DEWI NAGA TIMUR II "The Enternal Love"

DEWI NAGA TIMUR II "The Enternal Love"
Latihan



Dedaunan berhamburan oleh hembusan angin ditengah malam. Didepan sebuah pondok yang memiliki cerobong asap dan mengeluarkan kebul asap tipis. Tak jarang suara gelas didentingkan dan disusul suara gemuruh orang-orang. Ya, mereka adalah sekelompok perampok yang menguasai Desa Hanging. Mereka semua berpesta ditengah malam gelap gulita, ada yang asik meminum arak ataupun sambil bermain kartu. Mereka semua sangat gembira karena esok adalah hari dimana mereka panen hasil.


Keriuhan didalam pondok tersebut terhenti tatkala sebuah bayangan yang menerobos pintu utama pondok tersebut.


Braakk....


Semua mata yang berada didalam pondok mengarah pada pintu yang terbuka dengan keras. Sesosok berjubah hitam berdiri ditengah-tengah pintu, matanya mengelilingi sekitar orang-orang didalam pondok tersebut.


"Siapa kau? berani sekali kau mengganggu pesta kami!", teriak salah seorang perampok yang memiliki tubuh yang paling besar.


"Hmm, kekuatan yang cukup besar", senyum kecil terukir diwajah pria berjubah hitam tersebut.


"Sialan kau, akan kuhabisi dia!", ia beranjak dari duduknya, tangannya meraih sebuah golok yang cukup besar pada pinggangnya. Ia berjalan dengan cepat kearah pria berjubah hitam tersebut, tetapi sebelum pria bertubuh besar itu sampai, pria berjubah hitam terlebih dahulu bergerak dengan sangat cepat dan meninggalkan satu pukulan tepat dibagian perut pria bertubuh besar tersebut. Tubuh pria besar tersebut terhantam kearah salah satu meja yang paling dekat dengannya, tubuhnya langsung tumbang dan tak sadarkan diri. Mungkin efek dari ia banyak meminum arak juga.


Pria itu tersenyum kecil dan menatap semua orang yang berada didalam pondok tersebut. "Masih ada yang ingin menantangku?" serunya.


"Maaf tuan, tidak ada yang ingin menyinggung orang sepertimu disini. Tapi ada urusan apa anda mendatangi pondok kami?" ucap salah satu perampok.


"Aku ingin kalian menjadi anak buahku mulai saat ini" saut pria berjubah hitam. Para perampok terlihat berpikir dan saling tukar pandang sesama anggotanya. "Apa kalian tidak mau?", pria berjubah tersebut mengeluarkan sebuah tombak dari udara kosong dan akan siap untuk menyerang. Tetapi sebelum itu semua para perampok bersujud dihadapannya.


"Aku bersedia!"


"Aku bersedia!"


"Aku juga bersedia!"


Ruangan pondok riuh dengan suara 'aku bersedia' yang saling bersahutan.


"Baiklah, tetapi aku punya misi untuk kalian", para perampok langsung menganggukan kepalanya tanpa berfikir kembali. "Aku ingin kalian menghabisi 3 orang yang baru memasuki Desa Hanging!" serunya kembali.


"Kita akan bertemu lagi. Dan kupastikan aku akan membalaskan dendamku!"


***


Disisi lain disebuah kamar dipenginapan yang sederhana. Matahari mulai muncul dan mulai mengintip kamar yang kini dihuni oleh keluarga kecil.


Disisi lain, Zhang Bing tengah berusaha berlatih kekuatan elemennya bersama Zhang Xiuhuan. Sudah berpuluh-puluh kali ia selalu gagal dalam latihannya.


"Bing Bing fokuskan pikirannmu, dan aliri dentianmu dengan tenaga dalammu. Dan cobalah untuk mengubah tenaga dalammu menjadi sebuah kekuatan elemenmu" seru Zhang Xiuhuan. Ia sudah mengajari putranya sejak shubuh tadi, tetapi tidak ada hasil yang memuaskan. Karena keluatan elemen yang dikeluarkan oleh Zhang Bing banyak yang tidak bisa dikendalikan olehnya.


Zhang Bing menghela nafas dengan berat, matanya dipejamkan lalu terbuka kembali. Ia mencoba melakukan apa yang ayahnya katakan barusan dengan perlahan. Sampai tangannya diselimuti oleh sebuah kaca transparan, tanpa disadarinya kaca tersebut terus menjalar tanpa henti, sehingga Zhang Bing memukulkan kedua tangannya pada tanah dihadapannya. Bukannya kaca tersebut pecah ketika Zhang Bing menghantamkannya ketanah, kaca itu mulai mencair dan menjalar kesekitar tanah sehingga terlihat seperti genangan air yang bergerak. Rerumputan ataupun pohon-pohon kecil yang terkena oleh cairan tersebut langsung terbakar tanpa menyisakan abu sekalipun.


Mata Zhang Xiuhuan melotot ketika kekuatan elemen Zhang Bing yang tidak bisa dikendalikan, bahkan ini lebih buruk dari latihan-latihan awal mereka. "Bing-Bing alirkan tenaga dalammu untuk membentuk es!" teriak Zhang Xiuhuan. Zhang Xiuhuan memundurkan dirinya ketika cairan itu sedikit saja mengenainya.


Zhang Bing kembali memfokuskan pikirannya, ia menghela nafas dengan tenang sehingga tubuhnyapun iku rileks, sampai tidak lama kemudian cairan tersebuh berhenti mengalir dan membeku seketika. Udara semula menambah dingin ketika cairan tersebut mulai membeku. Walaupun Zhang Bing tidak bisa mengendalikan kekuatannya tetapi ia bisa memulai dan menghentikan kekuatan elemennya.


Zhang Bing menyeka keringat diatas dahinya yang mulai berjatuhan, nafasnyapun mulai tidak beraturan. "Ayah apa ini cukup memuaskan?" tanyanya tidak percaya diri. Sebab dirinya adalah seseorang yang sangat mudah meniru orang lain, tetapi ketika ia belajar kekuatan elemennya ia selalu gagal.


"Tentu saja. Ini sangat memuaskan bagiku" seru Zhang Xiuhuan, tetapi tetap tidak merubah raut wajah Zhang Bing yang buram. "Bing Bing bukan berarti ketika kau gagal kau tidak akan berhasil. Ini bukan karena kau memang tidak bisa mengendalikan kekuatannya tetapi karena tubuhmu yang belum siap menerima beban berat dari kekuatanmu" ucapnya kembali.


"Ya aku mengerti" saut Zhang Bing.


"Sebaiknya kau pergi membersihkan tubuhmu, pasti ibumu sudah bangun", Zhang Bing menganggukan kepalanya lemah dan memasuki penginapan.


Zhang Xiuhuan memutar otaknya. "Bagaimana caranya aku membersihkan tempat latihan Bing Bing", pasalnya cairan yang membeku ditanah memiliki kekuatan yang sangat keras, bahkan Zhang Xiuhuan kehabisan akal bagaimana cara menghancurkannya.


Disisi lain, disebuah jendela dari penginapan, berdiri seorang wanita yang tubuhnya bergetar sedari tadi tatkala ia menonton latihan antara anak dan ayah. "Anaknya saja memiliki kekuatan seperti monster apalagi orang tuanya!" gumamnya.


***


Dari arah selatan, terlihat segerombolan pria-pria bertubuh besar dan seorang pria berjubah hitam yang berjalan dipaling depan. Mereka semua pergi menuju Desa Hanging. Jumlah mereka cukup besar, bahkan anggota mereka bertambah lebih banyak dari pada ketika dipondok, mungkin bisa sampai ratusan.


"Aku ingin kalian mencari keberadaan mereka dipenjuru Desa Hanging terlebih dahulu! aku juga akan turun tangan untuk menghabisi mereka!" seru pria berjubah hitam yang dibalis sorakan dari para perampok.


"Aku tidak akan kalah untuk kedua kalinya!" pikirnya. Walaupun pasukannya lebih sedikit dari pada pasukannya yang dulu, tetapi ia tetap percaya diri. Karena ia sudah memikirkan bagaimana caranya mengalahkan dia!. Apalagi kalau bukan dengan kelemahannya, ia akan mengincar putranya yang tentu masih belum memiliki kekuatan kultivasi.


Ia belum tahu juga tentang kekuatan Bing Bing, Cih!.


***