
"Sayang hari ini kamu udah di izinkan buat pulang" ujar Reno sembari mengelus rambut Ririn. Ririn hanya menampilkan senyum simpulnya saja. "Rin kamu mau langsung pulang atau mau kemana dulu?" Tanya Reno. "Langsung pulang aja mas, aku masih lemes kalau mau jalan-jalan" jawab Ririn dengan suara yang pelan. Reno hanya mengangguk mengiyakan permintaan Ririn. "Tadi aku udah urus semua administrasinya dan sekarang mang Asep juga udah di depan jadi kita tinggal pulang aja" jelas Reno. Tanpa aba-aba Reno langsung membopong tubuh Ririn yang membuat Ririn begitu terkejut "mas, kan ada kursi roda jadi gak usah di gendong gini" berontak Ririn. "Sayang kamu diem nanti kita jatuh. Lagian apa salahnya coba suami gendong istri kan bisa jadi pahala" kekeh Reno. Ririn hanya bisa pasrah dengan tingkat Reno. 'mas kamu memberikan harapan yang begitu besar buat aku merasa di cintai. Seandainya kamu tau saat kamu mengucapkan akad di situ aku sudah memutuskan untuk mencintai kamu sepenuhnya walau aku akan menghadapi rasa kecewa yang begitu besar' batin Ririn sembari menatap wajah Reno yang begitu dekat dengannya. Ririn di dudukan di mobil dan Reno menyuruh mang Asep untuk mengambil mobilnya diparkiran rumah sakit "mang Asep bawa mobil saya aja, biar mobil ini saya yang bawa. Ini kuncinya sama ini karcis parkirnya" ujar Reno sembari memberikan kunci serta karcis parkir itu.
Di perjalanan Ririn dan Reno sama-sama diam sibuk dengan pikirannya masing-masing. "Mas nanti aku minta tolong ya belikan teh hangat yang manis di depan sana. Rasanya aku pengen yang manis-manis" pinta Ririn. "Iya sayang. Ada lagi yang mau di beli?" Tanya Reno. "Emm.. sama nasi deh mas, mendadak aku laper" ucap Ririn sembari tersenyum manis. "Ya ampun, padahal kamu baru aja makan lho sayang udah laper aja. Ya udah kamu tunggu sini biar aku beli pesanan kamu dulu" pamit Reno. Ririn mengangguk sembari menampakkan senyuman manisnya.
Ririn melihat Reno dan Elsa sedang bertengkar hebat dan dari lubuk hatinya yang paling dalam ia sangat penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi. Tiba-tiba perut Ririn terasa begitu sakit "au...au... Kenapa sakit banget" keluh Ririn. "Mas Reno tolong mas. Mas Reno.." teriak Ririn yang bahkan tak terdengar oleh Reno. Ririn menangis sejadi-jadinya karena sakit di perutnya. "Mas tolong mas sakit" rintih Ririn. Ririn berusaha membuka pintu mobil karena sudah tak tahan dengan rasa sakitnya yang semakin menjadi. Namun baru selangkah ia berjalan tiba-tiba pandangannya meredup dan tak sadarkan diri. Reno yang melihat Ririn jatuh langsung menghampiri Ririn. "Sayang bangun, kamu kenapa?" Ucap Reno sembari menepuk-nepuk pipi Ririn. Tak ada respon dari Ririn Reno segera menggendong Ririn untuk ia bawa lagi ke rumah sakit. Di perjalanan Ririn belum juga bangun "sayang bangun dong, jangan buat aku khawatir gini" ucap Reno sembari menangis. Reno merasa cintanya begitu besar pada Ririn sehingga dia mudah menangis jika sedang khawatir pada Ririn. "Sayang kamu bertahan ya kita bentar lagi sampai kok" ucap Reno. Sesampainya di rumah sakit Reno langsung berteriak-teriak memanggil dokter. "Dokter... Suster... " Teriak Reno. "Iya pak.." jawab salah satu perawat. "Sus tolong istri saya" pinta Reno. Perawat itu pun langsung mengambil salah satu brankar rumah sakit. Ririn pun langsung di bawa untuk ditangani. Reno menunggu dengan gelisah. Reno pun segera menghubungi Nino dan juga Niken untuk mengabari mereka. 'Bertahan sayang aku di sini buat kamu' batin Reno. Tak lama dokter keluar "keluarga dari pasien Ririn?" Tanya dokter tersebut. " Saya suaminya dok" jawab Reno. "Pak, pasien baik-baik saja. Kontraksi ini sudah biasa terjadi pada pasien yang mengalami pendarahan hebat. Jika terus menerus terjadi tolong segera bawa ke rumah sakit terdekat. Setelah ibu Ririn sadar bapak bisa bawa ibu Ririn pulang" jelas dokter panjang lebar. Reno akhirnya dapat bernafas lega.