DEWI NAGA TIMUR II "The Enternal Love"

DEWI NAGA TIMUR II "The Enternal Love"
Menemukan



*DDDOOOAAAARRRRR....


DDDOOOOAAARRRRR*....


Tetua Gu dibuat bingung dengan Zhang Xiuhuan yang kini tidak bisa mengatur emosinya. Bahkan kini ia mengamuk dan menghancurkan apa saja yang ia temukan. Ia dan Zhang Bing harus mengikuti kemana Zhang Xiuhuan pergi.


"Kenapa ayah menjadi seperti iblis?" seru Zhang Bing.


"Dia memang iblis!" gerutu Tetua Gu.


*DDOOOAAAARRRRRR....


DDDOOOOOAAAAARRRRR*....


Zhang Xiuhuan melepaskan beberapa serangan pada pohon-pohon disekitarnya, sehingga menimbulkan getaran pada tanah yang ditutupi salju.


Tanpa disadari oleh Zhang Xiuhuan, ia telah mengundang para pendekar lain datang karena kegaduhan yang dilakukannya. Tetapi disisi lain, tepatnya dibawah Zhang Xiuhuan mengamuk. Terdapat dua ingsang yang kini merasa heran dengan ledakan-ledakan yang terjadi diatas.


Xu Lian menggerutu dalam hatinya, ia mengenali aura yang kini tengah dimakan emosi yang tak lain adalah suaminya sendiri.


"Apa yang terjadi diluar sebenarnya" seru Mo Lian Cheng. Ia beranjak pergi menuju keluar untuk memastikan sebenarnya apa yang terjadi.


Dengan kepergian Mo Lian Cheng, Xu Lian mencoba berpikir bagaimana caranya ia melepaskan diri dari tali yang mengikat tubuhnya. Sial, tenaga dalamnya benar-benar tidak bisa ia gunakan, bahkan pergelangan tangannya memerah akibat ia memaksakan diri untuk melepaskan ikatan tersebut.


Diatas daratan. Tetua Gu menjadi waspada, akibat perbuatan Zhang Xiuhuan ia merasakan banyak pendekar asing yang mulai menghampiri mereka.


"Kakek hentikanlah ayahku!" seru Zhang Bing.


"Aku tidak bisa menjinakkan iblis", Tetua Gu merasa ngeri sendiri jika ia harus menenangkan seorang iblis.


"Hah?" saut Zhang Bing bingung dengan jawaban Tetua Gu.


"Hmm lupakanlah yang tadi. Kita tunggu saja sampai amarah ayahmu mereda dengan sendirinya" seru Tetua Gu memberi solusi.


"Sampai kapan? jika ayahku terus mengamuk terus, kapan kita akan memulai untuk mencari ibu?" seru Zhang Bing.


Tetua Gu menghela nafas lega mendengar penuturan Zhang Bing, Syukurlah dia tidak seperti ayahnya! pikirnya. Tetua Gu mengankat kedua bahunya, ia juga tidak tahu harus berbuat apa. Jika ia memilih menncari Xu Lian dan meninggalkan Zhang Xiuhuan dalam keadaan seperti ini, ia takut akan terjadi sesuatu yang tidak bisa ia pikirkan. Tetapi sialnya, apa yang ia pikirkan kini telah terjadi.


"Berhati-hatilah, jangan menjauh dariku!" perintah Tetua Gu pada Zhang Bing.


Dari arah barat hutan terdengar suara pijakan kaki yang terdengar cukup nyaring, mungkin karena banyaknya orang yang datang. Bukan hanya itu saja, Tetua Gu bisa merasakan kehadiran pendekar yang lainnya dari berbagai sisi. Ia mengeratkan giginya geram, ia tidak tahu sekarang ia harus berbuat apa.


Zhang Xiuhuan merasakan kemarahan yang besar, ditambah ia juga dapat merasakan banyak pendekar yang mendekat kearahnya. Yang kini ia tahu adalah bunuh semua yang ia temui.


Ditengah hutan salju, dimana Zhang Xiuhuan dan yang lainnya berada. Kini menjadi tempat pertemuan para pendekar dari berbagai daerah. Mereka menghampiri asal suara ledakan yang diakibatkan oleh Zhang Xiuhuan, mungkin mereka berpikir disini adalah tempat Pedang Goujian.


Zhang Xiuhuan tersenyum kecil, ia mengelilingi para pendekar yang kini telah datang dari berbagai arah. Kebanyakan dari mereka berkelompok, baik itu dari sebuah kerajaan ataupun sebuah sekte. Terlihat dari sebuah bendera yang mereka bawa, yang menunjukkan identitas mereka. Mereka semua saling menatap, tidak ada pandangan damai dalam mata mereka. Mereka harus membunuh semua orang agar hanya ia yang bisa mendapatkan Pedang Goujian.


"Apa-apaan ini! peperangan tanpa memandang bulu akan terjadi!" gerutu Tetua Gu.


"Hahah...pertemuan macam apa ini!" seru seorang pria yang kini tengah berdiri ditengah-tengah semua orang atau tepatnya disamping dekat Zhang Xiuhuan.


"Dari mana pria ini datang?" seru Tetua Gu terkejut mendapati kehadiran seorang pria yang begitu tiba-tiba. Bahkan ia tidak bisa menyadari kehadirannya.


Zhang Bing hanya tersenyum kecil, melihat Tetua Gu yang kebingungan dengan kemunculan pria asing tersebut. Padahal pria itu keluar dari dalam tanah, karena ada sebuah lubang dengan pintu yang tadi terbuka. Memang bagi semua orang, pria ini seperti datang dari udara kosong, mungkin karena mereka tidak bisa merasakan kehadirannya dan juga kecepatan bergeraknya yang tinggi. Tetapi tidak dengan Zhang Bing, ini adalah keahliannya. Walaupun ia juga sama tidak bisa merasakan kehadirannya, tetapi ia dapat melihat keanehan yang terjadi ketika salju didepannya seperti bergerak dan memunculkan seseorang dari dalamnya, ia adalah pengamat yang sangat baik.


Disisi lain, Zhang Xiuhuan menatap nyalang kearah Mo Lian Cheng, yang kini tengah berdiri tidak jauh darinya. Dia memiliki aura yang sama dengan aura yang tadi, pikirnya.


Mo Lian Cheng, tersenyum kecil kearah Zhang Xiuhuan.


"KALIAN SEMUA MENCARI PEDANG GOUJIAN?" teriak Mo Lian Cheng.


Semua orang bersorak, mereka semua meneriaki jika mereka yang akan membawa Pedang Goujian bersama mereka. Mereka saling mengancam satu sama lain, dan saling membanggakan siapa diri mereka sendiri. Bahkan mereka saling meneriaki, mereka sendiri yang berhak mendapatkan Pedang Goujian. Adu mulutpun terjadi dengan riuhnya.


Zhang Xiuhuan masih menatap Mo Lian Cheng yang kini tengah tertawa melihat pertengkaran adu mulut yang sedang terjadi.


"Aku mencari istriku! bukan pedang sialan itu!" seru Zhang Xiuhuan tajam.


Mo Lian Cheng menghentikan tawanya, dan melirik kearah Zhang Xiuhuan.


"Tenang saja aku hanya meminjam istrimu" seru Mo Lian Cheng.


"Kau! dimana istriku sekarang!" gertak Zhang Xiuhuan. Mo Lian Cheng hanya tersenyum kecil menangapi ucapan Zhang Xiuhuan.


Disisi lain, Zhang Bing mencoba melepaskan diri dari Tetua Gu. Ia sangat penasaran dengan apa yang ada dibawah sana. Perasaannya pun sama, ia merasa jika ada sesuatu yang selalu memanggilnya untuk turun kebawah. Zhang Bing memanfaatkan keadaan ketika semua orang saling adu mulut dan menyebabkan keriuhuan yang besar. Ia berlari kecil kearah salju yang sedikit menampakkan tanah yang masih terbuka. Ia sedikit bersyukur karena ukuran tubuhnya yang kecil ia bisa bergerak semaunya tanpa mengundang pandangan yang lain.


Tetua Gu menggerutu kesal, ketika ia menyadari Zhang Bing yang lepas dari pengawasannya. Ia ingin mengejar Zhang Bing, dan mengikat anak itu agar tidak bisa bergerak kemanapun. Tetapi matanya memperhatikan apa yang kini Zhang Bing lakukan. Ia kini tengah menggali salju dengan kedua tangannya. Mata Tetua Gu membulat, ia menyaksikan terdapat sebuah lubang yang menjadi pintu rahasia. Ia membiarkan Zhang Bing memasuki ruangan tersebut. Pandangan matanya kini mengelilingi sekitar, ia melihat kobaran api disetiap mata semua orang bahkan mereka semua dipenuhi ambisi yang besar.


"Sebaiknya aku mengikuti kemana bocah itu pergi, dari pada aku harus mati konyol disini!" Tetua Gu segera bergerak dengan cepat kearah tanah yang kini masih menampakan isinya. Tak lupa ia menutup lubang tersebut setelah ia berhasil masuk.


Zhang Bing menuruni anak tangga yang semuanya terbuat dari tanah. Langkahnya terhenti disebuah ruangan yang cukup besar.


"Ibu!" soraknya bahagia melihat Xu Lian yang kini tengah terduduk dengan tangan dan kakinya yang terikat.


"Bing Bing", Zhang Bing segera berlari kearah Xu Lian dan langsung memeluknya.


"Kenapa ibu diikat seperti ini?" tanya Zhang Bing.


"Nanti ibu jelaskan. Sekarang kau bisa melepaskan ikatan ini?" seru Xu Lian.


"Akan kucoba!" saut Zhang Bing, lalu ia mulai menciptakan sebuah pedang dari kekuatan elemennya, seperti apa yang telah ayahnya ajari. Zhang Bing menebaskan pedangnya kearah tali yang telah mengikat Xu Lian, Xu Lian tercengang melihat tali tersebut terputus dengan sangat mudah.


Dari arah yang sama Zhang Bing muncul, terlihat Tetua Gu yang baru memasuki ruangan tersebut.


"Kakek tua kau disini juga rupanya!" seru Xu Lian.


"Bukan hanya kita berdua yang ada disini" seru Tetua Gu.


Xu Lian mengerutkan dahinya bingung, "Apa maksudmu?" ucapnya.


"Tetapi suamimu dan juga ribuan pendekar yang lain berada disini!" saut Tetua Gu.


Setelah Tetua Gu menyelasaikan ucapannya, terdengar suara keributan dari atas sana. Pandangan Xu Lian kembali buram, peperangan berdarah telah terjadi.


"Ayo kita selesaikan semua ini!"


***