DIARY RIRIN

DIARY RIRIN
5



Reno meninggalkan Ririn dan berniat untuk pergi menemui sang ibu.


Didalam mobil Reno terus saja menggerutu dengan keputusan ibunya "mama nyuruh aku buat nikah sama gadis kaya dia. Apa sih yang mama banggain dari gadis kaya dia?" Gerutu Reno.


Reno sangat mencintai Elsa namun mengapa yang akan menjadi istrinya malah wanita lain yang bahkan tidak ia cintai sama sekali. Reno teringat akan kenangannya bersama Elsa "Sa, seandainya aja kamu gak ninggalin aku kaya gini pasti aku udah kenalin kamu ke mama. Aku cinta sama kamu" ucap Reno berbicara sendiri. Kini Reno harus bisa menerima kenyataan bahwa ia akan menjadi imam bagi seorang wanita yang tidak dia cintai.


Reno sampai dirumahnya, dia masuk dan berteriak-teriak memanggil Niken "ma... Mama... ma.... Mama".


"Reno ini rumah bukan hutan kenapa harus teriak-teriak gitu?" Tegur Niken.


"Sekarang mama jelasin ke aku kenapa mama pilih dia buat jadi istri aku?" Tanya Reno to the point.


"Dia baik Ren, mama hutang budi sama dia. Dia menyelamatkan nyawa mama pas mama hampir ketabrak mobil, kamu tau bahkan saat mama mau kasih dia imbalan dia tolak Ren" jelas Niken.


"Ma, cuma karena hutang budi mama mau jadiin dia menantu?" Tanya Reno tak percaya.


"Reno kamu tau dia anak yang baik, mama sudah cari tau semua tentang dia. Kamu tau udah banyak orang menyakiti dia, tapi dia masih tetap memperlakukan orang itu dengan baik" bela Niken.


"Ma, bagi mama mungkin baik tapi siapa yang tau kalo dia cuma mau harta kita. Coba mama fikir mana mungkin ada orang yang gak kenal sama kita terus tiba-tiba mau Nerima perjodohan" ucap Reno menduga-duga.


Niken tak percaya akan ucapan putranya tersebut "Reno jaga ucapan kamu, dia punya segalanya Ren. Dia memang dari keluarga sederhana tapi dia juga bukan anak orang miskin, mama udah ketemu sama ibunya dan mama yang paksa keluarga itu menerima perjodohan ini" ucap Niken menjelaskan.


Reno pun tidak habis pikir dengan pemikiran ibunya bagaimana mungkin ibunya memaksa orang untuk dijadikan menantu. Reno pergi meninggalkan Niken begitu saja, dia ingin segera pergi ke kantor temannya Nino untuk berbagi kisah dengannya. Sesampainya Reno di kantor milik Nino dan langsung masuk tanpa meminta izin terlebih dahulu. "Eh Ren bikin kaget aja" ucap Nino terkejut.


"Sorry No" ujar Reno cuek sembari mendarat tubuhnya di sofa.


"Ada apa Ren, muka lo juga kenapa ditekuk gitu?" Tanya Nino.


"No lo tau gak sih gue kesel banget sama nyokap gue, masa gue dijodohin sama cewe yang gak selevel sama gue" ucap Reno kesal.


"Ya elah Ren, mungkin itu emang jodoh lo" ujar Nino asal.


"Jodoh dari mana coba, lo kan tau gue cintanya sama Elsa bukan cewe lain" jawab Reno tak terima.


"Ren lo sadar gak sih, Elsa udah ninggalin lo" kata Nino kesal. "Dia bukan ninggalin gue tapi dia cuma lagi ngejar impiannya itu aja, gue yakin kok suatu saat dia balik" sangkal Reno.


"Reno.. Reno, gue gak tau akal pikiran lo itu. Gini deh kalo dia cuma mau kejar impiannya emang harus banget dia putusin lo? Terus dia kasih kepastian kalo dia emang mau balik? Pikir Ren" ujar Nino tak habis fikir dengan keyakinan Reno.


...******...


Ririn saat ini sedang berada dimakan ayahnya Herman, Ririn begitu merindukan Herman. Herman adalah orang yang selalu menyayangi Ririn dengan begitu dalam, walau Herman jugalah yang menyakiti ibunya Sandra dengan begitu dalam. "Ayah Ririn datang, Ririn kangen banget sama ayah. Yah mama udah cerita semuanya, walau awalnya Ririn gak percaya tapi sekarang Ririn percaya. Ririn percaya sama mama karena Ririn inget waktu itu ayah marahin mama dan tampar mama. Ayah kenapa lakuin itu ke mama?" Jelas Ririn pada makam ayahnya sembari menangis.


"Ayah tau sekarang Ririn akan menjadi seorang istri dari laki-laki yang menjadi pilihan mama. Yah Ririn gak tau seperti apa laki-laki itu, tapi Ririn yakin laki-laki pilihan mama itu adalah yang terbaik" lanjut Ririn. Ririn mencurahkan seluruh isi hatinya di makam ayahnya.


Saat Ririn sedang duduk menatap makam ayahnya tiba-tiba ada suara Bima yang mengejutkannya "Ririn..." Sapa Bima.


"Bima.. ngapain kamu kesini?" Tanya Ririn bingung.


"Aku sengaja ke makam ayah kamu buat bicara" jawab Bima.


"Oh gitu.." ucap Ririn sembari menganggukkan kepalanya.


Bima memposisikan diri di dekat Ririn "om Bima minta maaf udah bikin Ririn sakit hati. Maaf Bima gagal buat jaga Ririn, Bima gagal menepati janji Bima" ucap Bima pada makam Herman.


Ririn menatap Bima terluka "Bim semuanya udah berakhir, maaf aku udah berlaku kasar sama kamu waktu itu. Bim mungkin saat itu batas dimana kamu harus jaga aku, mungkin udah waktunya kamu untuk cari kebahagiaan kamu yang sesungguhnya" jelas Ririn, walau hatinya terluka dengan begitu dalam ia tetap tak ingin jika harus membenci.


"Bim aku gak pernah menyesal mengenal kamu, aku juga gak menyesal pernah jadi bagian hidup kamu. Bim mungkin bersama kamu dulu itu semua pelajaran buat aku untuk masa depan aku, jadi aku harap kamu juga gak menyesal pernah kenal aku" lanjut Ririn lalu meninggalkan Bima sendiri di makam Herman.


Ririn pergi dari hadapan Bima karena ia tak sanggup lagi menahan air matanya, itu terlalu berat untuk Ririn. 4 tahun Ririn menjalani hubungan kasih dengan Bima dan berakhir sia-sia itu bukan hal mudah untuk Ririn. Ririn duduk disalah satu pohon yang berada di pemakaman dan menulis di buku diary miliknya.


Aku pernah melihat indahnya pelangi dalam hidupku..


Aku yang terlalu senang dan terlalu percaya bahwa pelangi tidak akan pernah pergi kini terluka..


Pelangi meninggalkan luka yang teramat dalam di hati..


Aku akan tetap menyukai pelangi namun tak akan mencintainya lagi..


Aku akan mencari senja yang selalu menepati janjinya..


Walau senja pergi kala malam akan tiba namun senja berjanji akan kembali esok hari...


Ririn berjanji akan memperjuangkan pernikahan kelak walau akan ada banyak rintangan menghadang. Ririn tak akan menyerah dengan apapun yang menghalanginya karena baginya pernikahan yang sakral adalah perjuangan seseorang dalam membuka lembaran baru dalam hidupnya. Ririn menghela nafas lelah, besok adalah dimana ia akan sah menjadi seorang istri yang artinya ia akan menjalani kewajiban baru dan dunia baru.