
LEMBAR 2
Nino ini sudah satu tahun kamu pergi tau...
Oh ya hari ini Ririn sama Bima ngadain acara anniversary yang ke 1 tahun hubungan mereka..
Aku iri deh liatnya. Hehe aku jadi kangen kamu. Nino aku mau curhat sama kamu. Tadi banyak banget pelanggan di cafe dan Ririn hari ini izin buat ngedate sama Bima jadi aku kecapean deh. Kamu ingat gak waktu aku ngeluh aku capek kamu langsung gendong aku. Kamu bilang biar aku gak capek lagi dan gak ngeluh-ngeluh lagi. Waktu SMA kita jadi pasangan paling romantis di antara pasangan lainnya. Aku bahagia banget karena ada kamu yang mengisi masa SMA aku. Kamu tau gak aku benar-benar gak nyangka bakal jadi pacar kamu. Oh iya, ada satu hal lagi yang harus kamu tau. Dulu aku sempat suka sama Bima gara-gara kamu yang gak peka-peka jadi aku di buat nyaman deh sama Bima. Kamu cemburu gak aku cerita tentang ini? Hehe aku cuma mau ngasih tau aja kok jadi jangan cemburu ya!
Kamu ingat gak dulu aku pernah berantem sama Dina sampai masuk BK cuma gara-gara kamu. Lagian Dina duluan yang cari gara-gara. Dia deketin kamu, rayu-rayu kamu, sentuh-sentuh kamu ya otomatis aku marah dong. Emang ya Dina itu gak pernah kehabisan cara buat deketin kamu. Oh iya, kamu ingat ini juga gak? Waktu itu kamu berantem sama Andi gara-gara dia itu peluk aku padahal dia itu sepupu aku. Hehe itu lucu banget sampai akhirnya kamu harus ke rumah Andi buat minta maaf karena kamu salah paham. Aduh itu benar-benar lucu banget. Huh, kalau di ingat-ingat masa SMA kita lucu banget ya! Kamu yang cemburuan dan aku yang manja. Aku benar-benar rindu kamu Nino. Kamu sekarang dimana?
Pulang ya?
Aku gak akan berhenti nyuruh kamu pulang karena rindu aku membuat aku selalu meneteskan air mata.
Nino aku kangen.
Nino tersenyum mengingat segalanya tentang masa-masa SMA bersama Dewi. Betapa bodohnya Nino dulu yang memukul Andi tanpa bertanya terlebih dahulu. Sejenak hati Nino menghangat. Nino membuka lembar ketiga dari surat Ririn.
LEMBAR 3
Nino aku capek nulis surat terus. Tulisan aku berasa percuma deh! Kamu tetap gak pulang juga. Nino ceper pulang dong aku kangen banget. Hari ini aku buat puisi untuk kamu. Kamu baca ini ya.
Rasa yang dipaksa untuk mati
Bait puisi yang terucap indah kini harus pupus tak terbaca...
Ucapan indah yang mampu menggetarkan hati yang mati...
Kini harus dipaksa diam untuk tak lagi menggugah asa..
Mengapa hati? Mengapa semakin ku paksa semakin aku merasakan kehadirannya..
Kehadirannya yang membawa seribu puisi cinta untuk menggetarkan rasa..
Apakah kau tau jika jiwaku tersiksa dengan ketiadaan mu..
Jika aku salah dalam memaksa rasa untuk mati maka kehadiranmu dulu juga salah dalam menyemangati..
Rasaku kini menuntut asa..
Bagus kan? Besok-besok aku mau belajar buat puisi deh sama Ririn. Ririn kan suka banget tuh kalau bikin kata-kata yang indah. Ya udah Nino aku mau kamu cepat pulang. I love you than one more.
"I love you more" balas Nino pelan. Nino membuka lagi lembar ke empat dari surat tersebut.
LEMBAR 4
Aku teringat kembali pada saat kamu masih di sisiku. Aku masih begitu ingat dengan kamu yang menggenggam erat tanganku seolah tak membiarkan aku pergi. Senyummu yang tak pernah memudar walau kemarahan sedang menguasai hatimu membuatku tak bisa berhenti mencintaimu. Aku sudah berulang kali mencoba melupakan kisah kita namun kenyataan tentangmu tak pernah berhenti menghantuiku. Pernah mencintaimu adalah anugerah terindah yang pernah ku alami. Sedangkan memilikimu adalah takdir yang sangat ku syukuri. Kehadiranmu dulu cukup membuatku merasa sangat berharga. Tak ada kata yang mampu menggambarkan ketulusan cintamu. Aku benar-benar tak pernah menyesal pernah merajut cinta bersamamu dulu. Aku bersyukur karena Tuhan telah memberikan kesempatan padaku untuk bersamamu dulu.
Kau tau rasaku masih sama. Masih merindukan semua tentangmu. Aku masih tetap bodoh dalam mencintaimu. Bukan aku tak ingin membunuh rasa namun aku hanya belum siap melupa. Kamu masih mengisi semua kekosongan hatiku. Entah mengapa rasanya masih seperti dulu saat kita bersama. Melupakanmu adalah hal tersulit yang pernah kurasakan. Aku begitu rapuh saat kehilangan kamu. Mengapa kamu hadir jika hanya ingin menitipkan luka? Luka yang mampu membuatku terpuruk selama ini. Hingga kini aku hanya berharap dapat melupakan dan membunuh rasaku. Aku tak akan mengulang kesalahan yang sama, yaitu berjuang mati-matian demi melupakanmu yang belum tentu aku bisa. Jadi tolong kembali dan sempurnakan jiwaku.
Tetes demi tetes air mata Nino mengalir deras. Dia begitu menyesal sudah membuat Dewi terluka. "Maaf Wi, aku memang laki-laki bodoh. Kamu pantas melupakan aku. Wi, seandainya dulu aku gak egois mungkin sekarang kita gak akan pernah seperti ini. Kalau aja dulu aku gak pergi meninggalkan kamu mungkin sekarang kamu masih di sisi aku. Maaf Wi karena aku kamu terluka" gumam Nino menyesal. Setelah merasa sudah lebih tenang Nino mulai melanjutkan membaca surat tersebut.
LEMBAR 5
Kadang pengen No, aku buat kamu nangis karena menyesal. Tapi nyatanya di sini aku yang terus menerus menangis merindukan kamu. Hati ini seperti sudah milik kamu seutuhnya. Nino aku capek kalau harus pura-pura terlihat tegar padahal hati aku benar-benar terluka jiwa aku rapuh. Nino kamu tau aku bertahan hingga kini hanya karena Ririn. Aku memberikan harapan besar pada Ririn. Aku meyakinkan Ririn bahwa kamu akan kembali setelah kamu mencapai tujuan hidup kamu. Aku tau kalau semua hanyalah sebuah bualan semata agar bisa menguatkan Ririn. Aku gak tau lagi No, aku harus gimana. Nino aku mohon kamu pulang ya. Aku dan Ririn sakit No kalau harus ingat kepergian kamu. Nino aku mohon pulang jangan buat aku sama Ririn mengharapkan hal yang gak pasti. Aku takut No, aku gak bisa lagi jaga Ririn. Ini udah 3 tahun kamu gak pulang. Apa kamu gak kangen sama kita? Apa keegoisan kamu melebihi rasa cinta kamu untuk kita? Nino aku mohon pulang ya! Jangan lagi membiarkan kita rapuh di sini. Nino aku masih mencintai kamu hingga saat ini. Nino apa cinta yang kamu ucapkan dulu hanyalah bualan semata. Aku kangen Nino yang dulu. Nino yang gak pernah egois dan selalu sabar dalam menghadapi apapun bahkan dia mau mempertaruhkan nyawanya hanya untuk orang-orang yang disayanginya. Nino kamu cepat pulang! Di sini kita nungguin kamu. Kita masih setia berdoa untuk kepulangan kamu. Aku mohon Nino jangan egois lagi kita rindu Nino. I love you.