DIARY RIRIN

DIARY RIRIN
19



Sekarang tinggallah Ririn dan juga Reno dalam ruangan tersebut. "Udah sayang sekarang kamu tidur ya" perintah Reno.


"Mas aku baru bangun masa di suruh tidur lagi" keluh Ririn.


"Ya udah sekarang kita ngobrol aja gimana?" Usul Reno.


Ririn mengangguk senang "mas aku mau tanya, yang bilang sama mama aku selingkuh sama kak Nino siapa?" Tanya Ririn.


"Bi Ijah, tapi kamu tenang aja aku udah pecat bi Ijah kok" jawan Reno santai.


Ririn terkejut bahwa bi Ijah Setega itu padanya tapi lebih terkejut lagi saat Reno mengatakan bahwa dia telah memecat bi Ijah. "Mas kamu gak boleh begitu. Bi Ijah itu gak tau kalo kak Nino itu Kakak aku jadi wajar kalo bi Ijah laporan sama mama. Mas kamu gak boleh mengambil keputusan yang akan merugikan orang lain" ucap Ririn menasehati.


"Tapi aku udah terlanjur usir bi Ijah" ucap Reno.


"Sekarang kamu kasih tau mama buat bilang ke bi Ijah supaya balik lagi ke rumah ya" Titah Ririn.


Mau tak mau Reno mengiyakan ucapan Ririn dan langsung mengabari ibunya. "Udah aku kabarin mama, udah selesai kan?" Tanya Reno jengah.


Ririn tersenyum melihat tingkah Reno yang baginya begitu imut. "Mas kenapa aku harus di rawat inap padahal kan aku cuma pusing biasa dan cuma haid..." Ucapan Ririn terhenti karena ia sadar bahwa itu bukan hal yang kebetulan.


"Mas jawab pertanyaan aku, aku kenapa?" Tanya Ririn menahan tangisnya.


"Ka..kamu gak papa sayang, kamu cuma kecapean" jawab Reno gugup.


"mas aku gak selemah itu untuk dengar jawaban jujur kamu. Aku kuat mas, kalau aku selemah itu kamu tau saat aku melihat kamu berciuman sama perempuan lain mungkin aku udah bunuh diri, saat kamu nyakitin aku berkali-kali mungkin aku udah menyerah tapi nyatanya aku masih bertahan" jelas Ririn histeris.


"Rin jadi kamu lihat semua itu?" Tanya Reno tak percaya.


"Aku lihat mas. Sekarang jawab aku, sebenarnya ada apa?" Ucap Ririn memelankan suaranya.


"Rin aku minta maaf ya, karena aku gak bisa jagain kamu jadi kaya gini. Rin sebenernya kamu hamil tapi karena tekanan yang kamu rasakan bayi kita gak selamat" jelas Reno sembari menangis meratapi apa yang telah terjadi.


"Mas aku gak papa. Mungkin Allah lebih sayang sama anak kita, sekarang anak kita udah bahagia di surga sana" ucap Ririn menenangkan Reno walau dirinya begitu merasa begitu hancur saat ia tahu kenyataannya. Saat ini Ririn tak mampu melakukan hal apapun kecuali berdoa.


...******...


"Nino Ririn anak yang kuat, dia gak selemah itu kok. No saat ini Ririn butuh dukungan dari kamu, Reno dan yang lainnya juga. Ririn baru aja kehilangan janinnya No" jelas Dewi.


Nino terkejut bukan main "maksud kamu?" Tanya Nino. Baru saja Dewi ingin menjawab Nino langsung pergi berlalu menuju ke dalam. Dewi bergegas untuk mengikuti langkah Nino karena ia tahu pasti akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.


Nino membuka pintu ruangan milik Ririn di rawat dengan emosi. Nino langsung menarik kerah baju milik Reno "kenapa Lo gak becus jadi suami? Kenapa Lo buat adek gue kehilangan anaknya? Kenapa Ren?" Tanya Nino dengan amarah yang membara.


"Kak udah, Ririn mohon. Kak yang kehilangan seorang anak bukan cuma Ririn tapi mas Reno juga. Kak kita gak pernah tau apa rencana Allah" ucap Ririn menenangkan kakaknya.


Mendengar suara parau dari adiknya Nino mulai sedikit luluh. Nino menghampiri adiknya Ririn "dek.. maafin kakak ya gak bisa jaga kamu dengan baik. Maaf kakak berbuat kasar di hadapan kamu. Dek kamu gak papa kan? Ada yang sakit atau kamu mau apa dari kakak?" Tanya Nino bertubi-tubi. Ririn hanya memeluk tubuh Nino dengan erat dan menangis dalam diam sembari menggelengkan kepalanya. Nino pun sama-sama menangis dalam diam seperti adiknya. Ia tahu bahwa Ririn begitu terluka dengan kehilangan anaknya, apalagi itu adalah kehamilan pertamanya. Dewi begitu lega melihat amarah Nino sedikit reda dengan keadaan Ririn yang sudah sadar.


Reno yang melihat Ririn memeluk erat tubuh Nino begitu tersayat hatinya. Ia tahu bahwa Ririn sedang menangis di pelukan Nino. Dengan inisiatifnya sendiri Reno mengajak Dewi keluar untuk memberikan waktu kepada Nino dan Ririn untuk menghabiskan waktu berdua.


Setelah Reno keluar Nino duduk di samping Ririn "dek kalau kamu gak kuat bilang sama kakak, kakak pasti akan bantu kamu apapun caranya" ucap Nino.


"Kak Ririn sakit, Ririn terluka tapi Ririn gak mungkin menceritakan ini sama mas Reno. Kak Ririn bisa merasakan kesedihan mas Reno yang begitu dalam" jelas Ririn.


"Sayang, Kakak mau mulai sekarang jangan terlalu memikirkan perasaan orang lain pikirkan perasaan kamu sendiri" nasihat Nino.


"Kak, mas Reno bukan lagi orang lain bagi aku dia adalah suami aku. Mas Reno adalah surgaku Sekarang bakti aku terhadap mas Reno yang akan membawa aku mendapatkan surga-Nya" kekeh Ririn.


Nino hanya mengangguk mengiyakan, ia tak mau berdebat dengan keadaan Ririn yang masih lemah. "Kak apa mungkin sekarang anak aku lagi lihat aku?" Tanya Ririn lirih.


"Sekarang anak kamu lagi lihat kamu, dia pasti mau lihat mommynya senyum dan bahagia terus" ucap Nino menenangkan.


"Kak Allah selalu punya rencana untuk hamba-hamba-Nya. Aku yakin suatu saat Allah akan menggantikan semua yang hilang dari aku dengan yang lebih baik lagi" ucap Ririn dengan suara paraunya.


"Dek semua orang sudah punya garis takdirnya masing-masing. Kita sebagai manusia hanya ditugaskan untuk menjalani segala macam takdir yang udah digariskan" kata Nino.


"Kak, boleh aku minta sama kakak. Kak tolong maafin mama, mama akan tenang saat anak-anaknya memaafkan segala kesalahannya" pinta Ririn dengan sendu.


"Iya dek, Kakak akan maafin mama. Apapun yang kamu minta kakak gak akan menolak" jawab Nino walau sedikit terpaksa tapi tak apa yang penting saat ini hati dan pikiran adiknya stabil. Ririn langsung memeluk Nino erat dan mengucapkan banyak terima kasih kepada Nino karena mengabulkan permintaannya.


Sekarang Ririn merasa lega karena Nino sudah mau memaafkan Sandra. 'ma tolong jaga anak aku di surga sana. Tolong ceritakan semua tentang aku sama dia dan ceritakan tentang kebahagiaan aku aja. Mama sampaikan salam aku buat dia, ngomong sama dia mommynya sekarang baik-baik aja' batin Ririn.