
Daratan Timur menjadi tempat yang sangat ramai dikunjungi oleh para kultivator. Baik dari kalangan atas, menengah ataupun bawah. Tujuan mereka sama yaitu memperebutkan Pedang Goujian. Bahkan mereka menjadi seperti monster, setiap bertemu dengan pendekar lain, mereka akan langsung saling membunuh satu sama lain. Semuanya menjadi kacau, walaupun belum ada yang tahu pasti tentang keberadaan Pedang Goujian ini. Misteri ini sungguh menciptakan keributan yang sangat besar.
Dari arah pantai barat banyak perahu-perahu besar yang berlayar kearah Daratan Timur. Mereka datang dari penjuru daerah. Entah siapa yang menyebarkan tentang rumor kemunculan Pedang Goujian, hingga banyak mengundang para kultivator dari penjuru dunia.
Tetua Gu dengan telaten mengobati luka Xu Lian, sudah satu pekan lalu mereka tetap ditempat itu, juga karena kondisi Xu Lian yang belum pulih. Keadaan Xu Lian pun sudah sangat membaik, ia hanya perlu menstabilkan tubuhnya saja. Disisi lain, Zhang Xiuhuan selalu melatih Zhang Bing selama sepekan ini.
"Tarik nafasmu! alirkan kekuatan elemenmu dengan perlahan pada tanganmu! dan bentuklah sebuah pedang dari kekuatan elemenmu!". Zhang Bing memahami semua apa yang dikatakan oleh ayahnya. Dan tanpa banyak bertanya, ia mencoba melakukan apa yang tadi ayahnya jelaskan kepadanya.
Tidak lama kemudian terbentuklah sebuah pedang berukuran 1 meter dengan warna putih pucat seperti kaca. Zhang Xiuhuan tersenyum kecil melihat hasil latihan putranya selama ini.
"Berlatihlah jurus pedang yang dulu ayah pernah ajari dengan menggunakan pedang milikmu!" perintah Zhang Xiuhuan. Zhang Bing menganggukan kepalanya dan mulai melakukan latihannya.
Pergerakan Zhang Bing lebih kaku dari sebelumnya dikarenakan pedang miliknya. Mungkin Zhang Bing kurang terbiasa dengan pedang yang kini ia genggam.
"Tekuk tanganmu seperti ini!"
"Jangan mengangkat pedangmu terlalu tinggi! cukup sampai batas dadamu!"
"Beri beban pada setiap seranganmu!"
"Perhatikan langkahmu!"
Mereka berdua terus berlatih hingga matahari tepat berada diatas mereka. Keringat mulai membasahi wajah Zhang Bing, gerakan-gerakannya menjadi semakin membaik bahkan mendekati kata sempurna.
"Cukup! istirahatlah kita akan lanjut nanti sore!" seru Zhang Xiuhuan. Setelah itu ia dan Zhang Bing memilih untuk duduk di depan bangunan yang menjadi tempat peristirahatan mereka selama ini.
Zhang Bing mengangkat wajahnya keatas, ia menutup matanya dengan tangan kanannya ketika cahaya matahari menyilaukan pandangannya.
"Ayah kenapa salju-salju ini tidak meleleh walaupun terpapar matahari yang panas?" tanya Zhang Bing.
"Ayahpun tidak tahu mengetahui hal itu, tempat ini sangat misterius bagi ayah" saut Zhang Xiuhuan.
"Tapi aya...." ucapan Zhang Bing terpotong oleh Zhang Xiuhuan.
"Shutttt, pelankan suaramu!", Zhang Xiuhuan bisa mencium kehadiran banyak orang yang menghampirinya. Bukan masalahnya itu, tetapi tadi ia sekilas mencium keberadaan aura seseorang yang sangat samar tetapi aura ini sungguh tidak asing, karena Zhang Xiuhuan merasa aura ini mirip dengan aura Xu Lian dan Kakek Danzi.
"Aura siapa tadi barusan?" pikir Zhang Xiuhuan.
"Akupun bahkan tidak mengetahuinya, aura ini sangat kuat sehingga aku sulit untuk mendeteksinya!" saut Pete dari benak Zhang Xiuhuan.
Tidak lama kemudian Xu Lianpun terlihat keluar dari dalam bangunan, ia terlihat mengelilingi pandangannya kesekitar daerah tempat yang kini ia pijaki. Zhang Xiuhuan pun menghampiri Xu Lian.
"Kau juga tadi mencium aura seseorang yang sangat tidak asing?" tanya Zhang Xiuhuan.
Xu Lian menganggukan kepalanya, "Ya, tapi aku merasa pemilik aura ini selalu memperhatikanku walaupun bau aroma aura ini telah hilang" seru Xu Lian.
Zhang Xiuhuan mengerutkan keningnya curiga. "Apa dia adalah dalangnya!"
*Wushh...
Wushh...
Percakapan Xu Lian dan Zhang Xiuhuan terpotong tatkala puluhan senjata rahasia datang menyerang kearah mereka. Baik Xu Lian maupun Zhang Xiuhuan melompat kebelakang untuk menghindari serangan yang terjadi. Disisi lain Zhang Bing lebih memilih untuk menangkis semua serangan yang datang dengan tangan kosong.
Terlihat Tetua Gu yang baru saja keluar dari bangunan, "Kenapa kalian membuat keributan?" seru Tetua Gu dengan kesal.
"Bukan kami kek, tapi mereka!" Zhang Bing menunjuk kearah segerombolan pendekar dengan pakaian serba hitam dengan sebuah logo pada pakaian depan mereka yang berbentuk kalajengking yang kini tengah berjalan kearah mereka.
"Sekte aliran hitam, Kalajengking Merah" seru Xu Lian, ia menatap nyalang kearah mereka. "Berhati-hatilah mereka terkenal dengan racunnya yang mematikan" Xu Lian melirik kearah Tetua Gu dan Zhang Bing secara bergantian.
"Rupanya disini ada sebuah keluarga yang sedang menikmati kehidupan mereka!" seru salah seseorang yang menggunakan jubah berwarna hitam yang paling mewah diantara semuanya. Umurnya diperkirakan sekitar 70 tahunan terlihat dari rambutnya yang mulai memutih tetapi aura yang ia keluarkan sangat kuat.
"Ada urusan apa kau dengan kami?" tanya Zhang Xiuhuan tajam, semenjak kejadian ketika Xu Lian yang hampir kehilangan nyawanya karena sekte aliran hitam, Zhang Xiuhuan menjadi sangat membenci sekte aliran hitam.
"Kami hanya lewat sebentar" seru pria paruh baya tersebut. "Dan apakah kalian tahu tentang Pedang Goujian?" tanyanya seraya mengelus-elus janggutnya.
"Walaupun kami tahu tentang informasi Pedang Goujian, kami tidak akan memberikan informasi sekecil apapun kepada kalian!", Zhang Xiuhuan menatap tajam kearah pria paruh baya yang kini tertawa kecil.
"Anak muda, kau lebih memilih untuk mati dari pada memberikan informasi itu" seru pria paruh baya tersebut.
"Cih, mati? kau belum tahu siapa yang akan mati jika kita bertarung!" tantang Zhang Xiuhuan.
"Baiklah kalau itu maumu!"
"Ambil anak itu untuk kita jadikan sebagai sandera! kau mengerti?" bisik pria paruh baya tersebut kepada seseorang yang berada disampingnya.
"Ya! saya mengerti Tetua Lee", pria paruh baya yang dipanggil Tetua Lee tersenyum kecil.
"Serang mereka semua!" seru Tetua Lee. Semua Anak buahnya mulai bergerak untuk menyerang. Sedangkan dirinya sendiri masih diam berdiri dan menonton pertarungan yang akan terjadi didepannya.
Xu Lian menghela nafas dengan berat sebelum ia membuat sebuah pedang dari kekuatan elemennya begitupun dengan Zhang Xiuhuan. Pertempuran tidak bisa dihindarkan.
Tetua Gu memilih untuk menyerang dari jarak jauh bersama Zhang Bing karena jujur saja ia tidak bisa jika harus bertempur dengan pedang. Disisi lain, Zhang Bing hanya menonton ia masih memulihkan kekuatan elemennya setelah latihan yang cukup berat ia lalui.
Xu Lian terus menyerang para pendekar dari aliran hitam tersebut, gerakannya sedikit lamban karena kondisi tubuhnya yang belum pulih total. Hatinya sungguh merasa tidak enak, sedari tadi ia merasa ada yang sedang memperhatikannya dari dekat tetapi ia tidak bisa mencium aura keberadaannya.
Pikiran Xu Lian melayang entah kemana, sehingga ia tidak fokus dengan pertarungannya. Xu Lian mendapat sebuah serangan tendangan dari belakang hingga tubuhnya terdorong kedepan. Dari arah samping kanannya berdiri seorang pendekar aliran hitam yang sudah siap menebaskan pedangnya pada tubuh Xu Lian.
"Sial"
Wusssshhhhhhhhhh............
Tubuh pendekar aliran hitam yang akan menyerang Xu Lian tiba-tiba terbelah menjadi dua.
Xu Lian membulatkan matanya, aura ini. Ia bisa melihat serangan yang tidak kasat mata yang langsung membunuh pendekar aliran hitam tersebut. Ia langsung melirik kearah kiri. Matanya menatap tidak percaya kearah dalam hutan sebelah bangunan yang menjadi tempat istirahatnya, terlihat seseorang dengan rambut putihnya yang sedang berdiri disamping pohon yang membeku. Ia tersenyum ketika Xu Lian melihat kearahnya.
"Siapa dia?"
***