
Mampukah aku menjalani hidupku yang penuh liku. Pilu ini yang kian kurasa,hidup diantara duri aku bagaikan ulat yang terjebak di dalamnya. Tak ada kata kiasan yang mampu mengumpamakan isi dalam jiwa..
"Ririn...." Teriak Dewi memanggil, Ririn pun terkejut dengan teriakan Dewi yang begitu melengking.
"Ada apa wi kenapa teriak-teriak gitu?" Tanya Ririn sebal.
"Hehehe gak papa Rin. Oh ya gimana mama kamu masih sama cara dia memperlakukan kamu?" Ucap Dewi balik bertanya.
Ririn hanya diam tak mau menjawab pertanyaan Dewi karena baginya apapun yang terjadi padanya cukup ia yang tau. Bukan Ririn tak percaya pada sekelilingnya namun ia enggak dikasihani jika ada yang mengetahui tentang kehidupannya.
Dewi yang tau bahwa Ririn tak akan berbagi kisah hidupnya itu pun segera mengalihkan pembicaraan "oh ya Rin kemaren aku lihat Bima sama kamu lagi berantem, ada masalah apa lagi?" Tanya Dewi.
"Ah itu wi, biasa wi dia mau aku keluar dari pekerjaan aku yang sekarang. Dia bilang dia gak suka aku kerja di tempat kaya gini" jelas Ririn. Dewi pun hanya mengangguk paham. Banyak hal yang tersembunyi yang belum mampu Dewi mengerti mengenai hidup sahabatnya Ririn.
...******...
Saat ini Ririn sedang sibuk melayani banyak pengunjung cafe,hingga ia lupa pada janjinya untuk menemui Bima pada jam makan siang. Bima mengedarkan pandangannya ke arah luar sembari menunggu Ririn. Setelah 30 menit berlalu Ririn tak kunjung datang Bima pun segera beranjak untuk pergi dari tempatnya. Saat akan keluar dari cafe tempat ia duduk, ia Melihat ada Dewi sedang makan seorang diri. Bima memang mengenal Dewi karena Dewi adalah sahabat dari Ririn kekasihnya. Bima pun menghampiri Dewi dan menyapanya.
"Hay Wi,kamu makan sendiri aja gak sama Ririn?" Tanya Bima basa basi.
"Eh Bim kamu disini, iya aku sendiri aja soalnya Ririn lagi sibuk banget melayani pengunjung cafe jadi kita nanti gantian. Tadi sih aku sempet nyuruh Ririn buat makan siang duluan tapi dia gak mau" jelas Dewi.
Bima pun mengangguk mengerti "aku boleh gabung makan siang sama kamu gak?" Tanya Bima lagi.
"Oh ya udah makan siang sama aku aja" ucap Dewi mengizinkan. Akhirnya Bima dan Dewi pun makan sembari bercanda ria.
Selesai makan Dewi pun izin untuk kembali bekerja pada Bima "ya udah Bim aku duluan ya. Mau lanjut kerja soalnya" izin Dewi.
"Oh oke. Oh ya Wi, aku minta kontak kamu ya?" Pinta Bima. Dewi mengangguk menyetujui lalu mengeluarkan ponselnya. Setelah Bima mencatat nomor kontak Dewi, Dewi pun langsung pamit untuk kembali ke tempat ia bekerja. Bima melihat kepergian Dewi dan entah kenapa ia merasa nyaman saat bersamaan Dewi. 'entah kenapa aku merasa nyaman saat sama kamu Wi, atau mungkin aku suka sama kamu? Tapi kamu sahabat Ririn dan gak mungkin aku mengkhianati Ririn' batin Bima. Bima mencari kontak Ririn dan segera menghubunginya,
"Halo Rin.." sapa Bima
^^^.........^^^
"Iya gak papa kok. Gak usah kesini Rin, aku udah makan siang duluan tadi sama temen aku" jelas Bima
^^^..........^^^
...******...
Baru saja Ririn hendak pergi tiba-tiba ponselnya bergetar, setelah melihat layar ponselnya ternyata Bima yang menghubunginya Ririn pun segera mengangkatnya.
^^^"Halo Rin.."^^^
"Em iya halo Bim. Bim aku minta maaf ya aku tadi bener-bener lupa kalo kita ada janji makan siang. Ya udah aku kesana sekarang ya" ucap Ririn menyesal
^^^"Iya gak papa kok. Gak usah kesini Rin, aku udah makan siang duluan tadi sama temen aku"^^^
"Oh gitu ya, ya udah deh. Sekali lagi aku minta maaf ya Bim" ucap Ririn benar-benar menyesal
^^^"Oke, kamu jangan lupa makan siang sama istirahat yang cukup ya. Aku tutup teleponnya dah Rin"^^^
Setelah itu sambungnya dengan Bima pun terputus. Ririn sangat menyesal karena tak ingat dengan janjinya pada Bima. Ia yakin pasti saat ini Bima sangat kecewa padanya. Ririn terdiam dan melamun lalu Ririn dikejutkan dengan suara seseorang yang memanggilnya "Rin, Ririn" panggil Dewi sembari menepuk bahu Ririn.
"Ah iya kenapa,ada yang bisa saya bantu?" Ucap Ririn terkejut. "Woy Rin ini aku Dewi bukan pengunjung cafe, lagian ngapain siang-siang bolong gini kamu ngelamun?" ujar Dewi sembari terkekeh melihat tingkah temannya itu.
"Huh.... Aku kira kamu pengunjung tau. Ya aku gak papa cuma lagi kepikiran sama masalah di rumah aja" ucap Ririn berbohong.
"Ya udah Rin, sekarang giliran kamu makan siang" suruh Dewi pada Ririn.
Ririn menghela nafas "seandainya aja kita boleh makan siang di cafe ini gak mungkin kita keluar-keluar buat cari makan" keluh Ririn. Dewi tersenyum baru pertama kalinya Ririn mengeluh selama ia berteman dengan Ririn,tak pernah sekalipun Ririn mengeluh seperti sekarang ini.
"Udahlah Rin masih mending kita diberi jatah makan siang daripada gak sama sekali" tukas Dewi menanggapi keluhan Ririn. Ririn pun menghela nafasnya lagi lalu pergi meninggalkan Dewi untuk mencari tempat makan siang.
Diperjalanan tak sengaja Ririn menabrak seorang pria asing yang sepertinya sedang terburu-buru. "Maaf mas,maafin saya. Saya gak sengaja melakukannya" ucap Ririn meminta maaf.
"Oke gak masalah saya juga minta maaf" balas pria tersebut.
Ririn pun mengamati pria tersebut seperti tidak asing baginya, sepertinya ia pernah melihat pria tersebut namun ia lupa dimana ia melihatnya. Ririn bergumam pada diri sendiri 'kaya pernah liat tapi dimana ya? Ah Ririn ngapain kamu mikirin orang asing'. Ririn memilih untuk tak memikirkan pria yang ia tabrak karena itu hanya akan membuatnya menjadi pusing saja. Dia melihat ada sebuah cafe, dia memutuskan untuk makan siang ditempat itu. Saat sedang makan ia tak sengaja melihat sosok pria yang ia tabrak tadi, "ngapain dia disitu,kaya lagi nunggu seseorang" guman Ririn. Ririn memilih untuk melanjutkan makan siangnya karena waktu makan siangnya hampir habis jika ia terus memikirkan pria tersebut bisa-bisa ia akan terlambat masuk kerja.
Saat hampir selesai makan Ririn terkejut karena ia ingat dimana ia melihat pria tersebut 'bukannya dia yang ada di foto itu, foto yang mama kasih ke aku' ucapnya dalam hati. Ririn segera beranjak pergi sebelum pria itu sadar bahwa ia ada di tempat itu, ia tak ingin bertemu lagi dengan pria itu. Ririn segera berlari keluar setelah membayar di kasir. Ia menyumpah serapahi dirinya karena bertemu dengan pria yang tak ingin ia temui.