DIARY RIRIN

DIARY RIRIN
33



Jam menunjukkan pukul 03.00 dini hari namun Ririn malah menangis di dalam kamar mandi. Ririn merasa lelah dengan mulanya dan juga Ririn begitu stress dengan masalahnya. Reno yang sayup-sayup mendengar suara perempuan menangis pun langsung bangun dan menatap sisi ranjangnya. Reno tak menemukan Ririn dan dapat Reno pastikan bahwa itu Ririn. Dengan sedikit khawatir Reno langsung menghampiri Ririn ke kamar mandi. Betapa terkejutnya melihat Ririn yang sedang meringkuk memeluk lututnya. "Ya Allah Ririn. Kenapa kamu duduk di sini?" Tanya Reno sedikit berteriak. "Mas aku capek harus bolak-balik ke kamar mandi terus" jawab Ririn sembari sesegukan. Reno pun segera membawa Ririn dalam pelukannya "kalau kamu mau ke kamar mandi bisa kan bangunin aku" ucap Reno lembut. "Mas lagi marah sama aku jadi aku gak berani bangunin mas" jawab Ririn lagi masih dengan tangisnya. Reno menghembuskan nafasnya kasar lalu hendak membopong tubuh Ririn namun terhenti ketika Ririn lagi-lagi memuntahkan isi perutnya. "Kita ke dokter ya" bujuk Reno. Ririn menggelengkan kepalanya tidak mau. "Aku cuma mau tidur" pinta Ririn dan tak butuh waktu lama akhirnya Ririn tertidur pulas. Reno memandangi setiap inci wajah istrinya yang baginya sangatlah cantik. Reno masih tidak habis pikir bagaimana mungkin Ririn mampu mengkhianatinya apalagi bersama dengan Chiko orang yang sudah sangat-sangat ia benci. Tiba-tiba terlintas di benaknya tentang ucapan Bima padanya.


"Ririn anak yang baik. Dia dulu gak pernah sebahagia ini. Dulu dia di benci ibunya lalu di tinggalkan ayahnya dan terakhir kehilangan Nino yang pergi entah kemana. Ririn gadis baik saat dia mencintai seseorang dia tidak akan semudah itu mengkhianati orang itu dan ya pernikahan bagi Ririn adalah sekali seumur hidup. Prinsipnya yang begitu menjunjung tinggi derajat sebuah pernikahan begitu dia pertahanan. Jadi jangan pernah salah paham dengan apa yang baru kamu lihat". 'kenapa aku gak kepikiran sampai situ. Aku harus membicarakan ini sama Ririn besok' tekad Reno dalam batinnya.


Pagi ini Reno mengambil cuti karena keadaan Ririn yang tak memungkinkan jika harus ia tinggal. "Ririn aku mau bicara" pinta Reno tegas. "Mau bicara soal apa mas?" Tanya Ririn takut-takut. "Jelaskan semua kejadian kemarin di taman. Bagaimana bisa kamu berpelukan dengan orang asing dan dimana Tuti?" Ucap Reno dengan nada dingin bahkan sangat dingin. "Mas kejadian kemarin gak seperti apa yang kamu lihat. Laki-laki itu.." ucapan Ririn terpotong saat mendengar ketukan pintu dari luar. Ririn pamit pada Reno untuk membuka pintu terlebih dahulu. "Eh iya Tuti, ada apa?" Tanya Ririn lembut setelah mengetahui siapa yang mengetuk pintu. "Itu Bu ada tamu buat ibu. Beliau sudah di bawah" jawab Tuti sopan. "Oh ya Tuti suruh tunggu sebentar ya nanti saya turun" ucap Ririn lembut. Tuti pun langsung berlalu pergi untuk ke bawah. Ririn masuk dan menatap Reno takut-takut. "Mas kata Tuti ada tamu di bawah buat aku, boleh aku temuin?" Izin Ririn pada Reno. "Aku ikut" ucap Reno masih dengan nada dinginnya.


Tiba-tiba ada seseorang yang memecah keheningan antara mereka bertiga. Saat Bima dan Dewi masuk mereka sedikit terkejut melihat seseorang yang begitu familiar. "Chiko.." ucap mereka berdua lirih. "Apa benar mereka kakak beradik?" Tanya Reno entah pada Bima atau Dewi. Jujur saja Reno sebenarnya sudah percaya dengan apa yang dikatakan oleh istrinya namun ia masih egois untuk tak percaya pada Ririn. Dewi dan Bima yang ditatap dengan tatapan dingin pun nyalinya menciut. Namun Bima sebagai laki-laki dia mengalah Dan menjawab pertanyaan Reno "iya Ren, mereka kakak adik". Reno merasa benar-benar emosi.


Kini Elsa dan Nino berada tepat di depan pintu masuk rumah adiknya. "Ini rumah adik kamu?" Tanya Elsa. Nino mengangguk mengiyakan, Nino tau bahwa Elsa belum tau tentang rumah ini. Pasalnya selama berpacaran dengan Reno, Elsa belum pernah sekalipun bertamu di rumah Reno. "Sa dengerin aku, apapun yang terjadi di dalam kamu harus tetep tenang. Kamu cukup ingat aku ada di sisi kamu semua yang terjadi di dalam gak akan merubah apapun tanpa terkecuali hubungan kita" pesan Nino sebelum membawa Elsa masuk. "No aku gak ngerti sama apa yang kamu ucapkan tapi memang apa salah aku sama adik kamu?" Tanya Elsa bingung melihat kekhawatiran Nino. "Aku cuma gak mau kamu terluka tapi aku juga gak bisa nutupin ini dari adik aku karena dia berhak tau tentang hubungan kita. Tapi aku benar-benar gak yakin dia bisa terima kamu tapi apapun dan bagaimanapun dia menolak kamu, aku akan tetap memperjuangkan kamu dihadapannya" jelas Nino khawatir. "Aku tau kamu khawatir. Kamu harus yakin kalau aku gak bersalah dia gak akan melarang kita kan? Tapi aku akan bicara sama dia kalau memang aku bersalah. Nino, memperjuangkan cinta memang gak akan semudah membalikkan telapak tangan. Kita harus berjuang sampai kita menemukan titik terang akan jalan cinta kita" ucap Elsa menenangkan Nino. 'karna kamu belum tau siapa yang akan kita temui Sa' batin Nino. Nino memang belum memberi tahu pada Elsa bahwa Ririn adalah adiknya. Nino khawatir akan keadaan Elsa, ia yakin jika Ririn tak akan semudah itu menerima kehadiran Elsa setelah apa yang dilakukan Elsa beberapa bulan yang lalu pada rumah tangganya. "Sekarang kita masuk" ajak Nino. Mereka berdua melangkah memasuki rumah Ririn dan Reno. Saat mereka sudah berada di dalam ternyata ada banyak orang di sana dan mereka dibuat terkejut oleh kedatangan Elsa dan Nino. "Elsa.." gumam Ririn, Reno, dan juga Chiko.