
Ririn menatap wajah Chiko dengan dingin. Tamparan pertama tepat mengenai wajah mulus Chiko yang membuat semua orang di situ sangat amat terkejut melihat kemarahan Ririn. "Apa kau tidak memikirkan aku saat melakukannya? Apa kau tidak takut semua itu akan terjadi padaku? Mengapa kau hanya memikirkan emosimu tanpa melihat kebenarannya" teriak Ririn tepat di depan wajah Chiko. Chiko hanya diam dengan apa yang dilakukan Ririn karena ia merasa sangat pantas untuk itu. "Kau ingin tau kebenaran bukan aku akan memberi tahu tentang Emily. Dia mengakhiri hidupnya karena perasaan bersalah terhadap kakaknya, kakak Emily selalu menjadi korban kekerasan dari orang tuanya karena kesalahan Emily. Kau tau Emily begitu tersiksa dengan semua kejadian itu hingga akhirnya dia memilih jalan untuk mengakhiri hidupnya" jelas Ririn dengan nada yang begitu dingin. "Sekarang apa kau bangga sudah menghancurkan kehidupan orang lain yang bahkan sudah hancur sebelumnya?" Tanya Ririn mengintimidasi. "Maafkan aku kak" hanya itu jawaban yang bisa Chiko ucapkan. "Maaf katamu, apa kata maafmu mampu membuat keadaan menjadi seperti semula. Kau tau bahkan aku benar-benar merasa adikku yang aku sayangi selama ini telah mati" teriak Ririn menumpahkan segalanya emosinya. Hingga tamparan itu mendarat lagi tepat dipipi mulus Chiko. "Itu adalah tamparan untuk kekecewaan ku" ucap Ririn. Ririn pun menampar Chiko lagi "itu adalah tamparan untukmu yang tidak menghargai wanita" ucap Ririn dengan wajah datar. Tamparan yang ke sekian kalinya mendarat pada wajah Chiko "dan itu untuk rasa kecewa ayah dan juga mama" ujar Ririn berlalu kehadapan kakaknya. "Apa kau bahagia memisahkan aku dengan adikku, apa kau bahagia sekarang? Kau mengatakan bahwa adikku adalah seorang bajingan bukan? Sekarang aku bertanya padamu, apa bedanya kau dengan dia sekarang?" Tanya Ririn sedikit berteriak. Tak ada satu jawaban pun yang Ririn dapatkan dari kakaknya melainkan hanya wajah yang menatapnya sendu. "Apa kau pikir kau bukan bajingan. Kau melakukan hal yang sama pada Elsa, kau tak mencari tahu kebenarannya tapi kau menuduhnya sebagai wanita murahan. Lalu kau meninggalkan Dewi yang sudah berjuang demi hubungan kalian. Dia sakit melihat kau menggandeng wanita lain ke hadapannya, kau memutuskan ia seolah-olah dia hanyalah sampah yang harus kau buang. Lihat! Lihat dia saat ini bagaimana keterpurukan membuatnya seperti ini! Kau sama bajingannya dengan orang yang kau teriaki bajingan" jelas Ririn begitu terluka. "Sekarang aku tanya padamu bagaimana jika posisi Dewi atau Elsa itu adalah aku? Apa yang akan kau lakukan?" Tanya Ririn dengan wajah sendu. "Aku tak akan membiarkan itu terjadi" jawab Nino lalu memeluk Ririn begitu erat menumpahkan air mata yang sudah ia tahan sedari tadi. "Jangan menyentuhku bajingan!" Ucap Ririn penuh penekanan saat merasakan Nino memeluknya erat. "Aku tak ingin mempercayai ini tapi apa yang ku lihat memanglah benar jadi apa yang harus ku lakukan" ucap Ririn lirih sembari menundukkan kepalanya menumpahkan rasa sakit yang ia tahan baru saja dia mencecap rasa bahagia kini ia di berikan lagi rasa sakit dari seseorang yang paling ia percayai. Reno yang melihat semua itupun mendekati Ririn dan memeluknya erat untuk menenangkan istrinya. "Ada aku disini" ucap Reno lalu mengecup pucuk kepalanya. "Maafkan aku" ucap Nino tiba-tiba membuat emosi Ririn menjadi naik kembali. "Maaf katamu? Kau sudah membuat aku terpisah jauh dari adikku lalu kau menyakiti sahabatku yang jelas-jelas notabenenya adalah kekasihmu sendiri. Kau meninggalkan aku dan mama saat itu lalu kau membenci mama tanpa tahu kebenarannya dan menutup telingamu rapat-rapat tak mau percaya dengan kebenaran. Kau tidak ada saat mama membutuhkanmu berada di sisinya. Apa yang harus ku lakukan? Apa aku harus memohon padamu agar kau tidak membuatku sakit?" Ucap Ririn dengan emosi yang meluap-luap. Ririn pun menampar wajah Nino beberapa kali dengan sangat kuat. Setelah meluapkan emosinya pada Chiko dan Nino kini Ririn berhadapan dengan Elsa. "Apa alasanmu meninggalkan suamiku?" Tanya Ririn. "Chiko yang memaksaku" jawab Elsa takut-takut. "Apa benar jika kau memanfaatkan ku?" Kini Reno yang bertanya. "Maafkan aku. Aku mencintai Nino hingga tanpa aku sadari aku menyakitimu dengan memanfaatkan keberadaan mu untuk selalu bertemu dengan Nino. Maafkan aku" sesal Elsa yang membuat Reno merasa sangat amat emosi tapi emosinya ia tahan karena ia melihat Ririn yang begitu kacau. "Aku tak tau apakah kau akan memaafkan aku atau tidak. Selama ini aku tak pernah tau jika aku hidup di antara dua bajingan yang benar-benar membuatku muak. Aku seolah-oleh adalah orang bodoh yang dapat mereka bohongi selamanya. Aku memang marah padamu karena memanfaatkan suamiku tapi aku sadar bahwa itu semua adalah masalahmu dengan suamiku. Aku mohon maafkan semua kesalahan kakak dan juga adikku. Aku mohon" ucap Ririn menyesal. Mereka semua yang berada di sana pun begitu sesak melihat Ririn yang begitu kacau kecuali Dewi yang masih menangis dengan tatapan kosongnya. "Aku sudah tidak mempermasalahkan hal itu. Aku sudah bahagia saat segalanya terbuka dan kesalahpahaman ini sudah bisa diluruskan" ujar Elsa memeluk Ririn. Ririn melihat ke arah sahabatnya yang sedang terduduk dengan tatapan mata yang kosong. Ririn pun menghampiri Dewi dan luruh ke bawah untuk memohon maaf pada Dewi. "Aku gak pernah ngerti apa yang di rencanakan Tuhan Wi. Aku benar-benar merasa malu atas semuanya. Dewi aku mohon maafkan aku, maaf sudah membuat semuanya jadi begitu rumit. Maaf sudah membuat hati kamu hancur. Dewi aku mohon jangan seperti ini, aku butuh kamu saat ini Wi. Aku mohon Wi" ucap Ririn sembari menumpahkan air matanya. Dewi menatap Ririn dengan iba karena melihat Ririn yang begitu hancur, ia merasa bahwa Ririn baru saja merasakan bahagia saat ini tapi takdir lagi-lagi membuatnya begitu terluka. Dewi pun memeluk Ririn erat melupakan sejenak tentang Nino yang menyakitinya. "Dengar Rin, aku akan kuat. Bukan hanya Nino laki-laki di dunia ini lagi pula aku gak akan pernah menyesal sudah di tinggalkan oleh orang yang sudah menyakiti aku begitu dalam. Tapi saat ini aku mau kamu berhenti menangis dan jadilah orang yang kuat" ucap Dewi menguatkan Ririn. "Aku capek Wi, aku mau ikut mama sama ayah" adu Ririn membuat semua orang khawatir jika Ririn akan melakukan hal-hal aneh. "Enggak Rin, kamu jangan ngomong gitu. Kasihan anak kamu sekarang, setidaknya sekarang kamu bertahan demi mereka" saran Bima pada Ririn. Ririn menggelengkan kepalanya putus asa "untuk apa anak aku lahir di dunia ini jika hanya untuk merasakan pedihnya takdir di dunia. Untuk apa aku bertahan jika suamiku sendiri tidak lagi mempercayai aku dan saudaraku yang mengkhianati aku? Aku lelah" ucap Ririn lesu. "enggak sayang, aku percaya sama kamu. Aku tadi cuma cemburu" jelas Reno mengambil alih Ririn dari Dewi. Tiba-tiba Ririn merasa sakit pada perutnya "sakit" erang Ririn yang membuat semua orang menjadi khawatir.