akan selalu doain Dewi. Ririn ikhlas sekarang karena Ririn yakin Dewi udah gak lagi merasakan sakit. Dewi makasih ya selama Dewi hidup, Dewi udah jaga Ririn, kuatkan Ririn, dan buat Ririn gak berhenti tersenyum. Dewi harus tau kalau Ririn itu sayang sama Dewi. Ririn gak akan melupakan Dewi dan semua jasa Dewi. Dewi tenang ya di sana" ucap Ririn sembari menangis menatap pusara makam Dewi.
"Dewi maaf kemarin saya gak sempet datang ke pemakaman kamu. Saya berterima kasih karena kamu sudah menjaga istri saya hingga saat ini. Saya masih tak menyangka jika kamu akan melakukan hal senekat ini. Tapi saya yakin di balik semua keputusan kamu ada alasan kuat mengapa kamu melakukannya. Saya gak tau lagi caranya berterima kasih kepada kamu untuk semua hal yang sudah kamu lakukan untuk istri saya. Saya sangat berterima kasih kepada semua jasa kamu terhadap istri saya. Terima kasih" ucap Reno lalu menatap lembut wajah Ririn.
Reno pun memeluk Ririn erat dan berjanji dalam hatinya untuk meneruskan perjuangan Dewi menjaga Ririn.
"Ya udah kita pulang ya" ajak Reno. Ririn hanya mengangguk patuh dan berjalan sembari memeluk Reno.
'Dewi kamu adalah sahabat terbaik yang pernah hadir dalam hidupku.
Terima kasih atas segala perjuangan kamu. Aku gak akan pernah bisa membalas semua jasa kamu. Terima kasih sudah memperjuangkan hidupku. Terima kasih' batin Ririn.
*****
Takdir yang kita jalani memang terkadang tidak sesuai dengan apa yang kita rencanakan.
Ku yakini semua yang terjadi di dunia ini adalah kehendaknya.
Kita hanya seperti wayang yang mengikuti alur jalannya cerita.
Kita tak akan pernah tau bagaimana jalan cerita kehidupan kita hanya saja kita bisa mengubah takdir dengan doa.
Kini aku memahami bahwa hidup tak selamanya pedih terkadang kita akan dihadapkan dengan kebahagiaan tak terhingga.
Tuhan terima kasih sudah mengizinkan aku mencecap bahagia bersama orang yang begitu aku cintai dan terima kasih sudah menghadirkan malaikat kecil yang kini berada di rahimku. Terima kasih.