DIARY RIRIN

DIARY RIRIN
25



Hari-hari terasa begitu cepat hingga tak terasa sudah 4 bulan berlalu. Ririn kini sedang menyiapkan makanan untuknya dan juga suaminya. "Udah selesai, sekarang aku mau mandi dulu habis itu baru deh aku bangunin mas Reno"  ucap Ririn pada dirinya sendiri. "Tuti tolong kamu hidangkan semuanya di meja ya. Saya mau ke atas dulu" pinta Ririn pada Tuti asisten rumah tangganya yang baru. Memang bi Ijah sudah mengundurkan diri menjadi asisten rumah tangga di kediaman Ririn sejak dua bulan lalu. "Baik Bu" jawab Tuti sopan. Ririn langsung berlalu menuju kamarnya. Di dalam kamar Ririn melihat Reno yang masih tertidur pulas itupun tersenyum. "Mas bangun yuk, udah siang nanti kesiangan lho" ucap Ririn membangunkan Reno dengan lembut. Reno membuka matanya perlahan dan melihat Ririn yang sedang sibuk menyiapkan pakaian kerjanya. "Mas kamu mandi dulu sana, airnya udah aku siapin" perintah Ririn tanpa melihat ke arah Reno. Reno pun bangun dan berjalan mendekati Ririn yang sedang sibuk memilih baju kerja miliknya. "Makasih ya" ujar Reno sembari memeluk tubuh Ririn dari belakang. Ririn yang sedang fokus pun terkejut dengan kedatangan Reno yang tiba-tiba memeluknya. "Kebiasaan deh. Aku kaget kan" Rajuk Ririn. Tanpa merasa bersalah Reno pun melangkah menuju kamar mandi setelah mencium kening Ririn  singkat. 'mas bahkan sampai pernikahan kita yang sudah 7 bulan kamu belum juga memberikan kepastian sama aku. Apa kamu mencintai aku atau enggak?' batin Ririn sendu.


Setelah 15 menit akhirnya Reno keluar dan di gantikan oleh Ririn untuk membersihkan tubuhnya. Selesai bersiap-siap dua sejoli itupun turun untuk sarapan. "Good morning ma" sapa Ririn sembari mencium pipi Niken. "Morning too sayang" ucap Niken membalas sapaan Ririn. Begitupun Reno melakukan hal yang sama dengan Ririn menyapa Niken. "Tuti kamu panggil mang Asep sana. Kita sarapan bareng" titah Ririn. Tuti mengangguk dan melangkah keluar untuk menemui mang Asep. Ya setelah adanya Ririn semua orang akan makan satu meja tanpa melihat perbedaan antara mereka.


"Ya udah ya Rin mas mau berangkat dulu kamu hati-hati di rumah ya" ucap Reno mengeluarkan ultimatumnya. Ririn memutar bola matanya malas, ya beginilah Reno yang sedikit posesif terhadap Ririn. "Mas yang harusnya hati-hati itu kamu. Aku kan ada mama,Tuti, sama mang Asep jadi mas gak usah khawatir" jelas Ririn sembari terkekeh pelan. Reno pun menjalankan rutinitasnya seperti biasa sebagai seorang pemimpin di kantor miliknya. Ririn sudah masuk ke dalam rumah dan sedikit terkejut karena melihat Niken yang membawa koper pakaian. "Lho mama mau kemana?" Tanya Ririn sedikit tidak santai. "Ini Rin, mama mau pergi dulu ke Bandung. Mama ada urusan buat 4 bulan ke depan jadi maafin mama gak bisa jaga kamu" jawab Niken lesu. "Ya ampun mama, gak papa kok. Ririn Malah yang harusnya minta maaf karena selama ini selalu ngerepotin mama" jelas Ririn sendu. "Ya udah mama pamit dulu. Salam buat suami kamu, assalamu'alaikum" pamit Niken. "Walaikum'sallam" Ririn menjawab salam Niken. 'huh sendirian deh' batin Ririn. Ririn melangkah menuju kamarnya untuk berbaring karena ia sedari tadi sudah merasa tidak enak badan.


Beberapa saat kemudian Ririn terbangun dari tidurnya dan langsung menuju ke kamar mandi untuk memuntahkan isi dalam perutnya karena Ririn tiba-tiba merasa mual yang begitu sangat. "Ya ampun aku kenapa mual gini?" Tanya Ririn pada dirinya sendiri.


"Istirahat lagi aja deh" gumamnya lirih. Ririn pun berjalan menuju ranjangnya untuk merebahkan dirinya namun baru beberapa langkah perutnya kembali terasa mual. "Ya ampun apa aku salah makan sesuatu?" Tanya Ririn di depan cermin. Ririn pun akhirnya merebahkan dirinya lelah untuk segera menutup matanya agar bisa sedikit lebih baik.


Di lain tempat ada Reno yang sedari berangkat merasa tidak nyaman itupun mondar-mandir di ruangannya. 'kok perasaan aku makin gak enak ya. Ririn kenapa?' batin Reno bertanya. Reno pun langsung menyambar ponsel miliknya untuk menghubungi Ririn. "Kok gak di angkat sih!" Gerutunya. Ia segera menghubungi nomor Niken ibunya karena Reno yakin ibunya kini tengah bersama Ririn. Namun hasilnya sama ponsel Niken juga tak bisa dihubungi. Reno pun begitu kalut dengan perasaannya sekarang. Hingga akhirnya Reno pun kepikiran bahwa ia bisa bertanya pada pembantunya. Reno langsung menghubungi telepon rumah. Tak lama seseorang di sana mengangkatnya.


"Halo, selamat siang" sapa Tuti


"Halo Tuti, ini saya Reno" jawab Reno tanpa basa-basi


"Tut, Bu Ririn ada?" Balas Reno to the point


"Ada pak. Tapi, dari tadi pagi ibu sama sekali belum keluar kamar" jawab Tuti sopan.


"Oh terima kasih" balas Reno.


Reno begitu khawatir sekali pada Ririn. Reno berfikir tumben sekali Ririn tidak keluar setau Reno Ririn adalah orang yang tidak akan betah jika tidak melakukan pekerjaan apapun. 'kamu kenapa sih jangan buat khawatir dong' batin Reno. Reno mendengar ketukan pintu yang membuat ia tersadar dari lamunannya. "Masuk" titah Reno dingin dan tegas. "Maaf pak, Bapak sudah di tunggu di ruang rapat" ujar sekertaris Reno. Reno mengangguk dan mengambil berkas-berkas untuk rapat lalu pergi di iringi sekertarisnya. "Lina setelah rapat selesai tolong kosongkan jadwalku. Aku akan pulang dan kemungkinan besar aku tak kembali lagi ke kantor dan tolong kirimkan semua pekerjaan saya melalui email" jelas Reno masih dengan wajah datar, dingin, dan tegas. "Baik pak akan saya lakukan" jawab sekertaris yang dipanggil Lina itu.


"Selamat siang semua" sapa Reno pada semua bawahannya. "Siang pak" jawab mereka serentak. "Mari kita mulai rapatnya. Lutfi sekarang tolong kamu presentasikan tentang penjualan bulan ini" jelas Reno tegas. Seseorang yang di panggil Lutfi itu pun segera mempresentasikan hasil penjualan yang di minta Reno. Reno mendengar penjelasan Lutfi dengan menganggukkan kepalanya.


"Cukup itu yang saya sampaikan, terima kasih" Ucap pegawai itu setelah selesai menjelaskan. "Baik Lutfi, semua yang kamu kerjakan sudah baik tapi saya ingin kamu kedepannya bisa meningkatkan penjualan serta bisa memperoleh perhatian penuh dari masyarakat luar tentang produk yang kita hasilkan" saran Reno pada pegawainya. Begitu seterusnya hingga tak terasa sudah lebih dari tiga jam pira itu berada di ruang rapat. Setelah selesai rapat Reno kembali ke ruangannya mengambil barang-barangnya. Reno melihat jam tangannya sudah menunjukan pukul 13.00 yang artinya sudah waktunya makan siang. Reno segera berlari keluar kantor untuk segera pulang dan melihat keadaannya istrinya. Saat di lobi ia mendengar para karyawannya bergosip tentang dirinya yang kini terlihat khawatir. 'presetan dengan kalian' batin Reno. Kini yang memenuhi pikirannya hanyalah keadaan Ririn. Entah mengapa Reno merasa begitu khawatir dan takut terjadi sesuatu.