DIARY RIRIN

DIARY RIRIN
27



Saat ini Ririn berada di ranjang rumah sakit karena sudah tiga hari dia tak henti-hentinya mual bahkan pada tengah malam sekalipun. Hal itu membuat Reno khawatir dan akhirnya memaksa Ririn untuk kedokteran. Jadilah kini Ririn terbaring di ranjang rumah sakit dengan dokter yang memeriksanya. "Baiklah pak, setelah saya periksa kondisi ibu Ririn baik-baik saja namun saya minta untuk ibu segera melakukan pemeriksaan ke dokter spesialis kandungan untuk memastikan apakah benar ibu sedang hamil atau tidak" jelas dokter tersebut. "Dok apakah saya harus melakukannya?" Tanya Ririn hati-hati. Bukan Ririn tidak mau hanya saja dia tak siap jika harus melihat wajah suaminya yang kecewa. "Saya tidak mengharuskan tapi sebaiknya di lakukan karena dari hasil pemeriksaan dari saya, saya memperediksi bahwa sekarang ada janin di rahim ibu namun saya melihat keanehan pada janin tersebut maka dari itu saya berharap bahwa ibu akan melakukan apa yang saya sarankan" jelas dokter itu. "Baik dok terima kasih. Saya pastikan istri saya akan melakukan apa yang dokter sarankan" ujar Reno sembari menatap wajah Ririn meyakinkan Ririn untuk percaya padanya. Setelah Ririn dan Reno keluar dari ruangan dokter mereka sedikit berdebat tentang tes kehamilan. "mas kita gak usah tes ya?" Pinta Ririn memohon. "Kita harus tes sayang" jawab Reno tegas. "Tapi mas gak akan ada yang berubah, aku gak hamil mas" ucap Ririn dengan nada yang sedikit tinggi. Reno mengacak rambutnya frustasi ia tidak bisa marah pada Ririn saat ini karena wanita di hadapannya itu sedang tidak baik-baik saja. "Denger aku Rin, kamu percaya sama aku gak akan ada apa-apa. Kamu sama aku, kita hadapi sama-sama" ucap Reno lembut sembari membelai pipi Ririn yang sedikit tembam. "Mas aku takut kamu kecewa, aku takut aku gak hamil dan membuat harapan kamu pupus begitu aja. Aku gak sanggup mas" ucap Ririn meneteskan air matanya deras. "Sayang lihat aku" ujar Reno sembari memegang pundak Ririn erat. Mau tak mau Ririn langsung menatap mata Reno dengan sendu. "Aku gak akan masalah kalaupun kamu gak hamil. Yang aku khawatirkan adalah kamu dan kalau benar kamu hamil apa kamu gak kasihan sama anak kita yang gak memiliki asupan bergizi karena kami gak tau. Sayang ini bukan masalah yang besar oke" ucap Reno lembut namun tegas untuk meyakinkan Ririn. Ririn akhirnya mengalah dan mengangguk patuh. Ririn menarik nafas dalam-dalam saat benda itu menempel pada perutnya. Terdengar suara yang Ririn tak pahami. "Baik pak Bu, ibu memang sedang mengandung. Dan ini suara detak jantung dari anak kalian, dari suara detak jantung yang saling menyahut satau sama lain bisa saya pastikan bahwa anak kalian bukan hanya satu melainkan ada dua anak yang hidup di rahim ibu" ucap dokter sembari memeriksa perut rata milik Ririn. Ririn dan Reno yang mendengar itu benar-benar merasa sangat amat bahagia karena mendengar kabar kehamilan dan yang lebih membuat mereka bahagia bayi itu ternyata kembar. Setelah keluar dari rumah sakit tak henti-hentinya Ririn dan Reno mengucapkan syukur atas hadirnya buah hati mereka. "Mas aku bersyukur banget setelah penantian panjang akhirnya Allah memberikan apa yang kita tunggu-tunggu bahkan memberikan lebih" ujar Ririn tak henti-hentinya tersenyum. Melihat Ririn yang begitu bahagia membuat hati Reno terasa hangat. "Ya udah sekarang kita pulang ya" ajak Reno. Ririn mengangguk antusias dengan apa yang dikatakan oleh Reno.


Di dalam mobil Ririn mengeluarkan buku diary miliknya dan menuliskan sesuatu dengan wajah yang sangat berseri-seri.


Aku pernah mengeluh dengan hidupku yang bahkan jika aku ingat-ingat kembali banyak kenikmatan yang tak pernah ku Syukuri..


Aku kini akan menjadi seorang ibu yang akan mendidik dan juga menjadi guru pertama bagi mereka..


Aku juga bersyukur suamiku akhirnya mencintaiku dan berbahagia denganku..


Benar memang bumi kehilangan senja namun digantikan oleh indahnya langit malam, begitu juga hidupku yang kehilangan segalanya untuk membawaku pada indahnya masa depan.


"Kakak, kamu benar-benar datang" ucap laki-laki itu gugup


"Apa kau pikir kakak main-main Chiko?" Tanya Nino dingin. Iya pria yang di telepon Nino saat itu adalah Chiko bahkan kenyataan lainnya adalah Chiko adalah sepupu dari Nino dan Ririn. Ayah Ririn adalah kakak kandung dari ibu Chiko. Sedari dulu Chiko selalu di rawat oleh keluarga Ririn dan akhirnya Chiko merasakan artinya keluarga walau hanya beberapa tahun saja. Namun kenyataan yang harus di telan pahit-pahit adalah Nino amat sangat memusuhi Chiko. Bukan karena Nino benci melainkan ia kecewa dengan kelakuan Chiko yang begitu bajingannya. Dan di saat itulah semua gerak gerik Chiko semakin sempit.


"Sekarang ikut Kakak dan jelaskan semuanya dari mulutmu sebelum aku mendengar dari orang lain dan membuatmu mati sia-sia" tegas Nino. Chiko bergidik ngeri melihat tampang Nino yang baginya sangat amat menyeramkan. Sesampainya di sebuah atap gedung Nino langsung duduk di tempat yang sudah ia sediakan sebelumnya. "Sekarang ceritakan semuanya" ujar Nino dingin. "Sebelum aku menceritakan segalanya bisakah kau beritahu bagaimana keadaan kak Ririn?" Tanya Chiko memohon. "Dia baik. Kau jangan harap bisa bersembunyi di balik kakak kesayanganmu itu karena kita hanya berdua" ucap Nino. "Baiklah aku akan katakan segalanya dan aku ingin kakak tidak membuat kesalahan" ucap Chiko memperingati.


"Elsa tidaklah salah dalam hal ini. Aku yang menjebaknya saat itu dan mengambil segalanya dari dia bahkan kehormatannya sebagai wanita. Aku mengakui jika aku salah dalam hal ini tapi saat itu aku tak bisa berfikir jernih karena kehilangan Emily kak, aku bersumpah. Lalu kehidupan kelam yang kujalani selama ini adalah karena penyesalan itu" jelas Chiko sedikit menjeda ucapannya. Namun Nino masih setia mendengarkan penjelasan adiknya walau ada emosi yang sangat ingin ia luapkan. "Lalu aku mendengar bahwa Elsa menjadi kekasih orang lain di situ aku tak terima jika mainan ku di miliki orang lain. Dan pada akhirnya aku menyuruhnya kemari jika dia tak mau maka aku akan membuka rahasia itu walaupun aku akan hancur juga. Saat itu Elsa datang dan memberikan semua penjelasannya padaku dan pada saat itulah aku sadar bahwa aku tak bisa egois. Dan satu hal lagi cinta pertama Elsa adalah dirimu, hanya dirimu bahkan yang sekarang masih melekat di hatinya. Ia hanya mendekati Reno akan selalu tau tentang dirimu dia sudah terlalu banyak berkorban kak" lanjut Chiko. Mendengar penjelasan Chiko membuat hatinya begitu pedih amat sangat pedih. Bahkan ia hampir tak bisa bernafas karena ia tahu masa lalu kelam dari seorang Elsa yang terlihat kuat namun nyatanya begitu rapuh.