DIARY RIRIN

DIARY RIRIN
15



Saat ini Reno sedang menunggu Elsa di bandara. Reno sengaja datang untuk menjemput Elsa. Tak lama terlihat wanita cantik yang dulu pernah singgah dihatinya. "Reno...." Teriak Elsa sembari melambaikan tangannya. Elsa berlari dan memeluk Reno sangat erat namun sebaliknya Reno hanya diam mematung. "Kamu beneran jemput aku, aku seneng banget" ucap Elsa antusias. "Ya udah kita ke apartemen kamu, ini udah malam" kata Reno begitu lembut. Akhirnya mereka melaju meninggalkan bandara. Sesampainya di depan apartemen milik Elsa Reno pamit untuk pulang "ya udah aku pulang dulu ya, soalnya udah malam". "Kamu gak nginep di sini aja" usul Elsa. Reno sedikit terkejut dengan tawaran Elsa "enggak aku mau pulang aja" tolak Reno. "Ya udah deh kalo gitu, padahal kan kita baru aja ketemu. Aku masih kangen sama kamu, tapi kamu udah mau pulang aja" ucap Elsa memelas. "Sa besok kan masih ada hari. Aku harus pulang, aku takut ada orang rumah yang cari soalnya ini udah malam Sa. Gak enak juga kan kalo kita berdua yang gak ada ikatan yang sah harus ada di satu apartemen" jelas Reno halus. Elsa hanya mengangguk patuh dan segera masuk ke dalam apartemen. Reno berlari tergesa-gesa untuk segera pulang karena malam ini sudah sangat larut. Dijalan Reno benar-benar gelisah, ia takut jika nanti Ririn menunggunya pulang dan akan marah karena ia pulang larut sekali. "Kira-kira Ririn marah gak ya dan apa dia sekarang udah tidur?" Kata Reno bertanya-tanya. Reno melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Di rumah Ririn begitu khawatir karena Reno tak kunjung pulang. Jam sudah menunjukkan pukul jam 11.00 bahkan Reno tak mengabarinya sama sekali. Ririn berjalan kesana kemari dengan gelisah. "Kamu belum tidur Rin?" Tanya Niken yang melihat Ririn begitu gelisah. Ririn terkejut dengan kedatangan Niken "oh mama, belum ma. Aku lagi nunggu mas Reno" jawab Ririn tetap dengan keadaan cemas. "Apa Rin, Reno belum pulang? Dia gak ngabarin juga Rin?" Tanya Niken lagi. "Enggak ma, mas Reno gak pernah kaya gini sebelumnya. Aku jadi khawatir mas Reno kenapa-napa di jalan ma" jawab Ririn cemas. "Ya udah kamu sekarang tidur biar Reno mama yang tunggu" usul Niken. "Tapi ma..." Ucapan Ririn terpotong. "Percaya sama mama. Sekarang kamu istirahat dan jangan kelelahan" titah Niken. Mau tak mau Ririn segera naik untuk ke kamarnya.


Tak lama Ririn kembali ke dalam kamarnya di sana Ririn melihat Reno yang sedang mengeringkan rambutnya. Ririn tersenyum dan menghampiri Reno "mas sini kamu duduk, biar aku keringin rambut kamu" titah Ririn sembari mengambil alih handuk yang ada di genggaman Reno. Saat sedang menikmati sentuhan dari sang istri, Reno teringat dengan perkataan Nino tadi siang "Rin aku mau tanya, apa benar Nino adalah kakak kandung kamu?" Tanya Reno. Ririn sedikit terkejut bagaimana bisa Reno mengenal Nino kakaknya "mas tau tentang kak Nino dari mana?" Tanya Ririn balik. "Nino itu sahabat aku Rin, dia tadi ke kantor bareng sama Dewi" jelas Reno. "Oh gitu. Iya mas, kak Nino itu Kakak kandung aku. Aku juga sempat mau kasih tau kamu tapi kamu belum ada waktu" jelas Ririn pada Reno. "Ya udah nanti kalo ada waktu luang aku kita dinner bareng mereka ya" ajak Reno. Ririn begitu antusias hingga tanpa sadar Ririn memeluk Reno begitu erat. Reno yang di peluk secara tiba-tiba pun terkejut dan di iringi rasa nyaman. 'kenapa pelukan kamu adalah pelukan ternyaman yang pernah aku rasakan. Entah mengapa pelukan dari Elsa tak pernah senyaman ini' batin Reno. "Seneng banget kayanya. Maaf ya aku belum bisa buat kamu bahagia" ucap Reno dengan nada sedih. "Mas kamu tau, dengan kamu mau menemui Kakak aku aja udah buat aku bahagia. Mas kamu adalah laki-laki hebat yang aku punya sekarang. Aku akan selalu merasa menjadi istri yang paling beruntung" ucap Ririn dengan ceria. 'kamu salah Rin, aku adalah laki-laki pengecut yang gak bisa memilih antara kamu dan Elsa. Aku adalah laki-laki serakah yang mengharapkan dua cinta dari dua wanita' batin Reno sembari menatap mata Ririn. "Rin kenapa kamu begitu percayanya sama aku?" Tanya Reno sendu. "Mas dalam rumah tangga, kita harus saling percaya. Pondasi utama dari sebuah pernikahan adalah rasa saling percaya, walau aku tau belum ada cinta di hati kamu untuk aku" jelas Ririn. Reno begitu salut dengan semua ketabahan Ririn dan rasa percaya yang ia punya. Reno adalah orang yang begitu beruntung.