DIARY RIRIN

DIARY RIRIN
43



Di tempat yang berbeda Chiko sedang duduk sembari menatap rekaman Emily yang di berikan oleh Ririn.


"Maafin aku Em, aku gak bisa jaga kamu dulu. Em, aku kangen banget sama kamu. Sekarang kamu udah tenang bersama Tuhan. Dan di sini aku masih merindukan kamu" gumam Chiko sembari menatap rekaman tersebut seolah-olah itu adalah Emily. Chiko mulai memutar rekaman tersebut.


Chiko!


Chiko!


Kamu dengar kan?


Hehehe apa kabar Chiko? Semoga kamu baik-baik aja. Chiko maaf Em gak bisa pamit secara langsung. Chiko, Em pergi karena sudah menjadi keinginan Em. Chiko harus kuat ya! Chiko tau, sekarang Em lagi menikmati senja sebelum besok Em pergi. Chiko, Em akan selalu merindukan Chiko.


Em itu gak sekuat yang Chiko kira. Em kasihan melihat kak Elsa yang selalu di marahin mama sama papa. Em sayang banget sama kak Elsa. Kamu tau kak Elsa adalah orang yang paling menyayangi aku. Dia selalu mengedepankan kebahagiaan aku dari pada dirinya sendiri.


Chiko terima kasih Chiko masih mencintai Em walau raga Em sudah terpendam didalam tanah. Em juga mencintai Chiko. Chiko, Em mau Chiko melanjutkan hidup Chiko dengan baik. Oh ya, Em titip kak Elsa ya. Jagain kak Elsa ya, Em benar-benar sayang kak Elsa. Balas semua kebaikan kak Elsa yang sudah mau merawat Em, jagain Em, dan mengedepankan kepentingan Em. Jangan kecewain Em ya Chiko. Em percaya kalau Chiko mampu. Jangan pernah salahkan kak Elsa atas kematian Em. Semua ini sudah menjadi keputusan Em. Em gak kuat lagi menjalani hidup bahagia di atas penderitaan kak Elsa. Em janji, Em akan bahagia disisi Tuhan. Em akan selalu melihat Chiko dari sini. Oh iya, maaf ya Em ya Chiko. Em gak kasih langsung rekaman ini ke Chiko tapi malah di titipkan ke Kak Ririn. Em cuma gak mau Chiko tau saat itu karena pasti Chiko akan menghalangi Em. Chiko mungkin keputusan Em terlalu fatal tapi Em memang sudah memutuskan ini semua. Jadi Chiko jangan sedih lagi ya. Em sayang banget sama Chiko. Chiko lanjutin lagi hidup Chiko. Em titip kak Elsa ya! Chiko bahagia selalu dan selamat tinggal.


Chiko merasa sangat terpukul dengan semua pesan dari Emily. "Maaf Em, aku gagal dalam menjalankan amanah kamu. Aku sudah terlanjur menyakiti Elsa dengan begitu dalam. Aku juga belum bisa melanjutkan hidup aku setelah kepergian kamu. Maaf Em" gumam Chiko. Air mata Chiko tak berhenti mengalir. Chiko benar-benar merasa sangat terluka karena tak mampu menjalankan amanah dari orang yang paling di cintainya.


Tak jauh dari tempatnya Chiko melihat Nino yang sedang menangis di pelukan Elsa. Chiko pun berniat untuk menemuinya namun langkahnya terhenti saat melihat Bima sedang menangis dengan membawa jenazah seseorang. Chiko pun memutuskan untuk mengikuti Bima. Sesampainya di depan ruang jenazah Chiko langsung menghampiri Bima.


"Kak Bima" sapa Chiko.


Bima menatap Chiko dengan air mata yang belum berhenti. "Kak dia siapa?" Tanya Chiko penasaran.


"Dewi" jawab Bima singkat.


"Maksud kakak?" Tanya Chiko tak percaya.


"Dewi memilih mengakhiri hidupnya dan meninggalkan semua luka. Dewi menepati janjinya untuk mencintai kakak kamu hingga hembusan nafas terakhirnya" jelas Bima sembari menahan tangisnya.


"Kenapa bisa? Kak Dewi gak mungkin melakukan hal itu kak!" Ucap Chiko tak percaya.


"Kamu salah Ko. Dewi adalah wanita yang rapuh. Kamu tau saat Nino kembali dia bahkan sangat bahagia dan melupakan semua rasa sakit yang di deritanya selama ini. Tapi kebahagiaan dia hanya sebentar saat Nino lebih memilih Elsa di situ dunia Dewi hancur. Selama 4 bulan terakhir Dewi mencoba untuk menyembuhkan luka tapi nyatanya dia gak pernah bisa. Sebelumnya Dewi sudah berpamitan dengan aku sebelumnya. Tapi aku anggap semua itu hanya candaan semata. Tanpa aku sadari semua itu memang sudah direncanakan oleh Dewi. Dan hari ini Dewi pamit dengan Ririn yang sedang lemah di rumah sakit jadi membuat Ririn gak akan pernah bisa menghalangi dia" jelas Bima menceritakan segala hal tentang Dewi.


Chiko yang terkejut pun segera berlari untuk menemui Nino setelah sampai Chiko langsung memberi tahu kepada Nino. "Kakak.. kak Dewi.. kak Dewi.. dia ada disini" ucap Chiko gugup.


"Kak.. kakak tenang dulu ya. Kak Dewi dia ada di ruang jenazah" cicit Chiko tak berani menatap Nino.


"Kamu jangan bercanda! Buat apa Dewi di sana" teriak Nino.


"Nino cukup, kamu harus terima semua ini" teriak Elsa frustasi melihat keputusan asaan Nino.


"Kamu sadar gak No, dengan cara kamu yang seperti ini gak akan membuat Dewi tenang. Kamu tau sekarang seharusnya kamu mengantarkan Dewi ke peristirahatan terakhirnya. Bukan malah uring-uringan kaya gini" lanjut Elsa memberi pengertian kepada Nino.


"Aku salah sama dia, aku yang bunuh dia" racau Nino. Chiko pun langsung memeluk kakaknya erat mencoba menenangkan kakaknya.


"Lebih baik sekarang kita kerumah duka buat mempersiapkan segalanya" usul Elsa.


"Kamu jaga kak Nino dulu aku mau bahas tentang ini sama kak Bima" pamit Chiko namun Nino menahannya.


"Biar kakak yang akan mengurus segalanya bersama Bima" ucap Nino meninggalkan Chiko dan Elsa yang masih sedikit terkejut. Melihat kecemasan Bima yang menunggu di luar ruangan tersebut Nino merasa iba.


"Dimana dia akan disemayamkan?" Tanya Nino dingin.


"Di pemakaman cempaka tepat di sebelah pemakaman kedua orangtuanya" jawab Bima tak kalah dingin.


"Bim, apa segitu bodohnya gue melepaskan dia?" Tanya Nino sendu.


"Lo harusnya tau, Dewi gak sekuat kelihatannya. Seandainya Lo gak meninggalkan dia dulu mungkin semua ini gak akan terjadi" jawab Bima.


"Gue gak pernah sangka kalau dia akan senekat ini. Padahal dia adalah orang yang selalu menguatkan Ririn dari berbagai cobaan hidup tapi dia sendiri malah menyerah dengan hidup" ucap Nino.


"Lo tau alasan dia hidup dan bertahan adalah Lo. Dia selalu memegang semua janji yang Lo ucapkan dulu. Gue prihatin saat lihat keadaan dia 4 bulan terakhir. Dia sering ngelamun dan tiba-tiba menangis. Asal Lo tau jiwa dia terguncang" ucap Bima menceritakan segalanya.


"Kenapa Lo gak coba buat dia suka sama Lo?" Tanya Nino heran.


Bima terkekeh mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut Nino. "Gue gak akan bisa membuat dia suka sama gue karena hati dan hidupnya udah dia serahkan untuk Lo sampai maut memisahkan kalian" jawab Bima santai.


'Sampai segitunya kamu jaga cinta kita Wi' batin Nino menangis.