DIARY RIRIN

DIARY RIRIN
3



Sandra ibu Ririn sedang menunggu Ririn pulang, ia khawatir akan keadaan Ririn walau ia tak menyukai Ririn tetap saja ia adalah putrinya. Tak lama pintu rumah terbuka, Sandra menoleh dan melihat putrinya sedang melepas sepatunya "kamu lihat ini jam berapa, kenapa baru pulang?" Tanya Sandra emosi.


"Maaf ma Ririn pulang terlambat" ucap Ririn menatap Sandra lelah.


"Kamu tau kamu itu anak perempuan gak pantas kamu pulang jam segini. Kamu bilang kamu kerja tapi kerja apa sampai baru pulang jam segini" ucap Sandra dengan suara tinggi.


"Mama" bentak Ririn.


"Mama pikir Ririn kerja jadi pelacur, baru kali ini kan ma Ririn pulang malam? Kenapa si ma semua hal yang Ririn lakukan jadi masalah buat mama? Mama pikir Ririn gak punya rasa lelah, Ririn juga manusia ma" ucap Ririn dengan suara yang tak kalah tinggi.


"Kamu berani bentak mama, sejak kapan kamu berani sama mama hah?" Ucap Sandra sembari menampar pipi Ririn.


Ririn terkejut dengan perlakuan Sandra saat ini, sebenci apapun Sandra padanya ia tak pernah memukulnya.Ini adalah kali pertama Sandra memukulnya. "Udah cukup ma atau mama masih mau pukul aku, pukul aku ma kalo itu bisa buat mama seneng. Pukul ma pukul" ucap Ririn penuh emosi.


Sandra yang terkejut dengan apa yang dia lakukan pada Ririn itu tak menghiraukan ucapan Ririn. Ia tak tau mengapa ia bisa melakukan hal itu pada Ririn, sebelumnya ia tak pernah seperti ini.


Ririn yang melihat tak ada respon dari ibunya itupun pergi ke kamarnya meninggalkan ibunya.


Sandra yang sadar bahwa Ririn sudah pergi pun menjatuhkan diri kelantai ia masih meratapi kesalahannya "maafin mama Rin, maafin mama. Semua ini karena ayah kamu seandainya dia gak melakukan itu ke mama gak mungkin mama akan melakukan ini ke kamu. Maafin mama Rin" sesal Sandra


...******...


Ririn masuk ke dalam kamarnya dan menyandarkan tubuhnya di pintu "mama Ririn sayang sama mama kenapa mama kaya gini, apa salah Ririn? Mama Ririn pernah berfikir kalau suatu saat Ririn bakal dapet jawaban yang tepat alasan mama benci sama Ririn, tapi sekarang yang Ririn dapat malah tamparan dari mama" tangis Ririn karena cobaan yang selalu menimpanya. Kini Ririn membuka kembali Diary miliknya.


Aku selalu mengharapkan kehadiran bulan dan surya...


Namun yang kudapat hanyalah gelap malam dan juga awan hitam..


Apakah senja dan pelangi sudah tak mau lagi menemani bumi yang semakin rapuh?


Ririn menutup bukunya dan kembali mengingat kejadian dulu dimana Sandra selalu memarahinya.


"Ririn mama gak mau kamu membangkang perintah mama"


"Ririn apa yang kamu lakukan sih"


"Dari mana saja kamu hah?"


Ririn teringat akan foto yang mamanya berikan padanya, Ririn segera mengambil foto tersebut di lacinya 'pria ini yang tadi aku tabrak, apa aku memang harus memilih menikah dengan dia? Aku harus melakukan hal yang bisa buat mama bahagia dan merelakan semuanya' batin Ririn.


Di Sana Ririn menemukan fotonya bersama Dimas dan Dewi Ririn pun mengambilnya "kenapa kalian lakuin ini ke aku, aku percaya sama kalian tapi nyatanya kalian bikin aku sehancur ini. Bim kita udah jalani hubungan ini selama 4 tahun tapi kenapa Bim kamu malah sekejam ini buang aku, apa memang ini cara Tuhan buat kasih tau aku kalo kamu bukan yang terbaik" ungkap Ririn pada foto itu. Kini Ririn dihadapkan dengan sebuah cobaan yang sangat berat dalam hidupnya dan walau begitu Ririn masih mengharapkan sedikit kebahagiaan.


Kini Ririn keluar menuju balkon kamarnya dan menatap bintang "Ayah sekarang Ririn udah dewasa, Ririn kangen sama ayah. Ririn merasa hidup Ririn berat ayah, Ririn memikul beban yang berat ayah" adu Ririn pada sang ayah yang sudah tiada.


Sandra yang sedari tadi berada di balkon kamarnya yang tak jauh dari balkon kamar Ririn mendengar keluhan Ririn. Sandra merasa sangat terpukul karena memperlakukan Ririn bagai anak tirinya. "Ririn... Maafin mama ya. Mama salah dalam memperlakukan kamu nak, mama melakukan semua itu punya alasan" Ucap Sandra dan didengar oleh Ririn.


"Mama akan ceritakan semuanya. Dulu mama sayang sama kamu sebelum ayah kamu berubah. Ayah kamu dulu sering pukul mama, bentak mama, ngomong kasar sama mama. Dia cuma mengharapkan kamu dan sama sekali gak mencintai mama, karena itu kamu yang jadi korban pelampiasan emosi mama. Maafin mama nak" ungkap Sandra.


Ririn sempat terkejut namun tak lama Ririn bertanya "ma ayah udah pergi terus kenapa mama masih benci sama Ririn?".


"Semua itu karena wajah kamu mirip sekali sama ayah kamu" jawab Sandra sembari menghela nafas berat.


"Ma Ririn terima orang yang mama inginkan jadi menantu mama. Ririn mau buat mama bahagia, Ririn gak mau mama kecewa. Bagi Ririn mama tetap mama yang baik, mama udah jaga Ririn dan rawat Ririn sampai sebesar ini" ungkap Ririn tulus, walau dihatinya ia masih ragu akankah ia mampu menjadi istri yang baik bagi suaminya kelak.


"Ma Ririn punya permintaan apa mama mau memenuhinya?" Tanya Ririn hati-hati.


"Apapun yang kamu minta mama akan turuti nak" jawab Sandra.


"Apa boleh malam ini Ririn tidur bareng mama dan peluk mama? Ririn mohon ma" pinta Ririn.


Sandra menyetujuinya dan Ririn pun segera pergi dari balkon menuju kamar ibunya. Ririn bahagia sekarang ia bisa merasakan pelukan hangat dari ibunya. "Ma Ririn selalu mendambakan pelukan ini dari mama. Mama tau sekarang Ririn hancur ma, sekarang orang-orang yang Ririn percaya mengkhianati Ririn. Tapi Ririn bersyukur karena sekarang Ririn mendapatkan apa yang Ririn harapkan" ungkap Ririn sembari mengeratkan pelukannya.


Sandra mengelus rambut Ririn sembari mendengarkan keluhan putrinya untuk pertama kali, tanpa disadari sebutir air mata meluncur membasahi pipinya. "Maafin mama sayang yang gak pernah mengerti perasaan kamu, yang gak pernah ada buat kamu. Mama seharusnya jadi tempat kamu berkeluh kesah tapi nyatanya mama malah membuat kamu lebih hancur" ungkap Sandra menyesal.


"Tapi sayang mama yakin sama pilihan mama kali ini dia pria yang baik sayang" lanjut Sandra. Ririn hanya mengangguk patuh, mungkin memang itu jalan takdirnya ia tak mampu mengelak.


Mungkin Tuhan memiliki cara lain untuk membuat ia bahagia, dan Ririn yakin suatu saat pasti semuanya akan baik-baik saja. Kini Ririn memilih membuang semua pikiran buruknya, ia ingin menikmati pelukan hangat ibunya yang tak pernah dapatkan sedari dulu. Mungkin malam ini adalah waktunya Ririn bahagia dan hari esok adalah hari dimana Ririn harus berjuang lagi demi mendapatkan kebahagiaan selanjutnya.