
"*Ririn aku mau minta kamu untuk kuat. Ririn aku mau pergi dan mungkin gak akan pernah kembali jadi tolong jaga diri kamu baik-baik" pinta Dewi.
"Kamu mau pergi kemana?" Tanya Ririn khawatir.
"Ke sisi Tuhan" jawab Dewi to the point.
"Tolong Rin jangan halangi aku kali ini. Aku sudah membuat keputusanku sendiri terhadap hidup aku jadi aku mau kamu ngerti. Hargai keputusan aku Rin" lanjut Dewi dengan senyum yang dipaksakan.
"Dewi semuanya akan baik-baik aja. Kita bisa berusaha lagi buat bangkit" saran Ririn sembari menangis memeluk Dewi.
"Ririn aku sudah memilih untuk kembali ke pangkuan Tuhan dengan cara seperti ini jadi tolong hargai aku. Aku titip surat ini ya buat Nino" ucap Dewi sembari memberikan amplop berwarna putih itu*.
Kini Nino sedang duduk di taman sembari menatap surat dan rekaman yang diberikan oleh Ririn. Nino perlahan memutar rekaman tersebut.
Hi, boy.
Nino ini mama sayang. Mama kangen sama kamu. Kamu kemana aja? Nino apa kamu masih marah sama mama? Nino tanpa mama ceritakan semua alasan mama menekan batin kamu pasti Ririn sudah menceritakan segalanya. Sayang mama minta maaf atas semua kesalahan mama yang membuat kamu begitu terluka. Mama menyayangi kamu dan juga Ririn. Oh ya, kalau rekaman ini sudah kamu dengar artinya mama udah sama Tuhan. Entah Ririn akan menemukan ini atau enggak tapi setidaknya mama sudah membuat pesan ini. Mama benar-benar merindukan kamu dan sekarang mama udah bisa lihat kamu dari atas sini.
Nino mama titip Ririn ya jagain dia, dia gak sekuat kelihatannya. Ririn adalah gadis rapuh yang memerlukan kasih sayang. Dan kamu juga harus mencari Chiko nak, dia adalah amanah dari om dan Tante kamu jadi jaga dia baik-baik. Ririn begitu menyayangi Chiko jadi kalau kamu ketemu Ririn tolong pertemukan dia dengan Chiko. Maaf mama kasih beban berat ini buat kamu.
Oh ya, ngomong-ngomong kamu sama Dewi cocok. Kamu tau dulu Dewi begitu kelimpungan mencari kamu. Kasihan dia sering ngelamun memikirkan keadaan kamu. Dewi gadis baik No, jadi jangan sesekali kamu khianati kepercayaannya. Dia yang selalu ada untuk adikmu Ririn, dia yang memberikan semangat terhadap Ririn walaupun dia sendiri sedang rapuh. Nino kamu sebagai seorang laki-laki harus bisa menjaga wanita sebaik Dewi. Nino kamu tau dulu Ririn hampir aja mau mengakhiri hidupnya tapi karena Dewi memberikan secercah harapan membuat Ririn bisa bangkit. Mama kasihan setiap kali dia main ke rumah kita, dia selalu melamun. Akhirnya di situ mama memutuskan untuk pindah bersama Ririn. Nino maaf kalau mama ini seolah-olah menjadi orang yang baik tapi mama mengatakan ini karena mama melakukan semua ini hanya karena mama gak mau kamu salah langkah. Mama percaya sama kamu Nino. Tolong jaga Ririn dan Chiko.
Mama pamit Nino. Selamat tinggal.
Hi Nino.
Gimana kabar kamu? Semoga kamu baik-baik aja ya. No aku pamit mau pergi jauh.
Nino di dalam amplop ini ada 7 buah surat yang aku buat. Ada beberapa surat yang mengutarakan isi hati aku yang dulu ditinggal pergi sama kamu tanpa alasan. Sekarang kamu buka lembar pertama.
Nino menuruti petunjuk dari surat tersebut.
LEMBAR 1
Sekarang aku lagi sendiri No. Aku kangen banget sama kamu. Sudah hampir 7 bulan lamanya kamu pergi ninggalin kita semua. Disini kita khawatir sama keadaan kamu. Aku takut kamu kenapa-kenapa No. Sekarang aku lebih sering menatap bintang berharap dia mau menyampaikan rasa rindu aku buat kamu. Nino aku rapuh disini, aku perlu kamu. Kamu udah ambil separuh dari jiwaku jadi kalau kamu pergi seperti ini aku merasa kehilangan separuh dari jiwaku. Kamu tau sekarang aku kuat karena Ririn. Dia lemah No, dia merindukan kamu. Aku menulis surat ini sekarang seperti aku tau tujuan surat ini akan sampai. Tapi kenyataannya aku dibodohi oleh perasaan. Nino kamu sekarang dimana? Kamu tau aku selalu berdoa sama Tuhan untuk mengembalikan kamu ke sisi aku dan menjadi penguat untuk Ririn. Hari ini menjadi hari melelahkan No buat aku. Aku belum sanggup kehilangan kamu dan sampai kapanpun aku gak akan sanggup. Kamu sudah seperti nafasku No. Nino kalau kamu marah sama Tante Sandra harusnya kamu marah aja gak perlu sampai pergi kaya gini. Kamu gak kasihan sama Ririn udah nungguin kamu selama 7 bulan ini. Hari ini Ririn juga cerita ke aku kalau dia rindu banget sama kamu dan Chiko. Kenapa kalian seperti ini? Kalian terlalu menyiksa jiwa gadis tak berdaya itu. Apa kamu gak kangen sama aku dan Ririn, kita di sini kaya orang bodoh. Kita mengharapkan kamu yang belum tentu memikirkan kita. Nino kamu pulang ya kita butuh kamu di sini. Aku gak akan maksa kamu buat memaafkan Tante Sandra tapi pulang No demi Ririn. Nino semakin kamu lari semakin masalah bertambah. Nino dulu janji ke aku sama Ririn, kamu akan menjaga aku dan Ririn untuk selamanya. Sekarang aku mohon tepati janji kamu. Aku mohon pulang No kami membutuhkan kamu. Jangan menjadi pengecut hanya karena belum bisa mengatasi masalah. Aku akan bantu kamu menyelesaikan masalah asalkan kamu kembali dan hidup bersama kita lagi. Nino jangan seperti ini, kamu menyiksa kami. Jangan biarkan aku berpura-pura lagi dihadapan Ririn, aku gak sanggup No kalau harus berpura-pura kuat. Nino aku butuh pundak kamu.
Nino aku rindu kamu.
Cepet pulang ya No.
I love you.
Nino begitu tersentuh dengan surat yang Dewi tuliskan. "Maafin aku Wi, maaf. Kalau aja dulu aku gak egois mungkin semua ini gak akan terjadi. Aku bodoh Wi, aku bodoh. Seharusnya dulu aku tetap di samping kamu dan juga Ririn tapi aku malah memilih untuk menjadi pecundang dengan pergi membawa semua keegoisanku. Dewi aku sayang sama kamu bahkan aku masih mencintai kamu" Isak Nino. Nino menyadari semua kesalahannya dulu. Nino yang egois membuat Boomerang pada dirinya sendiri. Penyesalan kini merambat pada hatinya. Hatinya terlalu sakit membaca surat dari Dewi yang seolah-olah masih mengharapkan dirinya kembali. Nino sadar jika sedari awal permasalahan ini memang dirinyalah yang memulai bahkan dirinya juga yang memperbesar.
Nino membuka lembaran kedua surat dari Dewi.