DIARY RIRIN

DIARY RIRIN
32



Seminggu sudah berlalu kini Ririn sedang mempersiapkan keperluan Reno untuk pergi bekerja. Setelah semua siap Ririn tiba-tiba merasa sangat mual tanpa berpikir panjang Ririn langsung masuk ke dalam kamar mandi yang ternyata tak di kunci oleh Reno. Reno terkejut dengan kedatangan Ririn yang tiba-tiba namun rasa terkejutnya digantikan dengan rasa khawatir. "Rin kamu mual lagi?" Tanya Reno khawatir. Ririn yang lemas hanya menganggukkan kepalanya dan pasrah saat di bopong oleh Reno ke atas ranjangnya. Dan untuk saja Reno sudah memakai kaos dan juga celana pendek saat Ririn masuk ke dalam kamar mandi. "Ya udah kamu istirahat biar aku ambil sarapan buat kita dan kita sarapan di sini" pinta Reno protektif. Ririn mengangguk patuh karena ia takut jika membantah Reno bisa-bisa dia akan terkurung seharian di kamarnya.


Reno dan Ririn kini sudah selesai dengan sarapannya lalu Ririn berdiri hendak mengantar Reno turun. "Mas aku nanti mau izin ya ke taman kompleks ini" izin Ririn. "Tapi kamu kan masih mual nanti kalo kenapa-kenapa gimana?" Alasan Reno. "Mas anak kamu mau jalan-jalan masa gak di bolehin sih" Rajuk Ririn sembari mengerucutkan bibirnya. "Ya udah tapi hati-hati dan ajak Tuti juga jangan sendiri" pesan Reno yang begitu posesif. Ririn mengangguk lalu mencium tangan Reno dan melambaikan tangan saat Reno sudah menjalankan mobilnya. Ririn masuk menemui Tuti untuk mengajaknya jalan-jalan. "Tuti kamu temenin aku ke taman ya nanti" pinta Ririn. "Baik Bu nanti saya temani" jawab Tuti patuh.


Tak lama Tuti dan Ririn pergi bersama Tuti untuk berjalan-jalan di sekitar taman. Saat sedang berjalan-jalan matanya tak sengaja menatap laki-laki yang tak asing baginya. "Tuti kamu jalan-jalan sendiri aja kemana gitu saya ada urusan sebentar" titah Ririn, Tuti pun hanya mengangguk patuh. Setelah kepergian Tuti, Ririn pun menghampiri sosok yang sangat ia rindukan selama ini. "Chiko.." sapa Ririn hati-hati. "Kakak.." teriak Chiko seraya memeluk Ririn erat. Chiko begitu merindukan kakak perempuan yang begitu menyayanginya. "Chiko kapan kamu pulang?" Tanya Ririn antusias. "Kemarin kak. Kak Nino yang minta aku pulang buat kakak" jawab Chiko tak kalah antusias. "Kakak kangen banget sama kamu. Kakak seneng kamu sekarang udah ada di sini. Jangan tinggalkan kakak lagi Chiko" pinta Ririn sembari menitikkan air matanya bahagia. "Kakak aku juga kangen dan aku janji akan selalu ada buat kakak. Aku minta maaf kak selama ini aku menghilang tanpa kabar" sesal Chiko. "Dengar kakak, kamu adalah kekuatan kakak untuk bertahan. Kamu alasan kakak selalu kuat untuk tetap cari kamu" jelas Ririn mengungkapkan segala rasa. "Aku bahagia kak. Akhirnya kak Nino mengizinkan aku untuk pulang" ucap Chiko tak kalah bahagia. "Maksud kamu?" Tanya Ririn. Chiko menerutuki kebodohannya yang keceplosan memberi tahu kepada Ririn. "Ah maksud aku, kak Nino yang kasih tau aku tentang kakak yang merindukan aku maka dari itu aku pulang. Selama ini aku takut ketemu kakak, aku takut kakak kecewa sama semua kebenarannya tentang aku" jelas Chiko sedikit berbohong. Memang sejak kejadian itu Chiko benar-benar di larang untuk pulang ke negaranya sendiri oleh kakak tertuanya. "Kakak gak pernah tau apa perbuatan yang pernah kamu lalukan. Tapi Kakak sangat bahagia kamu ada di sini dan kita bahas semua tantang masa lalu lain kali oke. Dan ya ini alamat rumah suami kakak" ucap Ririn memberikan secarik kertas berisikan alamat rumah Reno.


Jam sudah menunjukkan pukul 05.00 sore dengan malas Reno beranjak dari kursinya dan memilih untuk pulang. Sesampainya di rumah Reni di sambut hangat oleh Ririn. "Mas udah pulang mau aku buatin teh atau kopi?" Tanya Ririn sembari mengambil tas kerja Reno. Tanpa menjawab Reno langsung pergi begitu saja. Ririn begitu heran dengan kelakuan suaminya itu tak biasanya Reno bersikap dingin padanya. Ririn masuk ke dalam kamarnya menyusul Reno untuk menyiapkan baju ganti suaminya. Beberapa menit kemudian Reno keluar dari kamar mandi untuk mengambil baju gantinya dan berlalu masih dengan wajah dinginnya. Setelah selesai bersih-bersih Reno menuju ranjangnya dan merebahkan dirinya di ranjang. Ririn yang heran pun menghampiri Reno. "Mas makan dulu yuk abis itu sholat" ajak Ririn. Tanpa menolak Reno langsung berlalu tanpa menjawab. Setelah selesai dengan kegiatan mereka kini Ririn sedang berusaha berbicara dengan Reno. "Mas kamu kenapa sih kok diem aja dari tadi?" Tanya Ririn namun masih sama Reno tetap diam dan membaringkan tubuhnya di ranjang. "Mas kamu kenapa? Aku ada salah sama kamu?" Tanya Ririn lagi. "Aku lagi gak mau bahas apapun sama kamu jadi lebih baik kamu diam daripada buat aku emosi" jawab Reno penuh dengan penekanan. Ririn menghela nafas panjang ia tak mengerti dengan sifat Reno yang begitu dingin padanya. Tak mau membuat keadaan semakin kacau Ririn berniat untuk tidur di sofa. Saat hendak merebahkan dirinya ia kembali mual tak tertahankan. Ririn langsung berlalu pergi ke kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya. Reno yang mendengar suara Ririn sedang muntah pun langsung berlari menuju kamar mandi. "Kamu gak kenapa-kenapa kan?" Tanya Reno masih dengan nada dinginnya. Semarah-marahnya Reno ia tak akan tega melihat Ririn seperti sekarang yang harus bolak-balik ke kamar mandi. "Aku gak apa-apa mas cuma mual sama pusing aja" jawab Ririn lemas. Baru hendak melangkah tiba-tiba mual melanda perutnya lagi. "Minum vitaminnya biar gak mual-mual terus" ucap Reno dingin. Ririn mengangguk patuh, kini Ririn sudah berada di atas ranjang bersiap untuk tidur. Namun perasaannya sangat gelisah karena Reno yang tiba-tiba mendiamkannya. "Mas aku mau kamu bicara sama aku" rengek Ririn. "KAMU BISA DIEM GAK" bentak Reno sukses membuat air mata Ririn menetes. "Mas aku tanya baik-baik kenapa kamu marah sih?" Tanya Ririn. "Denger Rin suami mana yang gak akan marah saat melihat istrinya selingkuh. Suami mana yang gak emosi lihat istrinya seperti perempuan murahan yang bisa di sentuh pria manapun. Kamu pikir aku orang bodoh yang bisa di mainin sama kamu?" Ujar Reno meluapkan emosi yang membuat Ririn takut. "Mas aku gak selingkuh, aku gak pernah ada niatan menduakan kamu. Bahkan aku begitu bersyukur saat memiliki kamu" jelas Ririn lirih. "Udah Rin aku gak mau debat lebih baik kamu tidur" titah Reno datar. Ririn pun merebahkan dirinya memunggungi suaminya di sana Ririn menangis dalam diam.