DIARY RIRIN

DIARY RIRIN
28



Nino mengembuskan napas beratnya, ia dan Elsa memang sudah dekat sejak mereka kecil dan Nino sama sekali tidak tahu tentang rasa cinta Elsa untuknya. Anggaplah Nino bodoh dan tak bertanggung jawab namun benar Elsa menutupi segalanya dengan rapi bahkan mungkin sangat rapi. Tentang Ririn yang tak tau tentang Elsa itu karena Elsa bukanlah anak yang sembarangan. Elsa adalah anak yang di tahan oleh ayah dan ibunya di sebuah gedung tua di tengah hutan yang mungkin hanya Nino dan Chiko yang mengetahuinya. "Elsa kamu dimana aku mau kamu" rintih Nino putus asa. Nino juga mengingat kejadian dimana ia menyerahkan cinta yang ia jaga kepada sahabatnya. Dewi ya orang itu adalah Dewi.


"Bim Lo di mana?" Tanya Nino to the point


".............."


"Oke gue akan terbang ke sana besok" balas Nino langsung memutuskan sambungannya.


"Dewi" sapa Nino sendu. Dewi yang melihat kedatangan Nino pun langsung memeluknya erat walau banyak pasang mata yang melihatnya karena sekarang Dewi sedang bekerja di cafenya yang dulu. "Aku kangen banget" ucap Dewi. "Wi aku mau bicara" ucap Nino dingin. Dewi pun bingung dengan sikap dingin yang Nino berikan kepadanya. Dewi pun mengajak Nino untuk masuk ke gudang cafe tempat dia bekerja. "Ada apa?" Tanya Dewi cemas. "Dewi kamu boleh anggap aku bajingan atau apapun itu tapi yang pasti aku mau menyudahi hubungan kita" jawab Nino dingin. "A..apa? Tapi kenapa No? Selama ini aku ada salah apa?" Tanya Dewi bertubi-tubi. Jawaban Nino begitu membuat dirinya sangat terluka "aku mencintai gadis lain". Tak segan Dewi menampar Nino dengan keras karena begitu kecewanya ia pada pria dihadapannya. "Kamu pikir cinta aku main-main No. Kamu pikir hati aku bisa buat mainan kamu yang kamu buang lalu kamu ambil dan sekarang kamu buang lagi. Nino kenapa kamu gak berhenti membuat aku kecewa dengan semua perilaku kamu?" Sembur Dewi. Nino tak membalas tamparan Dewi melainkan menerimanya dengan lapang dada karena memang sedari awal Nino salah. "Wi aku minta maaf. Kamu bisa mendapatkan orang yang jauh lebih baik. Aku mungkin mencintai kamu dengan sangat amat tapi di sisi lain aku sudah memutuskan untuk membuka lembaran baru dengan wanita lain yang bahkan sudah aku kenal sebelum aku mencintai kamu" jelas Nino lembut. "Tapi No, ini salah. Kalau kamu mencintai aku kenapa kamu harus membuka lembaran baru bersama dia? No kalau hati kamu masih untuk aku dia gak akan bahagia hanya karena memiliki raga kamu" tutur Dewi lemah. "Wi aku dan kamu memang saling mencintai tapi asal kamu tau cinta bisa datang karena terbiasa seperti kamu dan Bima" ucap Nino tepat mengenai hati Dewi yang paling dalam. "Aku dan dia sudah terbiasa bersama. Aku menjalani hari selalu dengan dia hingga karena kesalahanku yang lalai menjaga dia membuat dia terluka begitu dalam hingga mungkin aku belum tentu bisa menyembuhkannya. Dia baik Wi hanya cara dia yang salah" ucap Nino sembari mengusap pipi Dewi lembut. "Berbahagialah Wi dengan dia yang akan mencintai kamu dengan tulus" pesan Nino hingga akhirnya meninggalkan Dewi yang terduduk di lantai.


Keesokannya Nino pergi menemui Bima sahabatnya. Setelah sampai tanpa istirahat Nino langsung saja menemui Bima dan dia mengganggu Bima yang sedang bekerja. Menarik Bima menuju atap gedung pencakar langit itu. "Gue mau bicara sama Lo" ucap Nino to the point. "Apa?" Tanya Bima penasaran. "Kembali ke Indonesia dan bahagiakan Dewi di sana" pinta Nino dingin. Bima begitu terkejut mendengar permintaan Nino yang baginya tidak masuk akal. "Lo gila? Dia pacar Lo" ucap Bima heran. "Gue udah putus sama dia. Dan sekarang gue akan mencari gadis yang akan mendampingi gue sampai maut menghampiri. Dan tolong jaga wanita baik itu. Gue mohon" mohon Nino walau masih dengan nada bicara yang sangat amat dingin. "Gue gak terima penolakan Lo karena gue tau Lo masih mencintai Dewi hingga saat ini" setelah mengucapkan kata-kata itu Nino langsung meninggalkan Bima yang masih terkejut. Pernyataan yang keluar dari mulut Nino membuat Bima terkejut bagaimana mungkin Nino mengetahui segalanya. Walau ada sedikit rasa bahagia tetapi tidak sepantasnya ia kembali setidaknya itu yang ada dipikirannya saat ini.


Nino tersenyum hambar, dia merasa bahwa dia sudah mengambil keputusan yang sangat tepat. Saat ini Nino merasa begitu putus asa hingga ada suara yang membuyarkan lamunannya. "Nino kamu kenapa?" Tanya gadis itu. "Elsa.." panggil Nino tak percaya. Ia menemukan gadis masa kecilnya dulu yang begitu ia rindukan. "Akhirnya kamu datang, aku mencari kamu sudah 4 bulan terakhir Sa. Kamu kemana aja?" Tanya Nino yang masih memeluk Elsa erat. "Aku gak kemana-mana No. Kamu kenapa?" Tanya Elsa bingung. "Aku... Mencintai kamu Sa" ungkap Nino spontan. Kata-kata Nino mampu membuat Elsa begitu terkejut karena dia tak menyangka jika cintanya akan terbalaskan setelah sekian lama. Elsa menatap Menik mata Nino "aku minta waktu" pinta Elsa lalu meninggalkan Nino sendiri yang mematung. Ia tak menyangka jika Elsa akan meminta waktu untuk memikirkannya. Ada rasa sedih, kecewa, dan juga bahagia bercampur menjadi satu. Setelah sadar sudah tidak ada Elsa dia pun mencari Elsa kesekian. Dan matanya terpaku pada wanita yang sedang berjalan menjauh darinya. Nino pun segera berlari mengejar Elsa. Nino mencekal lengan Elsa setelah berlari mengejar Elsa. "Tunggu Sa. Elsa maaf aku baru tau akan cinta kamu" ucap Nino sendu. "Ni.. Nino maaf sudah mencintai kamu dan mengorbankan banyak orang untuk tetap berada di dekat kamu" ujar Elsa terisak. Nino yang melihat Elsa terisak pun segera memeluk tubuh gadisnya itu. "Udah ya, kamu gak salah kok. Kamu tau aku yang terlalu bodoh tidak bisa memahami cinta kamu selama ini" jelas Nino. "Ta..tapi aku gak bisa bersama kamu" ucap Elsa tegas. Ia tak ingin Nino bersanding dengan gadis kotor sepertinya. "Apa alasannya?" Tanya Nino dingin. "Ka...ka.. karena aku kotor No. Aku sudah gak suci lagi" jawab Elsa gugup. "Dengar aku. Aku gak pernah peduli tentang semua itu yang aku mau sekarang kita sama-sama memperbaiki segalanya. Aku akan ngasih tau semua keluarga aku tentang kita. Aku janji" jelas Nino tegas. Elsa yang melihat tatapan Nino, dia merasa Nino yang begitu tampan dan juga tegas seperti Nino yang dulu ia kenal. Mendengar kesungguhan hati Nino yang mengajaknya memulai kehidupan baru serta membuka lembaran baru bersamanya akhirnya Elsa luluh dan menyetujui ucapan Nino.