
Dewi menatap langit dengan wajah sendu. "Boleh aku menceritakan sesuatu?" Tanya Dewi pada Nino.
"Ceritakan" jawab Nino mengizinkan.
"Aku mau kamu jangan sela ucapan aku" pinta Dewi. Nino pun mengangguk mengerti.
"Dulu aku mencintai seorang laki-laki yang bagi aku dia tampan dan juga baik. Aku merasakan perasaan itu sendiri tanpa ada yang tau. Aku selalu berfikiran negatif bahwa cintaku akan bertepuk sebelah tangan tapi takdir berkata lain dia mengungkapkan perasaannya dan aku sangat bahagia. Dia mengungkapkan perasaannya di depan banyak orang lebih tepatnya di lapangan sekolah menengah" ucap Dewi mengingatkan kenangan mereka berdua.
"Eh Wi, ikut bentar yuk" ajak Nino.
"Mau kemana?" Tanya Dewi sedikit bingung.
"Udah ikut aja ya aku mau ngomong sesuatu sama kamu" jawab Nino.
Belum sempat menjawab tangan Dewi sudah di tarik oleh Nino menuju lapangan. "Ih kok kita ke sini sih?" Tanya Dewi heran.
"Tunggu sebentar" jawab Nino dan berlalu ke pinggir lapangan untuk mengambil sebuket bunga.
"Dewi Ariestia Pratama, apa kamu mau jadi pacar aku?" Tanya Nino sedikit berteriak. Tak sedikit yang melihat itupun bersorak kegirangan. Dewi pun mengangguk malu-malu menerima Nino.
"Aku mau kamu jawab jangan cuma diam" ucap Nino sambil berteriak.
"Ya aku terima" ucap Dewi berteriak. Merekapun berpelukan mengabaikan sekeliling mereka.
Nino pun mengingat saat meminta Dewi untuk jadi kekasihnya dan meminta Dewi memberikan hatinya.
Nino kini mulai merasa dirinya adalah orang yang paling bajingan di antara para bajingan. "Wi.." ucap Nino memelas.
"Aku belum selesai No" balas Dewi dengan air mata yang kian deras.
"Hari itu dimana aku dan dia di hukum oleh guru karena membuat keributan tapi karena rasa bahagia aku, aku gak peduli jika harus dihukum" ujar Dewi sembari tertawa renyah.
Dewi pun melanjutkan ceritanya "2 tahun kami menjalani kisah cinta itu dengan penuh suka dan duka laku hingga tiba waktunya dia pergi tanpa kabar sedikit pun. Dimasa itu adalah masa tersulit bagi aku dimana aku diabaikan oleh kekasihku. Saat itu aku ingin banget menyerah tapi ada satu orang yang lemah yang membuat aku harus menjadi kuat. Aku melihat dia tersungkur lemah karena kehilangan kakaknya. Dia sakit dia menangis berhari-hari hingga akhirnya dia anak yang semula ceria menjadi anak pendiam dan tertutup".
"Aku gak tau lagi Wi harus gimana. Mama membenci aku sedangkan kakak dan Chiko meninggalkan aku, sekarang aku sendiri Wi" jelas Ririn putus asa.
"Dengar aku Rin, Tuhan punya rencana indah di balik semua ini. Aku janji kita akan cari kak Nino sama-sama" ucap Dewi memeluk tubuh rapuh sahabatnya.
Dewi menjeda ucapannya karena merasa sesak di dadanya. Ia tak tahan jika mengingat kenangan pahitnya bersama Ririn.
"Kamu tau dia hidup layaknya raga tanpa jiwa saat kehilangan orang-orang yang menyayanginya. Disana aku melihat betapa terpuruknya dia dan semua itu yang membuat aku kuat. Aku melihat dia yang hendak mengakhiri hidupnya dengan memotong nadinya. Tapi karena secercah harapan yang kita berikan kepada dia, dia mulai bangkit lagi dan mendapatkan tujuan hidupnya kembali" jelas Dewi semakin merasa sesak.
Tanpa di sadari Nino meneteskan air matanya dengan menahan isakannya. "Setelah dia berhasil mendapatkan harapannya aku pun mulai berjuang mencari laki-laki yang begitu aku cintai. Sampai 4 tahun berlalu aku tak kunjung menemukan dia hingga aku menjadi seorang benalu pada hubungan sahabatku. Aku menghancurkan hubungan sahabatku, aku merasa nyaman saat bersamaan kekasih sahabatku hingga aku sadari bahwa semua itu hanya rasa sesaat tapi semua terlambat karena hubungan asmara sahabatku sudah hancur" ucap Dewi melanjutkan ceritanya. Nino mengerti apa yang sedang di ceritakan oleh Dewi, Dewi menceritakan saat berakhirnya hubungan Ririn dengan Bima.
"Wi aku mau kita.." belum selesai Nino berkata, Dewi tiba-tiba menyela.
"Setelah itu aku dan dia memutuskan untuk saling menjaga jarak dan menjalani hubungan persahabatan. Pada suatu malam aku pergi ketempat di mana terakhir kalinya aku bertemu dengan laki-laki yang kucintai. Aku meyakinkan diriku bahwa semua memang sudah berakhir saat dia meninggalkan aku tapi ternyata takdir lagi-lagi mempertemukan aku dengan dia menjalani hubungan kembali dan dia berjanji untuk tak meninggalkan aku lagi. Tapi entah kenapa 4 bulan yang lalu dia berbicara padaku dan mengakhiri hubungan kami tanpa alasan yang jelas. Aku sungguh kecewa padanya tapi apa boleh buat aku tak memiliki hak apapun untuk menentukan keputusannya" jelas Dewi.
"Wi maafin keegoisanku. Aku benar-benar gak bisa memilih antara kamu dan dia" sesal Nino.
"No kita gak pernah tau apa yang dirasakan orang lain. Bagi kita beban kita adalah yang paling berat tapi tanpa disadari banyak orang yang memiliki beban paling berat" ucap Dewi menenangkan.
"Wi kenapa kamu gak tampar aku aja sih? Aku ini laki-laki gak bertanggung jawab terus kenapa kamu masih mencintai aku?" Tanya Nino putus asa.
"Kamu ingat kamu pernah bilang kan kita bisa merencanakan menikah dengan siapa tapi kita tidak bisa merencanakan cinta itu jatuh pada siapa. Begitupun aku, aku mencintai kamu tanpa syarat jadi aku gak akan mudah melupakan kamu. Jadi aku akan mencoba No" Jawab Dewi.
Entah mengapa rasanya begitu sakit mendengar pernyataan dari Dewi yang ingin melupakannya. "Aku gak mau kehilangan kamu" rengek Nino menyesal.
"Aku harap kamu bahagia bersama dia yang menjadi pilihan kamu. Pesan aku No jangan pernah memberikan harapan apapun pada dia di saat hati kamu masih menyimpan nama lain di sana. Jangan sampai dia hanya memiliki raga kamu tanpa memiliki hati kamu" pesan Dewi menegarkan hatinya.
"Aku harap kamu bisa mencari pengganti aku yang lebih baik dari aku. Cari dia yang mampu membuat kamu bahagia. Aku cuma mau minta maaf sama kamu. Maaf aku memberikan kamu harapkan, maaf aku menyakiti kamu, maaf karena kehadiran aku membuat kamu seterpuruk ini. Maaf Wi" sesal Nino.
"Semua sudah selesai No. Maaf kalau aku pernah menyakiti kamu dan sekarang aku mau kamu bahagia" ucap Dewi dan berlalu pergi meninggalkan Nino yang sedang menyesali perbuatannya.
'Apa yang harus aku lakukan? Aku mencintai Dewi tapi di sisi lain aku memiliki rasa tanggung jawab terhadap Elsa. Sekarang aku akan belajar mencintai Elsa dan melupakan Dewi' batin Nino. Sekarang Nino banyak mendapatkan pelajaran dari semua kesalahannya. Sekarang dia hanya mampu berpasrah dengan keadaan dan akan belajar dari segala kesalahannya.