DIARY RIRIN

DIARY RIRIN
42



LEMBAR 6


Nino hari ini aku melakukan kebodohan. Aku melakukan kesalahan yang sangat fatal. Aku menjadi biang perpisahan antara Ririn dan Bima. Aku bodoh karena terlalu mempercayai perasaan nyaman. Rasa nyaman sesaat pada Bima membuat kubangan kehancuran bagi hubungan persahabatan. Nino aku harus apa? Aku gak bisa kehilangan Ririn, dia yang selama ini menguatkan aku. Nino kamu cepat pulang ya aku butuh kamu! Kamu tau Ririn marah sama aku, aku takut Ririn gak akan pernah memaafkan aku. Aku salah dalam hal ini. Kenapa berbagai pengkhianatan harus dirasakan oleh Ririn yang rapuh? Dan bodohnya lagi yang membuat pengkhianatan itu salah satunya adalah aku. Aku membuat kesalahan terbesar dalam hidupku No. Kamu tau, Ririn sama sekali gak pernah menyakiti aku tapi aku yang menyakiti dia dengan begitu dalam. Nino apa yang harus aku lakukan? Rasa nyaman sesaat membuat kehancuran bagi hubungan persahabatan aku dan Ririn. Nino kamu janji akan selalu ada buat aku kan? Sekarang tolong tepati janji kamu. Nino selama 4 tahun ini aku masih terus merindukan kamu. Nino mau sampai kapan kamu selalu menghindari kita, 4 tahun bukan waktu yang sebentar No. Apa waktu 4 tahun belum juga membuat kamu sadar kalau kamu egois? Nino please pulang! Aku gak tau lagi caranya untuk bertahan.


Nino aku butuh kamu. Nino tolong pinjamkan pundak kamu untuk Ririn. Biarkan Ririn merasakan ketenangan setelah badai yang terus menerpa dia. Nino pulang kasihan Ririn. Nino aku gagal menjaga Ririn, jadi tolong kamu pulang. Nino aku udah gak tau gimana lagi caranya nyuruh kamu buat pulang dan kembali membuat keceriaan diantara kita. Nino jangan sampai kamu menyesal hanya karena keegoisan kamu sekarang. Nino jangan buat kita jadi membenci kamu. Nino hati aku hancur berkeping-keping saat kepergian kamu. Aku masih bertahan menunggu kamu disini. Nino kamu pulang ya! Please!


Nino kamu semua mencintai kamu dan kami semua membutuhkan pundak kamu untuk menjadi sandaran.


Semoga kamu cepat kembali.


LEMBAR 7


Hari ini aku menuliskan surat terakhir untuk kamu No. Terima kasih udah kembali ke pelukan kamu lagi.


Nino aku bahagia banget saat kamu kembali dan menemui aku di tempat dimana kita sering bertemu. Entah kenapa No, aku gak pernah bisa melupakan kamu. Aku sudah pernah merasakan kehilangan kamu sekali dan aku gak mungkin sanggup kehilangan kamu untuk kedua kalinya. Kamu tau saat kamu memutuskan untuk mengakhiri hubungannya kita tanpa alasan membuat aku hancur berkeping-keping tak tersisa. Tapi aku masih berharap apa yang kamu katakan 4 bulan lalu adalah candaan semata. Jadi aku bertahan selama 4 bulan terakhir. Aku masih bisa bertahan No. Tapi saat melihat kamu menggenggam tangan wanita lain di situ dunia aku hancur dan setengah jiwa aku mati. Nino aku merasa bahwa aku sudah cukup dalam mencintai kamu, aku rasa tugas aku menyayangi kamu sudah selesai. Nino kamu tau bagaimana rasanya terluka? Aku sudah terluka saat dulu kamu meninggalkan aku tanpa alasan dan sekarang aku terluka lagi karena kamu memilih wanita lain untuk mencintai kamu. Aku gak pernah menyesal No, pernah mencintai kamu dan aku gak pernah menyesal sudah menunggu kamu. Nino kamu itu sangat berharga buat aku. Kamu bahkan berhasil mengambil sebagian dari jiwaku. Nino bagiku kamu adalah laki-laki paling hebat karena membuat aku merasakan hidup bahagia. Nino kamu gak salah kok, aku tau kamu sudah menentukan pilihan kamu sekarang jadi aku gak berhak ngelarang kamu. Kamu berhasil menyempurnakan separuh dari jiwaku. Terima kasih atas cinta yang udah kamu berikan kepada aku. Terima kasih sudah bertahan menjalani hidup bersama aku. Terima kasih Nino. Nino kamu adalah orang yang paling hebat yang pernah hadir dalam hidup aku. Nino sekarang waktunya aku pamit. Aku mungkin gak akan kembali lagi No. Aku akan pergi menemui kedua orang tuaku dan menceritakan hal menyenangkan bersama kamu. Nino kamu tenang aja aku sekarang baik-baik aja karena sekarang Tuhan ada di sisiku. Sekarang aku bersama Tuhan sedang menatap kamu. Aku harap kamu baik-baik aja ya No. Oh ya, jangan salahkan diri kamu sendiri karena kepergian aku. Karena semua ini memang sudah menjadi keputusan aku. Jaga diri kamu baik-baik dan juga jaga Ririn ya! Kamu juga jaga calon istri kamu, dia berhak bahagia bersama kamu. Aku yakin dia adalah orang yang baik yang mampu meluluhkan hati kamu. Nino kamu ingat kan aku pernah janji kalau aku akan mencintai kamu sampai akhir dari nafas aku dan sekarang aku menepatinya. Nino selamat tinggal semoga kamu bahagia.


Nino terkejut dengan apa yang ada pada lembar terakhir. Dewi membuat surat terakhir dan mengatakan bahwa dia bersama Tuhan. "Apa maksud dari semua ini? Dewi gak boleh pergi! Dewi cuma bercanda! Dia gak akan senekat itu! Dewi kuat, Dewi gak serapuh itu! Semua ini gak benar! Teriak Nino histeris. Nino tak mau percaya dengan apa yang ia baca. Dia tak mau jika Dewi harus pergi.


"Dia memilih bersama Tuhan" jawab Nino sendu. Kini Nino merasa bahwa jiwanya kini ikut bersama cintanya menghadap Tuhan.


"Maksud kamu?" Tanya Elsa masih tak faham.


"Dewi pergi dari hidup aku untuk selamanya. Dia menepati janjinya untuk mencintai aku sampai akhir nafasnya" jawab Nino dengan tatapan kosong.


"Nino kamu bercanda kan? Semua gak benar kan?" Tanya Elsa terkejut. Elsa tak menyangka jika semuanya akan berakhir seperti ini merenggut nyawa seseorang.


"Aku bodoh Sa. Seharusnya aku memikirkan dia tapi aku egois. Aku gak pantes buat dia. Aku membunuhnya, aku pembunuhnya" racau Nino. Elsa melihat Nino yang begitu terpuruk pun merasa bersalah.


"Enggak Nino, kamu gak salah ini sudah takdir" ucap Elsa sembari memeluk Nino.


"Kalau aja aku gak pernah melakukan hal ini mungkin sekarang dia masih di sini. Aku membunuh wanita yang aku cinta. Seandainya dulu aku gak mengambil hatinya pasti ini gak akan terjadi. Semua ini salah aku, aku yang bunuh dia" racau Nino frustasi. Dia masih tak percaya bahwa Dewi meninggalkan dirinya. Dia memang sudah sepantasnya menjadi seseorang yang paling disalahkan dalam hal ini. Karena memang dialah yang membunuh Dewi secara perlahan. Seharusnya dia tak membuat Dewi berjanji untuk mencintainya hingga akhir nafasnya. Semua ini memang salahnya. "Maaf Wi, maaf" gumam Nino.