DIARY RIRIN

DIARY RIRIN
39



Setelah kedatangan Reno Dewi pun pamit untuk pulang karena ada beberapa pekerjaan yang harus dia selesaikan. "Sayang kenapa sih kamu selalu nulis di buku diary saat sedih ataupun senang" tanya Reno melihat Ririn ingin menuliskan sesuatu di sana.


"Karena aku seneng mas, aku bisa mencurahkan semua isi hati aku. Aku merasa punya tempat untuk mencurahkan segalanya walau aku tau dia gak akan ngasih aku saran" jawab Ririn sedikit terkekeh.


"Kalau rekaman itu milik siapa?" Tanya Reno lagi. "Ini rekaman milik Emily untuk Chiko dan yang ini milik mama untuk kak Nino. Belum sempat aku masih mereka udah pergi meninggalkan aku saat itu jadi sampai sekarang ini masih ada sama aku" jawab Ririn panjang lebar. Reno hanya mengangguk mengerti. Ririn pun mulai menulis diatas kertas polos diary miliknya.


Aku menemukan apa yang selama ini disembunyikan..


Aku menemukan mereka yang sangat aku rindukan..


Mereka membawa sejuta bahagia dan juga sejuta luka..


Mereka tak pernah tau rasanya penantian seseorang yang rapuh..


Mereka egois hanya dengan mementingkan ego mereka...


Aku melihat bagaimana dulu mereka saling melindungi namun kini mereka saling menyalahkan..


Aku begitu ingat bagaimana canda tawa mereka dulu sebelum tergantikan oleh dinginnya kesunyian...


Kesunyian yang mereka buat mampu menjadi Boomerang bagi kisah cinta mereka...


Entah mereka sadar atau tidak bahwa mereka adalah dua insan yang saling terikat akan kisah cinta mereka masing-masing..


Mereka tak pernah menyadari akan rasa yang di paksa untuk mati..


Mereka saling menyakiti bahkan bukan hanya mereka yang terluka tetapi semua orang yang ada di sekitar terluka...


Tuhan jika aku boleh meminta tolong sadarkan mereka dari semua kegelapan itu...


Berikan petunjuk atas dasar cinta pada mereka untuk melangkah dijalan yang tak akan membawa kesesatan..


Mereka berdua adalah sebagian dari hidupku..


Kakak dan adikku. NINO DAN CHIKO


"Oh ya mas, kak Nino sama Chiko kok belum ke sini?" Tanya Ririn sembari menutup buku diary miliknya.


"Tadi aku telepon Nino, katanya dia udah di jalan" jawab Reno tetap fokus pada laptopnya.


"Kalau Chiko?" Tanya Ririn lagi.


"Kalau Chiko aku kurang tau sayang" jawab Reno lagi.


"Mas aku mau pulang" rengek Ririn manja. Reno pun berjalan ke arah Ririn dan duduk tepat di samping Ririn.


"Sayang, kamu belum boleh pulang. Nanti kalau udah waktunya kamu pulang, kita pasti pulang tanpa kamu minta" ucap Reno memberikan pengertian kepada Ririn. Ririn pun mengangguk patuh dan memeluk erat tubuh Reno seolah-olah ia takut jika harus kehilangan suaminya.


Nino dan Chiko memasuki kamar rawat Ririn dan melihat adegan mesra antara Reno dan juga Ririn membuat hati mereka menghangat seketika. Lalu Nino berdehem menyudahi keromantisan tersebut. "Rin gimana keadaannya?" Tanya Nino sembari memeluk Ririn singkat.


Namun hanya tatapan dingin Ririn yang menyambut mereka berdua.


"Kak Ririn masih marah sama aku?" Tanya Chiko.


"Maksud kamu apa Rin?" Tanya Nino bingung.


"Dewi gak sekuat itu kak, dia bisa menyerah kapanpun itu dan aku di kasih surat ini sama Dewi tadi pagi" jawab Ririn sembari memberikan sebuah amplop.


"Dan ini dari mama buat kakak" lanjut Ririn lalu menyuruh Nino keluar.


Dan di sana hanya tinggal Ririn dan Chiko. "Kakak maafin aku" ucap Chiko sembari menangis di pelukan Ririn.


"Chiko Kakak kecewa sama kamu. Apa selama ini kakak mendidik kamu untuk menjadi laki-laki bajingan?" Tanya Ririn menatap Chiko dengan tatapan kecewa.


Chiko menggeleng cepat "enggak.. kakak gak pernah ajarin Chiko buat hal buruk. Maaf kak, Chiko buat kakak kecewa" ucap Chiko meminta maaf pada Ririn dan menangis di pangkuan Ririn.


"Kakak ada titipan dari Emily. Ini sekarang kamu keluar dan dengarkan apa kata Emily" titah Ririn. Dan di angguki oleh Chiko.


*******


Di sisi lain saat Reno keluar dia menatap Elsa yang sedang duduk di salah satu kursi. Reno pun duduk di kursi yang berbeda dengan Elsa. Elsa yang melihat Reno keluar dai segera menghampiri Reno untuk menyelesaikan masalahnya dengan Reno. "Reno.." sapa Elsa.


Reno yang sedang menunduk pun langsung mendongak menatap wajah Elsa.


"Boleh kita ngobrol?" Tanya Elsa yang di angguki Reno.


"Maaf Ren, aku melakukan hal yang tidak seharusnya aku lakukan. Aku memanfaatkan keberadaan kamu hanya untuk mencapai tujuanku" ucap Elsa menyesal.


"Gak masalah tentang aku, tapi apa kamu sadar kamu sudah menyakiti wanita lain saat ini?" Tanya Reno dingin.


"Aku tau Ren. Sebenarnya hari ini aku mau bicara sama Nino untuk mengakhiri semuanya sebelum dia mengenalkan aku ke orang tuanya" jawab Elsa sembari menahan tangisnya.


"Aku gak tau harus gimana, di satu sisi aku mencintai Nino tapi di sisi lain cintaku membuat air mata wanita yang lain menangis. Aku juga gak mau melihat wanita itu terluka karena aku sendiri pernah merasakan rasanya kehilangan" lanjut Elsa.


"Saya cuma mau kamu jangan sampai salah jalan lagi. Menyakiti banyak orang hanya untuk kepentingan pribadi kamu. Sebenarnya aku marah sama kelakuan kamu dan aku bersyukur kamu meninggalkan aku. Sekarang aku sudah mendapatkan wanita yang jauh lebih baik dari pada kamu. Aku cuma mau kamu jangan lagi melakukan hal bodoh yang akan menjebak diri kamu sendiri" pesan Reno membuat Elsa tak dapat membendung air matanya.


Tak lama setelah itu Elsa melihat Nino keluar dan Elsa pun menghampiri Nino.


"Nino.." sapa Elsa.


"Tolong Sa, biarin aku sendiri dulu" pinta Nino lesu lalu pergi meninggalkan Elsa di sana. Tak berselang lama Elsa melihat Chiko keluar dengan air mata yang belum mengering.


Tanpa menyapa siapapun Chiko pergi begitu saja. Reno yang melihat itu langsung masuk menuju ruang rawat Ririn dan melihat Ririn sudah menangis terisak.


"Kamu kenapa Rin?" Tanya Reno khawatir.


"De.. Dewi mas. Dewi memilih pergi untuk selamanya" jawab Ririn sesegukan.


"Maksud kamu apa?" Tanya Reno yang masih belum mengerti.


"Dewi memilih mengakhiri hidupnya mas" jawab Ririn tak bisa menahan tangisnya. Reno terkejut dengan pernyataan jawaban Ririn dan melihat Ririn begitu terpukul.


"Bagaimana mungkin?" Ucap Reno tak percaya. Ririn hanya mampu menangis di pelukan Reno karena sebelum Dewi pergi dia mengatakan sesuatu pada Ririn.