
Reno yang mendengar berita tentang istrinya masuk rumah sakit pun segera pergi menuju rumah sakit. Di jalan ternyata Reno terjebak macet dan akhirnya dia sedikit terlambat datang ke rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit Reno begitu bingung mengapa Dewi dan ibunya menangis hingga tersedu-sedu. "Mama gimana keadaan Ririn?" Tanya Reno sembari menghampiri Niken.
"Reno.." ucap Niken sembari memeluk Reno erat dan menangis sejadi-jadinya.
"Wi ada apa sebenarnya?" Tanya Reno. Tanpa menjawab Dewi beranjak dengan tangisnya yang pecah.
Reno begitu bingung mengapa semua orang tak ada yang menjawabnya. "Ma, Reno tanya sama mama. Ririn kenapa?" Tanya Reno sekali lagi.
"Ririn.. Ririn. Sekarang lebih baik kamu temui dokter dulu ya mama mau ke toilet" jawab Niken berlalu pergi begitu saja.
Reno yang begitu penasaran pun langsung mencari dokter yang merawat Ririn. "Maaf sus, saya mau tanya yang merawat pasien atas nama Ririn Indah Pratiwi siapa ya?" Tanya Reno pada salah satu perawat di sekitar ruangan IGD.
"Maaf bapak ini siapa ya?" Tanya perawat.
"Saya Reno suami dari pasien" jawab Reno.
"Oh bapak masuk saja ke ruangan itu pak" ucap perawat itu. Tanpa pikir panjang Reno langsung menghampiri ruangan dokter tersebut.
"Dokter, maaf saya mengganggu. Dok saya suami dari pasien yang bernama Ririn Indah Pratiwi" kata Reno tanpa basa-basi.
"Baiklah pak mari ikut saya keruangan saya" ajak dokter tersebut.
Setelah duduk Reno bertanya lagi "dok bagaimana keadaan istri saya?" Tanya Reno.
"Begini pak, istri bapak mengalami pendarahan hebat" ucap dokter itu.
"Ta..tapi dok istri saya tidak sedang hamil" sangkal Reno.
"Bapak salah, mungkin bapak dan pasien belum mengetahui tentang kehamilan ini karena usia kandungannya baru menginjak satu minggu. Istri bapak mengalami pendarahan hebat karena adanya tekanan pada emosionalnya yang tidak terkontrol" jelas dokter tersebut.
Reno begitu terkejut mendengar penjelasan dari dokter tersebut. "Sekarang bagaimana keadaan istri saya dok?" Tanya Reno dengan suara parau menahan tangisnya.
"Begini pak, demi menyelamatkan Bu Ririn maka kita terpaksa harus mengangkat janin yang ada dalam kandungan Bu Ririn jika tidak maka nyawa ibunya dalam bahaya. Dan saya minta persetujuan bapak untuk pengangkatan janin" jelas dokter itu lagi. Dengan tangan gemetar Reno terpaksa menandatangani surat persetujuan itu. Dan tak berapa lama akhirnya Ririn di bawa ke dalam ruang Operasi untuk melalukan operasi kirat.
Setelah beberapa jam akhirnya operasinya selesai dan di sana Reno, Dewi, dan Niken bernafas lega. "Mama dan kamu Dewi jangan pernah bicarakan masalah ini ke Ririn" ucap Reno dan berlalu pergi untuk mengurus administrasi rumah sakit.
Setelah satu jam akhirnya Ririn di bawa ke ruang inap untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut. Reno yang melihat Ririn masih terbaring tak berdaya membuat hatinya hancur berkeping-keping. "Sayang bangun ya, aku di sini gak sanggup lihat kamu kaya gini" kata Reno sambil menangis.
"Sayang maaf aku gak bisa jaga kamu. Aku gak bisa jadi suami hang baik buat kamu, sayang kalau seandainya aku bisa jagain kamu pasti sekarang bayi kita masih ada, pasti semua ini gak akan terjadi" lanjut Reno. Reno yang teringat akan ucapan dokter yang mengatakan bahwa Ririn berada dalam tekanan pun langsung membalikan badannya menatap kedua wanita yang sedang duduk di sofa ruangan Ririn.
"Sekarang aku mau tanya sebenarnya apa yang membuat Ririn tertekan sampai-sampai dia seperti ini?" Tanya Reno dengan tatapan mengintimidasi.
Nino melihat adiknya yang terbaring lemah dan mencium kening Ririn begitu lama tanpa sadar air matanya menetes mengalir di pipinya. Kembali lagi pada Reno yang mempertanyakan apa yang mempengaruhi emosional Ririn. "Sekali lagi aku tanya, apa yang membuat Ririn tertekan?" Ucap Reno mengulangi pertanyaannya.
"Lo tanya aja sama nyokap Lo dan pertanyakan itu semua juga sama diri Lo sendiri" jawab Nino dingin dan berlalu pergi. Dewi mengikuti kepergian Nino untuk memberikan ruang pada Reno dan juga Niken untuk bicara.
"Mama jawab pertanyaan Reno. Reno mohon ma" ucap Reno memohon.
"Maafin mama Ren, mama sudah salah paham sama Ririn. Mama menghina Ririn dan setelah itu Ririn jadi seperti ini" jelas Niken sembari menangis menyesali perbuatannya.
"Ceritakan semuanya tanpa ada satu hal pun yang terlewat" ucap Reno tegas.
Akhirnya Niken pun menceritakan semuanya tanpa ada yang terlewat. Reno begitu emosi saat mendengar cerita yang keluar dari mulut ibunya itu. "Mah kenapa, kenapa mama bisa seceroboh itu. Mama gak pernah lakuin ini sebelumnya. Kenapa cuma dari kata seseorang mama mudah percaya?" Tanya Reno tak menyangka.
"Maafin mama Ren, mama benar-benar nyesel" ucap Niken.
"Sekarang aku mau mama pecat bi Ijah tanpa nanti-nanti" putus Reno tanpa pikir panjang.
Niken yang tak mau lagi berdebat itupun langsung menghubungi bi Ijah untuk segera mengemasi barang-barang miliknya. "Ren sekarang mama yang tanya sama kamu. Apa yang dimaksud Nino tentang pertanyakan juga semua sama diri kamu?" Tanya Niken menatap curiga pada putranya itu.
"Aku bahkan gak tau apa yang dimaksud sama Nino ma" jawab Reno dengan wajah bingungnya. Namun Reno juga mengingat kejadian saat bersama Elsa apakah Ririn melihat segalanya atau ada hal lain yang sebenarnya sedang di sembunyikan oleh Ririn. 'Aku akan cari tau semuanya' batin Reno.
...******...
Ririn merasa sangat pusing saat bangun. Ririn merasa begitu asing dengan tempat yang ia lihat saat ini. Ririn melihat ada Reno dan ibu mertuanya sedang berbicara. "Mas Reno" panggil Ririn lirih karena pusing di kepalanya membuat dia tak memiliki kekuatan untuk berbicara keras.
Reno yang mendengar suara lirih Ririn pun segera menghampiri Ririn "kamu udah bangun sayang" ucap Reno sendu. "Aku dimana?" Tanya Ririn.
"Kamu di rumah sakit Rin" jawab Reno.
Ririn melihat Niken berdiri di sisinya dan Ririn pun segera menjelaskan segalanya pada Niken "ma.. mama aku bisa jelasin semuanya sama mama kalau aku sebenarnya..." Ucapan Ririn lagi-lagi di sela oleh Niken.
"Sayang maafin mama ya. Mama sudah salah faham sama kamu, mama gak seharusnya langsung tuduh kamu begitu aja" jelas Niken.
"Mama gak salah kok. Ririn yang salah gak kasih tau mama tentang kak Nino sebelumnya" ucap Ririn.
Niken pun tersenyum dan mengecup kening Ririn dengan penuh kasih sayang. "Oh ya ma, bukannya gimana-gimana tapi lebih baik mama pulang deh ini udah malam. Biar aku yang jagain Ririn ma" saran Reno pada Niken.
"Ya udah mama pulang ya sayang. Reno, mama minta tolong ya jagain Ririn" pinta Niken sekaligus berpamitan.