DIARY RIRIN

DIARY RIRIN
24



Tak terasa hari sudah mulai petang Reno menghampiri Ririn yang sedang sibuk bercanda di kamar tamu kediaman keluarga Dewanto. "Maaf ganggu mi" ucap Reno menghampiri dus wanita itu. "Eh iya sayang kenapa?" Tanya Arini. "Reno mau nemuin Ririn" jawab Reno santai. Arini yang paham dengan ucapan Reno pun memilih keluar untuk memberikan ruang kepada Reno dan Ririn. Setelah kepergian Arini Reno mendekati Ririn "sayang ini udah sore, pulang yuk" ajak Reno. Mendengar ajakan Reno Ririn terlihat murung, sebenarnya Ririn ingin sekali menginap di rumah kakaknya namun ia takut jika Reno tidak setuju. "Em mas.. Ririn... Ririn.." kata Ririn terbata-bata karena ragu. "Kamu kenapa Rin?" Tanya Reno lembut untuk mengurangi keraguan istrinya itu. "mas aku mau kita nginep disini, boleh?" Ucap Ririn ragu. Reno terlihat sedang berfikir sejenak hingga akhirnya ia mengangguk. Reno hanya ingin Ririn sedikit merasa senang dengan menuruti kemauan Ririn mungkin akan membuat Ririn sedikit melupakan kejadian yang menimpanya kemarin. "Ya udah aku mau turun dulu buat minta izin ke mami sama Nino" pamit Reno yang berjalan keluar. Kini Ririn sendirian lalu membuka buku diary miliknya yang selalu dibawa kemanapun ia pergi.


Ketika aku sedang seperti ini aku mengingatnya, Malaikat kecilku. Tuhan dia sudah bersama-Mu lagi ku mohon jaga dia. Di sini aku bagaikan sebuah ranting yang rapuh dan kering. Aku memerlukan kekuatan untuk tetap bertahan pada pohon agar tidak jatuh. Aku mohon kuatkan aku.


Ririn pun membalikkan kertasnya. Dia mencoretkan sebuah tinta pada kertas putih polosnya lagi.


Tok.. tok... tok


Ririn melihat Reno berdiri di ambang pintu dan tersenyum kearahnya. 'andai kamu mencintai aku mas, mungkin aku akan menjadi orang yang paling beruntung' batin Ririn. "Kamu nulis apa Rin?" Tanya Reno membuyarkan lamunan Ririn. "Ah.. bukan apa-apa. Aku cuma lagi keinget bayi kita" jawab Ririn sendu. "Sayang denger aku, bayi kita udah tenang di sana. Kamu harus tau ini, bayi kita pergi bukan karena kesalahan kita tapi bayi itu memang sudah ditakdirkan untuk tetap di surga. Dia tidak diizinkan buat melihat megahnya dunia yang penuh dengan tipu daya, jadi sekarang kamu harus kuat oke" jelas Reno sembari membawa Ririn dalam pelukannya. "Mas gimana udah kabarin mama?" Tanya Ririn mengalihkan pembicaraan. "Mama udah aku kabarin kok dan aku juga udah bicara sama mami dan Nino. Oh iya, mami tadi suruh kita turun buat makan" Jawab Reno. Ririn mengangguk pelan lalu membawa tangannya untuk melingkar di leher suaminya. Reno pun langsung sigap menggendong Ririn untuk turun ke bawah. "Malam semua" sapa Reno kepada keluarga Dewanto sesampainya ia di meja makan. "Malam" ujar mereka bertiga sembari tersenyum hangat. "Oh jadi ini yang namanya Ririn putri papi?" Tanya Rio pada Ririn. Ririn tersenyum kikuk, ia tak tau apa yang harus ia jawab. "Iya Pi, cantik kan Pi?" Ujar Nino kepada Rio, saat ini Nino sangat yakin bahwa adiknya sedang bingung untuk menjawab. Akhirnya mereka semua makan dengan tenang. Setelah selesai semua keluarga kumpul di ruang keluarga. "Sayang peluk papi dong" pinta Rio pada Ririn. Ririn mengangguk lalu memeluk Rio dengan erat, Ririn begitu nyaman dengan pelukan Rio. Pelukan Rio mengingatkannya pada ayahnya Herman yang selalu memeluknya hangat. Tak terasa air mata Ririn jatuh karena terharu dan juga bahagia. Ketiga orang yang melihat adegan antara ayah dan putrinya itu pun terharu. "Reno, saya mau kamu terus jaga putri saya. Sayang memang tidak merawat dia dari kecil tapi dia sudah saya anggap sebagai putri kecil saya sampai kapanpun" jelas Rio tegas pada Reno. "Saya siap Pi, saya akan menjaga anak papi dengan baik. Saya akan berusaha menjadi imam yang baik untuk putri kecil papi" jawab Reno tak kalah tegas. "Nino kamu segera urus semua surat-surat untuk pengadopsian Ririn menjadi anak papi" titah Rio. Ririn pun terkejut ternyata Rio adalah sosok orang yang tidak main-main dengan ucapannya. "Sayang papi mau kamu selalu bahagia" ujar Rio pada Ririn. "Papi terima kasih atas semua yang papi lakukan. Papi Ririn minta maaf karena baru sekarang Ririn bisa mengunjungi papi" ucap Ririn yang sedikit menyesal. Rio dan Arini langsung memeluknya erat seperti tak ingin berpisah dengan putrinya itu. "Maaf semua sekarang sudah larut jadi saya akan bawa Ririn untuk istirahat" pamit Reno sembari membopong tubuh Ririn. Wajah Ririn memanas dia sangat malu pada Rio dan juga yang lainnya karena perlakuan Reno. Ririn pun segera menenggelamkan wajahnya di dada bidang milik suaminya. "Selamat malam semua" ucap Reno dan berlalu pergi. "Ih mas aku malu kalo kemana-mana harus di gendong terus" ucap Ririn di gendongan Reno. "Kenapa harus malu memang kita melakukan kesalahan. Kita udah suami istri jadi gak akan dosa kalo gendong-gendongan" jelas Reno tersenyum jahil sembari menurunkan Ririn di atas ranjang. "Ih mas Reno tapikan aku masih bisa jalan mas, jalan ke luar kamar gak akan membuat aku jadi kecapean" Rajuk Ririn pada Reno. "Sayang aku cuma mau jaga kamu, aku benar-benar gak bisa berfikir jernih kalau kamu terluka kaya kemarin. Cukup kemarin aku lihat kamu seperti itu aku gak mau lagi. Aku gak mau kehilangan kamu" jelas Reno dengan mengecup kening Ririn. 'Perlakuan kamu yang seperti ini mas yang membuat aku jauh lebih mencintai kamu. Tapi aku sadar sampai kapanpun kamu tidak akan mencintai aku dan hanya aku yang akan terus mencoba untuk berjuang' batin Ririn sembari menatap Reno. "Udah sekarang kita tidur, ini udah malam" titah Reno lalu membawa tubuh Ririn kedalam pelukannya. "Mas, aku boleh tanya?" Tanya Ririn yang masih berada di dekapan suaminya. "Tanya apa sayang?" Ucap Reno masih dengan memejamkan matanya. "Mas Elsa itu siapa kamu dulunya?" Tanya Ririn hati-hati. Reno yang tadinya memejamkan matanya kini membukanya kembali "mantan aku" jawabnya santai. "Mas apa kamu masih simpan foto Elsa di ruang kerja kamu?" Tanya Ririn lagi. "Sayang kamu tau dari mana tentang foto aku sama Elsa?" Bukannya menjawab Reno Malah balik bertanya sembari menguraikan pelukannya. Ririn yang ditatap pun merasa takut untuk menjawab. "Emm.. waktu aku bantu bibi buat beresin ruang kerja kamu yang berantakan entah karena apa mungkin karena kamu mengamuk pagi itu. Aku minta maaf mas kalau aku lancang" jelas Ririn takut-takut lalu dia membalikan tubuhnya tidur dengan memunggungi suaminya. Reno yang melihat Ririn beralih langsung saja mendekapnya dari belakang 'aku akan ceritakan semuanya besok' batinnya meyakinkan dirinya untuk mengungkap segalanya.