DIARY RIRIN

DIARY RIRIN
36



Kini mereka semua sedang berada di depan pintu UGD. Wajah mereka semua menyiratkan kekhawatiran pada Ririn yang berjuang untuk anak dan dirinya sendiri. Reno mengacak-acak rambutnya gusar. 'Ya Allah selamatkan anak dan istriku' batin Reno hingga tak terasa air matanya jatuh karena begitu mengkhawatirkan keadaan Ririn. "Kenapa? Kenapa kalian membuat kegaduhan seperti ini? Kalian tau sedari dulu Ririn gak pernah bahagia. Dia terluka! Apa kalian sadar betapa beratnya beban yang Ririn pikul selama ini? Ririn baru saja mencecap sedikit kebahagiaan karena Reno dan kalian datang dengan entengnya dan membuat beban lagi untuk dia" ucap Dewi yang memecahkan keheningan. "Kalian berdua sebagai saudaranya, apa kalian membutakan mata kalian hingga dengan egoisnya kalian datang membawa semua bebannya" lanjut Dewi mengutarakan isi hatinya. Ia masih tak habis pikir mengapa semua orang rasanya ingin sekali membuat Ririn terluka. Dirinya pun sadar jika dulu dia menyakiti hati Ririn tapi rasa penyesalan sudah membuatnya sadar akan kesalahannya. Dan yang membuat Dewi tak percaya adalah saudara Ririn sendiri yang membuat Ririn kecewa. "Aku gak tau apa jadinya jika Ririn harus kehilangan anaknya lagi mungkin kali ini Ririn benar-benar akan menyerah dari hidupnya" ucap Bima yang membuat mereka semua terkejut. "Apa maksud kamu Bim?" Tanya Chiko, Nino, dan juga Reno secara bersamaan. Bima pun menghembuskan nafasnya perlahan. "Ririn pernah melakukan percobaan bunuh diri saat kehilangan kalian berdua. Ririn begitu rapuh saat itu, Ririn merasa bahwa takdirnya menyuruhnya untuk berhenti menjalani hidup. Hingga ada satu harapan yang membuat ia bangkit yaitu ibunya yang berjanji akan menemukan kalian. Tapi nihil ibunya malah semakin membenci Ririn. Disaat itulah Ririn mencoba untuk bangkit dan mencari kalian" jelas Bima yang membuat semua orang terkejut kecuali Dewi karena mengetahui segalanya. "Saat itu Ririn bahagia karena Reno diam-diam mulai memperhatikannya dan di situ aku melihat adanya kehidupan di mata Ririn. Tak berselang lama kamu datang No, kedatangan kamu membuat Ririn begitu bahagia dan setelahnya dia bertekad mencari kamu Chiko. Harapan Ririn yang besar dalam kehidupannya sekarang kalian hancurkan dengan seenaknya" jelas Dewi menimpali penjelasan Bima. Penyesalan yang sangat amat dirasakan oleh mereka semua. Mereka beranggapan bahwa Ririn adalah wanita yang kuat tanpa mereka sadari ternyata Ririn hanyalah wanita yang begitu rapuh seperti tak bernyawa. Semua orang hanya bisa pasrah dan menangisi keadaan Ririn yang saat ini tengah berjuang.


Setelah 1 jam lebih dokter keluar dengan raut wajah begitu serius. "Maaf apa di sini ada suami pasien bernama Ririn Indah Pratiwi?" Tanya dokter tersebut. "Saya suami dok. Bagaimana keadaan istri dan anak saya dok?" Tanya Reno khawatir. "Mari ikut saya kedalam sebentar pak" ajak dokter tersebut. Lalu Reno langsung masuk dan duduk di depan dokter untuk mendengarkan penjelasan dokter tersebut. "Begini pak. Istri bapak mengalami sedikit kontraksi ringan jadi itu tak berbahaya pada janin. Tapi janin istri bapak bisa di katakan lemah karena stress yang di alami oleh istri bapak. Saya harap untuk kedepannya bapak bisa lebih berhati-hati lagi dalam menjaga kesehatan istri dan anak bapak. Pasien akan di rawat beberapa hari di sini agar mendapatkan pemantauan langsung dari pihak kami. Jadi kami akan memindahkan pasien" jelas dokter tersebut. "Lakukan apapun yang terbaik untuk istri saya Dok. Tolong pindahkan istri saya ke ruang inap VVIP dok" pinta Reno memohon. "Baik pak kami akan segera melakukan yang terbaik dan pasien sedang tertidur karena saya baru saja memberikan obat penenang untuk 6 Jam kedepan" jelas dokter tersebut. Reno mengangguk setelah itu keluar dari ruangan tersebut dengan perasaan yang sedikit lega. Saat Reno keluar Dewi langsung menghampiri Reno dan bertanya padanya. "Pak Reno gimana keadaan Ririn?" Tanya Dewi khawatir. "Kalian bisa lihat saat dia sudah dipindahkan" jawab Reno dingin. Dewi menghembuskan nafasnya berat. Mengapa harus ada situasi serumit ini dalam hidup sahabatnya. Tak lama ruangan UGD tersebut terbuka dan menampakkan tubuh Ririn yang begitu lemah dengan alat bantu pernafasan. Mereka semua mengikuti dokter semua perawat yang memindahkan Ririn. Sesampainya di ruangan tersebut Nino dan Chiko pamit untuk bicara berdua.


Kini Nino dan Chiko berada di luar rumah sakit untuk berbicara dari hati ke hati. "Maaf kak" ucap Chiko menyesal. "Kakak gak pernah berfikir semua akan berakhir seperti ini. Bukan hanya kamu yang salah tapi kakak juga. Kakak minta maaf" ucap Nino. Dia juga menyesal sudah memisahkan Ririn dan Chiko yang sejatinya saling melengkapi. "Kamu tau, dulu saat kamu pergi Ririn begitu terpukul sampai kakak muak dan akhirnya kakak meninggalkan Ririn dan mama. Waktu yang begitu berharga untuk mendampingi Ririn dan juga mama kakak buang begitu saja" cerita Nino pada adiknya. "Selama ini aku merindukan kakak dan kak Ririn hanya dalam diam. Aku tau semua itu kesalahan aku dan memang seharusnya aku gak pernah melakukannya. Kakak tau kadang aku pengen banget telepon kakak cuma buat denger suara Kakak tapi setiap kali aku mau melakukanya aku ingat bahwa kakak lagi marah sama aku" jelas Chiko mencurahkan isi hatinya. "Kakak, apa aku boleh meluk kakak?" Tanya Chiko takut-takut. Tanpa menjawab Nino langsung memeluk adiknya begitu erat. Sebenarnya Nino juga sangat merindukan adiknya tapi egonya membuat dia membutakan mata dan menulikan telinganya. Tangis keduanya pecah melepaskan rindu dan mencoba berdamai dengan masa lalu masing-masing. Hanya untaian kata maaf yang di ucapkan keduanya. Mereka kini menyadari apa yang sudah mereka lakukan adalah salah. "Aku berharap setelah kakak sadar dia gak akan marah lagi" ucap Chiko sembari melepaskan pelukannya dari Nino. "Mungkin akan sulit mendapatkan maaf dari kakak kamu, kita sudah benar-benar membuat dia kecewa" jelas Nino. Nino yakin sekali jika Ririn akan sangat sulit untuk kembali mempercayai mereka. Nino kini merasa gagal sebagai seorang kakak karena sudah membuat kecewa dan juga kecewa kedua adiknya. "Ayo kita masuk" ajak Nino. Baru hendak melangkah tiba-tiba ada Dewi yang sedang berdiri menatap Nino. "Maaf sebelumnya, apa kits bisa bicara?" Tanya Dewi dengan tatapan dingin. Nino melihat tatapan mata Dewi di sana ia menemukan adanya rasa benci terhadap dirinya. "Oke. Chiko kamu masuk duluan nanti kakak nyusul" titah Nino. Chiko pun hanya mengangguk patuh dan berlalu pergi meninggalkan dua orang yang kini saling pandang. "Silahkan duduk" ucap Nino sembari mendudukkan dirinya ke kursi yang ada di sana. 'apa langkah aku benar dalam mengambil keputusan' batin Nino ragu. Dewi menatap Nino dengan tatapan tak terbaca seolah-olah sudah tidak ada lagi cinta di dalamnya.