DEWI NAGA TIMUR II "The Enternal Love"

DEWI NAGA TIMUR II "The Enternal Love"
Akhir



Matahari mulai semakin menaik ke atas. Tanah tandus terlihat kosong tanpa ada apapun pada lahannya. Tanpa memperdulikan tubuhnya yang mulai terpapar matahari, seseorang dengan hanfunya yang berwarna ungu tua tetap melangkahkan kakinya. Tersampir sebuah pedang yang berukuran 1 meter setengah pada punggungnya. Ia terus berjalan menelusuri jalanan tanah yang tandus.


"Aku tidak akan membiarkan Pedang sebagus itu dilenyapkan begitu saja", ia menyunggingkan senyuman kecil seraya menatap kearah depan. Jauh dari tempat ia berdiri, terlihat tumpukan tanah yang menjulang tinggi atau biasa orang menyebutnya adalah gunung. Awan putih menyelimuti area puncak gunung tersebut, sehingga ia hanya bisa melihat gunung tersebut dengan samar-samar.


-


-


-


Angin mulai berhembusan dengan kencang, tak membuat Nang'er sedikit terganggu tatkala ia terbang. Begitupun yang lainnya yang kini tengah menunggangi pada tubuh Nang'er.


Mereka semua tidak bisa bergerak lamban seperti yang mereka lakukan. Karena kini mereka harus mengejar waktu yang sangat singkat. Jadi tidak ada pilihan selain mereka harus bergerak secepat-cepatnya.


Matahari terus bergerak, hingga kini ia semakin menghilang. Nang'er menghembuskan nafasnya dengan berat, ia sudah terbang seharian penuh yang membuat energinya terkuras. Tapi tidak apa, karena sekarang kini ia bisa melihat tempat yang mereka tuju. Sebuah gunung menjulang tinggi kini tidak jauh dari pandangannya.


Tidak ingin membuang waktu yang lama. Nang'er terus bergerak menuju kearah Gunung Datong. Ia kini terbang dibawah kaki bukit tersebut dan hendak meranjak terbang keatas. Tetapi dengan tiba-tiba ratusan anak panah datang menyerang dari atas salah satu bukit. Sehingga Nang'er membelok-belokkan tubuhnya, untuk menghindari serangan panah yang datang.


Xu Lian menggeram kesal. Sedikit lagi ia sampai pada tempat tujuannya dan kini ia harus bertemu dengan penghalang. Matanya menyipit melihat kearah ratusan para prajurit yang berjajar ditempat terbuka diatas salah satu bukit Gunung Datong. Ia mengerutkan keningnya ketika ia tidak sengaja melihat bendera yang dibawa oleh pasukan tersebut, bendera yang menjadi identitas Kerajaan San.


"Apa-apaan ini? bukankah mereka dari Kerajaan San?" seru Xu Lian.


Zhang Xiuhuan pun sama terkejutnya seperti Xu Lian. Ia menganggukan kepalanya menyetujui Xu Lian.


"Sebaiknya kita harus turun tangan langsung untuk menghadapi mereka. Karena aku tidak yakin jika Nang'er masih mampu untuk terbang dan menyerang mereka" saran Zhang Xiuhuan. Tidak lama kemudian Xu Lian meminta Nang'er untuk mendaratkan tubuhnya, ditempat yang tidak jauh dari para prajurit Kerajaan San.


Wu Zheng yang melihat Naga yang menjadi incarannya, hendak mendarat. Ia memerintahkan seluruh pasukannya untuk menghentikan serangannya. Senyumannya tersungging tatkala pandangannya menangkap sosok Xu Lian dan Zhang Xiuhuan turun diatas Naga tadi, ditambah seorang bocah. Matanya menatap tajam kearah pedang yang tersampir dipunggung Zhang Xiuhuan.


"Akhirnya kita bertemu juga" ucap Wu Zheng.


Xu Lian mengerutkan keningnya. Ia menatap wajah Wu Zheng yang tidak asing baginya. "Siapa kau? aku rasa tidak pernah mengenalmu?" saut Xu Lian.


Wu Zheng tersenyum kecil menanggapi seruan Xu Lian. "Memang kau tidak pernah mengenalku. Tapi kau pernah bertemu dengan putraku!" seru Wu Zheng penuh tekanan diakhir kalimat.


Tiba-tiba terlintas nama 'Wu Zetian' dalam benak Xu Lian. Ya memang wajah mereka berdua sangat mirip, pantas saja Xu Lian merasa jika ia bertemu dengan pria paruh baya dihadapannya ini.


"Sebenarnya apa yang kalian inginkan dengan menghadang kami disini?", Zhang Xiuhuan melipat kedua tangannya didepan dadanya, seraya menunggu jawaban dari Wu Zheng.


"Kami ingin kalian berdua menebus semua perbuatan kalian yang telah membunuh putraku!" tutur Wu Zheng dengan ambisi yang besar.


"Menebus? dengan cara apa?" Zhang Xiuhuan tidak habis pikir. Sebesar inikah keinginan mereka untuk membalaskan dendam putranya, sehingga menghancurkan Kerajaan.


"Serahkan Naga kalian dan juga serahkan Pedang Goujian itu padaku!" ucap Wu Zheng.


Xu Lian terkekeh mendengar permintaan bodoh Wu Zheng. Ia merasa lucu kepada Wu Zheng yang mengatasnamakan putranya untuk mendapatkan apa yang ia inginkan.


"Hmm jadi sifat pria aneh itu (Wu Zetian) berasal dari ayahnya sendiri", Xu Lian menutup mulutnya ketika ia hendak kembali tertawa.


"Kau berani sekali menentertawakanku", Wu Zheng menatap geram kearah Xu Lian. "Aku sudah memberikan kesempatan terakhir untuk kalian, hargai nyawa kalian apalagi dengan nyawa putramu itu" seru Wu Zheng mengancam.


"Bagaimana jika aku berkata AKU TIDAK AKAN MEMBERIKAN APA YANG KAU INGINKAN!", ucap Xu Lian penuh tekanan. Sedangkan Zhang Bing hanya mengangkat kedua bahunya. Menurutnya semua orang akan mati jadi untuk apa ia takut dengan kematian. Hanya saja dari cara semua orang mati yang sedikit menyeramkan membuat rasa takut datang.


Wu Zheng mengepalkan kedua tangannya menahan amarahnya yang semakin memuncak. "HABISI MEREKA BERTIGA!!" teriak Wu Zheng.


Semua pasukan yang ia bawa bersorak sebelum mereka mulai bergerak menyerang kearah Xu Lian dan lainnya.


"Kau tetap disini bersama Nang'er. Gunakan kekuatanmu jika ada musuh yang bergerak menyerang kearahmu!", Zhang Bing menganggukan kepalanya, mengiyakan ucapan ayahnya.


Xu Lian begitupun Zhang Xiuhuan ikut bergerak maju seperti para prajurit Kerajaan San. Xu Lian mengepalkan kedua tangannya siapa untuk bertempur.


BANG!


Xu Lian menghantamkan tinjuan kearah salah satu prajurit yang berada dibarisan paling depan. Tubuh prajurit tersebut terpental hingga menabrak prajurit yang lainnya. Ia kembali memasang kuda-kuda sebelum pulahan prajurit yang lain mengurungnya.


Treng... Treng...


Disisi lain, Zhang Xiuhuan mencoba menyeimbangkan permainan pedangnya. Kini ia harus mengatur serangan pedangnya yang harus melawan puluhan prajurit yang datang secara bertahap.


Pedang yang diciptakan oleh Zhang Xiuhuan dari tenaga dalamnya sendiri. Dengan perlahan dilapisi api yang berwarna kuning kebiru-biruan. Ia menebaskan pedangnya pada udara kosong, lalu terbentuk garis cahaya api yang menyerang kearah para pendekar Kerajaan San. Serangan tersebut menciptakan luka bakar yang cukup parah.


Wu Zheng menggeram kesal melihat satu persatu pasukannya gugur. Mereka sangat kuat rupanya, pikirnya.


Zhang Bing melapisi kedua tangan dan kakinya. Agar ia bisa lebih mudah menghadapi serangan yang datang dengan tiba-tiba. Benar saja apa yang pikirkan, pasukan yang akan menyerang Xu Lian kini terbagi menjadi dua. Salah satu kubu dari mereka mulai bergerak kearah Zhang Xiuhuan dan Nang'er.


Nang'er yang melihat pergerakan pasukan tersebut hanya menghembuskan nafasnya dengan kasar. Kini ia hanya ingin istirahat, apalagi seharian ini ia terus terbang dengan kecepatan tinggi. Matanya menatap kearah Zhang Bing, yang mengangguk kearahnya dengan tersenyum. Zhang Bing tahu apa yang diinginkan oleh Nang'er untuk saat ini. Dengan semangat Zhang Bing menyanggupi jika ia sendiri bisa menghadapi para prajurit Kerajaan San yang datang menyerang.


Salah satu prajurit yang datang menyerang kearah Zhang Bing, melemparkan sebuah tombak yang ia genggam kearah Zhang Bing. Dengan cekatan Zhang Bing menangkap tombak tersebut yang bergerak cepat kearahnya. Setelah ia berhasil menangkap tombak tersebut, ia lempar balik tombak tersebut kearah pemilik tombak tadi.


Wushh...


Tombak tersebut bergerak lebih cepat, bahkan pemilik tombak tersebut tidak melihat pergerakan tombak miliknya. Tanpa perlawanan tombak tersebut menembus tubuh pemiliknya tepat dibagian dadanya. Semua rekan pemilik tombak tersebut membulatkan matanya, mereka tidak menyangka bocah seumuran Zhang Bing bisa melepaskan serangan yang fatal.


"Kita semua harus hati-hati, bocah ini memiliki kekuatan yang tidak bisa diremehkan!" ujar salah seorang prajurit Kerajaan San.


Zhang Bing hanya terdiam melihat para prajurit yang datang menyerangnya, memecah menjadi dua kelompok dan berlari kearah berlawanan. Zhang Bing hanya menatap datar para prajurit yang kini mulai mengelilnginya.


Semua prajurit yang mengepung Zhang Bing berniat untuk menyerang secara bersamaan.


BANG!


Zhang Bing menghentakan kakinya pada tanah. Hingga menciptakan gelombang yang membuat tubuh para prajurit Kerajaan San terdorong kebelakang. Secara bersamaan dengan hilangnya keseimbangan para prajurit, Zhang Bing mulai melancarkan aksinya. Ia bergerak kearah salah satu prajurit dan melepaskan sebuah tinjuan tepat di perutnya. Salah satu prajurit yang lain mencoba menyerang Zhang Bing dari arah belakang. Tetapi kalah cepat oleh Zhang Bing yang langsung menendangnya hingga terdorong dan menabrak salah satu rekannya.


Zhang Bing menundukan tubuhnya tatkala sebuah pedang bergerak kearahnya. Setelah itu, ia dengan cepat melompat keatas dan menendang wajah si penyerang tadi.


Nang'er hanya diam melihat aksi Zhang Bing seraya ia memulihkan tenaganya yang telah terkuras. Perasaannya sedikit tidak enak, karena ia juga merasakan sesuatu yang aneh diatas gunung.


Matahari mulai tak terlihat. Tetapi tak sedikit pun mengubah alur pertempuran diatas bukit Gunung Datong. Para prajuruit Kerajaan San satu persatu mulai berjatuhan, menapakan jika Xu Lian dan yang lainnya lebih unggul. Wu Zheng yang melihat para pasukannya yang semakin menipis, ia memilih untuk turun tangan langsung menghadapi Xu Lian.


Dengan cepat ia bergerak ke arah Xu Lian yang kini tengah menghadapi prajurit Kerajaan San yang lain.


BANG!


Tubuh Xu Lian terdorong beberapa meter kebelakang tatkala ia menahan serangan tapak Wu Zheng yang secara tiba-tiba. Ia menggerutu kesal melihat Wu Zheng tang masuk dalam pertempuran dengan tiba-tiba tanpa banyak berpikir, Xu Lian kembali bergerak menyerang kearah Wu Zheng, pertempuran pun tak terelakan antara mereka berdua.


Xu lian menyerang kearah Wu Zheng dengan beberapa pukulan yang berhasil ditahan oleh Wu Zheng. Beberapa kali tubuh Xu Lian terdorong kebelakang karena menahan serangan Wu Zheng yang cukup kuat.


Wu Zheng yang tak ingin membuang waktu cukup lama, ia menciptakan sebuah tombak berukuran 2 meter dengan aksen hiasan kilatan petir yang berwarna perak, dari kekuatan elemennya. Tombak tersebut memancarkan kilatan cahaya petir yang melapisi semua permukaan tombak tersebut. Wu Zheng langsung bergerak menyerang kearah Xu Lian, sebelum Xu Lian menciptakan pedangnya.


Xu Lian melapisi kedua tangannya dengan kekuatan elemennya sebelum ia menahan serangan yang datang dari Wu Zheng tubuh terpental kebelakang, bahkan es yang melapisi kedua tangannya terlihat retak setelah menahan serangan Wu Zheng. Tanpa membuang banyank waktu ia segera mengalirkan kekuatan elemennya untuk menciptakan pedangnya. ia mamsang kuda-kuda tatkala melihat Wu Zheng yang mulai bergerak menyerang kearahnya.


Wu Zheng yang masuk kedalam pertempuran membuat Zhang Xiuhuan harus menghadapi seluruh para prajurit Kerajaan San. Ia melompat keatas tatkala beberapa tombak dilemparkan kearahnya. Bertepatan dengan kakinya yang mulai menginjak permukaan tanah, ia langsung menabaskan pedangnya kearah prajurit Kerajaan San.


Nang'er meregangkan ekornya. Keadaannya lebih membaik setelah ia memulihkan kekuatannya. Ia menatap kearah Xu Lian yang sedikit kewalahan menghadapi Wu Zheng. Dengan cepat ia terbang kearah Zhang Xiuhuan dan langsung menyerang para prajurit Kerajaan San. Dengan cakar yang besar miliknya, ia menyerang para prajurit menginjak, mengoyak tubuh mereka sesekali ia gunakan ekornya untuk menyerang. Untuk saat ini ia tidak mungkin menggunkan kekuatan elemennya.


"Zhang Xiuhuan sebaiknya kau membantu Xu Lian!" seru Nang'er memperingati Zhang Xiuhuan. Mendengar seruan Nang'er pandangan Zhang Xiuhuan berpindah kearah Xu Lian yang kini tengah melawan Wu Zheng.


"Baiklah, aku serahkan sisanya padamu!" Zhang Xiuhuan berlari kearah Xu Lian berada tanpa memperdulikan para prajurit Kerajaan San.


Ketika posisinya tidak jauh dari Wu Zheng. Zhang Xiuhuan melompat tinggi sebelum ia menyerang kearah Wu Zheng. Pedang milik Zhang Xiuhuan dan tombak milik Wu Zheng saling terpental tatkala dua energi saling beradu.


"Kalian berdua menyusahkanku saja" gerutu Wu Zheng.


Cih!. Xu Lian menatap tajam kearah Wu Zheng. Pria paruh baya itu memang kuat tapi sayang ambisinya sangat besar. Xu Lian melirik kearah Zhang Xiuhuan sebelum mereka berdua bergerak menyerah dengan arah yang berlawanan.


Sedangkan Wu Zheng memutar-mutarkan tombaknya seraya melihat pergerakan Xu Lian dan Zhang Xiuhuan.


Treng... Treng...


Wu Zheng mengkis serangan yang datang dari Zhang Xiuhuan. Tubuhnya pun beberapa kali berputar untuk menangkis serangan Xu Lian. Mereka bertiga bergerak dengan cepat, sehingga jika orang awam melihat mereka bertempur hanya tampak bayangan yang terlihat.


Wu Zheng menggerutu kesal. Ia sedikit kewalahan menghadapi serangan Zhang Xiuhuan dan Xu Lian. Apalagi permainan pedang mereka yang sedikit asing baginya, yang membuatnya susah menemukan titik kelemahan mereka berdua.


BANG!


Tubuh Wu Zheng mengeluarkan gelombang energi yang membuat Zhang Xiuhuan dan Xu Lian menjauhkan diri dari dirinya. Tidak lama kemudian tubuh Wu Zheng terlapisi kilatan cahaya petir begitupun matanya yang berubah menjadi putih seluruhnya.


"Pantas saja banyak kerajaan yang tunduk pada Kerajaannya" seru Xu Lian melihat peningkatan kekuatan Wu Zheng yang besar. Xu Lian menghela nafas berat, ia harus kembali menghadapi musuh yang sulit.


Wu Zheng mulai bergerak kearah Zhang Xiuhuan. Ia mengarahkan tombaknya pada Zhang Xiuhuan yang berhasil dihindarkan oleh Zhang Xiuhuan.


Kekuatannya memang tinggi tapi pergerakannya sangat mudah dibaca!, Zhang Xiuhuan beberapa kali menghindar dan menangkis serangan Wu Zheng walaupun beberapa kali juga tubuhnya terdorong, tanpa ada perlawanan. Matanya melirik heran kearah Xu Lian yang hanya diam menonton pertempurannya.


Zhang Xiuhuan memundurkan tubuhnya untuk membuat jarak antara dirinya dan Wu Zheng. Tapi tanpa disangka tangan kiri Wu Zheng menciptakan rantai petir yang kini melilit kaki Zhang Xiuhuan.


Xu Lian memanfaatkan keadaan, ia segera bergerak kearah Wu Zheng dan menebaskan pedangnya pada punggung Wu Zheng. Tetapi tubuhnya terpental karena kedua energi yang saling bertolak.


Tanpa memperdulikan serangan Xu Lian, Wu Zheng menarik rantainya dan ia putar sebelum ia benar-benar melemparkan tubuh Zhang Xiuhuan. Tubuh Zhang Xiuhuan terpental cukup jauh sebelum ia benar-benar menabrak permukaan batu yang cukup besar. Darah segar keluar dari sudut bibirnya. Ia merasakan sakit yang amat mendalam pada bagian punggungnya.


Xu Lian melemparkan pedangnya sembarangan. Kedua tangannya membentuk sebuah pola, lalu tidak lama kemudian tanah yang ia injak menjadi beku. Puluhan balok es yang berbentuk persegi lonjong mengelilingi tubuh Xu Lian, tidak lama kemudian balok-balok es itu bergerak menyerang kearah Wu Zheng.


Wu Zheng memainkan tombaknya untuk menghancurkan semua balok es yang datang menyerangnya. Karena kalah cepat dengan pergerakan balok es milik Xu Lian. Beberapa balok es tersebut berhasil hingga melukai tubuh Wu Zheng. Bahkan petih yang melapisi tubuhnya tak berfungsi sedikitpun.


"Sial! ini bukan es yang sembarangan!" Wu Zheng mengelus dadanya yang sakit karena hantaman balok es tadi. Ia menatap tajam Xu Lian, sebelum ia kembali bergerak kearah Xu Lian.


Pertempuran pun tak terelakan diantara mereka berdua. Xu Lian dengan santainya menyeimbangi serangan tombak milik Wu Zheng, yang walaupun memiliki kekuatan yang hebat tetapi pergerakannya cukup lamban. Jadi Xu Lian harus sangat berhati-hati agar ia tidak terkena dengan serangan Wu Zheng yang cukup mematikan.


Segumpalan es menutupi salah satu tangan Xu Lian, dengan sekali hentakan ia melepaskan satu tinjuan kearah Wu Zheng. Tetapi tak disangka, Wu Zheng menyerang balik dengan tombaknya.


BANG!


Baik tubuh Xu Lian maupun Wu Zheng terdorong cukup jauh. Mereka sama-sama mengalami luka yang sama parahnya.


Sedangkan Zhang Xiuhuan mencoba untuk berdiri kembali dengan susah payah. Ia merasakan sakit yang amat pada tubuhnya. Beberapa kali ia mengumpat karena kelalaiannya. Ia menutupkan matanya sebelum ia mengalirkan tenaga dalamnya untuk mengobati luka yang terdapat pada punggungnya.


Disisi lain, Zhang Bing beberapa melompat kesana kemari untuk mengecoh serangan para prajurit Kerajaan San. Tepat saat ia melompat salah satu prajurit menyerangnya dengan pedang. Dengan satu hentakan kakinya Zhang Bing memutarkan tubuhnya dan melepaskan satu tinjuan pada penyerang tadi. Tak berhenti disitu ia menjalankan aksinya pada prajurit yang lain.


Kembali pada Xu Lian, ia kembali harus bertukar jurus dengan Wu Zheng. Beberapa kali ia menahan serangan Wu Zheng yang datang. Dengan ilmu beladiri tangan kosong Xu Lian mencoba langsung menyerang tubuh Wu Zheng. Tetapi tombak milik Wu Zheng sangat mengganggunya.


BAM! BAM! BAM!


Suara ledakan-ledakan terdengar tatkala dua energi elemen yang berbeda saling bertemu. Sesekali tanah pun ikut bergetar dengan seirama ledakan tersebut.


Xu Lian mencoba menjauhkan dirinya dari Wu Zheng. Tubuhnya sudah terdapat beberapa luka memar, sama halnya dengan Wu Zheng. Ia menyeka keringatnya yang terdapat pada dahinya. Susah sekali ia menemukan celah sedikitpun pada serangan Wu Zheng.


Tak lama kemudian Zhang Xiuhaun datang seraya memegangi punggungnya yang masih terasa sakit. Ia menatap Xu Lian dan Wu Zheng secara bergantian. Tidak ada yang bisa dikatakan sebagai paling unggul saat ini.


"Kalian jangan membuang waktuku! berikan saja Pedang Goujian dan naga milikmu! aku akan membiarkan kalian pergi!" seru Wu Zheng kesal.


"Aku sudah bilang tadi kan. Aku tidak akan memberikannya!" saut Xu Lian.


Tiba-tiba diudara sekitar mulai menipis, tergantikan dengan angin yang kecang. Langit malam berubah menjadi kelabu dengan hiasan kilatan-kilatan petir.


Zhang Xiuhuan menghela nafas berat, karena kini mereka harus menghadapi monster lagi. Begitupun sama halnya dengan Xu Lian.


Langit mulai terpenuhi dengan kilatan petir dengan suara yang bergemuruh. Tidak lama kemudian petir-petir itu mulai menyambar semua orang. Bahkan para prajurit Kerajaan San sendiri menjadi korbannya.


Sedangkan Zhang Bing memilih untuk menghentikan aksinya karena ini sungguh berbahaya jika ia harus tersambar petir. Ia pergi kearah Nang'er untuk mencari perlindungan.


Xu Lian memainkan tangannya, lalu udara disekitarnya berubah kembali normal. Ia mengangkat kedua kakinya.


"Bisakah kau menghancurkan tombak sialan itu!" seru Xu Lian pada Zhang Xiuhuan. Tanpa menunggu jawaban dari Zhang Xiuhuan ia langsung bergerak kearah Wu Zheng. Xu Lian bersiap untuk melepaskan satu serangannya, tetapi dihalangi oleh petir-petir yang menyerangnya. Beberapa kali ia bergerak kekanan kekiri untuk bisa menyerang Wu Zheng.


Tidak lama kemudian Zhang Xiuhuan pun ikut bergabung dengan Xu Lian. Rupanya tubunnya sudah berubah dengan wujud iblisnya. Dengan pedangnya Zhang Xiuhuan menyerang Wu Zheng. Tetapi bisa ditahan oleh tombak Wu Zheng. Beberapa kali ia melepaskan serangannya yang sama bisa ditahan seperti sebelumnya. Tapi memang itu tujuannya. Sedangkan Xu Lian akan menyerang jika ia mendapat ruang untuk menyerang.


BAM! BAM! BAM!


Pedang elemen milik Zhang Xiuhuan beberapa kali menghantam tombak milik Wu Zheng. Ia memang belum sedikitpun bisa melukai tubuh Wu Zheng. Tapi lihatlah tombak Wu Zheng yang semakin terdapat goresan-goresan.


Zhang Xiuhaun menggenggam erat pedangnya seraya ia terus menambah kekuatan elemem miliknya dengan bantuan Pete. Dengan sekali hentakan ia menyerang Wu Zheng.


BANG!


Tubuh Zhang Xiuhuan dan Wu Zheng sama-sama terdorong. Wu Zheng membulatkan matanya tatkala pandangannya tak mendapati setengah bagian tombaknya. Ia menatap garang kearah Zhang Xiuhuan.


Disisi lain, Zhang Xiuhuan harus memuntahkan seteguk darah karena ia telah menggunakan kekuatannya secara berlebihan tadi. Tapi itu tidak masalah, karena selanjutnya akan diselesaikan oleh Xu Lian.


Wu Zheng menggenggam kedua tangannya, ia akan bergerak menyerang kearah Zhang Xiuhuan. Tapi sayangnya dihalangi oleh Xu Lian. Tanpa ada pilihan Wu Zheng pun harus berhadapan dengan Xu Lian.


Udara malam mulai terasa dingin. Bahkan petir yang menggelegar diatas langit mulai menyurut. Para prajurit Kerajaan San yang tersisa memilih untuk melarikan diri, tanpa perduli lagi dengan kaisar mereka.


Wu Zheng beberapa kali menghindari serangan Xu Lian yang datang. Tenaga dalamnya mulai melemah akibat pertarungan sebelumnya dengan Zhang Xiuhuan.


BAM! BAM! BAM!


Xu Lian terus menyerang tanpa henti kearah Wu Zheng. Bahkan beberapa kali terjadi ledakan jika jurus mereka saling bertemu.


BANG!


Satu pukulan Xu Lian berhasil mengenai tubuh Wu Zheng. Mereka berdua sama-sama terpental kebelakang. Tetapi Wu Zheng lah yang mengalami luka yang paling parah.


Xu Lian mengumpulkan tenaga dalamnya pada satu titik yaitu telapak tangan kanannya. Ia hendak ingin langsung menghabisi Wu Zheng pada titik fitalnya.


Wu Zheng menggeram kesal ketika menyadari jika ia bisa kalah semudah ini. Seumur hidupnya ia tidak pernah merasakan kekalahan sebelumnya.


"COBA SAJA KAU MEMBUNUHKU! KARENA ITU TIDAK..." ucapan Wu Zheng terpotong tatkala kepalanya terlepas dari tubuhnya. Didekatnya sebuah pedang berukuran satu setengah meter mengambang.


Xu Lian membulatkan matanya seraya ia membatalkan jurus yang akan ia gunakan. Ia menatap tidak percaya kearah pedang yang kini sedang mengambang diudara tanpa ada pemiliknya. Begitupun Zhang Xiuhuan merasa heran dengan kejadian yang baru saja disaksikannya.


"Aku menunggu kalian lama sekali diatas gunung itu", keluar seorang pria yang berumuran masih muda dari balik pepohonan dalam kegelapan. Hanfu berwarna ungunya berterbangan tatkala terhempas angin.


"Pria tua ini membuang waktuku saja. Bahkan ia tidak berterima kasih sedikitpun padaku, ketika aku membocorkan tentang rencana pemusnahan Pedang Goujian", seru pria tersebut seraya menggeleng-gelengkan kepalanya. Tangannya terjulur kedepan, dan pada waktu yang bersamaan pedang yang telah memotong kepala Wu Zheng langsung bergerak kearah tangan pria tersebut.


Xu Lian kembali turun dan mendaratkan tubuhnya tepat disamping Zhang Xiuhuan. Sedangkan ekspresi Zhang Xiuhuan seperti orang yang sangat terkejut.


Dia pria yang ada di Kota Tibet. Benar saja, pria tersebut adalah pria yang pernah beradu pandang dengan Zhang Xiuhuan ketika berada di Kota Tibet. Dugaannya tentang pria itu memang benar, dia bukan orang sembarangan bahkan pedang yang ia miliki sungguh pedang yang luar biasa.


"Siapa kau?" seru Xu Lian.


"Namaku Cio Bian", serunya seraya matanya melirik kearah Pedang Goujian yang berada dipunggung Zhang Xiuhuan.


"Apa tujuanmu berada ditempat ini?" tanya Xu lian lagi.


"Menurutmu?"


"Jika kau memiliki tujuan yang sama seperti semua orang. Aku tidak akan membiarkan siapapun untuk memiliki pedang ini!" tegas Xu Lian. Pria yang bernama Cio Bian tersebut, tertawa kecil menanggapi ucapan Xu Lian.


"Aku tidak pernah berkata untuk meminta pedang tersebut secara baik-baikkan", Pedang yang berada pada genggaman Cio Bian bergerak cepat kearah Xu Lian dan Zhang Xiuhuan.


Zhang Xiuhuan dan Xu Lian segera menghindar secara berlawanan. Merasa serangannya gagal pedang tersebut kembali ke tangan Cio Bian.


Cio Bian langsung bergerak kearah Zhang Xiuhuan yang sudah menjadi incarannya. Zhang Xiuhuan sedikit kewalahan menghadapi Cio Bian karena kondisi tubuhnya yang sedang tidak prima. Tak lama kemudian Xu Lian ikut membantu Zhang Xiuhuan.


Sedangkan Zhang Bing hanya memperhatikan perkelahian antara kedua orang tuanya dengan pria asing itu. Ingin sekali ia membantu kedua orang tuanya, tetapi ia merasa takut akan menjadi beban saja.


BAM! BAM! BAM!


Zhang Xiuhuan maupun Xu Lian merasa kewalahan menghadapi Cio Bian. Apalagi pedangnya yang memiliki keistimewaan. Beberapa kali tubuh Zhang Xiuhuan dan Xu Lian terpental tatkala kekuatan elemen mereka berdua beradu dengan pedang milik Cio Bian.


Xu Lian mengumpulkan tenaga dalamnya pada kedua tangannya sebelum ia menyerang kearah Cio Bian.


BANG!


Terjadi ledakan yang cukup besar tatkala kekuatan elemen milik Xu Lian beradu dengan pedang milik Cio Bian. Tubuh Xu Lian terpental kebelakang cukup jauh, sedangkan Cio Bian hanya terdorong beberapa langkah kebelakang.


Xu Lian memegang dadanya yang sakit akibat ledakan tadi.


Pedang yang memiliki keistimewaan akan bisa kalah dengan pedang yang sama!. Dari dalam benak Xu Lian terdengar suara Nang'er yang memberi saran untuk menghadapi Cio Bian.


Mata Xu Lian menatap kearah Pedang Goujian yang berada dipunggung Zhang Xiuhuan. Ia terlihat berpikir beberapa saat, sebelum ia langsung bergerak kearah Zhang Xiuhuan.


Zhang Xiuhuan yang sama-sama merasa kelelahan menghadapi Cio Bian. Tidak menyadari Xu Lian yang bergerak kearahnya dan langsung mengambil Pedang Goujian.


"Heyy apa yang kau lakukan!". Tanpa memperdulikan seruan Zhang Xiuhuan, Xu Lian langsung bergerak menyerang kearah Cio Bian.


Xu Lian merasa tubuhnya telah mendapatkan kembali seluruh kekuatannya tatkala ia menggenggam Pedang Goujian. Aku tidak boleh kehilangan kesadaran!, pikir Xu Lian.


Pertempuran pun terjadi dengan begitu sengit antara kedua belah pihak.


Treng! Treng! Treng!


Zhang Xiuhuan menatap khawatir kearah Xu Lian yang kini tengah bertarung melawan Cio Bian. Ia takut hal yang dulu terulang kembali.


Cio Bian berdecak kesal merasakan tingkatan kekuatan Xu Lian yang drastis. Bahkan kekuatan pedangnya tidak bisa menahan serangan Pedang Goujian. Tapi satu hal ia rasakan adalah Xu Lian belum sepenuhnya menguasai Pedang Goujian.


Mereka berdua terus bertukar hingga puluhan jurus. Namun masih belum terlihat siapa yang akan keluar menjadi sebagai pemenangnya.


Dengan tiba-tiba Cio Bian melemparkan pedangnya keatas. Pedangnya langsung bergerak kembali kebawah dan mengarah menyerang kearah Zhang Xiuhuan.


Fokus Xu Lian menjadi pecah. Apalagi Cio Bian yang tetap menyerangnya dengan tangan kosong agar Xu Lian tidak sempat menolong Zhang Xiuhuan. Tanpa ada pilihan lain, Xu Lian membiarkan kesadaran penuhnya diambil oleh Pedang Goujian.


DDDOOOAAAAUUURRRR!


Terjadi ledakan yang dasyat. Bahkan tubuh Cio Bian terlempar hingga menabrak bebatuan besar yang berada diatas bukit tersebut.


Dengan kecepatan kilat, pedang milik Cio Bian yang bergerak kearah Zhang Xiuhuan tiba-tiba terpental ketika Xu Lian menangkisnya. Semuanya berubah seperti dulu lagi, dimana Xu Lian kehilangan kesadarannya.


Cio Bian kembali bangkit dengan tertatih, pedangnya pun kembali padanya. Tanpa persiapan apapun Xu Lian sudah langsung menyerangnya dengan secara membabi buta.


Tubuh Cio Bian mendapatkan luka tebasan yang cukup banyak bahkan ia sudah tidak bisa lagi jika harus menghadapi Xu Lian yang seperti kesurupan.


Sedangkan Zhang Xiuhuan membanting otaknya untuk mencari cara menghentikan istrinya lagi.


Merasa tidak mampu lagi. Cio Bian memilih untuk kabur dan terbang keatas. Tapi tak disangkanya Xu Lian tetap mengikutinya.


Melihat Xu Lian terbang keatas mengikuti Cio Bian. Zhang Xiuhaun segera berlari kearah Nang'er dan segera menyusul Xu Lian.


Cio Bian terus terbang hingga ia berada dipuncak gunung. Suhu disekitarnya mulai berubah menjadi panas, yang disebabkan aktivitas gunung berapi.


Xu Lian bergerak dengan kecepatan tingginya sehingga ia bisa mengejar Cio Bian. Tanpa bisa dihindarkan pertarungan mereka kembali terjadi.


Nang'er dan yang lainnya pun sampai ditempat dimana Xu Lian kembali bertempur dengan Cio Bian.


"Bagaimana aku bisa menghentikannya lagi" gerutu Zhang Xiuhuan.


Sedangkan Zhang Bing mengelilingi sekitarnya. Pandangannya terkucunci pada sebuah lubang gunung yang berisi larva api yang sangat panas.


"Ayah!", seru Zhang Bing. Zhang Xiuhuan menengok kearah Zhang Bing dengan ekspresi wajah yang berkata 'Ada apa?'.


"Lihat itu!" telunjuk tangan Zhang Bing mengarah pada larva api gunung.


"Kenapa? itu adalah larva api Gunung Datong ini!" seru Zhang Xiuhuan kesal.


"Iya aku sudah tahu. Tapi larva api ini bisa menghentikan ibu. Ayah lupa jika kekuatan elemenmu adalah api. Jadi kendalikan sumber energi ini dengan kekuatan elemenmu!" jelas Zhang Bing. Beberapa kali Zhang Xiuhuan mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti dengan ide dari Zhang Bing.


Disisi lain, Cio Bian sudah kehilangan tenaga dalamnya sangat banyak. Ia sudah tidak tahu bagaimana lagi ia harus menghadapi Xu Lian. Tanpa ada perlawanan apapun, ia membiarkan Pedang Goujian mengoyak tubuhnya.


Xu Lian beberapa kali menebaskan Pedang Goujian pada tubuh Cio Bian. Hingga Cio Bian kehilangan nyawanya. Merasa targetnya telah tiada, Xu Lian menengokkan kepalanya kebelakang dan menatap kearah Zhang Bing. Dengan cepat ia bergerak kearah Zhang Bing.


Tetapi pergerakan Xu Lian terhenti tatakala sebuah tali dari api mengikat tubuhnya. Matanya melirik kearah samping yang memperlihatkan keberadaan Zhang Xiuhuan. Tanpa banyak membuang waktu Xu Lian berbelok menyerang kearah Zhang Xiuhuan.


Zhang Xiuhuan beberapa kali menghindari serangan Xu Lian. Dengan terfokus satu titik ia mengendalikan tali yang tercipta dari larva api Gunung Datong untuk menyerang Pedang Goujian.


Zhang Xiuhuan melompat kearah belakang untuk menghindari serangan Xu Lian. Setelah itu ia langsung melemparkan tali api miliknya kearah Pedang Goujian, hingga tali tersebut melilit Pedang Goujian. Zhang Xiuhuan langsung menarik tali tersebut kearah lubang Gunung Datong yang berisi lautan larva api, hingga Pedang Goujian terbawa. Namun, sialnya tubuh Xu Lian ikut terbawa.


Tanpa membuang waktu Zhang Xiuhuan ikut melompat sebelum ia berhasil menangkap tubuh Xu Lian.


DDDDUUUUUUAAAAAAAARRRRRRRRRR!!!!


Tatkala Pedang Goujian jatuh kedalam Gunung Datong. Terjadi ledakan yang SANGAT DASYAT!


Bahkan bumu disekitarnya bergetar hingga berkilo meter jauhnya.


Dari balik kabut asap yang disebabkan oleh ledakan tadi. Keluar seekor naga dan langsung terbang keatas langit.


Zhang Bing berucap syukur tatkala ia bisa melihat kedua orang tuanya yang berada dibawah kaki Nang'er. Untung saja ia sudah meminta Nang'er bersiap jika ada sesuatu yang tidak diinginkan terjadi.


-


-


-


Xu Kong menatap lautan mayat yang memenuhi wilayah kerajaannya. Tidak ada siratan cahaya kebahagiaan sedikitpun dari wajahnya. Walaupun ia berhasil mengalahkan pasukan sekutu Kerajaan San, tetapi ia juga tetap berduka dengan jatuhnya ribuan pasukannya sendiri.


Dari arah selatan terdengar ledakan yang samar. Bahkan langit malam berubah menjadi kekuning-kuningan. Semua orang yang selamat saat pertempuran yang terjadi di Kerajaan San sama-sama menatap kearah langit yang berubah menjadi jingga.


"Akhirnya kau berhasil, nak!"


***


Kehidupan seperti apa yang kau dambakan sebenarnya. Sekuat apapun kau berimajinasi, itu hanya tetap akan menjadi sebuah ilusi. Tidak ada kehidupan yang sepenuhnya damai bak surga, karena kita hidup masih dalam dunia dimana kehancuran bisa terjadi dimanapun dan dalam keadaan apapun.


Angin menghembus dengan kencang membuat rambut panjang seorang wanita terbawa dan mengikuti irama angin, ia terlihat duduk disebuah batu yang berada ditaman. Kedua tangannya menggenggam sebuah buku usang. Terlihat ia membolak-balikkan bukunya sebelum ia menutupnya kembali. Matanya menatap kearah depan, ketika angin menerpa wajahnya ia menutup kedua matanya seraya mendongakkan kepalanya keatas.


"Aku menemukan kedamaian yang sejak dulu aku cari". Matanya kembali terbuka dan menatap tanaman yang ikut bergoyang terhempas angin. "Aku menerima semua hal baik ataupun buruk yang telah kualami dengan lapang dada, tanda ada rasa penyesalan sedikitpun. Itulah kedamaian yang telah kutemukan".


"Ibu! ayo kemari. Lihat apa yang dihadiahkan paman Li padaku!". Xu Lian menengok kearah Zhang Bing sebelum ia berdiri dan menggenggam bukunya. Ia berjalan kearah Zhang Bing yang kini tengah bersama yang lainnya.


~**TAMAT~


•○●•○●•○●•○●•○●•○●•○●•○●•○●•○●•○●•○**