DIARY RIRIN

DIARY RIRIN
26



Sesampainya di rumah Reno segera masuk ke dalam untuk melihat keadaan Ririn. Reno memasuki kamarnya bersama Ririn tapi tak ada Ririn di dalamnya. Samar-samar ia mendengar seperti suara seseorang yang sedang memuntahkan isi perutnya. "Sayang kamu di dalam?" Tanya Reno sembari mengetuk pintu. Tapi tak ada jawaban sama sekali dari dalam hingga membuat Reno begitu khawatir. "Sayang, kamu kenapa? Kamu sakit?" Tanya Reno lagi tapi lagi-lagi tidak ada jawaban dari Ririn. Reno pun mencoba membuka pintu kamar mandinya dan ternyata tidak di kunci. Reno langsung melihat Ririn yang sedang duduk lemas dengan wajah pucat sembari menangis. "Hey, kamu kenapa Rin?" Tanya Reno. Ririn menggelengkan kepalanya lemas, dia tidak sanggup bicara karena merasa begitu tidak bertenaga. Akhirnya Reno menggendong Ririn membawanya ke atas ranjang. "Ini minum dulu" titah Reno lembut, pria itu kini sedang sangat khawatir akan keadaan istrinya. Ririn yang begitu lemas pun hanya menerima perlakuan Reno tanpa membantah sekalipun. Baru saja hendak membaringkan tubuhnya Ririn langsung memuntahkan isi perutnya di pakaian yang Reno kenakan. Ririn begitu ketakutan hingga ia menangis. "Hay sayang ini gak papa kok jangan nangis. Udah kamu istirahat dulu, aku mau ganti baju ya" pamit Reno lalu mengecup kening Ririn. Ririn hanya mengangguk mengiyakan sembari sesegukan. "Mas Reno.." panggil Ririn melihat Reno keluar dari kamar mandi. "iya kenapa sayang? Ada yang sakit? Mau ke dokter?" Tanya Reno bertubi-tubi membuat Ririn sedikit terkekeh. "Aku gak mau ke dokter. Aku cuma minta tolong ambilkan baju aku di dalam lemari baju aku basah gak nyaman di pakai" pinta Ririn manja bahkan sangat manja. Reno merasa aneh melihat tingkah Ririn yang begitu manja dari sebelumnya. Reno mendekat ke arah Ririn dan memang benar baju Ririn begitu basah mungkin karena keringat yang keluar. Reno dengan cekatan memilih baju untuk Ririn. "Sini mas gantikan baju kamu" pinta Reno. Yang membuat pipi Ririn memanas mendengar ucapan Reno. "Ta..ta... Tapi mas" ucapan Ririn terhenti karena di potong oleh Reno begitu saja. "Lagian kita udah sah kan. Aku ini suami kamu yang sudah sangat sering melihat kamu" ucap Reno enteng yang mampu membuat pipi Ririn semakin merah. Tanpa disadari baju Ririn sudah berubah yang artinya sudah selesai diganti. "Sayang kalau sampai besok kamu masih mual kita ke dokter ya" pinta Reno khawatir beranda sendu. "Mas aku gak apa-apa kok. Lagian aku baru aja mual-mual hari ini" tolak Ririn halus. "Atau kamu jangan-jangan hamil?" Duga Reno. Ririn pun langsung merasa terluka karena harapan Reno ingin memiliki anak sangatlah besar sedangkan dirinya belum juga bisa memberikan suaminya anak.


"Maaf ibu Ririn bukan sedang mengandung melainkan hanya masuk angin biasa" ucapan dokter membuat Ririn takut jika harus melihat wajah kecewa suaminya. "Rin... Ririn" panggilan Reno membuat Ririn tersadar dari lamunannya. "Eh iya mas. Mas kayanya aku cuma kecapean aja deh jadi masuk angin" sangkal Ririn sedih. Melihat itu Reno tau ia sudah membuat Ririn terluka dia merutuki kebodohannya. "Ya udah tapi aku akan tetap bawa kamu kalau besok keadaan kamu masih kaya gini" kekeh Reno. Membuat Ririn hanya mampu menghela nafasnya berat.


Ririn dan Reno bersantai di balkon kamar mereka sembari mengobrol. "Sayang mama kemana? Kok aku gak lihat ada mama dan aku hubungi juga ponselnya gak aktif" Tanya Reno pada Ririn. "Mama pulang ke Bandung mas, katanya sih ada urusan buat beberapa bulan ke depan" jawab Ririn santai lalu melanjutkan memakan cemilannya. Reno yang mendengar jawaban Ririn hanya mengangguk-anggukan kepalanya. "Oh ya mas kamu kenapa pulang cepat?" Tanya Ririn menatap suaminya curiga. "Perasaan aku tadi gak enak makanya aku pulang. Eh pas sampai di rumah benar istriku lagi tersungkur lemas" jawab Reno. "Mas apa kamu mencintai aku?" Tanya Ririn penuh harap. Iya memang selama ini Ririn selalu bertanya tentang perasaan Reno padanya, tapi setiap dia bertanya Reno selalu mengalihkan pembicaraan. "Mas aku mau kamu jawab jujur. Mas sampai kapan aku harus menjalani rumah tangga yang bahkan suami aku aja terpaksa dan hanya merasa kasihan sama aku" jelas Ririn mengutarakan isi hatinya. "Mas aku cuma gak mau menjadi beban di hidup kamu. Aku bisa aja mempertahankan rumah tangga kita hanya dengan cinta yang aku punya tapi aku juga gak mau egois dengan mengorbankan perasaan kamu" ujar Ririn menumpahkan segala rasa yang mengganjal di hatinya. Reno diam mendengarkan apa yang dikatakan oleh Ririn. Reno memang laki-laki pengecut yang tidak pernah bisa mengutarakan isi hatinya. Ririn yang kesal pun akhirnya memilih untuk masuk ke dalam kamarnya namun belum sempat melangkah Reno memeluknya dari belakang dengan erat. "Maaf selama ini gak jujur sama kamu. Aku sebenarnya sangat-sangat mencintai kamu hanya saja aku takut menyakiti kamu setelah kamu tau aku mencintai kamu. Sayang aku gak pernah sepanik ini sebelumnya hanya karena aku gak dengar kabar kamu dan suara kamu. Jadi aku mohon temani aku sampai aku selesai menjalani kehidupan ini" mohon Reno pada Ririn dan Ririn merasakan pundaknya basah lalu membalikkan tubuhnya menatap wajah Reno. Ririn sempat terkejut melihat Reno yang menangis, ia tak pernah sekalipun melihat Reno yang menangis dan begitu rapuh. Sampai akhirnya Ririn memberanikan diri untuk mengusap pipi Reno halus. "Mas apa pernah aku berniat meninggalkan kamu? Mas aku akan selalu berusaha menjadi istri yang baik untuk kamu berusaha selalu ada kapanpun kamu butuh. Mas maafkan Ririn yang belum bisa membuat mas percaya sama Ririn sepenuhnya.maaf" ucap Ririn sembari menangis. "Sayang dengan adanya kamu di pagi, siang, dan malam harinya sudah membuat aku begitu bahagia jadi apa salah kamu. Aku mempercayai kamu sepenuhnya mulai hari ini jangan ragukan cintaku dan juga kepercayaan ku" ucap Reno mengecup kening Ririn lama. "Mas aku minta maaf belum bisa ngasih kamu keturunan" ucap Ririn sendu. "Kita hanya belum di kasih kepercayaan aja sama Allah. Kalau sudah waktunya pasti akan ada kehidupan di dalam sini" ujar Reno sembari mengelus perut rata milik Ririn. "Mas kalau seandainya aku gak bisa punya anak apa kamu akan menikah lagi?" Tanya Ririn khawatir. "Denger Rin, apapun kamu dan bagaimanapun keadaan kamu aku akan selalu sayang sama kamu bahkan kalaupun kamu gak bisa kasih aku keturunan. Aku gak akan menikah lagi dan kalaupun kamu gak bisa punya anak lebih baik bukan kalau kita mengadopsi anak aja" jelas Reno tegas. Ririn tersenyum mendengar penuturan Reno yang begitu menghangatkan hatinya.