
"Ririn... Ririn.. Rin.. Ririn" teriak seseorang. Ririn pun segera turun untuk menemui orang tersebut.
"Ririn... Dek.. dek..." Teriak seseorang yang tidak lain adalah Nino.
"Iya kak, kenapa sih teriak-teriak?" Tanya Ririn heran.
"Sayang kamu gak papa kan?" Tanya Nino khawatir.
"Iya aku gak papa kok" jawab Ririn bingung.
"Kenapa mata kamu sembab gitu, Reno nyakitin kamu? Reno apain kamu?" Tanya Nino bertubi-tubi.
"Kak dengerin aku. Pertama mata aku sembab karena aku habis bangun tidur. Kedua mas Reno sama sekali enggak sakitin aku. Lagian ini rumah kak bukan hutan dan kenapa Kakak kesini teriak-teriak gitu kalo cuma mau tanya kabar aku" jelas Ririn.
Nino yang tadinya ingin memberitahu tentang Elsa pun mengurungkan niatnya melihat keadaan Ririn yang sepertinya sedang tidak stabil. Tanpa mereka sadari bi Ijah menghubungi Niken dan memberi tahu tentang Nino yang datang ke rumah dan memanggil Ririn dengan sebutan sayang.
...*****...
Niken menerima telepon dari asisten rumah tangganya yang memberikan kabar bahwa Nino dan Ririn sedang berduaan di rumah.
"Wi ayo kita ke rumah Tante" ajak Niken dengan wajah yang sudah tersulut emosi.
"Memangnya ada apa Tante?" Tanya Dewi penasaran dengan melihat Niken seperti sedang menahan emosinya.
"Kamu ikut saya aja" titah Niken dan menarik tangan Dewi untuk keluar dari sebuah pusat perbelanjaan.
Mau tak mau Dewi mengikuti langkah kaki Niken yang begitu tergesa-gesa. Sesampainya di rumah tanpa basa-basi Niken langsung menghampiri Ririn dan menampar Ririn. "Ririn berani-beraninya kamu selingkuh di belakang Reno dan di rumah ini" teriak Niken.
Ririn, Dewi, dan Nino begitu terkejut melihat Niken menampar wajah Ririn. "Maksud mama apa?" Tanya Ririn pelan dengan perasaan yang masih terkejut.
"Kamu masih tanya maksud saya apa. Kamu dan Nino berani-beraninya selingkuh di rumah ini. Kamu Nino tega ya kamu mengkhianati sahabat kamu sendiri. Ririn saya tidak menyangka kalau kamu adalah wanita murahan, kamu adalah wanita yang lebih rendah dari pelacur" ucap Niken menghina Ririn.
"Mama salah faham, aku sama Nino itu.." ucapan Ririn terhenti karena Niken tiba-tiba menyela.
"Cuma apa? Harga diri kamu sebagai seorang istri itu dimana, bisa ya kamu bersenang-senang saat suami kamu kerja di luar mencari nafkah dengan susah payah. Pantas aja kamu pulang lebih awal" ucap Niken.
Hati Ririn begitu sakit mendengar penghinaan yang keluar dari mulut ibu mertuanya. Tiba-tiba kepala Ririn terasa begitu sakit dan tak lama Ririn pingsan. Niken begitu tidak peduli saat yang lain begitu panik.
"Ririn biar aku yang bawa ke rumah sakit kamu di sini aja dan jelaskan ke ke wanita itu tentang apa yang terjadi sebenarnya" ucap Nino dingin. Dewi yang tak berani membantah Nino jika sedang dalam amarah pun mengangguk patuh.
Niken dengan keras kepala menolak penjelasan Dewi. "Wi kamu gak lihat bahkan di depan mata saya mereka masih semesra itu" ucap Niken dengan raut wajah mengejek.
"Tante bukannya aku mau ikut campur. Tapi jangan sampai Tante menyesal dengan keputusan tante yang hanya melihat tanpa mengetahui semua kebenarannya" jelas Dewi lembut. Niken merasa bahwa apa yang dikatakan Dewi itu ada benarnya juga. Dewi melihat bahwa amarah Niken sedikit reda dan melanjutkan ucapannya.
"Tante, yang saya tau Ririn adalah wanita baik, kuat, dan sabar yang saya kenal. Ririn bukan wanita yang tante tuduhkan. Nino dan Ririn adalah kakak kandung dari Ririn istri anak Tante".
Bak tersambar petir hati Niken begitu hancur ia baru ingat bahwa Nino adalah anak angkat dari keluarga Dewanto yang artinya ada benarnya jika Nino adalah anak dari Sandra yang tak lain adalah ibu dari Ririn.
Niken menangis sejadi-jadinya karena menyesali semua yang ia katakan "Dewi ayo kita ke rumah sakit dan kita jenguk Ririn" ajak Niken dengan tangis yang belum juga reda. Dewi pun merasa sedih melihat keadaan Niken dan Dewi mengangguk mengiyakan.
Dewi dan Niken sampai di depan ruangan IGD tempat Ririn di rawat dan melihat Nino yang begitu khawatir. "Nino gimana keadaan Ririn?" Tanya Niken khawatir.
Nino membalikkan badan dan melihat wajah Niken yang begitu sendu dengan tatapan dingin. "Ngapain Tante disini? Belum puas hina adik saya?" Tanya Nino dengan menahan emosinya.
"Nino Tante minta maaf, Tante memang ceroboh. Tante minta maaf ya No" ucap Niken dengan wajah sendu.
"Tante yang udah buat adik saya ada di dalam sana kalau sampai terjadi apa-apa saya gak akan maafin Tante. Ingat itu baik-baik" tegas Nino berlalu pergi namun Dewi menahannya.
"Kamu mau kemana?" Tanya Dewi hati-hati. Masih dengan tatapan dinginnya Nino melepas cekalan Dewi dari lengannya dan berlalu pergi begitu saja. Dewi pun hanya mampu menghela nafas melihat tingkah laku Nino jika sedang emosi.
Dewi mendekati Niken dan memenangkan Niken. "Tante kita tunggu aja di sini dan berdoa buat keselamatan Ririn ya" ucap Dewi.
"Tapi Wi apa yang terjadi sama Ririn sampai-sampai dokter lama banget di dalam?" Tanya Niken khawatir.
"Ririn selama ini gak punya keluhan apapun kok Tante, jadi Tante tenang dulu ya" jawab Dewi.
"Oh iya, Tante mau kabarin Reno dulu ya" ucap Niken. Setelah mengabari Reno tak lama kemudian dokter keluar dari ruangan.
"Dokter gimana keadaan menantu saya?" Tanya Niken.
"Bu maaf sebelumnya, Bu Ririn mengalami pendarahan hebat dan sekarang saya sarankan untuk segera mengeluarkan janin karena jika tidak ini dapat membahayakan ibunya. Dan saya perlu persetujuan dari suaminya. Kalau begitu saya permisi dan tolong segera beri pihak kami keputusan" ucap dokter itu dan berlalu pergi.
"Jadi Ririn sedang hamil?" Gumam Niken yang begitu terkejut dengan pernyataan dokter tadi. Tak lain halnya dengan Dewi yang sama-sama terkejut mendengar berita duka itu.
Dewi berusaha menghubungi Nino dan Niken berusaha menghubungi Reno. "Ayo Reno angkat telpon mama. Mama mohon" gerutu Niken.
Dewi yang tidak bisa menghubungi Nino pun jadi kesal sendiri. 'Ya Allah tolong selamatkan Ririn. Dia orang baik tolong kuatkan dia. Ririn kamu bertahan ya, aku yakin kamu kuat di sini kita semua khawatir sama keadaan kamu' batin Dewi sembari menatap ruangan IGD. Tanpa sadar air matanya menetes begitu deras hingga dadanya begitu sesak. Tak berbeda jauh dengan Niken yang sudah terduduk lemas mendengar bahwa ia harus kehilangan cucu pertamanya dan menantunya yang bertaruh nyawa di dalam sana.