
Hari ini adalah hari pernikahan Ririn dengan Reno yang diadakan di rumah Ririn. "Ririn mama boleh masuk?" Tanya Sandra dari luar kamar Ririn.
"Iya masuk aja ma" jawab Ririn mengizinkan Sandra masuk.
Sandra masuk sembari mengusap air matanya "wah anak mama cantik banget hari ini" puji Sandra pada putrinya Ririn.
"Mama juga cantik kok, kecantikan Ririn itu nurun dari mama" balas Ririn sembari menahan tangisnya.
"Ririn maafin mama ya sayang. Maafin mama yang baru sadar akan kehadiran kamu saat kamu sudah mau menjadi milik orang lain. Maafin mama" sesal Sandra dan air matanya mengalir membasahi pipinya.
"Mama gak salah kok, Ririn ngerti keadaan mama. Mama harusnya Ririn yang minta maaf sama mama karena Ririn mama harus melalui semua itu, Ririn juga terima kasih banyak mama udah rawat Ririn sampai sebesar ini. Makasih ma" ucap Ririn yang juga tak bisa menahan tangisnya.
Ririn memeluk Sandra sangat erat yang dibalas pelukan oleh Sandra tak kalah erat. "Udah kamu jangan nangis lagi nanti riasannya luntur" kata Sandra mengingatkan seraya melepaskan pelukannya.
Ririn tersenyum sembari menganggukkan kepalanya.
"Ya udah mama keluar dulu, kamu siap-siap sebentar lagi acaranya dimulai kita tinggal nunggu mempelai pria" pamit Sandra lalu keluar dari kamar Ririn.
Ririn duduk di depan cermin dan mengamati dirinya 'sebentar lagi aku akan sah menjadi istri dari mas Reno, aku akan menjalani bahtera rumah tangga bersama dia dan aku akan hidup dengan memikul beban tanggung jawab sebagai istri. Aku harus mampu' batinnya.
Ririn mengambil bingkai foto ayahnya "ayah lihat sekarang Ririn mau menikah. Seandainya aja ayah ada di samping Ririn, pasti sekarang ayah yang akan mengantar Ririn ke pelaminan. Ayah Ririn harap ayah bahagia di alam sana" kata Ririn pada bingkai foto ayahnya.
...******...
Reno yang bersiap-siap dirumahnya menampilkan wajah tak suka dan tak bahagia dengan adanya hari ini. Niken melihat Reno dengan balutan jas pernikahan sangatlah menawan "wah anak mama mau menikah sekarang, kamu ganteng banget sayang" puji Niken.
"Ma ini keinginan mama buat aku nikah bukan keinginan aku" sarkas Reno.
"Terserah kamu deh mama gak peduli, lambat laun kamu juga bakalan suka sama dia" ucap Niken tak peduli dengan Reno. Reno membelalakkan matanya tak percaya dengan ucapan sang ibu.
"Mama kok gitu sih?" Kesal Reno.
"Udah ayo kita berangkat keburu telat" ajak Niken.
Mau tak mau Reno berangkat bersama Niken menuju rumah mempelai wanita. Sesampainya dia sana Reno disambut hangat oleh orang-orang yang menghadiri pernikahan tersebut. Entah kenapa walaupun pernikahan itu terpaksa Reno sangat gugup.
Reno memposisikan diri didepan penghulu. "Mempelai pria siap?" Tanya penghulu pada Reno.
Reno hanya mengangguk kepala dan penghulu memulai akadnya. "Saya nikahkan dan kawinkan engkau Reno Aditama bin Arif Aditama almarhum dengan Ririn Indah Pratiwi binti Herman Pramuja almarhum dengan mas kawin seperangkat alat sholat dibayar tunai". "Saya terima nikah dan kawinnya Ririn Indah Pratiwi binti Herman Pramuja almarhum dengan mas kawin tersebut dibayar tunai" ucap Reno dengan satu tarikan nafas. Semua orang mengucapkan syukur karena acara akad berjalan dengan baik.
Ririn yang sedari tadi masih berada di dalam kamarnya sangat was-was ketika ijab akan dikumandangkan. Saat ijab selesai Ririn mengucapkan syukur dan menitikan air mata bahagia. Sandra menjemput Ririn untuk turun kebawah, dibawah Ririn melihat suaminya menatapnya tanpa berkedip. Sandra menuntun Ririn untuk duduk disebelah Reno dan mencium tangan Reno. Acara telah usai kini Ririn berada di kediaman Aditama.
"I..iya Tante" ucap Ririn terbata-bata karena belum terbiasa, Memeng saat pertama Kali mengetahui ibu mertuanya adalah Niken dia sangat terkejut karena Niken adalah orang yang pernah ia tolong waktu itu.
Niken bingung mengapa Ririn masih memanggilnya seperti itu "mulai sekarang kamu panggil saya mama bukan Tante" titah Niken.
Ririn hanya tersenyum malu-malu "i... iya ma, ma kalo aku boleh tau dimana ya kamarnya mas Reno?" Tanya Ririn takut-takut.
"Ya ampun mama lupa kasih tau kamu, kamu tinggal naik aja belok ke kanan kamar paling ujung itu kamar Reno" jelas Niken.
"Terimakasih ma, Ririn duluan ya ma. Selamat malam" pamit Ririn.
"Iya sayang, selamat malam" ucap Niken. Ririn segera naik keatas untuk membersihkan tubuhnya yang sudah sangat lengket. Ririn masuk dengan hati-hati, ia takut mengganggu Reno yang sedang istirahat.
Saat masuk Ririn tidak menemukan keberadaan Reno "mas Reno... Mas" panggil Ririn.
Tak ada jawaban sama sekali dari Reno, Ririn terus mencari Reno hingga ia mendengar ada suara percikan air dari dalam kamar mandi. 'mungkin itu mas Reno, kalo gitu mending aku hapus make up aja dulu deh' batin Ririn.
Tak lama Reno keluar dari kamar mandi, Ririn yang melihat Reno keluar begitu gugup "mas Reno udah selesai mandinya?" Tanya Ririn gugup.
"Kamu lihat aku udah keluar kan?" Ucap Reno balik bertanya. Ririn pun menunduk takut, Ririn sama sekali tak berani menatap Reno.
"Udah sana kalo mau mandi" titah Reno, Ririn segera mengambil handuknya dan masuk ke kamar mandi.
15 menit Ririn selesai mandi dan bersiap-siap untuk istirahat, namun Reno menatap Ririn dengan galak "kamu tidur dilantai aku gak biasa tidur bareng sama orang lain" kata Reno memberi tahu Ririn.
"I..iya mas, selamat malam" ucap Ririn. Hati Ririn cukup sakit dengan perlakuan Reno padanya namun dia juga tidak bisa memaksa Reno untuk secepat itu menerima kehadirannya. Ririn mengambil buku diary miliknya yang dia simpan di laci.
Aku membuka lembaran baru ku
Sebenarnya aku menginginkan rumah tanggaku menjadi tumpuan dan tujuan kehidupanku..
Aku ingin dia menjadi bahu untuk aku bersandar..
Aku ingin dia menjadi rumah untuk aku berteduh..
Aku ingin dia menjadi sumber kebahagiaanku yang telah lama ku nantikan...
Apakah keluarga kecil yang diimpikan akan menjadi kenyataan?
Ririn menatap Reno dengan tatapan terluka, ia sangat sedih karena dimalam pertamanya ia harus mendapatkan perlakuan tak menyenangkan dari suaminya 'mas aku tau kalo kamu menikahi aku karena perintah mama dan aku akan coba buat bersabar dalam menunggu kamu menerima kehadiran aku dalam hidup kamu' batin Ririn. Ririn selalu mendambakan pernikahan putih yang bahagia namun kini pernikahan itu hanya pernikahan abu-abu yang berada dititik akan menuju putih atau hitam. Ririn cukup mengerti bahwa kehadiran ia dalam hidup Reno begitu tiba-tiba namun apakah pantas jika seorang pasangan suami istri harus tidur terpisah seperti itu.