DEWI NAGA TIMUR II "The Enternal Love"

DEWI NAGA TIMUR II "The Enternal Love"
Pulang



Semuanya berakhir dengan begitu saja. Berita tentang kehancuran 4 Sekte Aliran Hitam, sengaja disebarkan langsung oleh Kerajaan Wei agar banyak kerajaan lain, ataupun sekte lain untuk berpikir ulang menyerang Kerajaan Wei.


Disisi lain, Xu Lian memutuskan untuk tidak menyelesaikan masalah ini sendirian. Setelah Xiao Tian memberi saran padanya, ia tahu jika ia terlalu terburu-buru mengambil keputusan.


Xu Lian berjalan melewati gazebo istana. Langkahnya terhenti tatkala ia berada didepan pintu kamarnya. Ia terlihat tidak langsung memasuki kamarnya, sepertinya ia sedang menunggu seseorang keluar dari kamarnya. Tidak lama kemudian seorang pria paruh baya yang merupakan seorang Alkemis, keluar dari kamar Xu Lian. Ditangannya terdapat sebuah mangkuk yang berisi entah cairan apa.


"Kau tenang saja, keadaannya sudah lebih membaik. Lagi pula luka ditubuhnya sudah mengering" seru Alkemis tersebut, tatkala ia mendapati Xu Lian sudah berdiri didepan pintu. Sebenarnya ia juga ingin mengumpat karena telah membuatnya terkejut.


Xu Lian hanya tersenyum kecil, menanggapi ucapan Alkemis tersebut. Sebelum Alkemis tersebut pergi, Xu Lian membungkukan tubuhnya sebagai penghormatan. Ketika ia akan memasuki kamarnya, untuk melihat keadaan Zhang Xiuhuan. Dari arah belakang tiba-tiba Zhang Bing datang seraya memanggil-manggilnya.


"Ada apa? kenapa kau berteriak-teriak?" ucap Xu Lian.


"Ibu, paman Xu Yong dan paman Xu Li sudah pulang. Sekarang mereka berdua berada diruangan kakek. Kakek menyuruhku untuk memanggil Ibu!" seru Zhang Bing dengan semangat.


"Baiklah" Xu Lian membatalkan niatnya untuk melihat keadaan Zhang Xiuhuan. Kini ia berjalan menuju istana utama untuk bertemu dengan kedua kakaknya. Zhang Bing pun mengikuti Xu Lian dari belakang.


Setelah Xu Lian sampai didepan ruangan kerja Xu Kong. Seorang prajurit yang menjaga didepan pintu, langsung membukakan pintu untuk Xu Lian. Xu Lian memasuki ruangan ayahnya, pandangannya langsung menangkap ayahnya dan kedua kakaknya yang saling duduk berhadapan. Xu Lian berjalan kearah mereka dan ikut duduk disebelah Xu Li.


"Kalian sudah pulang" seru Xu Lian.


"Tentu saja. Istana sedang keadaan genting jadi kami harus kembali." ucap Xu Yong.


"Ya, dengan datangnya kami tidak ada orang yang bisa menghancurkan kerajaan ini!" Xu Li ikut menyauti.


Xu Lian berecak kesal. "Kalian itu sudah terlambat!".


"Sudah cukup! kita masih punya masalah yang harus kita rundingkan" seru Xu Kong. Xu Kong mengeluarkan beberapa gulung kertas dan ia letakkan diatas meja. Lalu ia membuka salah satu gulungan yang kini berada diatas meja tersebut.


"Menurut pengamatan Kerajaan Allepo. Ada pergerakan dari Kerajaan-kerajaan didaerah selatan. Mereka mencoba untuk saling bersekutu untuk menyerang kita!" Xu Kong menatap bergantian putra dan putrinya. "Ini masih ancaman yang sangat kecil. Karena Kerajaan San belum bergerak sendiri untuk menyerang kerajaan kita" Xu Kong menghela nafas berat.


"Iya benar. Sepertinya Kerajaan San ingin membuat Kerajaan kita melemah sebelum mereka benar-benar menyerang kita", ucap Xu Li seraya mengetuk-ngetukkan jarinya tepat didagunya.


Xu Kong menutup kembali gulungan tersebut dan mengambil salah satu gulungan lagi. Ia mulai membukanya dengan perlahan. "Ini gulungan dari Kerajaan Saharan. Memang benar apa katamu Xu Li jika Kerajaan San hanya menunggu Kerajaan kita melemah dan menyerangnya. Seperti yang dikatakan dalam surat ini, para pengintai Kerajaan Saharan telah berhasil mengetahui jika Kerajaan San tengah mengumpulkan pasukan yang cukup besar untuk menyerang Kerajaan kita" seru Xu Kong.


Xu Lian menghela nafasnya dengan berat. Memiliki keistimewaan bukanlah hal yang menakjubkan. Ia tahu, jika Kerajaan San bukan hanya mengincar Pedang Goujian tetapi juga Naga miliknya.


"Ini sangat rumit" ucap Xu Yong.


"Sepertinya kita harus mengalihkan mereka. Di Daerah Utara juga pasti banyak yang ingin mengincar Xu Lian bukan, kita hanya harus memikirkan bagaimana caranya agar Xu Lian berhasil sampai di Gunung Datong", Xu Li melipat kedua tangannya diatas meja. "Kita tantang mereka semua secara langsung, sehingga mereka semua akan bergerak menyerang ke Kerajaan Wei secara bersamaan. Dan pada waktu bersamaan Xu Lian akan pergi menuju Gunung Datong" seru Xu Li.


"Aku tidak mungkin meninggalkan istana jika dalam keadaan terdesak seperti idemu itu" seru Xu Lian tidak setuju dengan ide kakaknya tersebut.


"Lalu menurutmu bagaimana lagi. Tidak mungkinkan jika kita harus memberi pengawalan yang banyak untukmu pergi ke Gunung Datong, itu hanya akan mengundang para sekte dan kerajaan lain untuk menyerangmu!. Kau harus pergi diam-diam tanpa ada seorangpun yang mengetahuimu" ucap Xu Li kesal. Xu Lian memalingkan wajahnya, perkataan Xu Li memang ada benarnya tetapi ia tidak mungkin juga meninggalkan Kerajaannya ketika harus menghadapi kerajaan dan sekte lain tanpa dirinya.


"Benar apa kata Xu Li. Kau sebaiknya pergi ketika mereka semua datang menyerang, agar perjalananmu tidak terhambat" ucap Xu Kong menyetujui ide Xu Li.


"Tapi ayah..."


"Sudahlah kau harus menyetujuinya, tidak ada ide lain yang bisa kita lakukan" Xu Yong ikut menyauti.


Sebelum Xu Lian menjawab, seorang prajurit memasuki ruangan. "Maaf Yang Mulia, diluar ada para Kaisar dari Kerajaan sekutu yang ingin bertemu dengan anda" seru prajurit tersebut.


"Baiklah. Kita akan lanjutkan membicarakan tentang hal ini" Xu Kong bangkit dari duduknya dan mulai berjalan keluar yang diikuti oleh yang lainnya. Xu Yong dan Xu Li mengikuti Xu Kong untuk bertemu dengan Kaisar yang lainnya, sedangkan Xu Lian memilih untuk pergi menuju ke kamarnya.


Xu Kong dan kedua putranya tiba diruang istana utama. Mereka menyambut kedatangan para Kaisar.


"Kalian berdua ini baru pulang setelah pertempuran besar terjadi" gerutu Xiao Tian. Xu Yong dan Xu Li hanya tersenyum salah tingkah.


"Sudahlah jangan pikirkan mereka berdua. Kalian semua ada apa datang kemari tanpa memberitahuku?" ucap Xu Kong.


"Kami datang tiba-tiba karena kita mendapat kabar buruk. Para pengintai Kerajaan Saharan telah diketahui dan kini mereka semua rertangkap oleh Kerajaan San. Dan juga Kerajaan San telah mengetahui jika Kerajaan kami semua mendukungmu. Ini cukup sulit untuk mendapatkan informasi dalam pergerakan penyerangan Kerajaan San". Jelas Tao Mingrui. Xu Kong mengelus-elus janggutnya yang sudah memutih.


"Biarkan itu terjadi. Ini akan membuat Kerajaan lain saling bekerja sama dalam penyerangan ini" ucap Xu Kong.


"Maksudmu?" Tao Mingrui menatap heran kearah teman lamanya ini.


"Biarkan mereka datang menyerang secara bersamaan agar, Xu Lian bisa pergi ke Gunung Datong tanpa ada yang mengetahuinya", Xu Kong tersenyum. Tiba-tiba ia mengingat sebuah pepatah Tiongkok Kuno yang mengatakan 'Perang di Barat, ribut di Timur'.


***


Entahlah baru uptade. Mengertilah author adalah manusia yang bisa sakit 😂😂😂