DIARY RIRIN

DIARY RIRIN
21



Nino dan Dewi sedang duduk bersama menikmati akhir pekan. Mereka begitu bahagia karena hari ini Ririn bisa pulang dan semuanya sudah kembali baik-baik saja. "Sayang aku mau ngomong sama kamu" ucap Dewi. "Ngomong aja sayang" jawab Nino. "No bisa kan kamu itu gak emosian kalo menyangkut tentang Ririn. No, Ririn sekarang udah berkeluarga dan aku yakin kok Ririn bisa menentukan yang terbaik buat dirinya sendiri" jelas Dewi meyakinkan Nino. "Wi mau bagaimanapun Ririn. Mau dia udah berkeluarga ataupun belum, dia tetap adik aku. Adik kandung aku yang akan selamanya aku jaga" ucap Nino dingin. "No kamu ngerti gak sih, kalo kamu selalu ikut campur dalam urusan rumah tangga Ririn bukannya selesai masalahnya tapi malah bertambah" ujar Dewi memberi pengertian. "Wi apa kamu tau betapa bajingannya Reno. Reno adalah laki-laki bajingan yang akan membuat Ririn terluka. Dia bahkan gak mengharapkan pernikahannya bersama Ririn" ujar Nino dengan nada tinggi. "No, kamu sadar gak? Saat kamu mengatakan bahwa Reno adalah laki-laki bajingan apa kabar dengan bajingan yang sekarang sedang bertingkah seolah-olah menjadi seorang kakak yang baik" ucap Dewi tak kalah kerasnya. "Jadi kamu belain Reno dengan cara menghina aku?" Tanya Nino. "Denger No, aku gak belain siapapun di sini. Aku bicara sama kamu tentang ini cuma demi Ririn. Sekarang aku tanya, siapa yang ada di samping Ririn saat dia terpuruk karena kepergian mamanya. Apa itu kamu? Bukan No, bukan kamu tapi Reno. Siapa yang lebih sering buat Ririn tersenyum, apa itu kamu? Bukan kan, semua itu Reno yang lakuin. Jadi salah kalau kamu sekarang merasa kamu yang paling baik" jelas Dewi dengan nada yang tak berubah. "No, aku tau kamu kakak dari Ririn tapi dengan cara kamu seperti ini terhadap rumah tangga Ririn itu sama aja kamu sedang pelan-pelan menghancurkan hidup Ririn. Kamu tau gak Ririn mencintai Reno suaminya" lanjut Dewi. Nino merasa bahwa apa yang dikatakan Dewi benar tapi ia tidak sanggup jika melihat adiknya tak berdaya seperti sebelumnya. Tiba-tiba ponsel Nino berdering.


"Halo.." ucap Reno


"Ada apa?" Tanya Nino dingin


"No, Ririn di rumah sakit" jawab Reno mengabari


"Apa?" Ucap Reno terkejut


Belum sempat Nino bertanya sambungan telepon itu terputus. 'kamu kenapa lagi dek?' batin Nino. Melihat wajah Nino yang begitu khawatir Dewi pun bertanya "No, ada apa?" Tanya Dewi. "Ririn.. Ririn.. dia masuk rumah sakit lagi" jawab Nino. "Kok bisa? Terus sekarang Ririn di rumah sakit mana?" Tanya Dewi. "Aku gak tau tadi Reno langsung matiin sambungannya" jawab Nino gusar. "Kita coba cek aja di rumah sakit sebelumnya" ajak Dewi. Tanpa pikir panjang Nino langsung melajukan mobilnya menuju rumah sakit.


To mama


Mama gak usah masak makan siang biar aku sama Nino yang beli


From mama


Oke sayang


"Oke kita beli aja di depan sana" ujar Reno. "Ya udah yang beli aku aja. Soalnya kasihan Ririn kayanya dia tidurnya pules banget" saran Dewi. "Ya udah, kamu hati-hati ya sayang" ucap Nino. Setelah beberapa saat akhirnya Dewi kembali dengan beberapa makanan yang ia pesan. "Udah ayo sekarang kita pulang" ajak Dewi. "Oh ya, sebelum kita pulang kita tebus obat Ririn dulu ya di apotek terdekat" pinta Reno. Nino mengangguk patuh dan akhirnya melaju ke apotek terdekat dari restoran tersebut. "Biar gue aja yang tebus, mana kertasnya?" Ucap Nino. Reno memberikan kertas yang berisi informasi obat yang harus di tebus Nino. Setelah Nino keluar Dewi melihat perhatian Reno yang begitu dalam pada Ririn dari spion dalam. Dewi merasa bahwa sebenarnya Reno juga sudah mencintai Ririn. Dewi merasa tenang karena Ririn berada di tangan orang yang tepat. 'Rin aku seneng kamu berada di tangan orang yang tepat. Aku harap kamu bahagia untuk selamanya' batin Dewi.