
Ledakan-ledakan kembali terjadi tatkala Nang'er kembali menyerangnya. Kini Keempat Tetua Sekte Aliran Hitam menyerang kearah Xu Lian dan naganya. Xu Lian dengan pedang elemennya mencoba menghadapi Keempat Tetua tersebut, ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak menggunakan Pedang Goujian lagi. Walaupun dalam keadaan terdesak sekalipun.
Pasukan Kerajaan Wei yang dipimpin langsung oleh Xu Kong menghadapi semua pasukan dari Sekte Kerajaan Hitam. Walaupun mereka kalah jumlah, mereka akan tetap bertahan dan tidak langsung menyerah.
Xu Kong memutarkan pedangnya sebelum ia menebaskannnya kearah salah satu pendekar aliran hitam. Darah memuncrat dan mengotori bajunya tatkala ia berhasil memotong kepala pendekar tersebut. Ia kembali bergerak tatkala beberapa pendekar aliran hitam yang lain, menyerangnya. Merasa tidak cukup dengan satu pedangnya untuk melawan musuh. Xu Kong mengepalkan tangannya dan tidak lama kemudian terselimuti oleh tanah. Tatkala ia berhasil menangkis salah satu serangan musuh ia segera melepaskan tinjuan pada musuh yang menjadi sasarannya.
Begitupun dengan Zhang Bing. Ia dengan semangatnya melempari pasukan Sekte Aliran Hitam dengan segala jenis senjata yang ia ciptakan sendiri. Bahkan para pemanah yang berada disampingnya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat aksi Zhang Bing.
"Ini tidak cukup!" Zhang Bing menghentikan aksinya dan mencoba memutar otaknya. Seketika ingatannya tertuju pada buku ibunya yang terdapat sebuah ilmu yang bernama 'Hujan Kematian'. Jurus ini seperti yang dilakukan oleh Mo Lian Cheng ketika di Daerah Timur.
Dengan semangat Zhang Bing mencoba merentangkan kedua tangannya seraya ia mengingat-ingat tentang tata cara jurus 'Hujan Kematian' yang pernah ia baca. Dengan perlahan ia menarik nafasnya dan buang lagi. Ia melakukan hal tersebut beberapa kali sampai dari mulutnya mengeluarkan uap dingin. Setelah merasa pernafasannya teratur, ia mencoba membentuk sebuah pola dari kedua tangannya dengan perlahan.
Udara diarea sekitar Zhang Bing berubah menjadi dingin, bahkan para pemanah yang lain mulai menggertakan giginya untuk menahan rasa dingin tersebut. Tetapi tidak lama kemudian rasa dingin tersebut menjadi rasa panas yang seperti membakar.
Dari uap-uap yang tercipta oleh aura dingin dan panas yang keluar dari Zhang Bing. Tercipta puluhan jarum yang memiliki ukuran yang lebih besar. Para pemanah menghentikan aksi menyerangnya terlebih dahulu. Mereka melihat puluhan jarum yang kini mengelilingi mereka mulai bergerak dengan cepat kearah para prajurit aliran hitam.
Seperti memiliki nyawa, jarum-jarum tersebut hanya menyerang pendekar dari Sekte Aliran Hitam. Dengan sekali serangan jarum-jarum tersebut mengincar leher mereka. Bahkan para prajurit Kerajaan Wei merasa heran melihat para pendekar aliran hitam langsung tumbang sebelum mereka menyerangnya. Zhang Bing tersenyum bangga, melihat ia berhasil dalam percobaan pertama.
"Aku akan menciptakan jarum-jarumku lebih banyak lagi!", Sedangkan para pemanah hanya menatapnya dengan ngeri.
Disisi lain, Xu Lian menggenggam pedangnya dengan erat. Kini ia tengah menghadapi dua Tetua Sekte Aliran Hitam sekaligus. Xu Lian memundurkan tubuhnya tatkala sebuah pedang yang berbentuk seperti sabit, hampir mengenainya.
"Sudahlah gadis, kau menyerah saja. Berikan kami nagamu dan kami akan melepaskanmu!" seru Tetua wanita.
"Jangan berharap!" Xu Lian kembali bergerak untuk menyerang terlebih dahulu. Ia mencoba untuk membuat jarak dengan yang lainnya jika ia bertarung dengan serius, yang lainnya akan menerima dampak dari serangannya.
Dengan begitu Xu Lian mencoba untuk menghindari semua serangan yang datang dengan menjauh sejauh-jauhnya. Seakan-akan ia melarikan diri. Setelah dirasa jaraknya dengan yang lain cukup jauh, Xu Lian mencoba melancarkan aksinya.
Kedua Tetua yang kini menghadapi Xu Lian hanya menggerutu kesal, karena sedari tadi Xu Lian hanya menghindari serangan mereka. Tetapi mereka mulai waspada tatkala udara disekitar mereka mulai terasa dingin.
Xu Lian tersenyum kecil, "Saatnya untuk serius!". Tanah dibawahnya mulai membeku menjadi es. Sedangkan Kedua Tetua Sekte Aliran Hitam mulai kalang kabut untuk melompat dan menghindari menginjak tanah yang telah membeku.
Xu Lian langsung bergerak untuk menyerang sebelum Para Tetua tersebut menginjakkan kakinya. Salah satu Tetua yang menggunakan baju hijau yang menandakan ia berasal dari Sekte Bunga Darah, harus kehilangan keseimbangannya dan terlempar tatkala Xu Lian menyerangnya. Sedangkan Tetua yang lainnya yang berasal dari Sekte Awan Darah berhasil menangkis serangan Xu Lian sehingga ia bisa mendarat dengan baik.
Tetua Sekte Awan Darah, mengeluarkan sebuah cincin dari tangannya. Setelah ia mengucapkan sesuatu, Keluarlah sebuah Beruang putih dengan satu tanduk yang muncul dari kepalanya.
Xu Lian memundurkan tubunya. Ia menatap keaarah siluman Beruang yang berusia sekitar seribu tahun. "Hmm ini senjata andalan dari Sekte Awan Darah!" puji Xu Lian namun dengan nada menghina.
"Ini adalah Siluman yang sudah menjadi senjata andalan Tetua kami yang terdahulu!" seru bangga pria paruh baya tersebut.
"Tapi tidak mulai dari sekarang. Kalian akan kehilangan senjata andalan kalian!" tutur Xu Lian. Dengan tiba-tiba Xu Lian membuang pedangnya sembarangan.
Xu Lian mulai menggerak-gerakkan tangannya. Dengan seirama dengan tangan Xu Lian, tanah yang membeku mulai bergerak mengikuti gelombang tangan Xu Lian. Inilah mengapa ia membekukan tanah, karena agar ia lebih mudah melakukan semua jurusnya.
Siluman Beruang mencoba untuk menyerang Xu Lian, tetapi tiba-tiba tangan dan kakinya ikut membeku. Ia segera menghantamkan tangannya hingga es itu hancur dan ia mulai kembali bergerak.
Sedangkan Tetua Sekte Awan Darah memantau pergerakan silumannya seraya ia mencoba mengatur keseimbangan tubuhnya.
Xu Lian berlari kearah Siluman Beruang, ia mengepalkan tangannya dan siap untuk melepaskan serangannya. Tetapi sebelum Xu Lian sampai beruang itu lebih terdahulu memukulkan tangannya kebawah, sehingga es yang ada dibawah retak sehingga. Xu Lian pun harus melompat untuk menghindari agar ia tidak terjatuh.
Dari tubuh Siluman Beruang mulai keluar duri-diri yang cukup besar. Xu Lian yakin jika duri-duri tersebut mengandung racun, yang telah diatur oleh Sekte Awan Darah.
Tanpa membuang waktu Xu Lian melapisi semua bagian tubuhnya dengan es tipis sebelum ia bergerak untuk menyerang. Siluman Beruang mulai menyerang Xu Lian dengan menghantamkan tangannya yang besar kearah Xu Lian. Tetapi sebelum tangannya bisa mengenai Xu Lian, terlebih dahulu Xu Lian membungkukkan tubuhnya kebelakang dan langsung melepaskan satu tinjuannya tepat ditubuh Siluman Beruang tersebut. Tubuh Siluman Beruang terpental cukup jauh. Bahkan Xu Lian kembali menyerangnya sebelum tubuh Siluman Beruang tersebut benar-benar menghantam tanah yang membeku.
DDDOOOAAARRRRR...
Terjadi ledakan yang cukup besar tatkala tubuh Siluman menghantam tanah yang membeku, hingga menciptakan lubang yang cukup besar.
"Seekor siluman tidak ada apa-apanya bagiku!" seru Xu Lian. Ia melirik kearah Tetua Sekte Awan Darah yang kini tengah memuntahkan darah, akibat dari matinya Siluman kontraknya.
Pasukan Sekte Aliran Hitam mulai berjatuhan begitupun dari pihak Kerajaan Wei. Jumlah mereka semakin menipis, bahkan Xu Kong telah banyak kehabisan energi. Kecuali dengan Zhang Bing.
Semuanya kembali dikejutkan dengan datangnya ribuan pasukan kuda yang tiba-tiba muncul dan masuk dalam pertempuran.
Xu Kong membulatkan matanya melihat pasukan yang mulai memasuki area pertarungan. "Astaga!".
***
😥😥😥