
Nino sedang berjalan menuju meja yang dimana sudah ada Elsa di sana. "Hai nona Elsa Permata" sapa Nino dengan seringainya. Elsa yang awalnya sibuk dengan ponselnya itupun langsung mendongak menatap wajah yang menyapanya. "Aku gak mau basa-basi. Apa kamu yang kasih tau Reno tentang aku sama Chiko?" Tanya Elsa menahan amarahnya. Nino tersenyum mengejek "kenapa kamu bisa berfikir kalo aku yang bongkar?" Bukannya menjawab Nino malah balik bertanya. Elsa sempat terkejut dengan pertanyaan yang di lontarkan Nino. "Aku tanya bukan menuduh" ucap Elsa gugup. "Iya aku adalah orang yang bongkar semuanya. Dan bodohnya lagi kamu gak mencari tau tentang Chiko lebih rinci lagi" ucap Nino tersenyum meremehkan. "Apa maksud perkataan kamu?" Tanya Elsa dengan penasaran. "Ah kayaknya aku gak bisa lama-lama. Aku permisi" pamit Nino dan berlalu begitu saja. Nino begitu puas melihat wajah Elsa yang begitu penasaran dengan apa yang ia katakan. Nino meraih ponselnya dan menghubungi seseorang.
".............."
"Kakak akan menemui kamu besok" ucap Nino dingin
"..............."
Tanpa aba-aba Nino langsung mematikan sambungannya begitu saja. Nino tersenyum puas karena dia akan melihat semuanya terbongkar. Nino melajukan mobilnya menuju rumah Reno untuk menemui adiknya Ririn karena hari ini ia akan membawa Ririn ke kediaman Dewanto. Sesampainya di kediaman Reno, Nino langsung masuk dan bertemu dengan bi Ijah. Tapi Nino tidak lagi memperlakukan bi Ijah seperti dahulu karena sekarang Nino begitu kecewa dengan apa yang di lakukan oleh asisten rumah tangga Reno. Nino melewati bi Ijah begitu saja dan segera menuju kamar milik Reno dan Ririn. "Dek.. ini Kakak" ucap Nino sembari mengetuk pintu kamar Reno. Tak lama kemudian pintu terbuka dan ternyata yang membuka adalah Reno. "Hai bro" sapa Nino sembari menepuk pundak Reno. Reno hanya tersenyum dan mempersilahkan Nino untuk masuk. "Dek, gimana udah baikan?" Tanya Nino sembari duduk di samping Ririn yang sedang memainkan ponselnya. "Iya kak Ririn udah sehat kok, kan kemarin cuma pendarahan aja. Oh ya kak, hari ini jadi kan kita pergi ke rumah kakak" cerocos Ririn. "Kamu izin dulu sama Reno diizinkan apa enggak" saran Nino pada Ririn. "Mas..." Panggil Ririn pada Reno yang sedang sibuk memainkan ponselnya di sofa kamar milik mereka. "Eh iya, ada apa Rin?" Tanya Reno sembari mendekat ke arah Ririn. "Mas aku mau izin ke rumah kakak boleh ya. Sekali aku mau jalan-jalan" izin Ririn dengan mengeluarkan puppy eyes miliknya. "Sayang bukannya gak boleh tapi kamu baru aja keluar dari rumah sakit kemarin, masa sekarang kamu udah mau keluar jalan-jalan" ujar Reno lembut sembari mengelus rambut Ririn. "Tapi mas, aku bosen di rumah terus. Ya udah kamu ikut aja ke sama aku kita ke rumah kakak ya, jadi kamu gak khawatir sama keadaan aku" saran Ririn kekeh ingin pergi. "Rin..." Tegur Reno. "Mas... Please" mohon Ririn dengan wajah yang begitu imut. Nino yang melihat perdebatan antara sepasang suami istri itupun di buat tertawa karena menurutnya itu sangatlah menggemaskan. Melihat Reno yang luluh menuruti keinginan istrinya membuat Nino begitu tenang mengetahui bahwa Reno begitu menyayangi Ririn. Nino pun menghampiri di sejoli itu "gimana keputusannya?" Tanya Nino. "Gue akan bawa Ririn ke rumah Lo. Gue bawa mobil sendiri jadi nanti Lo gak usah repot-repot nganterin kita" jelas Reno sembari memasangkan switer pada tubuh Ririn. Nino melihat semua perlakuan Reno membuat dia yakin bahwa Ririn begitu berarti bagi Reno. "Sayang aku gendong ya, biar kamu gak capek" tawar Reno pada Ririn. "Eh.. gak usah mas. Mas aku masih bisa jalan sendiri" tolak Ririn halus. "Gendong atau gak jadi pergi?" Tanya Reno tegas. Ririn melirik Nino yang sedang senyum-senyum, ia sekarang merasa malu dengan perlakuan Reno yang begitu posesif. Mau tak mau Ririn langsung mengalungkan tangannya di leher milik Reno dan menenggelamkan wajahnya pada dada bidang milik Reno. Nino sekarang yakin jika Reno akan menjaga adiknya dengan baik setelah melihat betapa besar kepedulian Reno kepada Ririn.
Tak butuh waktu lama mereka bertiga sampai di kediaman Dewanto. "Assalamu'alaikum mi,Pi" teriak Nino. "Walaikum'sallam. Nino sudah berapa kali mami bilang jangan teriak-teriak" ucap Arini ibu Nino yang berjalan menuruni tangga. Nino hanya tersenyum kikuk mendengar Omelan dari ibunya. "Maaf mi. Mami aku punya kejutan buat mami" ujar Nino membuat Arini begitu penasaran. "Kamu punya kejutan apa son?" Tanya Arini. Nino pun menuju pintu untuk memanggil kedua sejoli yang baru saja sampai. Arini melihat kedatangan Reno dan seorang perempuan digendongnya. "Reno udah lama banget mami gak ketemu kamu" sapa Arini sembari mengelus pipi Reno. "Maaf mi, Reno lagi sibuk banget jadi gak bisa jenguk mami" sesal Reno. "Oh ya ini siapa? Kok digendong?" Tanya Arini pemasaran. "Ih mami bukannya di suruh duduk dulu Renonya malah langsung tanya-tanya kasihan kan tangan Reno pegel" cerocos Nino pada sang ibu. Arini tersenyum kikuk lalu mempersilahkan Reno untuk duduk. "Jadi ada yang mau jawab pertanyaan mami?" Tanya Arini pada keduanya laki-laki dihadapannya. "Mi dia istri aku" jawab Reno singkat. Arini tersenyum manis melihat Ririn yang sedari tadi diam. "Jadi ini ya istri kamu. Maaf ya mami pas itu gak bisa datang karena makhluk satu itu yang membuat mami gak hadir" jelas Arini sembari menunjuk Nino dengan dagunya. Reno terkekeh mendengar penuturan Arini. Memang Arini begitu rendah hati dan mudah berbaur dengan siapa saja tanpa membandingkan kasta. "Dan mami dia adalah adikku yang selama ini aku cari" ujar Nino menambahkan. Arini begitu bahagia mendengar ucapan Nino karena artinya ia akan memiliki dua anak yang sangat ia harapkan. "Sayang jadi kamu ini..." Ucapan Arini tak terselesaikan melainkan ia langsung memeluk Ririn. "Maaf Tante nama saya Ririn" ucap Ririn kikuk dalam pelukan Arini. "Jangan kamu panggil saya Tante, tapi mami. Sayang kamu itu anak mama, kamu adik perempuan dari Nino kan!" Jelas Arini. Ririn mengangguk patuh, Ririn begitu bahagia dengan apa yang sekarang terjadi. Ririn tak lagi merasa kehilangan orang tuanya, karena Arini begitu membuat Ririn seperti anak yang paling beruntung. Nino dan Reno melihat dua wanita dihadapannya berpelukan begitu lama layaknya seorang anak yang begitu merindukan ibunya. "Mami Ririn seneng" ucap Ririn lirih. Nino bersyukur karena Ririn bisa langsung menerima Arini menjadikan Arini seorang ibu. Nino tak menyangka jika Ririn akan begitu mudah menerima kehadiran Arini untuk menjadi ibunya saat ini.