DIARY RIRIN

DIARY RIRIN
13



Entah mengapa aku merasa kini bunga sedang mekar dan musim semi sedang datang...


Aku telah menemukan dia yang menjadi pelindungku dan menemukan seseorang yang mampu menenangkan hatiku...


Kedua pria yang kini menjadi bagian dari hidupku bagaikan bunga yang berbeda namun sama-sama sedang menebarkan wanginya...


Ririn menuliskan kata demi kata yang ia rangkai dalam diary miliknya. Saat sedang menatap keluar Ririn melihat Reno yang sedang melamun menatap kolam. Ririn menghampiri Reno dan memeluk Reno dari belakang.


"Mas Reno kenapa ngelamun?" Tanya Ririn.


Reno sedikit terkejut merasakan ada pelukan dari belakang tubuhnya "siapa yang ngelamun Rin, aku cuma lagi mikir gimana rasanya jadi seorang ayah" jawab Reno berbohong.


Sebenarnya Reno sedang memikirkan bagaimana jika Elsa pulang siapa yang akan ia pilih. Reno menatap Ririn yang sedang tersenyum sembari bermain air di kolam 'Rin entah kenapa kamu bisa membuat hati aku seluluh ini. Aku gak tau kapan aku merasakan hal senyaman ini saat bersama kamu. Rin aku minta maaf belum bisa menjadi suami yang baik untuk kamu' batin Reno.


"Mas Reno tau aku juga pengen merasakan jadi seorang ibu dari anak-anak kamu. Aku bersyukur mas, walau awalnya mas menikahi aku karena keinginan mama sekarang mas mau menerima aku menjadi istri mas sepenuhnya bahkan mengharapkan seorang anak dari pernikahan kita" jelas Ririn menatap Reno dengan bahagia.


Reno begitu merasa menjadi seorang pengecut yang tak bisa memilih diantara dua wanita "Rin seandainya aku berbuat kesalahan sama kamu entah itu dulu maupun yang akan datang aku minta maaf ya. Aku menyayangi kamu sebagai istri aku dan aku akan berusaha buat selalu memperbaiki diri untuk jadi suami yang baik" jelas Reno.


Ririn merasa bahwa Reno sedang menyembunyikan sesuatu darinya namun tak ingin berburuk sangka Ririn segera menghilangkan pikiran buruknya itu. "Mas, aku mau ngomong sesuatu sama kamu" ucap Ririn mengalihkan pembicaraan.


"Mau ngomong apa Rin?" Tanya Reno sedikit penasaran.


"Mas, sebenarnya aku masih punya kakak laki-laki. Dulu dia ninggalin aku sama mama untuk berusaha merubah kehidupannya. Selama 4 tahun dia menghilang dan sekarang aku udah ketemu sama dia. Aku berniat buat kenalin kamu ke dia mas" jelas Ririn sedikit takut.


"Jadi kamu masih punya keluarga?" Tanya Reno, Ririn menganggukkan kepalanya.


"Aku mau aja ketemu sama kakak kamu tapi nanti ya pas aku ada waktu luang" ucap Reno, Ririn hanya mampu menganggukkan kepalanya tanpa bisa berkata-kata lagi.


Sebenarnya Ririn sedikit sedih karena Reno masih belum mau bertemu dengan Nino kakaknya. Ririn pamit untuk pergi ke kamarnya "mas aku masuk duluan ya" pamit Ririn. Reno mengangguk, dan kembali menatap kolam sembari memikirkan apa yang akan terjadi pada rumah tangganya kelak.


Di sisi lain Ririn melihat Reno dari balkon kamarnya bersama Reno. 'aku gak tau mas apa yang sebenarnya terjadi, aku juga gak tau kenapa sekarang kita berjarak lagi setelah dua minggu kita bisa sedekat ini' batin Ririn. Ririn sekarang menuliskan isi hatinya dalam bukunya.


Aku juga merasa bahwa kita seperti minyak dan air yang selalu dekat namun tak pernah bisa menyatu...


Aku masih berharap bahwa masih ada kesempatan bagiku untuk menggapai cintamu dan menempati ruang di hatimu. Aku masih mampu untuk saat ini tapi mampukah aku sampai akhir nanti...


Ya Allah aku memiliki hak atas suamiku namun mengapa aku seperti orang asing yang tak memiliki hak apapun untuk ku minta..


Ririn menatap lagi ke arah Reno. Ririn melihat sepertinya Reno sedang menatap sebuah foto sembari tersenyum. Hati Ririn merasa tersayat saat dalam hatinya ia merasa Reno sedang menatap wanita dimasa lalunya. Entah mengapa Ririn begitu yakin jika foto yang sedang ditatap Reno adalah foto yang sama yang pernah ditemukan Ririn di ruang kerja milik Reno. Satu tetes air mata Ririn kembali mengalir karena rasa sakitnya yang ada dihatinya.


...*******...


Kini Dewi bersama Bima sedang berada di cafe. Dewi ingin meminta maaf kepada Bima karena membuat Bima kehilangan Ririn. "Bim... Bim aku mau minta maaf, karena aku kamu kehilangan Ririn. Bim sekarang Nino udah kembali lagi kedalam hidup aku..." Ucap Dewi terpotong.


"Aku udah tau Wi, aku udah lihat semuanya. Wi ini bukan salah kamu, ini salah aku yang terlalu gegabah dan melepaskan genggaman tangannya yang begitu tulus. Wi aku udah gak mau melihat ke arah belakang lagi, aku juga akan seperti kamu yang melanjutkan hidup tanpa bayang-bayang masa lalu" jelas Bima sembari tersenyum pada Dewi.


Dewi begitu terharu dengan ucapan Bima yang begitu tegar. "Oh ya Wi aku mau pergi ke LA sore ini, aku mau melanjutkan hidupku di sana. Oh ya aku tetep bakal balik ke sini lagi buat ketemu kalian lagi." Lanjut Bima.


Dewi terkejut namun ia tak bisa menghalangi Bima untuk menentukan kehidupannya. "Oke.. Bim kamu udah kasih tau Ririn?" Tanya Dewi.


"Gak Wi, dia lagi bahagia jangan buat dia sedih saat ini. Ya udah Wi aku pergi duluan ya" jawab Bima sembari berpamitan kepada Dewi.


Saat sedang melangkah keluar tiba-tiba Dewi memanggil Bima "Bima tunggu". Bima membalikkan tubuhnya melihat Dewi yang berlari ke arahnya dan tiba-tiba memeluknya erat. Dewi menangis sejadi-jadinya dan menjadi pusat perhatian para pengunjung cafe. Bima yang sadar tatapan heran dari para pengunjung langsung membawa Dewi keluar tanpa melepaskan pelukannya.


"Wi kamu kenapa nangis?" Tanya Bima.


"Bim aku gak mau jauh dari kamu. Aku, kamu, sama Ririn kita udah sahabatan Bim dan sekarang kita harus berpisah dan memilih jalan masing-masing. Bim aku gak setegar itu" keluh Dewi.


"Wi seharusnya kamu sadar dari awal kita berteman. Kamu harus sadar kalau suatu saat akan tiba saatnya kita berpisah dan memilih jalan hidup kita masing-masing. Dan ini sudah saatnya Wi kita berpisah, sekarang Ririn sudah mengambil jalannya untuk mengabadikan hidupnya untuk suaminya dan aku memilih jalanku untuk pergi melanjutkan hidupku, dan kamu harus memilih jalan hidup kamu sendiri" jelas Bima mengingatkan Dewi. Bima langsung pergi tanpa menoleh ke arah Dewi lagi. Dewi hanya mampu menangis tanpa bisa berbuat apa-apa, Dewi juga tidak bisa jika harus menghalangi Bima untuk pergi. Bagi Dewi bukan ini yang harusnya menjadi akhir persahabatannya. Tapi mungkin persahabatannya memang tak seharusnya berlanjut, karena jika terus berlanjut maka akan semakin sering salah seorang di antara mereka akan selalu terluka dan tetap diam ditempat tanpa bisa melanjutkan hidup.