DIARY RIRIN

DIARY RIRIN
38



Ririn terbangun merasakan sakit di kepalanya. Dengan pelan dia membuka matanya dan terlihat ada Reno yang sedang tertidur sembari menggenggam tangannya erat. "Mas.." panggil Ririn lirih tak bertenaga.


Reno pun membuka matanya saat mendengar suara Ririn. "Sayang kamu udah bangun? Ada yang sakit? Mana yang sakit? Mau aku panggilkan dokter? Atau kamu laper?" Tanya Reno bertubi-tubi membuat Ririn terkekeh.


"Aku gak mau apa-apa mas. Aku kok di sini mas?" Tanya Ririn heran.


"Gimana gak berakhir di sini orang kamu tadi pingsan" jawab Reno manja. Ririn terkekeh dengan jawaban Reno yang terkesan menggemaskan.


"Oh iya mas kejadian tadi..." Ucapan Ririn terpotong saat jari menempel di bibir Ririn.


"Kamu hari ini fokus sama kesehatan kamu ya. Gak usah mikirin mereka, besok kita bahas lagi semuanya saat udah sama-sama dingin ya" pinta Reno yang di angguki Ririn.


"Oh iya mas, gimana keadaan si kembar?" Tanya Ririn khawatir.


"Si kembar baik-baik aja cuma sedikit lemah. Jadi, aku mau kamu lebih hati-hati lagi jangan banyak pikiran apalagi sampai stress" jawab Reno sekaligus menasehati istrinya.


"Mas, aku laper" adu Ririn sembari mengerucutkan bibirnya.


"Jadi istri aku lagi laper. Emang nau makan apa?" Tanya Reno sembari mencubit hidung Ririn.


"Aku mau makan burger aja mas" jawab Ririn enteng.


"Ya udah kamu ke tunggu di sini biar mas beli dulu" pamit Reno. Tak lama Reno kembali dengan membawa makanan yang di pesan oleh Ririn. Akhirnya Ririn pun makan dengan tenang.


Setelah selesai makan, Ririn pun duduk dan memandangi Reno yang sibuk dengan ponselnya. "Mas..?" Panggil Ririn.


"Iya kenapa sayang?" Tanya Reno.


"Kamu dari tadi, aku makan sampai aku selesai main hp terus" Rajuk Ririn.


"Maaf sayang, aku tadi liat beberapa email dari klien" ucap Reno lembut.


"Mas peluk.." rengek Ririn manja. Reno pun dengan sigap berpindah ke sebelah Ririn untuk memeluknya.


"Mas, aku mencintai kamu. Selama ini aku rapuh, rasanya aku mau menyerah dengan hidup ini. Aku merasa bahwa takdir mempermainkan aku dengan begitu apik. Aku hampir menyerah" ucap Ririn mencurahkan isi hatinya.


"Sayang aku juga mencintai kamu. Sekarang kamu gak sendirian ada aku disini untuk menyemangati kamu" ucap Reno memenangkan istrinya.


"Mas aku mau minta tolong, besok kalau kamu pulang ke rumah tolong ambilkan buku diary aku di laci ya dan rekaman suara yang ada di sebelah buku aku" pinta Ririn.


"Iya sayang besok aku pulang buat ambil semua itu tapi kalau Dewi udah datang dan gantikan mas di sini" jawab Reno halus.


Reno pun mengusap perut rata Ririn dan mengajak anak-anaknya untuk berbicara. "Sayang apa kabar? Udah baikan kan? Sayang maafin papa belum bisa jaga kalian dengan baik. Papa sayang sama kalian. Sayang, papa mau kalian baik-baik di dalam sana dan jangan merepotkan mama ya" ujar Reno lalu mengecup singkat perut Ririn. Akhirnya Reno pun memilih untuk tidur mengingat besok dia harus menjaga Ririn lagi sampai dokter mengizinkan mereka pulang.


******


Hari ini sesuai dengan permintaan Ririn, Reno pulang untuk mengambil peranan Ririn. Kini Ririn sedang ditemani Dewi karena Reno harus pulang terlebih dahulu.


"Rin kamu makan dulu ya" pinta Dewi. Ririn mengangguk patuh karena ia pun sudah sangat lapar.


Setelah selesai makan disuapi Dewi Ririn kini ingin berbicara pada Dewi. "Wi, Ririn minta maaf ya udah ngerepotin Dewi" ucap Ririn tidak enak karena merepotkan Dewi.


"Kamu ngomong apa sih Rin, aku itu seneng banget bisa merawat kamu kaya gini" jelas Dewi sembari tersenyum hangat.


"Dewi, apa kamu marah sama kak Nino?" Tanya Ririn hati-hati.


Dewi mengehentikan kegiatannya yang sedang mengupas buah dan menatap Ririn dalam "Rin aku gak memungkiri kalau aku benar-benar sakit hati sama perlakuan Nino. Aku juga gak bisa berbohong kalau aku baik-baik aja. Marah itu pasti Rin tapi aku gak punya hak apapun untuk hidup Nino. Rin kamu gak perlu mikirin aku, aku gak akan menghapus cinta aku ke Nino karena aku yakin itu gak akan mungkin tapi seiring dengan berjalannya waktu aku yakin aku bisa menemukan seseorang yang akan aku cintai dan juga mencintai aku" jelas Dewi mencoba tegar dihadapan Ririn.


"Tapi kenapa kak Nino pilih Elsa padahal dulu Ririn gak pernah kenal sama elsa bahkan kak Nino gak pernah kenalin Elsa ke Ririn. Tapi Ririn juga gak bisa marah sama Elsa karena bagaimanapun yang menghancurkan masa depan Elsa adalah adik Ririn sendiri" ucap Ririn pada Dewi.


"Udahlah Rin mungkin memang ini takdir yang sudah digariskan. Mau bagaimanapun kita menolak semua itu gak akan pernah berubah" ujar Dewi bersikap dewasa.


"Aku minta maaf Wi semua kelakuan kakak aku udah buat kamu sakit hati. Aku juga gak pernah tau permainan takdir yang bisa membuat aku bungkam. Aku pernah mau menyerah dengan hidup ini untuk kedua kalinya Wi, tapi saat aku sadar bahwa ada kehidupan lain di dalam diri aku membuat aku mau gak mau harus bertahan" ujar Ririn sembari terisak.


"Kamu gak boleh menyerah di sini ada kita semua yang sayang sama kamu. Tentang masa lalu ataupun masalah yang sekarang lebih baik lupakan dan anggap semuanya sudah selesai" ucap Dewi memeluk Ririn yang begitu rapuh. Dewi mengingat bagaimana dulu Ririn akan mengakhiri hidupnya yang membuat dadanya sesak saat teringat akan hal itu.


"Jangan mendekat" teriak Ririn sembari mengarahkan pisau lipat pada nadinya.


"Ririn aku mohon jangan lakukan hal apapun" pinta Dewi panik.


"Aku bilang jangan mendekat. Kalian semua gak sayang sama Ririn, kalau kalian sayang kenapa satu per satu dari kalian meninggalkan Ririn" teriak Ririn sembari menangis meratapi nasibnya.


"Rin kita gak akan meninggalkan kamu, kita semua sayang sama kamu" ucap Bima menenangkan Ririn.


"Iya sayang jangan tinggalkan mama" ucap Sandra menenangkan anaknya.


"Mama bilang mama sayang sama Ririn tapi kenapa mama selalu siksa batin Ririn, kenapa ma?" Teriak Ririn lagi.


Diam-diam Bima mendekati Ririn dari arah punggung Ririn lalu langsung saja merebut pisau yang ada di tangan Ririn. Saat itu Ririn pun teriak histeris karena dia begitu lelah dengan hidupnya. Dan saat itulah Dewi mulai begitu berhati-hati dengan benda-benda tajam saat emosi Ririn sedang tidak stabil.