
Pagi ini Reno harus menemui seseorang yang akan menjadi istrinya, ia sebenarnya tak ingin menikah namun ibunya memaksa ia untuk menikah dengan gadis pilihannya. Reno mengingat perkataan ibunya Niken
"Reno mama gak pernah minta kamu yang macem-macem kan, kenapa satu permintaan mama aja kamu gak bisa penuhi. Setidaknya penuhi satu janji kamu sama almarhum kakek"
Reno menghela napas berat, mengapa ia harus berjanji pada kakeknya untuk menuruti satu pilihan ibunya dalam hidupnya.
Reno kini turun menghampiri Niken dan meminta foto gadis yang akan menjadi calon istrinya. "Ma mana foto gadis itu?" Tanya Reno malas.
"Oh iya ini fotonya, mama udah dikabarin sama calon besan mama kalo dia udah dalam perjalanan ke restoran tempat kalian ketemu" jelas Niken dengan antusias.
Tanpa menghiraukan ocehan Niken Reno pergi meninggalkan Niken sendiri.
"Dasar anak kurang ajar main pergi aja" celoteh Niken.
Reno memandang foto itu dan betapa terkejutnya ia melihat wajah yang tak asing, "bukannya dia yang waktu itu" gumam Reno, Reno segera berlari masuk kembali ke dalam rumahnya untuk menemui Niken.
"Mama... Ma Reno mau tanya, gimana bisa mama kenal sama gadis ini?" Tanya Reno sambil terengah-engah karena berlari.
"Memang kenapa?" Ujar Niken balik bertanya.
"Udah mama jelasin aja, kalo mama gak mau cerita aku gak jadi nemuin gadis ini" ancam Reno pada Niken.
Niken memutar bola matanya malas "udah sekarang kamu pergi temuin dia terus nanti pas kamu pulang mama ceritain ke kamu oke" ucap Niken.
Reno dengan wajah kesalnya pun pergi untuk menemui gadis itu dan akan menagih penjelasan setelah ia pulang. Reno segera melajukan mobilnya menuju tempat yang sudah ditentukan oleh mamanya.
...********...
Saat ini Ririn sedang duduk sembari menunggu laki-laki yang menjadi pilihan Sandra ibunya. Saat sedang menunggu pria yang tak lain adalah Reno tiba-tiba ada Bima yang menyapanya. "Rin.. " sapa Bima, Ririn terkejut mendengar suara itu. Ia mengingat kejadian kemarin saat Bima mengkhianati cintanya.
"Mau apa lagi kamu? Belum cukup kamu nyakitin aku?" Ucap Ririn dingin.
"Rin aku bisa jelasin semua itu, aku minta maaf Rin" bujuk Bima.
"Mendingan sekarang kamu pergi dari sini, aku gak butuh penjelasan kamu dan ya aku udah maafin kesalahan kamu tapi maaf kita udah gak bisa kaya dulu lagi" ungkap Ririn tetap dengan suara dingin.
"Rin aku.." belum sempat menyelesaikan ucapannya Ririn sudah menyela.
"Kamu pergi sekarang aku mau ketemu sama calon suamiku, jadi aku gak mau ada kesalahpahaman antara aku sama dia" ucap Ririn meminta agar Bima segera pergi.
Tak lama seorang pria yang tak lain adalah Reno menghampiri Ririn yang sedang berbicara dengan Bima. "Dia siapa?" Tanya Reno pada Ririn.
Ririn terkejut mendengar suara Reno dari arah belakang "mas Reno, kamu udah sampe?" Ucap Ririn balik bertanya.
"Kamu lihat aku disini berarti aku udah sampe, sekarang aku tanya dia siapa?" Ucap Reno sembari menatap Bima.
Bima memperkenalkan dirinya pada Reno "aku Bima mantan pacar Ririn" ucap Bima sembari mengulurkan tangan.
Reno tersenyum sinis dan memperkenalkan dirinya pada Bima "saya Reno, calon suami dari mantan pacar kamu" ucap Reno tanpa membalas uluran tangan dari Bima.
Bima menarik kembali tangannya "saya gak tau apa kamu laki-laki yang baik atau bukan tapi yang pasti, Ririn itu wanita baik-baik dan saya harap kamu mampu menjaga dia" pesan Bima.
"Kamu meragukan saya? Seharusnya kamu ngaca siapa yang pantas diragukan" ujar Reno dengan suara penuh penekanan.
Ririn yang mendengar perdebatan itupun segera melerainya "udah sekarang mending kamu pergi Bim" pinta Ririn, tanpa berkata-kata Bima meninggalkan tempat itu.
Saat ini Ririn dan Reno sedang sarapan. Selesai sarapan Reno bertanya-tanya pada Ririn. "Jadi nama kamu Ririn?" Tanya Reno, Ririn hanya mengangguk.
"Kenapa kamu mau menerima aku sebagai suami kamu?" Tanya Reno lagi.
"A..aku cuma menuruti keinginan mama" jawab Ririn.
Reno tersenyum miris, "kamu tau dengan menerima perjodohan ini artinya kamu sanggup memasuki dunia kelam tanpa cahaya" ungkap Reno.
Ririn yang tak mengerti dengan ucapan Reno pun bertanya "maksud mas Reno apa?".
"Kamu gak perlu tau sekarang tapi cukup kamu jalani saat kamu sudah menjadi istri dari Reno Aditama" ujar Reno dengan senyum menakutkan.
Setelah berkata demikian Reno pergi meninggalkan Ririn yang dilanda kebingungan. Melihat kepergian Reno Ririn juga memutuskan untuk pergi, Ririn memutuskan pergi ke cafe tempat ia bekerja untuk mengajukan surat pengunduran diri.
Sampai di cafe Ririn bertemu dengan Dewi, Dewi yang melihat kedatangan Ririn segera menghampiri Ririn "Ririn akhirnya kamu datang juga, aku kira kamu meliburkan diri hari ini" ujar Dewi yang mencoba bersikap seperti biasa.
"Bisa tolong kamu lepasin tangan aku, dan ya aku kesini bukan buat kerja tapi aku kesini buat nemuin pak Budi" ucap Ririn lembut.
"Rin kamu mau apa nemuin pak Budi?" Tanya Dewi.
"Itu bukan urusan kamu" ucap Ririn dengan nada lembut, hendak bagaimana pun Dewi tetaplah sahabatnya tak mungkin dia akan memperlakukan Dewi sekejam itu.
"Rin aku mohon maafin aku Rin aku gak bermaksud buat..".
Belum selesai Ririn segera menyelanya "aku udah maafin kamu Wi dan aku harap kamu bahagia, sekarang tolong jangan ganggu aku lagi" ucap Ririn dengan nada memohon.
Mau tak mau Dewi segera memberi jalan pada Ririn. Setelah diberi jalan oleh Dewi Ririn segera pergi menuju ruangan pak Budi. Dewi kini benar-benar menyesal sudah membuat kepercayaan Ririn hancur padanya. 'seandainya waktu bisa berputar kembali, aku gak akan melakukan hal ini Rin' batin Dewi. Ririn keluar dari ruangan pak Budi dan melihat Dewi sedang menangis, Ririn yakin Dewi sedang menyesali perbuatannya namun apalah daya Ririn ia masih kecewa dengan perbuatan Dewi yang bermain belakang dengan Bima.
"Seandainya aja Wi kamu gak melakukan hal itu mungkin saat ini kita gak akan kaya gini" gumam Ririn. Ririn menghela nafas panjang ia tak tau harus bagaimana, dia ingin melupakan segala kejadian saat itu namun hatinya masih merasa kecewa. Mengapa orang yang selalu menjaga hatinya kini mengkhianatinya, ia masih tak percaya itu.
Ririn menghampiri Dewi "Wi, walaupun aku sakit hati sama semua perlakuan kamu tapi aku tetep mau kamu jaga kesehatan kamu. Jangan buat aku khawatir" ucap Ririn dan meninggalkan Dewi. Disitu Dewi semakin kecewa pada dirinya sendiri, mengapa ia menyia-nyiakan persahabatannya demi rasa cintanya. Kini Dewi hanya bisa menyesal karena melepaskan genggaman tangan sahabatnya dari genggaman tangannya.