DIARY RIRIN

DIARY RIRIN
29



Ririn tidur dengan lelap dengan kepala berbantalkan paha suaminya Reno. Reno tersenyum bahagia melihat wajah istrinya yang begitu damai dan masih tak percaya bahwa ia akan segera menjadi seorang ayah. Tiba-tiba Ririn terbangun dan menangis membuat Reno cemas "sayang kenapa bangun terus nangis lagi?" Tanya Reno bimbang. "Aku mau ketemu kak Nino" jawab Ririn masih sesegukan. "Iya udah kita ke rumah kak Nino ya" ucap Reno lembut. Reno baru saja mendapat pesan dari Niken dan juga Arini bahwa ia harus sabar dalam menghadapi ibu hamil serta harus menuruti semua permintaannya. "Beneran?" Tanya Ririn memastikan. Reno menganggukkan kepalanya membuat Ririn tersenyum lebar dan beranjak untuk segera keluar. "Sayang hati-hati jangan lari-lari" peringat Reno tegas. Ririn yang mendengar peringatan Reno yang begitu tegas pun memelankan langkahnya.


Tak lama setelah itu Reno dan Ririn sampai dan langsung di sambut senang oleh Weni asisten rumah tangga di kediaman Dewanto. "Eh non Ririn, udah lama gak kesini" sapa Weni. "Iya mba Weni soalnya suami saya sibuk terus gak ada waktu deh buat nganterin Ririn ke sini" jawab Ririn sedikit menyindir suaminya yang merasa di sindir pun hanya memutar bola matanya malas. "Mami sama papi mana mba?" Tanya Ririn pada Weni. "Ada di atas, biar saya panggil dulu non mau minum apa?" Ucap Weni sopan. "Eh gak usah mba, nanti aku buat sendiri" tolak Ririn sopan. Weni mengangguk patuh lalu meninggalkan Reno dan Ririn di ruang keluarga untuk memanggil majikannya. "Mas, aku lapar. Aku mau makan ayam panggang tapi di goreng" pinta Ririn tanpa rasa bersalah. Reno terkejut mendengar permintaan istrinya yang tak masuk akal. "What? Kamu gak salah ngomong?" Tanya Reno sedikit berteriak. Mata Ririn pun berkaca-kaca mendengar teriakannya Reno "mas gak sayang aku. Mami" teriak Ririn saat melihat kedatangan Arini dan juga Rio. "Sayang kenapa? Lho kok nangis?" Tanya Arini bingung dan dalam hitungan detik Reno sudah mendapatkan tatapan mematikan dari Rio. "Kamu apakan anak saya?" Tanya Rio penuh penekanan. "Pi Ririn mau makan, terus minta ayam panggang tapi..." Ucapan Reno langsung di sela oleh Rio begitu saja "apa kamu gak mampu beli ayam panggang sampai membuat anak perempuan saya menangis?" Tanya Rio tak percaya. "Tapi ayam panggang yang di goreng Pi" ucap Ririn pelan. Mendengar penuturan putrinya Rio langsung menatap Reno dengan wajah terkejutnya. "Papi aku mau kak Nino yang beli" ucap Ririn dengan mata yang berkaca-kaca. "Kak Nino.. em.. eh itu dia" ucap Rio menunjuk Nino yang baru saja masuk ke dalam rumahnya. Tanpa aba-aba Ririn memeluk erat tubuh Nino yang kekar dan Nino hanya tersenyum melihat perlakuan Ririn yang begitu hangat padanya. "Eh kamu di sini sayang" sapa Nino. Melihat wajah khawatir dari seluruh keluarganya Nino pun akhirnya bertanya "kalian kenapa?". "Itu.. itu.. Ririn.." ucap Arini terbata-bata hingga tak mampu mengucapkannya. "Ririn kenapa mi, Pi. Reno Ririn kenapa?" Tanya Nino cemas. "Kakak Ririn mau bicara sesuatu sama kakak" ucap Ririn sendu. "Kenapa sayang?" Tanya Nino khawatir. "Ririn..... Ririn.. Ririn hamil kak dan kakak tau mereka kembar" ucap Ririn bahagia. Nino memeluk tubuh adiknya erat bahkan sangat erat, Nino begitu terharu dengan berita yang ia dapatkan. "Tapi anak Ririn minta sesuatu dari kakak" ujar Ririn. "Apapun yang kamu minta kakak akan turuti" ucap Nino bangga membuat Reno, Arini, dan Rio menatap Nino dengan melas. "Aku minta ayam panggang tapi di goreng" pinta Ririn enteng. "What" teriak Nino terkejut.


Nino dan Ririn kini duduk berdua di taman belakang setelah beberapa jam lalu mereka di hebohkan dengan permintaan Ririn yang tidak masuk di akal. Jangan ditanyakan Reno kemana karena dia sudah pergi untuk mengurus pekerjaan yang terbengkalai. Kini Ririn menatap Nino dalam "kak, aku kangen sama Chiko" ucap Ririn yang mampu membuat Nino begitu terkejut. "Dulu dia anak yang polos, dia selalu menceritakan tentang Emily. Dia bilang dia cinta Emily padahal saat itu dia masih duduk di SMP. Kakak tau Chiko pernah terpuruk karena kehilangan Emily saat kelulusannya. Di situ aku tau bahwa Chiko gak pernah main-main sama kata-katanya" cerocos Ririn menceritakan adik kesayangannya. "Apa kamu tau kenapa Emily pergi?" Tanya Nino menyelidik. "Emily anak baik. Aku pernah ketemu dia 1 Minggu sebelum dia tiada. Dia bilang kehidupannya berat dia gak tahan melihat kakaknya selalu menjadi korban atas kesalahannya. Dia terlalu menyayangi kakaknya sehingga dia memilih mengakhiri hidupnya dan memberikan ruang kepada kakaknya untuk mendapatkan kasih sayang dari orang tuanya" jawab Ririn panjang lebar. "Apa dia gak berfikir bahwa apa yang dia lakukan itu membuat kakaknya semakin terluka?" Tanya Nino emosi. Ririn curiga mengapa sepertinya Nino begitu tau tentang kakak Emily. "Apa kakak tau siapa kakak dari Emily?" Bukannya menjawab Ririn malah balik bertanya. Tanpa menjawab Nino langsung meninggalkan Ririn begitu saja. Ririn mengingat masa-masa dimana ia, Nino, dan juga Chiko bermain bersama hingga pada akhirnya Chiko pergi bagai di telan bumi.


"Kak Nino jangan bikin kak Ririn marah oke?" Ucap Chiko tegas. "Siapa yang buat Ririn marah? Chiko kamu ini ada-ada saja" jawab Nino lembut. Ririn melihat semua tingkah kedua saudaranya yang sama-sama ingin melindunginya. Ririn berjalan menghampiri mereka yang sedang berdebat. "Kalian tau, anugerah terindah yang Allah berikan buat aku adalah memiliki kalian di hidup aku. Kalian semua alasan aku bertahan sekarang" jelas Ririn melerai perdebatan mereka. "Kakak tau Chiko sayang kakak melebihi apapun itu" ucap Chiko memeluk Ririn dari samping. "Dan kalian juga harus tau kalau kakak akan selalu menyayangi kalian selamanya dan melebihi dari apapun itu" ucap Nino dan memeluk dua saudaranya.


Ririn tersenyum dan tak terasa ia meneteskan air matanya. Ririn begitu merindukan Chiko adiknya yang kini ia sendiri tak tau dimana keberadaannya.


Tanpa Ririn sadari Nino memperhatikannya dari balkon atas. Melihat adiknya menangis Nino langsung saja menghubungi Chiko.


"Besok kamu pulang ke Indonesia dan kakak sudah persiapkan semuanya" pinta Nino masih dengan nada bicara yang dingin


"Buat apa aku pulang kalau kakak sendiri gak bisa memaafkan kesalahan aku" ucap Chiko sendu


"Kakak sudah memaafkan. Dan apa kamu mau di sini kak Ririn selalu menangis hanya karena merindukan adiknya?" Ujar Nino melunak.


"Aku akan pulang" ucap Chiko bahagia


Tanpa basa-basi lagi Nino langsung menutup sambungan teleponnya. 'besok aku janji akan membuat kamu melepaskan rasa rindu kamu sama adik sialan kamu itu' batin Nino tersenyum sembari melihat adiknya.