DIARY RIRIN

DIARY RIRIN
14



Pagi ini Niken kembali ke rumah sang putra untuk menengok keadaan putra dan menantunya. Setelah sampai di kediaman Reno, tanpa basa-basi Niken langsung masuk ke dalam rumah Reno. "Assalamu'alaikum... Reno, Ririn" teriak Niken.


Tak lama Ririn keluar menghampiri sang mertua "walaikum'sallam ma, mama kapan datang? Kok gak kabarin dulu mau ke sini?" Tanya Ririn.


Niken tersenyum melihat tingkah laku menantunya yang menggemaskan baginya. "Rin mama kan mau kasih kejutan buat kalian berdua. Lagian Rin mama kesini karena kangen banget sama kamu dan Reno" jawab Niken. "Ya udah ma, mama istirahat dulu aja. Ririn mau izin pergi ke dapur mau masak buat makan siang" izin Ririn kepada Niken. Niken mengangguk patuh dan pergi meninggalkan Ririn menuju kamarnya.


Kini Ririn sedang sibuk dengan pekerjaannya hingga tak sadar dengan kedatangan Niken. "Mama bantu ya sayang" tawar Niken.


Ririn terkejut karena mendengar suara Niken "mama, kok di sini? Mama gak istirahat?" Tanya Ririn.


"Mama pengen masak bareng kamu, udah lama juga kita gak masak bareng Rin" jawab Niken sembari memandang Ririn yang pandangannya sibuk pada masakannya.


"Ya ampun, mama istirahat aja, sebentar lagi juga selesai kok ma. Kalo mau masak bareng nanti malam aja ma" ucap Ririn memberi pengertian pada mertuanya.


"Ya udah deh Rin, tapi mama tetep mau di sini Rin soalnya mama bosen kalo harus sendirian. Mama boleh kan liat kamu masak" pinta Niken bersikeras.


"Ya udah ma, tapi mama liat aja ya" ucap Ririn mengiyakan. Niken melihat ada yang tidak benar pada sikap Ririn, mengapa Ririn menjadi begitu pendiam tidak seperti Ririn yang dikenalnya.


Niken pun memberanikan diri untuk bertanya pada Ririn, "Rin kamu lagi ada masalah sama Reno?" Tanya Niken hati-hati.


Ririn sedikit terkejut dengan pertanyaan yang diucapkan oleh Niken "enggak kok ma, kenapa mama mikirnya gitu?" Jawab Ririn sedikit gugup. Niken menggelengkan kepalanya 'kenapa Ririn seperti sedang menyembunyikan sesuatu' batin Niken.


...******...


Kini Nino sedang membawa Dewi menuju ke kantor milik Reno. Nino ingin memberi tahu kepada sahabatnya bahwa ia sudah menemukan kekasihnya kembali. "No, kita mau kemana?" Tanya Dewi.


"Ke perusahaan sahabat aku, nanti aku kenalin kamu ke dia. Dan jangan sampai kamu suka dia udah punya istri" ucap Nino bergurau.


"Kan udah ada kamu, aku gak akan tertarik sama siapapun" kata Dewi menggoda. Merekapun melanjutkan perjalanan dengan bercanda ria sehingga tanpa mereka sadari bahwa mereka sudah sampai di perusahaan milik Reno.


"Ya udah kamu tunggu di sini ya, aku mau bicara sama sekertaris sahabat aku ya" izin Nino pada Dewi.


Dewi hanya mengangguk sembari mengedarkan pandangannya ke sekeliling perusahaan. 'dari nama perusahaannya aku kaya gak asing' batin Dewi. Tak lama Nino kembali dan mengajak Dewi untuk masuk kedalam ruangan Reno.


Betapa terkejutnya Dewi melihat pemilik perusahaan tersebut. "Wi kenalin dia...." Ucapan Nino terputus oleh ucapan Dewi.


"Pak Reno" teriak Dewi terkejut.


"Lho Dewi, kamu ngapain disini?" Tanya Reno.


"Lho kalian udah saling kenal?" Tanya Nino.


"Udah No.. dia ini sahabat istri gue" jelas Reno.


"Ya istri gue namanya Ririn, btw Lo kenal istri gue?" Tanya Reno.


"Em.. maaf pak, sebenarnya dia ini kakak kandung dari istri bapak" jelas Dewi. Semua hal itu membuat Reno begitu terkejut. 'kenyataan pahit apa lagi ini' batin Reno.


Tak berbeda jauh dari Reno, Nino juga begitu terkejut dengan kenyataan bahwa sahabatnya adalah adik iparnya. "Kalian duduk dulu aja, saya pesankan minuman dulu" ucap Reno segera beranjak untuk menyuruh seseorang membuatkan minuman.


"Tujuan Lo kesini apa?" Sembari duduk Reno bertanya pada Nino.


"Tujuan gue mau kenalin Dewi ke Lo sebagai pacar gue, eh pas kesini ternyata kalian udah saling kenal dan ya gue yang dibuat kaget sama kenyataan kalo Lo itu adik ipar gue" cerocos Nino panjang lebar.


Reno hanya mengangguk-anggukkan kepala. "Pak Reno, gimana kabar Ririn?" Tanya Dewi hati-hati.


"Alhamdulillah baik wi, oh ya panggil Reno aja Wi" jawab Reno santai. Mengalirlah pembicaraan antara mereka bertiga.


...******...


Ririn yang baru saja selesai makan siang dengan Niken kini sedang melamun di taman belakang di rumahnya. Ririn memikirkan apa yang sebenarnya sedang terjadi antara dirinya dengan suaminya. 'kenapa mas Reno seperti sedang menyembunyikan sesuatu dari aku. Entah kenapa perasaan curiga ini semakin kuat' batin Ririn hingga tak terasa setetes air matanya keluar. Ia tak tau apa yang sedang di sembunyikan suaminya darinya.


Tiba-tiba Niken datang dengan membawa segelas teh. "Lagi mikirin apa Hem?" Tanya Niken sembari menyodorkan segelas teh.


"Oh mama, gak mikir apa-apa kok ma. Ririn cuma lagi duduk santai aja" jawab Ririn asal.


"Sayang sebelum kamu mama sudah lebih dulu merasakan yang namanya berumah tangga. Nak kadang kala ada cobaan yang membuat kita ingin menyerah tapi kita juga harus ingat bahwa tujuan kita menikah itu apa" jelas Niken.


"Ma.. aku cuma lagi kangen ayah sama mama. Ririn gak nyangka aja kepergian mereka cukup tiba-tiba bagi Ririn ma. Dan tentang rumah tangga In Sya Allah ma aku akan mencoba semaksimal mungkin untuk mempertahankannya" cerita Ririn pada Niken.


"Sayang, mama gak pernah tau bagaimana keadaan kalian tapi mama percaya sama kamu. Mama yakin kamu bisa" ucap Niken menyemangati. Ririn tersenyum dia merasa begitu beruntung memiliki mertua sebaik Niken.


"Ma, Ririn mau tanya apa mama gak pernah tau siapa perempuan yang Deket sama mas Reno sebelum menikah dengan aku?" Tanya Ririn penasaran.


"Setahu mama gak ada Rin, Reno gak pernah cerita ataupun bawa perempuan ke rumah buat dikenalin ke mama" jawab Niken menjelaskan.


"Rin gak mungkin mama akan menikahkan kamu dengan Reno kalau seandainya Reno sudah mengenalkan perempuan lain ke mama" lanjut Niken. Ririn tampak gelisah dengan perasaannya. Ririn tak tau harus bagaimana cara menyikapi semua masalah yang sedang dihadapinya.


"Menurut mama apa yang paling sakit saat berumah tangga?" Tanya Ririn dengan suara yang parau menahan tangisnya.


"Rin kamu kenapa?" Tanya Niken dengan khawatir.


"Ririn gak papa ma. Ma tolong jawab pertanyaan Ririn" jawab Ririn dengan meneteskan air matanya.


"Bagi mama pengkhianatan suami terhadap kepercayaan kita itulah rasa sakit yang paling besar" jawab Niken. Ririn menganggukkan kepalanya paham. 'gimana kalo mas Reno mengkhianati aku. Gimana kalo nantinya cinta dan hati mas Reno harus dibagi, apa aku sanggup menghadapi rasa sakitnya' batin Ririn. Ririn begitu takut dengan kenyataan yang akan dihadapinya.